
"Ros, apa kamu tidak papa?" tanya Mila seraya menepuk-nepuk pundak Ros, hingga ia tersadar dari lamunannya.
"Hah! hehe, enggak kok, gak papa! aku cuma!- -
"Cuma apa?" tanya Mila memotong ucapan Ros.
"Cuma mengenang masa lalu dia, masa beberapa bulan yang lalu saat Rendy dan Kayla ada di ruangan ini kan...," Nina menimpali ucapan Mila dan Ros di sela sela ucapan mereka berdua. Hingga Ros merasakan hawa panas di wajahnya karena ucapan Nina barusan padanya.
"Apaan sih, Nina?" tak bisa di pungkiri dan tak bisa juga di sembunyikan, ekspresi wajah Ros benar-benar mengatakan, jika yang baru saja Nina katakan padany itu adalah benar. Ros memang sedang memikirkan Rendy saat pertama kali masuk ke dalam ruangannya.
"Mba Mila sama mba Nina ini memang suka sekali membuat wajah orang panas dingin!" Anto berujar, setelah ia masuk ke ruangan Ros, setelah tadi ia kembali lagi ke bawah karena ada barang yang tertinggal.
"Apa sih Anto, maksud kamu?" Nina pura-pura tidak mengerti dengan ucapan Anto barusan.
"Gak usah pura-pura gitu deh mba Nina, aku kan udah kenal sama mba Nina itu cukup lama!" balas Anto dan Nina pun tertawa.
Anto beranjak, ia menghampiri Ros ke kursinya, lalu menyerahkan beberapa berkas kepada Ros.
"Mba Ros, ini berkas berkas dari calon pengantin yang akan memakai jasa kita!" ujar Anto, dan Ros pun langsung menyambar berkas tersebut.
Perlahan Ros pun membuka berkas tersebut, ia begitu terkejut saat melihat jika calon pengantin yang akan memakai jasa WO nya itu memesan paket paling mahal di tempatnya.
"Ini Serius Anto?" tanya Ros Kemudian, ia masih menatap berkas di tangannya dengan perasaan belum percaya.
"Serius dong mba!" jawab Anto.
"Iya Ros, setelah meng-handle pernikahan Kayla dulu, tempat kita ini jadi rame, jadi terkenal, dan banyak yang bertanya tanya juga ke akun medsos kita. Ada juga yang langsung ke sini, dengan antusiasnya, memakai jasa WO kita!" ujar Mila menyambangi.
Ros mendengarkan dengan seksama, fokus dan matanya tertuju pada sebuah nama didalam berkas tersebut.
"Maria," gumam Ros pelan. Ia teringat akan seseorang dari masa lalunya.
...***...
"Gawat pak!"
"Kenapa? Ada masalah apa? katakan!" ujar Surya di balik panggilan telepon nya.
__ADS_1
"Pria yang pak Surya tahan itu melarikan diri!"
"Apa? bagaimana bisa? aaah!" Surya langsung menutup panggilan telpon nya dengan salah satu anak buahnya.
"Kenapa Surya? ada apa?" tanya seorang pria.
"Pria paruh baya yang terlihat dalam penculikan Ros kabur dok!" jawab Surya pada dokter Fahri.
"Kabur?" ujarnya dan Surya langsung menganggukkan kepalanya dengan gusar.
"Maaf dok, sepertinya saya harus segera pergi! kita lanjutkan perbincangan kita lain waktu. Permisi!" tanpa basa basi lagi Surya langsung berlalu pergi dari hadapan dokter Fahri. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Sial! bodoh! harusnya aku menjaganya lebih ketat lagi! bagaimana bisa, dia kabur dari tahanan ku?" ujar Surya kesal, ia bahkan memukul-mukul kemudinya beberapa kali, hingga klakson nya berbunyi juga beberapa kali.
Sementara disudut lain, tempat yang berbeda. Rendy tengah gusar, memikirkan istrinya. Apalah terjadi sesuatu atau tidak kepada Ros? Rendy ingin segera menelpon, namun Rendy tengah berada di tengah-tengah rapat dengan para delegasinya.
"Kenapa Pak!" tanya sang sekretaris wanita, berujar pada Rendy.
"Tidak papa! lanjutkan saja!" jawab Rendy.
Sedangkan di sudut lainnya, seorang wanita cantik tengah menghubungi seseorang, dengan sorot mata yang sulit diartikan, ada senyum kecil di sudut bibirnya, yang ia tunjukkan saat ia berujar dengan seseorang dari balik ponselnya.
"Tenang saja Tuan! saya akan perlahan masuk ke dalam kehidupannya!" ujar wanita cantik itu.
"Bagus, kau tidak boleh sampai gagal, karena jika kau sampai gagal, aku akan membunuhmu tanpa ampun!" ujar seorang pria dari balik ponsel tersebut.
"Tentu Tuan, saya tidak akan mengecewakan. Jangan remehkan keahlian saya dalam menggoda da. menghancurkan suatu hubungan!" balas wanita cantik tersebut.
"Bagus! saya suka itu!" balas seorang pria di balik ponsel tersebut. Dan - -
Tut! Tut! Tut! sambungan telpon terputus, mereka berdua mengakhiri panggilan telepon tersebut.
Wanita cantik itu meraba luka luka di tubuh serta di wajah cantiknya, menatapnya dengan bola mata penuh tanda tanya.
"Aku akan membalas setiap luka di tubuh serta di wajah cantik ku ini dengan harga yang setimpal dan mahal!" ujarnya didepan cermin.
...***...
__ADS_1
"Herman?" panggil Rendy dari balik telepon.
"Ya Tuan! saya masih di kantornya Nyonya Tuan! sesuai dengan perintah anda. Saya menunggu Nyonya di kantornya," ujar Herman tanpa menunggu dulu Rendy bertanya kepadanya. Toh yang akan Rendy tanyakan kepadanya pastilah mengenai apa yang baru saja ia ucapkan.
"Bagus! lalu, dimana istriku sekarang? kenapa aku tidak bisa menghubungi nya?" tanya Rendy dengan cemas.
"Ada beberapa orang yang datang ke kantor nyonya tuan! mungkin itu adalah orang-orang yang akan memakai jasa WO nyonya," jawab Herman, dan terdengar Rendy menghela napasnya panjang.
"Baiklah! kau awasi terus istriku. Jaga Nyonya mu itu dengan baik. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan istriku, mati kau! tamatlah tiwayatmu!" ujar Rendy yang secara sepihak mematikan sambungan teleponnya, dan menyisakan ke dongkolan di hari seorang Herman. Sang sopir yang merangkak menjadi seorang bodyguard untuk Nyonya nya, atas perintah dari Rendy, sang Tuan yang suka seenaknya.
"Apa anda se-bucin itu Tuan! baru saja anda berpisah beberapa jam yang lalu, dan ada sudah menanyakan kabar nyonya lagi kepada saya!" gumam Herman dalam hati, ia tidak bisa berkata keras karena banyak sekali pegawai di dalam kantor Ros. Akhirnya, hanya dalam hati saja Herman bisa berujar, bergumam dan mengatai Rendy, mengeluarkan uneg-uneg nya.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu siang, dan Ros masih belum keluar juga dari lantai atas. Herman di buat menunggu hingga seharian. Namun itu bukan salah Ros juga, karena Ros sudah menyuruhnya untuk tidak menunggu ia di kantor. Tapi Herman bersikekeh untuk menunggu atas perintah Rendy. Alhasil, rasa bosan dan lelah kini menghampirinya, hingga Herman ketiduran di kursi tunggu kantor Ros.
°°°
"Terima kasih Bu Ros- -
"Panggil Ros saja Bu! saya merasa tidak enak jika Diana memanggil saya dengan sebutan Bu!" ujar Ros yang menyela ucapan Diana, orang yang akan menggunakan jasa WO Ros untuk pernikahan anaknya.
"Baiklah Ros, terima kasih untuk meeting dan penjelasannya hari ini. Saya sangat puas sekali..., bukan begitu pah, Diani?" ujar Diana pada suaminya dan anaknya yang bernama Diani.
"Benar mah! kantor Ros memang sudah berpengalaman, papah harap semuanya akan lancar sampai hari pernikahan tiba!" balas suami Diana. Sedangkan Diani hanya tersenyum seraya menanggapi, karena ia juga merasa puas dengan penjelasan dan semua yang telah di tunjukkan oleh Ros tadi.
"Terima kasih atas pujiannya pak! saya sangat tersanjung," Ros melempar senyum masih pada ketiga orang dihadapannya, "tapi ini semua berkat kerja keras para tim saya selama ini. Saya tidak mungkin melakukan semua ini sendiri, jika tidak dibantu oleh mereka!" lanjut Ros sambil menatap satu persatu pegawai yang ada di di sana.
"Rendah hati sekali kamu Ros! Semoga semua akan sesuai harapan kita!" ujar Diana kemudian.
"Semoga ya Bu! itu yang saya dan tim saya harapkan. Semoga kita bisa melakukan yang terbaik untuk acara pernikahan anak Bu Diana dan suami," balas Ros dengan ramah, hingga akhirnya mereka bertiga berpamitan kepada Ros. Dan Ros mengantar mereka hingga ke depan pintu kantor.
"Baik Ros, senang bisa bertemu dengan kamu siang ini, istri beserta anak saya pamit pulang dulu, dan selamat siang, terima kasih atas waktunya!" suami dari Diana mengulurkan tangannya pada Ros.
Ros pun menyambut uluran tangan itu dengan manis, "sama sama pak! terima kasih juga karena telah memilih jasa WO kami untuk acara pernikahan putri anda!"
Keluarga itu tersenyum menanggapi ucapan Ros, hingga pandangan mereka tertuju pada satu sosok pria yang tengah duduk dengan bertumpu tangan, dan mata yang terpejam.
Bersambung...
__ADS_1