
Tiga hari setelah pagi pertama Ros dan Rendy berlalu.
Rendy masih terus menerus mengurung Ros di kamar hotel.
Rendy tak mengijinkan Ros keluar kamar walaupun hanya untuk menghirup udara luar.
Bosaaaaan, aku sangat bosan! bisa bisanya suamiku itu mengurungku di kamar hotel selama tiga hari, tanpa mengijinkanku keluar walau hanya sebentar.
Baru tiga hari aku tidak menghirup udara luar, tapi rasanya sudah berhari hari lamanya.
Aku rindu udara luar, aku rindu pemandangan kota, aku rindu jalanan, aku rindu semua yang berada diluar.
Ya Tuhan, kapan aku bisa keluar dari kamar hotel ini?
Aku senang bisa berada di hotel, satu kamar dengan orang yang aku cintai disini, tapi aku juga ingin keluar, aku merindukan luar, aku rindu, rindu, rindu...
Apa aku merajuk saja ya? aku protes pada suamiku, agar dia mau mengajakku jalan jalan.
Ini kan hotel yang dekat dengan pantai, tapi kenapa suamiku itu tak mengajakku sama sekali ke pantai.
Aku kan juga ingin jalan jalan, kenapa dia tidak peka sih?
Hanya mengajakku mengobrol didalam kamar, dan menggerayangi ku sesuka yang dia inginkan.
"Sayang?" panggil Rendy pada Ros.
"Hmmm," sahut Ros, yang sedang melipat baju dengan wajah yang ditekuk lucu, membuat Rendy yang melihatnya gemas sendiri.
"Untuk apa kita pergi berjalan jalan? aku lebih suka menghabiskan waktu ku bersamamu di kamar ini," ucap Rendy sambil mendekat ke arah Ros yang sedang merajuk.
Ros mendelik dengan kesal, "untuk apa? Kakak bilang untuk apa?"
"Iya! untuk apa kita pergi berjalan-jalan?" tanya Rendy lagi yang kini sudah mendekatkan dagu nya ke bahu Ros.
"Untuk menyegarkan otak suamiku yang mesum ini," jawab Ros sambil menjauhkan bibir Rendy dari bahunya, hingga Rendy terduduk diatas ranjang.
"Kamu tega sekali ya? pada suamimu sendiri!" ucap Rendy terdengar begitu sedih nan penuh drama.
Ros tak menghiraukan ucapan Rendy, ia kembali membereskan baju bajunya dan Rendy.
"Sayang?" panggil Rendy.
"Sayang?" panggil Rendy lagi, karena Ros tak menghiraukan panggilannya sama sekali.
Merasa diacuhkan oleh Ros, Rendy pun menghampiri Ros yang sedang melipat baju ke. Memeluk Ros dari belakang, dan mulai mendaratkan kecupan, bahkan gigitan gigitan kecil yang membekas dileher Ros.
"Arrrrgh..." Ros mengerang, "apa yang kakak lakukan?" protes Ros, karena Rendy menggigitnya sedikit kasar, hingga menyisakan bekas merah kecoklatan dilehernya.
__ADS_1
"Aku melakukan tugas mulia ku sebagai seorang suami," jawab Rendy bangga, ia bahkan menepuk nepuk dadanya sambil membusungkan nya.
"Coba dengar apa yang suamiku itu katakan! tugas mulia? dia bahkan begitu bangganya mengatakan itu semua padaku!" batin Ros.
Ros mendelik tajam pada Rendy, Ros tampak kesal dengan tingkah suaminya itu, yang selalu seenaknya menciumnya dimana pun dan kapanpun ia mau.
Seperti tak pernah puas, walaupun mereka melakukannya berkaki kali.
"Kenapa menatapku seperti itu? Mau membalas ku? kau mau membalas ku di bagian mana? disini? disini? atau disini?" ucap Rendy sambil menyentuh semua bagian yang ia sebutkan.
"Aaaaa... kak Rendy memang tidak pernah puas padaku." teriak Ros sambil memukul kecil dada Rendy yang terbuka.
"Hahaha," Rendy tertawa, merasa lucu dengan apa yang Ros lakukan padanya.
Rendy meraih tangan Ros dan membawanya mendekat ke arah Rendy.
Membuat dua pasang manik mata itu saling bertemu.
"Kamu mencintaiku?" tanya Rendy dengan sungguh-sungguh
"Tentu saja! kenapa kakak menanyakannya lagi? bukankah kakak tahu sendiri semua perasaanku?" jawab Ros.
"Lalu, kenapa wajahmu tampak tak sejalan dengan ucapanmu?" tanya Rendy lagi.
"Itu karena aku kesal pada kak Rendy," jawab Ros lagi dengan memalingkan wajahnya.
"Mau jalan jalan ke pantai bersamaku?" tanya Rendy yang seketika membuat Ros tersenyum mengembang.
"Benarkah? kak Rendy serius mengajakku jalan jalan ke luar?" tanya Ros sambil tersenyum, menatap Rendy dengan penuh harap.
"Tentu!" jawab Rendy singkat.
Ros sudah sangat senang dengan ajakan Rendy pada Ros,
"Tapi nanti, setelah kamu menemaniku tidur siang!"
Duarrr!!!
Ucapan Rendy yang tiba tiba, membuat Ros terkejut, marah dan kesal, sekaligus menjadi lunglai seketika.
*Harusnya aku tidak usah terlalu berharap pada suamiku yang otaknya mesum itu.
Hiks, hiks, aku ingin berteriak.
Suamiku... aku mencintaimu, tapi aku juga sangat kesal padamu.
kesal, kesal, aku kesal pada suamiku*.
__ADS_1
Rendy menarik tangan Ros dengan lembut, membawanya masuk kedalam selimut yang lembut.
"Ayo sayang," aku tidak akan melepaskan mu begitu mudah sayang, kita nikmati dulu kebersamaan kita selama beberapa hari ini, sebelum kita kembali ke rutinitas seperti biasanya.
"Aku berjanji, aku akan mengajakmu jalan jalan, setelah kita tidur siang," ucap Rendy.
Dengan terpaksa Ros pun mengikuti kemauan Rendy, daripada ia tidak bisa jalan jalan nanti, lebih baik Ros mengikuti dulu apa yang Rendy inginkan.
Toh, Ros juga tidak rugi sama sekali dengan keinginan Rendy.
Ros juga menikmati, setiap sentuhan yang Rendy lakukan padanya.
Siang itu, seperti biasa, Ros dan Rendy menghabiskan waktu siang mereka dengan memadu kasih di bawah selimut.
Menikmati indahnya masa masa pasangan baru berdua.
---
"Hei anak muda, mau sampai kapan kau mengurung ku ditempat sempit seperti ini?" ucap seorang pria paruh baya yang masih di sekap oleh Surya.
"Sampai aku menemukan semua identitas mu," jawab Surya.
"Menyerah lah, karena kau tidak akan pernah menemukan sedikitpun tentang identitas ku," ucap pria paruh baya itu.
"Cih! menyerah! tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupku pak tua!" balas Surya dengan sinis.
Pria paruh baya itu menyunggingkan sebelah bibirnya, menatap Surya dengan sengit.
"Kau tidak akan pernah lepas dari genggaman seorang Surya pak tua!" ucap Surya dengan penuh percaya diri.
"Benarkah? aku merinding mendengar nya," jawab pria paruh baya itu dengan mengejek.
Surya tak mendengarkan lagi semua ucapan pria paruh baya itu. Surya pergi dengan penuh tanda tanya yang begitu besar.
"Akan ku temukan semua informasi tentang dirimu pak tua, cepat ataupun lambat!" gumam Surya sambil berlalu dari ruang penyekapan pria paruh baya itu.
--
"Lepas, lepaskan aku Doni?" ucap seorang wanita sambil merintih kesakitan.
"Melepaskan mu? jangan harap Kayla," balas Doni pada Kayla.
"Kenapa kau memperlakukan ku seperti ini? aku ini istrimu," ucap Kayla kini, sambil mencoba melepaskan tangan Doni dari rambutnya.
"Kenapa kau bilang?" ucap Doni yang mengulang kembali ucapan Kayla, "tanyakan saja semuanya pada kakak dan kakak ipar sialan mu itu,"
Bersambung...
__ADS_1
Hai, hai, para readers tercintaku, jangan lupa tinggalkan jejak buat kak Ros sama Rendy ya🌹🌹🌹🌹