Dia Milikku

Dia Milikku
Rencana berhasil


__ADS_3

"Bagaimana Ren? Kamu sudah siap?" tanya Ajeng saat mereka semua berada di meja makan yang sama. Gulai ikan kakap, rendang, kerupuk dan sambal, menjadi teman mereka berbincang-bincang sebelum Rendy dan Ros memulai kehidupan baru mereka pagi ini.


"Tentu Mah!" jawab Rendy pasti.


Tentu saja Ajeng merasa ada yang aneh dengan jawaban dari putra sulungnya itu. Kemarin dia masih terus mengomel dan tetap kukuh mencari cara agar tak melanjutkan persyaratan dari Ros. Tapi sekarang, ia malah bersikap biasa saja, seolah ini hal biasa, dan Rendy sudah terbiasa dengan keadaan ini.


"Ba...gus! Nikmati makan pagi terakhir kamu di sini, karena setelah ini, mungkin kamu tidak akan bisa menikmati makanan seperti ini. lagi," tutur Ajeng kembali, berharap jika Rendy akan terkejut dan kehilangan mood. Namun, usahanya lagi-lagi tak membuahkan hasil. Rendy masih bersikap santai sambil menikmati makanan pagi-nya dengan senang hati.


"Tentu Mah! Rendy akan sangat menikmati-nya!" jawab Rendy lagi sambil terus mengunyah makanannya.


Ajeng semakin terheran.


"Ros?" panggil Ajeng pada menantunya seraya berbisik, "apa yang kamu lakukan pada suamimu Nak? Dia berubah!" bisik Ajeng kembali, menyambung bisikan sambil bertanya. Ajeng yakin, pasti ada sesuatu yang telah Ros lakukan pada Rendy, hingga pria itu berubah secepat kilat.


"Ti...dak ada Mah!" jawab Ros, membalas bisikan Ajeng. Namun, dengan ucapan yang nampak gugup.


Ajeng tersenyum. Sepertinya, wanita bertubuh subur itu mengetahui apa yang telah terjadi pada anak dan menantunya.


Sedangkan Ros, Ros terlihat salah tingkah dengan senyuman Ajeng barusan. Pastilah Ajeng berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya dan Rendy. Pikir Ros dalam hati.


"I-ini, tidak seperti yang Mamah bayangkan Mah!" bisik Ros di dekat telinga mertuanya.


"Tidak apa-apa Ros, itu normal terjadi," balas Ajeng masih dengan berbisik sambil tersenyum geli.


"Sayang?" tiba-tiba Rendy memanggil.


Ros menoleh, "ya?" jawab-nya.


"Kapan kita akan berangkat?" tanya Rendy sambil mengusap bibirnya yang telah selesai makan dengan tissue di depannya.


"Sekarang Ren!" jawab Ajeng mendahului Ros yang baru saja hendak membuka bibir untuk menjawab.


Kening Rendy mengerut. Seolah tidak percaya dengan jawaban dari Mamah nya.


"Kenapa kening-mu mengerut seperti itu?" sinis Ajeng, "apa kamu tidak percaya dengan jawaban Mamah -mu ini?" tanyanya kemudian.


"Tidak papa mah. Rendy bukannya tidak percaya. Hanya saja..."

__ADS_1


"Hanya saja apa?" wajah penasaran, begitu kentara. Ajeng bertanya dengan mata yang menyipit.


"Hanya saja... Aku 'kan bertanya pada istriku. Kenapa Mamah yang menjawabnya?"


Hah!


Ajeng melongo. Dia kira apa?


"Hanya itu?" tanya Ajeng lagi.


"Iya Mah... Memang apa lagi?" jawab Rendy yang balik bertanya.


"Sudah Jeng, Nak Rendy. Kalau kalian sudah selesai, cepat kalian siap-siap. Karena, sepertinya pagi ini akan hujan," seperti biasa, Maya selalu menjadi pelerai pertikaian antara ibu dan anak.


"Baik Mah!" jawab Rendy dan Ros nyaris bersamaan.


...***...


"Hati-hati ya Ros! Mamah percayakan Rendy padamu!" ujar Ajeng saat ia dan menantunya berpelukan untuk mengantarkan kepergian.


"Rendy bukan anak kecil Mah!" sanggah Rendy.


"Sudahlah Mah, sebentar lagi akan hujan, Rendy takut istri Rendy kehujanan karena tak bisa memakai mobil untuk bepergian!" jelas dan tajam ucapan Rendy. Tapi, tak mampu membuat Ajeng marah sama sekali. Justru, Ajeng sangat suka dengan sikap anaknya ini, yang seolah kembali ke masa-masa remaja, di mana Rendy sangat membutuhkannya.


"Baiklah, baiklah... Hati-hati sayang. Jaga diri kalian baik-baik," ucap Ajeng sambil terus memeluk Ros semakin erat.


"Lepaskan istriku Mah. Ros bisa sesak napas, kalau Mamah terus memeluknya erat seperti itu," tutur Rendy membuat Ajeng menggerutu tak terdengar. Hingga Ros terkekeh.


"Jaga diri baik-baik sayang. Ini adalah pilihanmu, semoga kamu dan suamimu, bisa mendapatkan apa yang kalian cari!" Maya pun melepas anak dan menantunya dengan pelukan sayang. Berat rasanya, kala harus berpisah lagi dengan anak tercinta. Namun, Maya tak boleh egois, dirinya seorang ibu, dan pernah menjadi seorang istri. Maya tau, bahwa sekarang, Ros bukan milik Maya seutuhnya lagi.


"Terima kasih Mah, Mamah Ajeng. Ros berdoa agar kalian selalu sehat." Tulus dari hati ucapan Ros, membuat ibu dan mertuanya tersentuh dengan ucapan Ros.


"Mamah titip Ros, nak Rendy," titip Maya.


"Tentu Mah," jawab Rendy pasti.


"Jeng salah nitipin anak, Jeng. Yang harusnya di titipin itu Rendy, bukan Ros," Ajeng masih kekeh dengan pendapatnya. Rendy hanya mencibir saja, tidak mau memperpanjang urusan lagi dengan Mamah nya. Karena semakin di lawan, maka Ajeng akan semakin ingin menang.

__ADS_1


"Baiklah, kami berangkat dulu Mah. Doa kan Rendy agar bisa melaksanakan hukuman dari istri tercinta ini," satu kedipan mata mendarat untuk dua orang wanita paruh baya yang kini sama-sama penting untuk kehidupannya. Ajeng dan Maya, keduanya adalah wanita berjasa yang telah mendampingi dan membesarkannya dan Ros dengan penuh kasih sayang.


"Tentu Ren. Doa Mamah selalu menyertaimu."


"Mamah juga selalu mendoakan mu."


Seperti ingin pergi kemana saja, keempat orang itu saling melepas dengan pelukan, bersalaman dan saling berpelukan kembali. Hingga, Ros menyadarkan.


"Ayo kita pergi kak!"


...***...


"Kamu tidak salah sayang?" tanya Rendy pada Ros. Pria itu menatap tidak percaya pada rumah kontrakan yang akan ia jadikan tempat tinggal sementara, untuknya dan Ros.


"Tidak Kak. Ini memang rumahnya," jawab Ros pasti.


"Tapi--


"Sudahlah, jangan mengomel terus. Ayo masuk?" ajak Ros memotong ucapan Rendy yang nampak tak terima dengan rumah yang akan mereka tempati.


Rendy mengikuti langkah Ros yang masuk ke dalam rumah kontrakan berukuran kecil.


Nampak dari dalam, sebuah ruang tamu berukuran kecil, dengan televisi berukuran 14''. Satu kamar tidur, dapur dan kamar mandi yang sempit, untuk ukuran Rendy. Karena dia terbiasa dengan semua ruangan besar dan nyaman.


"Sayang, apa ini tidak terlalu kekecilan? Ini sangat sempit sayang!" keluh Rendy sambil melihat sekeliling. Matanya tak henti menatap ke sana ke sini, menyusuri setiap sudut rumah kontrakan kecil. Tidak, ini tidak seperti rumah bagi Rendy. Tapi... Rendy enggan melanjutkannya.


"Kalau kamu tidak mau, jangan harap untuk mendapatkan maaf dariku kak. Kita usai saja persyaratan in--


"Tidak, tidak, sayang. Jangan katakan itu lagi. Aku bersedia!" jawab Rendy cepat.


Ternyata, satu ancaman dari mulut Ros, mampu membungkam segala keluh kesah Rendy.


Ros tertawa kecil dalam hati. Ia telah berhasil mengerjai suaminya kembali.


"Baiklah, boleh aku beristirahat?" tanya Rendy yang masih menenteng tas berukuran sedang di tangannya. Karena Ros tidak mengizinkan Rendy membawa terlalu banyak barang-barangnya.


"Istirahat?" Ros balik bertanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2