Dia Milikku

Dia Milikku
Ternyata


__ADS_3

"Kenapa bisa begini? Kenapa jumlah pengeluaran perusahaan sangat besar?" Ajeng melempar sebuah map yang menunjukkan pengeluaran setiap bulannya ke atas meja. Dan saat ini, Ajeng menemukan bahwa, ada pengeluaran cukup besar yang mengalir ke perusahaan milik Doni, suami dari anak perempuannya, yaitu Kayla, tanpa sepengetahuannya.


"Apa Tuan tidak menceritakannya Bu?" tanya seorang sekretaris cantik bernama Eva. Perempuan cantik dan seksi, yang terjerat cinta seorang Anto yang kemayu.


"Tidak sama sekali!" jawab Ajeng dengan wajah kesal. Walaupun Doni adalah menantunya. Namun, ini menyangkut perusahaan, dan tidak boleh sembarang, "Rendy memang bodoh! bisa-bisanya dia memberikan dana tanpa mencari tahu informasi terlebih dulu," lanjutnya sambil geleng-geleng kepala, mengingat tingkah Rendy yang menurutnya ceroboh.


"Maaf Bu, seharusnya saya juga ikut mengatakan serta melaporkannya pada Bu Ajeng," Eva tertunduk, merasa tidak becus dengan pekerjaannya.


"Sudahlah Eva. Ini semua salah Rendy-- Lalu, bagaimana sekarang keadaan perusahaan Doni? Apakah baik-baik saja, atau malah sebaliknya?" tanya Ajeng serius.


"Maaf Bu..." Eva enggan untuk melanjutkan ucapannya. Ajeng mulai curiga.


"Katakan!" desak Ajeng. Eva tidak bisa berbuat apa-apa.


"Beberapa hari ini, saya melihat adanya sebuah kejanggalan Bu," ungkap Eva akhirnya.


Ajeng mengernyit, "kejanggalan?"


"Benar Bu. Ternyata, perusahaan Doni tidak memiliki masalah apa pun, terlebih lagi masalah uang. Saya sudah menyelidikinya. Itu hanya siasatnya saja, agar ia mendapatkan suplai uang dari perusahaan ini, yang merupakan perusahaan milik Bu Ajeng, selaku Ibu dari Nona Kayla," penjelasan dari Eva membuat Ajeng semakin geram. Bisa-bisanya ia kecolongan. Dan untuk apa uang sebanyak itu Doni pergunakan?


"Menantu kurang aj*r. Bisa-bisanya dia mempermainkan aku!" geram Ajeng. Tangannya mengepal kuat. Namun, tak terlihat buku-buku tangannya, karena terhalang oleh daging yang menyelimuti tangannya yang berisi.


"Lalu, bagaimana dengan keadaan anakku Kayla. Sudah lama aku tidak berjumpa dengannya. Sudah lama pula anakku tidak memberi kabar padaku. Rasanya sedikit aneh. Tapi, aku mencoba untuk berpikir positif," tanya Ajeng melanjutkan ucapannya yang beralih pada pertanyaan mengenai Kayla.


"Maaf Bu, beberapa hari saya menyelidiki... Beberapa hari itu juga, saya tidak mendapatkan kabar dari Nona Kayla sama sekali," jawab Eva.


Ajeng menghela napas panjang. Entah mengapa, perasaannya sebagai seorang ibu, merasa tidak enak, juga tidak tenang. Rasa gelisah menghampiri perempuan gempal tersebut.


"Suruh orang-orang kita. Kalau perlu, suruh yang banyak. Cari tau keadaan serta keberadaan anakku!" perintah Ajeng.


"Siap Bu!" jawab Eva patuh. Sekretaris itu begitu sigap dan cepat dalam menjalankan perintah.


......***......


"Sakit..." lirih seorang wanita yang baru saja di bicarakan di tepat yang berbeda.


Kayla, perempuan cantik nan manis itu, kini sudah berubah bentuk wajahnya. Tidak terlihat lagi, kecantikan yang biasa terpancar. Tidak terlihat lagi senyum yang membuatnya terlihat sangat manis.


Bengkak dan memar di hampir seluruh wajah Kayla. Membuat perempuan itu tak terlihat seperti dirinya lagi.


"Lepaskan!" jika biasanya Kayla memohon dengan begitu banyak kata-kata yang keluar dari mulutnya. Beberapa hari ini, Kayla hanya berbicara seperlunya saja. Bahkan, saat Doni menghajarnya habis-habisan, hingga luka bengkak semakin membengkak, dan luka memar semakin banyak, Kayla hanya sedikit mengeluarkan kata.


Doni geram! Kenapa Kayla berubah begini. Ia ingin menyaksikan Kayla menjerit kesakitan dan memohon-mohon untuk di lepaskan seperti biasanya. Namun, semakin kesini, Kayla justru semakin diam.

__ADS_1


Apa rasa sakit yang sering di terima, membuatnya kuat?


Tentu! Itu yang Kayla rasakan. Semakin ia melawan dan memohon untuk di lepaskan. Maka Doni akan semakin senang, dan terus menyiksanya. Tapi, jika Kayla diam. Dengan sendirinya, Doni akan berhenti dan pergi karena geram dengan sikapnya.


"Kenapa kau diam saja hah?" tanya Doni geram.


Kayla tersenyum sinis, tiada lagi cinta dan kasih sayang yang terpancar dari sorot matanya. Hanya kebencian kini yang ada. Bagi Kayla. Cinta dan sayang itu sudah mati, bersamaan dengan kekejaman yang semakin hari semakin Doni perlihatkan padanya.


"Kurang aj*r!"


'Plak!'


Doni menampar pipi Kayla, entah untuk ke berapa kalinya.


Kayla masih diam.


'Plak!'


Satu tamparan mendarat lagi. Kayla semakin menunjukkan ekspresi mencemooh pada Doni. Pria yang meminta izin pada Ibu dan kakaknya Rendy, untuk mempersunting dirinya itu, ternyata tak lebih dari seorang bajingan.


"Kenapa kau diam saja hah?" Doni menjambak rambut Kayla, hingga rontok sebagian.


"Lalu, aku harus apa?" tanya Kayla dingin.


"Aaa!" Doni melepaskan kembali tangannya dari rambut Kayla dengan kasar. Rambut rontok berjatuhan. Dalam hati Kayla berjanji, akan membalas setiap luka, setiap air mata, dan setiap rambut yang berjatuhan akibat ulah Doni, manusia tidak berguna yang menjadikannya sebagai bahan balas dendam.


...***...


"Bersihkan yang benar Kak. Kamu baru boleh beristirahat kalau semua rumah ini bersih!" ujar Ros dengan menekankan nada suaranya. Wanita bersuami itu membersihkan setiap sudut rumah barunya, sambil mengawasi Rendy yang terpaksa harus ikut membantu.


"Iya sayang. Apa pun untukmu," jawab Rendy. Nada suaranya terpaksa ia buat semanis mungkin, agar istrinya tidak marah. Bisa-bisa Ros akan membuatnya tidur di luar, jika ia menolak untuk membantu membersihkan rumah baru mereka.


Niat hati ingin beristirahat. Namun, malah membersihkan rumah yang di dapat. Nasib!


"Lakukan dengan ikhlas kak! Biar berkah!" ujar Ros tiba-tiba. Apa wanita itu bisa menerawang nerawang isi pikiran Rendy. Setiap ucapannya selalu benar, menyambung dengan apa yang Rendy pikirkan sebelumnya.


"Tentu sayang. Aku ikhlas! Ikhla....s sekali!" jawab Rendy tampak kikuk.


"Bagus!" balas Ros sambil tersenyum.


...***...


"Kalian!" tunjuk Anita dengan mata melotot pada tiga orang yang baru saja menculiknya di rumahnya sendiri, "lepaskan!" perintah Anita kemudian. Tangan dan kakinya di ikat. Hanya wajahnya saja yang di biarkan agar bisa berkata dan melihat.

__ADS_1


"Enak saja!" jawab Mila dengan senyum sinis.


"Akan aku laporkan kalian pada polisi! Lepaskan aku!" ujar Anita seraya mengancam.


"Uuuuu... Takut-nya!"


'Plak!'


Sudah tidak tahan lagi, Mila menampar mulut Anita hingga wajah wanita menatap ke samping.


karena tidak tau dengan apa yang akan terjadi pada dirinya barusan. Anita tidak melakukan persiapan, air liur Anita sampai keluar akibat tamparan yang di layangkan oleh Mila.


Sakit!


Perih!


Panas!


Semuanya bercampur, berpadu dan menjadi satu kesatuan rasa yang luar biasa bagi Anita.


"Kurang aj*r!" hardik Anita. Perempuan itu membuang ludahnya sendiri pada Mila.


Hampir saja!


Air ludah itu tidak sampai mengenai wajah Mila. Jika kena! Habis riwayat Anita. Pikir Nina dan Anto.


"Kurang aj*r katamu?" Mila menatap sengit Anita, "kau yang kurang aj*r! Tidak tau berterima kasih. Sudah di tolong, malah menodong!" lanjut Mila sambil menggerutu.


"Apa maksudmu?" Anita pura-pura tidak tau.


"Jangan belagak bego dan so polos begitu. Kami bertiga sudah tau apa yang kau lakukan pada Ros. Dasar parasit!" ungkap Mila yang membuat Anita sedikit terkesiap. Namun, setelah ya dia malah tertawa.


"Apa yang kau tertawakan?" tanya Nina penasaran.


"Kalian!" jawab Anita singkat.


Mila, Nina dan Anto mengernyit, lalu saling pandang.


"Ya... Kalian lucu. Lebih tepatnya, kalian itu bodoh! Bisa-bisanya kalian membela habis-habisan wanita itu. Memang, apa yang istimewa darinya?" tanya Anita membuat ketiga orang yang sedang mengikatnya itu tersenyum sinis.


"Kau tau? Ros jauh lebih segala-galanya darimu. Dia istimewa, sedangkan kau?" Nina menunjuk wajah Anita, "kau sama sekali tidak ada apa-apanya. Mengerti! Dia tidak licik sepertimu. Dia juga tidak pernah menjadi duri, apalagi parasit dalam kehidupan kami," Nina memperjelas semua ucapannya agar Anita mengerti.


Gigi Anita bergemulutuk, tangannya mengepal walau sedang berada dalam ikatan. Kata-kata Nina barusan, berhasil membuatnya kesal bukan kepayang.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2