
Pagi menjelang, dua insan yang saling mencintai tengah saling menatap satu sama lain. Di tempat yang sama, di meja yang sama pula.
"Manis sekali!" kata Rendy yang tengah asyik menatap makhluk ciptaan Tuhan yang paling manis itu sambil memasukkan sepotong roti dengan selai strawberry ke dalam mulutnya.
"Rotinya?" tanya Ros heran. Suaminya ini, tengah membicarakan soal rasa roti, atau soal apa yang sedang ia pandang?
"Istriku!" jawab Rendy menjawab sudah pertanyaan yang bersarang dalam benak Ros.
"Aku?" Ros menunjuk dirinya sendiri dengan sedikit heran.
"Iya..., Rasanya aku ingin memakan dirimu lagi sayang!" ujar Rendy dengan kedipan sebelah mata.
Pletak!
Satu pukulan kecil mendarat di kepala Rendy, membuat pria tampan yang bucin nya sudah level akut itu meringis palsu.
"Aw! Sayang..., apa yang kamu lakukan?" tanya Rendy karena tiba-tiba saja Ros memukul kepalanya.
"Apa suamiku ini tidak bisa menjaga mulutnya?- - kesal Ros dengan menatap sengit sang suami, - -Banyak pelayan di dini, dan suamiku malah berkata tidak senonoh pagi-pagi sekali seperti ini!" lanjut Ros dengan tampang kesal.
"Memangnya kenapa?" Rendy mengangkat sebelah alisnya ke atas, menatap Ros dengan wajah menggodanya, "Kalian tidak melihat dan mendengar ucapanku 'kan?" kali ini Rendy menatap para pelannya yang sedari tadi memang berada di belakang dirinya dan Ros. Melayani sang Tuan dan sang nyonya kapanpun mereka membutuhkan.
"Cepat katakan! Kalian tidak melihat dan mendengarkan ucapanku barusan bukan?" Rendy berujar dengan nada sedikit meninggi, "kenapa diam saja? Katakan!" ulang Rendy dengan kode mata yang Rendy tunjukkan pada para pelayannya, agar mereka mengatakan apa yang Rendy ucapkan barusan.
"Ti-tidak Tuan! Tentu saja tidak! Kami tidak melihat serta mendengar apapun selain suara Tuan dan Nyonya yang sedang mengunyah sarapan pagi kalian dengan senang hati," dusta salah satu pelayan, yang langsung disambut dengan anggukan persetujuan dari para pelayan lainnya. Membenarkan apa yang Rendy ucapkan, agar semuanya cepat selesai. Batin para pelayan.
__ADS_1
"Kamu dengar 'kan sayang, apa ya mereka katakan barusan?" kata Rendy pada sang istri yang terlihat sedang menelisik jauh ke dalam mata para pelayan yang tengah bersikap santai seperti biasanya.
"Baiklah..., Ayo, kita lanjutkan sarapan kita, dan mulai hari dengan dengan kejujuran." Ros menekankan kata 'kejujuran' dalam ucapannya, membuat Rendy mengernyit. Namun, cepat-cepat ia ubah lagi ekspresi wajahnya dengan tampang yang menggemaskan.
"Ya Tuhan, bagaimana bisa, wajah suamiku berubah menjadi imut dan se menggemaskan ini," puji Ros yang bukannya melanjutkan sarapan, malah mencubit pipi Rendy dengan kedua tangan saking gemasnya.
"Kamu suka?"
"Tentu saja, wajah suamiku begitu imut dan menggemaskan!"
"Tapi wajahku jadi sakit karena kamu mencubitnya terlalu keras!" gelak tawa dari Rendy membuat Ros bukannya melepaskan tangannya dari wajah Rendy malah semakin kencang mencubitnya hingga tawa Rendy berubah menjadi ringisan kecil.
"Aw, aw, aw, sayang! Sakit!" ujar Rendy yang meminta agar Ros melepaskan tangan Ros dari wajah tampannya yang sudah terlihat memerah.
"Maafkan aku sayang! Kamu begitu menggemaskan!" ucap Ros yang mengganti cubitannya dengan kecupan.
Dengan satu gerakan saja, para pelayan itu langsung pergi meninggalkan Tuan dan Nyonya mereka dengan sekejap mata. Tidak ada yang membantah atau pun bertanya untuk apa mereka semua di usir.
"Kenapa malah mengusir mereka sayang?" tanya Ros heran, 'jangan, jangan? Ya Tuhan, apa yang baru saja aku lakukan? Suamiku yang bucin ini pasti menjadikan kecupanku barusan sebagai alasan. Bodohnya aku!' Ros mengerutuki dirinya sendiri, kenapa ia malah mencium Rendy barusan. Urusannya akan panjang, jika Ros sudah memulai tanpa di sengaja, dan Rendy akan menjadikan ketidaksengajaan Ros sebagai alasan, bahwa Ros lah yang sudah memulai.
"Kamu 'kan sudah memulainya duluan, jadi..., Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk membalas satu kecupan manismu dengan seribu kecupan dariku!"
Duarrr!
'Benar kan, apa yang barusan aku katakan. aku memang bodoh! Bisa-bisanya aku selalu melupakan apa yang sudah menjadi kebiasaan suami tampanku ini! Dasar payah!' lagi-lagi Ros mengerutuki dirinya sendiri, karena satu kecupan darinya untuk sang suami, ia harus menerima seribu kecupan dari Rendy sebagai balasannya.
__ADS_1
Belum sempat Ros mengatakan sesuatu sebagai bentuk protesnya, Rendy sudah membungkam mulut Ros dengan sebuah kecupan di meja makan.
'Bagaimana kalau ada yang melihat? Ya Tuhan, selamatkan lah aku dari rasa malu jika ada yang melihatku sedang berciuman di meja makan bersama suamiku sendiri!' lirih Ros dalam hati. Namun, ia juga menikmati apa yang Rendy lakukan padanya saat ini.
Ciuman pagi yang memabukkan dua insan yang saling mencintai itu semakin memanas dengan deru napas yang tidak karuan. Rendy melepaskan ciumannya dari bibir Ros secara tiba-tiba.
Ros pikir, semuanya akan berakhir sampai di sini. Namun, nyatanya tidak semudah itu untuk Ros dapat melewati semuanya sepagi ini. Rendy kembali membawa Ros ke dalam kamar mereka untuk melanjutkan aktivitas yang lebih intim lagi dari hanya sekedar ciuman pagi di depan meja makan.
"Ingat ya sayang, kamu yang sudah memulai dan kamu juga yang akan mengakhiri semuanya!" bisik Rendy pelan, namun penuh dengan penekanan serta hasrat yang mendalam.
Ros merinding mendengarnya, bisikkan Rendy begitu dekat di telinganya, bahkan sangat dekat, hingga bibir Rendy terasa menempel di telinganya.
'Ya Tuhan! Aku benar-benar merinding, tapi aku juga tidak tahan jika harus menolak keinginan suamiku sepagi ini yang begitu menggairahkan!' gumam Ros dalam hati, menikmati setiap sentuhan yang Rendy lakukan padanya sebagai rasa cinta yang Rendy tunjukkan.
"Kamu menikmatinya?" goda Rendy dan Ros hanya tersipu mendengarnya. Wajah serta kupingnya begitu memerah, matanya juga terasa panas. Begitu pun dengan degup jantungnya yang terasa dag, dig, dug, tak karuan, berdetak lebih kencang dari sebelumnya saat mendengar apa yang Rendy bisikkan di telinganya barusan.
'Ya, aku memang menikmatinya, tapi aku malu jika harus mengakuinya,' Ros memalingkan wajahnya dari Rendy yang saat ini tengah menggendongnya masuk menuju kamar.
"Istriku malu? Ya Tuhan, lucu sekali. Tadi kamu yang menggodaku, sekarang malah kamu yang merasa malu. Sungguh menggemaskan!" goda Rendy lagi dan Ros tidak bisa berkata apa-apa, karena yang Rendy katakan memanglah benar adanya.
'Aku malu? Tentu saja aku sangat malu, kenapa kamu terus menerus bertanya seperti itu? Menyebalkan! Apa ada kantong plastik di sini? Rasanya aku ingin memasukkan wajahku ke dalam kantong plastik untuk menyembunyikan wajah ini karena rasa malu yang sedang aku alami sekarang!' Ros semakin menyembunyikan wajahnya pada lengan Rendy. Membuat Rendy semakin gencar menggodanya.
"Sayang!" panggil Rendy, dan Ros tidak menjawab.
"Sayang?" panggil Rendy lagi, dan lagi-lagi Ros tak menjawabnya. Karena penasaran..., Akhirnya Rendy sedikit memaksa wajah Ros agar mau menatapnya. Namun, Ros menguatkan kepalanya agar Rendy tak bisa melihatnya yang sedang tersipu malu, dengan wajah yang semakin memerah.
__ADS_1
"Ya Tuhan, menggemaskan sekali istriku ini!" gelak tawa menghiasi bibir indah Rendy.
Bersambung...