Dia Milikku

Dia Milikku
Menepati Janji


__ADS_3

Semilir angin sore, menyejukkan hati dua insan yang sedang di mabuk cinta.


Indahnya masa berdua, siapa yang tidak suka?


Angin sore di tepi pantai, menyeruak, menerpa indahnya suasana.


Menerbangkan rambut indah yang terurai ke bawah, menambah keindahan sepasang bola mata yang melihatnya.


Akankah semua ini akan berakhir?


aku harap tidak!


Hal yang selalu aku dambakan setelah pernikahan adalah, melewati masa masa indah berdua bersama pasangan tercinta.


Melewati pasang surutnya kehidupan, indah dan kelamnya kebersamaan, hanya berdua, bersama pasangan tercinta.


Menua bersama, mendengarkan celotehan anak kecil yang tertawa riang, berlarian kesana kemari, memanggil manggil kata ayah dan bunda.


Rasanya, dua ini seakan milik berdua, hingga akhir hayat yang memisahkan kita.


Sore itu, aku dan suamiku Rendy, berjalan jalan berdua di tepi pantai, menyaksikan suasana sore hari yang menyejukkan hati.


Kak Rendy menepati janjinya padaku, janji untuk mengajakku berjalan jalan sore di pantai, setelah aku menemaninya tidur siang untuk ke sekian kalinya.


Aku tidak mau munafik, aku juga menyukai semua aktivitas intim setelah pernikahan.


Kak Rendy memperlakukan ku dengan begitu lembut dan hangat.


Jujur aku pun sangat menyukainya.


Tapi, apakah setelah menikah itu, yang dipikirkan hanyalah aktivitas ranjang?


Tentu saja tidak!


Aku ingin seperti yang lainnya, menikmati indahnya berdua, bukan hanya di kamar saja.


Berjalan jalan berdua, menikmati indahnya sore hari, bercanda gurau dan mengobrol bersama, tentang indahnya hari hari yang baru saja kita lewati.


Kak Rendy menarik tanganku, mengajakku ke bibir pantai.


Menuliskan kata I Love You yang begitu besar, hingga aku tak bisa berkata apa apa saking senangnya.


Bukan karena aku lebay atau apa?


Tapi aku menyukai hal hal yang romantis, sekecil apapun itu.


Bagiku, hal romantis seperti itu, janganlah pernah berubah atau memudar karena bertambahnya kadar usia.


Semakin kita tua, maka harus semakin kuat juga perasaan kita terhadap pasangan kita.

__ADS_1


Mungkin, kata yang kak Rendy tuliskan itu tidak ada apa apanya, dan jata itu terlalu kecil jika dibandingkan dengan semua perasaan dan isi hatinya untuk ku.


Namun, percayalah, aku begitu menyukainya, walaupun deburan ombak kini telah menghapusnya.


Tapi kata yang telah tertulis itu, tak akan pernah terhapus, sampai hati kita sendiri yang ingin menghapusnya.


Dengan perasaan sayang, senang, yang bercampur menjadi satu, aku memeluk suamiku dengan begitu eratnya.


Menyalurkan semua rasa cinta yang ada dalam hatiku, agar kak Rendy dapat merasakannya.


Walaupun aku tahu, suami ku itu sudah tahu, semua yang aku rasakan untuk nya.


"Kamu menyukainya?" tanya Rendy sambil memelukku dengan begitu erat, seolah takut kehilangan, jika Rendy, melepaskan sedikit saja pelukannya.


Aku menganggukkan kepalaku dengan senyum yang selalu menghiasi bibir ku yang manis ini.


hehe,


Suamiku sendiri loh, yang bilang kalau bibirku ini manis.


"Ah, menyebalkan sekali!" ujar Rendy, yang kini berjalan menggandeng tangan Ros, menyusuri pantai.


"Apa" tanya ku.


"Kenapa kau bisa sesenang dan sebahagia itu saat berada di luar?" ujar Rendy kemudian.


"Karena suasana hatiku memang sedang senang dan bahagia, karena suamiku yang tampan ini, menepati janjinya," ucap Ros yang terus melangkahkan kakinya sambil menyenderkan kepalanya ke bahu Rendy.


"Aww, aw, aw, aw," jerit Rendy karena Ros benar benar mencubit perutnya.


"Kenapa mencubit ku?" tanya Rendy sambil mengusap usap perutnya.


"Aku gemas sekali dengan mulut suamiku ini," jawab Ros.


Rendy membulatkan matanya, ada binar kebahagiaan saat mendengar ucapan Ros barusan.


"Benarkah? kau gemas dengan bibirku yang seksi ini?" tanya Rendy dengan penuh kebanggaan.


"Tentu!" jawab Ros singkat.


"Kalau begitu, kamu bebas mau melakukan apa saja pada bibir seksi dan manis ku ini! kau mau menciumnya, kau mau menghis*p nya? atau kau mau... mau apa ya? mau apa saja lah, kau bebas melakukannya," ujar Rendy panjang lebar.


Ros menyunggingkan sebelah bibirnya dengan senyum kecut yang menghiasi wajahnya.


"Benar, aku memang gemas dengan bibir suamiku ini! saking gemasnya, aku sangat ingin mencubit dan memukul bibirmu itu," lanjut Ros yang membuat Rendy seolah di sanjung, lalu jatuhkan dengan tragis.


Hahaha


Ros tertawa terbahak bahak, saat melihat perubahan wajah Rendy yang tadinya penuh dengan kebanggaan, menjadi suram penuh kekesalan.

__ADS_1


"Lihat wajah tampan yang berubah menjadi jelek itu!" ejek Ros, mengundang ocehan Rendy.


"Apa? wajah jelek?" ucap Rendy yang mulai mendekati Ros dengan wajah menyeringai.


"Benar, wajah suamiku yang tampan ini berubah menjadi jelek dalam seketika," balas Ros yang masih tak kuasa menahan tawanya.


"Emh, kau senang sekali ya, tampaknya," ucap Rendy lagi yang semakin mendekat.


"hmmh, tentu!" balas Ros lagi menanggapi, masih setia dengan tawanya.


"Kau bilang wajah jelek ya?" tanya Rendy yang kini sudah berada dekat dengan Ros yang masih tertawa.


"Hahaha, i... iy-


Hap!


Rendy menangkap Ros dan menggendongnya tanpa Ros ketahui.


"Aaaa, lepaskan, apa yang kakak lakukan padaku?" ucap Ros sambil berteriak, Ros begitu kaget dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu yang secara tiba tiba.


"Lepaskan!" ucap Rendy mengulangi ucapan Ros.


"Tidak semudah itu sayang! kau sudah mengataiku jelek, dan sekarang kau menyuruhku untuk melepaskan mu, setelah apa yang kau katakan padaku," ucap Rendy penuh arti.


"Aku kan hanya bercanda sayang! kenapa menganggapnya serius?" ucap Ros membujuk.


"Bercanda!" ucap Rendy mengulangi lagi ucapan Ros.


"Iya sayang, aku hanya bercanda. Jadi, lepaskan aku ya?" ucap Ros begitu manis, dengan raut wajah yang dibuat semanis mungkin dihadapan Rendy.


"Kalau begitu, aku juga sedang bercanda! jadi, tidak papa ya? jangan di anggap serius!" balas Rendy, membalikkan ucapan Ros.


"Aku ben...-


Belum sempat Ros meneruskan ucapannya, Rendy sudah membungkam mulut Ros dengan bibirnya.


Menyatukan dua bibir itu hingga saling beradu, bertaut satu sama lain, di bawah langit yang berwarna keemasan, deburan ombak yang menjadi alunan musik yang terdengar syahdu, semilir angin yang menyejukkan suasana yang mulai memanas, menambah lengkap suasana sore, di pantai yang indah.


Dalam gendongan Rendy, Ros ikut terhanyut dengan permainan yang Rendy lakukan padanya. Dengan lihai, Ros membalas setiap gerakan yang Rendy lakukan.


Merasa permainannya di respon oleh Ros, Rendy pun tak menyia-nyiakan kesempatan, Rendy semakin memperdalam ciumannya dengan merubah posisinya menjadi duduk, dengan pasir pantai yang menjadi alas nya.


Keduanya saling memadu kasih cukup lama, dengan senja dan deburan ombak di pantai yang menjadi saksinya.


*Bersambung...


Hai, hai, jangan lupa tinggalin jejak nya ya๐Ÿ˜ like, komen and vote.


Sekuntum bunga dan secangkir kopi pun, akan saya terima dengan senang hati.

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Salam hangat sore buat semuanya, semoga sehat selalu dan dimudahkan jempolnya untuk memberi like dan komen๐Ÿ˜โœŒ๏ธ*


__ADS_2