
Suara mobil yang datang dari arah jalan yang berhenti di depan gerbang, rumah mewah Rendy dan Ros yang masih tertutup, membuat pria yang sedang mencuci mobil mewah majikannya itu terdiam sesaat, dengan dada berdebar-debar tak karuan.
Pria itu menelan ludah dengan susah payah, saat melihat siapa yang keluar dari dalam mobil tersebut.
Rendy, pria itu keluar sambil mengangkat barang-barang yang tidak banyak jumlahnya. Hanya beberapa tas miliknya dan Ros.
Tidak terlihat Ros keluar dari dalam mobil tersebut, membuat Herman yakin, jika sang Nyonya tidak ada bersama suaminya. Padahal, Ros sedang menelpon teman-temannya yang baru saja menghubungi. Dan karena terlalu asik menelpon, Ros jadi lupa untuk keluar dari dalam mobil online yang ia dan Rendy pakai untuk menuju rumahnya.
Sehingga membuat Herman mengira, Rendy hanya seorang diri saja datang ke mari.
'Bagaimana ini?' Pikir Herman kembali gelisah. Rasa takut mulai kembali mendominasi dirinya.
"Hei Herman!" Teriak Rendy masih di depan gerbang yang masih belum di buka.
Herman terkesiap. Ia lupa akan tugasnya sebagai seorang supir yang di beri amanan di titipkan pintu gerbang oleh satpam yang berjaga di rumah tersebut karena urusan alam, ingin buang air besar.
Berjalan dengan langkah cepat menghampiri pintu gerbang. Debat jantung Herman semakin tak terkendali. Keringat besar, sebesar biji kacang hijau berjatuhan dari keningnya. Pun dengan tangan yang bergetar saat membuka pintu gerbang, tenaganya seolah terkuras dengan kehadiran Rendy yang datang secara tiba-tiba.
"Apa yang kau lakukan, Herman? Kenapa membuka pagar saja lama sekali!" keluh Rendy saat Herman masih membukakan pintu gerbang untuknya.
Sangat lambat!
Rendy tersenyum tipis melihat ekspresi wajah Herman yang menurutnya sangat lucu. Wajah panik, keringat bercucuran, tangan bergetar dan tubuh yang terlihat lemas saat melihatnya.
Rendy sudah bisa memastikan, jika saat ini Herman tengah ketakutan dengan ancamnya tadi.
'Rasakan!' gumam Rendy dalam hati, 'itulah akibatnya, jika kau berani macam-macam dan mengerjaiku!' lanjutnya lagi masih dalam hati.
'Ah, bagaimana ini? Tuan pasti sangat marah! Lihat bibirnya yang menyungging itu... Aku ngeri melihatnya!' gumam Herman dalam benaknya. Pria itu benar-benar ketakutan saat ini.
"Tu-tu-tuan," panggil Herman memberanikan diri.
"Apa?" jawab Rendy menyolot.
Jantung Herman seakan hendak copot dari tempatnya, kala ia mendengar sahutan Rendy dari mulutnya.
__ADS_1
"Sa-sa-saya minta maaf Tuan," kata Herman akhirnya. Ia berhasil mengatakan kejujuran pada Rendy, dengan segenap hati dan perasaan yang sedikit lapang, apabila tuannya itu akan menghukum apalagi memecatnya.
Rendy melotot. Menatap tajam pada Herman yang langsung tertunduk saat mendapatkan tatapan tajam darinya.
"Sekali lagi, saya minta maaf Tuan! Saya sudah berusaha mencari Nyonya ke mana-mana. Tapi, tetap saja Nyonya tidak ada." Herman menunduk dalam, semakin dalam hingga Rendy dapat tertawa tanpa suara, dan tanpa terlihat oleh Herman.
Herman mendongak. Ia keheranan saat melihat ekspresi wajah Tuannya yang tengah tertawa tanpa suara.
'Aneh!' pikir Herman.
"Kenapa anda tertawa, Tuan?" tanya Herman kebingungan.
"Kenapa? Apa tidak boleh aku tertawa? Siapa kau, berani melarang-larang aku untuk tertawa?" tanyanya dengan nada penuh penekanan.
Herman yang tadinya sudah berani menatap Rendy, kini kembali menundukkan kepalanya, melihat ujung jari jemarinya yang saling bertautan satu sama lain.
"Tu-tu-tuan! Apa Tuan akan memecat saya?" tanya herman gelagapan.
"Memecat?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba saja ada di antara suara Herman dan Rendy.
Herman terpukau, ia terdiam sambil memandangi seraut wajah majikan perempuannya ya g cantik alami, walau dengan riasan dan pakaian yang seadanya.
'Plak!'
Tak terima dengan mata Herman yang terus menerus memandangi keindahan wajah Ros, Rendy memukul keras tangan Herman, hingga Herman meringis merasakan sakit di tangan kirinya. Bukan hanya sakit, bahkan Herman juga langsung tersadar, jika Rendy ternyata sudah mengerjainya.
'Dasar Tuan alias majikan sableng!' umpatnya dalam hati. Andai saja ia berani, sudah pasti Herman akan *******-***** tubuh Rendy hingga lembek seperti adonan kue.
"Nyo-nyo- nyonya?" ucap Herman gelagapan.
Ros mengernyit heran.
"Iya Herman? Ada apa? Siapa yang mau memecat dan di pecat?" kembali pertanyaan itu Ros layangkan pada Herman.
Herman tersenyum jahil, "i-itu Nyonya--"
__ADS_1
"Kucing milik Herman yang mau di pecat sayang! Katanya, kucing itu tidak mau menurut pada majikannya, ia tidak mau menangkap tikus yang berkeliaran di atap rumahnya. Jadi, Herman mau memecat kucing tersebut!" Belum juga Herman menyelesaikan perkataannya, Rendy dengan cepat menjawab pertanyaan Ros yang di tunjukkan pada Herman. Membuat Herman gagal mengerjai Rendy kembali.
"Begitu Herman?" tanya Ros memastikan.
Herman mengangguk pelan, "benar Nyonya..." jawab Herman lemah. Sudahlah ia berhasil di kerjai, ia gagal pula mengerjai balik, Rendy. Padahal, tinggal setengah langkah lagi herman berhasil mengatakan apa yang sebenarnya terjadi padanya, kepada majikan perempuannya.
"Kalau begitu, tolong angkat barang-barang saya dan Tuan ya?" perintah Ros ramah, sebelum melangkah menuju rumah mewahnya yang sudah beberapa hari ini tidak ia tinggali bersama sang suami.
"Baik Nyonya," jawab hewan sambil menganggukkan kepalanya patuh.
Diangkat barang-barang Ros yang sudah berada di bawah aspal, karena sudah di keluarkan oleh pemilik mobil online, juga majikannya.
"Angkat yang benar!" ucap Rendy sambil menepuk-nepuk keras pundak Herman. Ada senyum kemenangan yang Rendy tunjukkan pada Herman sebelum melangkahkan kaki, masuk mengikuti langkah istrinya ke dalam rumah.
Berjalan dengan langkah riang sambil tersenyum, tingkah Rendy membuat Herman ingin menendangnya dari belakang. Namun, ia tekankan lagi. Ia hanya seorang supir di rumah ini. Dan walaupun sikap Rendy terkadang suka menyebalkan dan sedikit aneh, tapi ia tipe majikan yang baik dan pengertian pada para pelayannya.
Salah satu yang membuat Herman betah, namun kadang kesal dengan tingkahnya.
'Hahaha!'
Suara tawa yang menggema dari dalam rumah, membuat Herman bernapas dengan panjang, menahan perutnya yang terasa kembung karena kejutan bertubi-tubi dari Rendy padanya.
"Dikerjai bos, sungguh tidak mengenakkan!" ucapnya pelan. Kedua tangannya yang tadi bergetar, kini di paksa pula untuk mengangkat barang-barang kedalam oleh sang majikan. Sungguh mengesalkan!
...***...
"Kau jangan bertindak dulu Vero. Aku baru saja mendapatkan kabar, bahwa adik sepupumu Doni, sudah di tangkap oleh polisi. Tepatnya, Surya dan Rendy." Mathew mendekati Vero yang tengah memegangi sebuah pistol yang beberapa hari yang lalu, ia gunakan untuk menghabisi nyawa Anita.
Pandangannya kosong. Namun, tangannya masih bergerak, menggerakkan pistol di tangannya, seolah pistol itu adalah sebuah mainan.
'Dor!'
Tanpa di Sangka, tanpa di duga. Sebuah tembakan dari pistol yang di pegang Vero, mendarat tepat di sebuah papan yang sering ia pakai untuk latihan menembak. Memperdalam ketangkasannya.
"Tunggu saja tanggal mainnya paman! Satu persatu dari mereka yang berani menantang ku, akan kubuat seperti Anita!" ucap Vero dengan seringai yang ia tunjukan pada Mathew.
__ADS_1
Bersambung...