Dia Milikku

Dia Milikku
Kabur


__ADS_3

"Kurang ajar mereka berdua. Mereka menyekap ku di gudang kotor dan pengap seperti ini!" geram Herman sambil mencari sesuatu untuk membuka pintu gudang yang terkunci rapat.


Begitu banyak barang bekas di gudang ini. Namun, tak ada satu pun benda yang bisa Herman gunakan untuk membuka atau membobol pintu gudang tersebut. Herman semakin mendesah geram. Ia kesal bukan kepalang.


"Sial! Tidak ada satu pun barang yang bisa aku gunakan untuk membuka pintu ini." Kembali Herman celingukan ke sana ke mari. Namun, yang di cari, masih tak dapat ia temui.


...***...


Ros yang sudah berhasil lepas dari ikatan, juga Kabur dari dalam gudang pengap yang menyekap-nya. Kini, tengah di kejar-kejar oleh kedua orang yang tadi telah membuat ua dan Herman tertipu saat di rumah sakit.


"Woi! Jangan kabur!" Teriak Beno dengan telunjuk mengarah ke depan, menunjuk Ros yang sedang berlari menjauhi mereka berdua.


'Huh! Hah! Huh! Hah!'


Napas Beno dan temannya terdengar tak beraturan, seiring dengan langkah mereka yang semakin cepat menyusul Ros yang berlari tak kalah cepat dari mereka. Bahkan, kedua orang itu sangat kewalahan mengejar langkah Ros yang sepertinya tak kenal lelah untuk bisa kabur dari kejaran mereka berdua.


"Larinya cepat Bang!" teriak teman Beno.


"Tau! Kita kecoh dia. Lu, belok kiri, cegat dia di jalan gang depan sana. Gue tetep ngejar dia!" perintah Beno yang langsung di sambut dengan anggukan kepala oleh teman yang ia perintahkan barusan.


"Cepet!" suruh Beno lagi..


"Siap Bang. Laksanakan!" jawabnya sambil berbelok ke kiri, jalan yang Beno tunjukkan padanya.


"Tidak semudah itu kamu lari dari Beno, cantik!" gumam Beno dengan nada bicara yang terdengar begitu menyeramkan.


...***...


"Mereka masih mengejar ku!" gumam Ros diiringi dengan wajah lelah, napas terengah-engah, juga rasa takut akan tertangkap kembali oleh kedua orang yang terlihat masih mengejarnya di belakang sana.


Ros sesekali menengok ke belakang. Melihat, apakah mereka berdua masih mengejarnya atau tidak? Dan jawabannya ya. Mereka masih mengejar Ros. Namun, ada yang aneh! Satu orang lagi yang selalu banyak bicara, tak terlihat lagi batang hidungnya oleh Ros. Kemana orang itu? Apa dia kelelahan mengejar Ros, yang berlari sangat cepat untuk ukuran seorang wanita? Atau jangan-jangan...

__ADS_1


Ah! Dalam kondisi seperti ini. Memang hal hal buruk selalu terbayang di depan mata. Tidak salah memang. Tapi, tidak perlu juga memikirkan-nya, karena hanya akan menjadi sebuah beban saja.


"Aw!" pekik Ros. Kakinya tersandung batu kecil, karena konsentrasi-nya terpecah belah, antara jalanan yang ia lewati, juga menoleh ke belakang. Takut, jika tiba-tiba saja kedua orang itu sudah berada sangat dekat dengan dirinya.


"Ah, sial! Kaki-ku sakit..." gumam Ros lirih. Lari-nya menjadi sedikit pelan, karena jalannya sedikit pincang.


Sesekali tangan Ros mengusap-usap kakinya yang mulai terasa sakit. Di saat seperti ini, kenapa pula ia harus tersandung. Benar-benar mengesalkan! pikir Ros mendengkus kesal.


Hingga, tanpa Ros sadari, seseorang baru saja sampai di depan gang jalan sana, untuk menghadang jalan Ros. Kedua tangannya sudah ia rentangkan. Berjaga-jaga untuk menangkap Ros.


'Hap!'


Ros tertangkap.


'Aaaaa....' Ros menjerit ketakutan Karena tidak terbayangkan jika ia akan tertangkap secepat itu.


"Kena kamu, cantik!" ujar pria itu dengan senyum menyeringai.


'Bukk!'


Tak ingin tinggal diam, Ros mengangkat sebelah kakinya ke atas, hingga menyerang bagian bawah pria itu. Tepatnya di bagian pusaka. Hingga membuat pria itu meringis merasakan sakit.


"Aaa ... Sakit!" teriak pria itu terdengar kesakitan. Namun, Ros tidak peduli. Dengan ilmu bela diri yang pernah ia pelajari, Ros menambah memukuli tubuh pria itu dengan ganasnya. Bahkan, Ros menghajar-nya habis habisan tanpa ampun, sekalipun pria itu memohon ampun, karena kesakitan. Tetap saja Ros tidak peduli.


'Bekkk!'


Tanpa Ros ketahui dan sadari. Beno datang memukul tengkuk Ros hingga ia tak sadarkan diri.


Ros jatuh terkulai lemas di atas jalan yang hanya berukuran satu setengah meter.


"Lu, sama cewek aja kalah! Apalagi sama cowok! Dasar Cemen!" ujar Beno membentak temannya yang saat ini, sama-sama terkulai lemas di dekat Ros.

__ADS_1


"Maaf Bang! Dia jago juga ternyata," balas teman Beno dengan senyum kecut menanggapi ucapan Beno.


"Udah ayo. Bangun, bangun. Enak banget lu ya, pake tiduran segala!"


"Bukan tiduran bang! Jatuh ini, jatuh! Badan saya lemes semua ini!" ujar teman Beno dengan suara meningkat satu oktaf.


"Alah... Gitu aja Cemen. Cepetan bangun. Bantu Gua bawa ini cewek ke tempat Tuan sekarang. Kalau enggak... Lu tau sendiri kan akibatnya?" ujar Beno menakut-nakuti temannya dengan ancaman nama Tuan.


"Iya bang, iya!" teman Beno bangkit. Walau dengan tubuh yang terasa remuk dan mati rasa, ia tetap bangkit dan membantu Beno memapah Ros ke tempat yang sudah di persiapkan untuk menyekap Ros kembali.


"Berat Bang!" keluh teman Beno dengan wajah meringis. Bukan berat badan Ros yang menjadi keluhan dari pria itu, tapi karena badannya yang terasa sakit, membuatnya merasa jika badan Ros terasa amat berat dan menjadi beban baginya.


"Tau!"


...***...


"Apa? Kurang ajar! Ini pasti kerjaan Vero. Aku yakin itu!" ucap Rendy geram, ia yang baru saja berbicara dan menengok keadaan Rico, di buat tercengang dengan cerita yang Rico ucapkan padanya.


Dua orang perawat palsu yang menyamar, hingga membuatnya tak sadarkan diri. Rendy yakin, jika itu adalah kerjaan dari Vero, yang ia ketahui, masih hidup dan tentu saja menyimpan dendam padanya, juga pada Ros.


"Saya rasa seperti itu, Tuan!" balas Rico menanggapi ucapan Rendy, "maaf karena saya ceroboh dan tidak bisa menjaga amanah serta perintah dari anda Tuan!" lanjut Rico dengan wajah penuh penyesalan.


Rendy berbalik dan menatapnya sekilas. Lalu, ia menepuk-nepuk bahu Rico, "tidak apa Rico. Ros dan Herman bukanlah orang yang lemah. Mereka kuat. Aku yakin itu-- Dan ini semua bukanlah murni seratus persen kesalahanmu. Ini sudah di rencanakan sebelumnya."


"Sekali lagi, maafkan saya Tuan."


"Sudahlah Rico. Pikirkan dulu keadaan-mu. Cepatlah membaik, dan kita cari Ros juga Herman sesegera mungkin!" Rendy menguatkan, walaupun ia sendiri takut setengah mati, sesuatu yang buruk, terjadi pada Ros dan Herman.


"Terima kasih Tuan, karena tidak menyalahkan saya!"


"Tenanglah! Aku akan menghubungi kak Surya dulu!" Rendy keluar dari ruangan Rico. Lalu, sesegera mungkin, ia mengeluarkan ponsel-nya dan mencari kontak bernama kak Surya di ponsel canggih keluaran terbaru-nya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2