Dia Milikku

Dia Milikku
Aksi tembak menembak


__ADS_3

Sirine dari mobil ambulan yang melaju kencang di jalanan, menyingkirkan para pengendara lain ke samping tanpa adanya sebuah instruksi. Para pengendara lain itu dengan senang hati, memelankan serta sedikit memberi jalan pada ambulan yang sepertinya sedang membawa pasien gawat darurat.


Di dalam mobil tersebut, seorang wanita sudah tak sadarkan diri lagi, karena darah terus menerus keluar dari perutnya tak juga reda, walaupun sudah di tahan dengan robekan kaos dalam.


"Sadar sayang, sadar! Jangan membuat aku cemas begini!" ujar seorang pria dengan nada cemas yang begitu kentara.


Rendy. Pria itu menggenggam erat tangan Ros yang lemah dan tak bergerak sama sekali. Wajah dan bibirnya pucat pasi. Seperti orang mati.


"Cepat pak!" Teriak Rendy dari belakang. Menggedor-gedor kursi sang pengemudi.


"Sabar pak! Kami sudah berusaha secepat mungkin!" pengemudi mobil ambulan itu tak kalah panik dengan keadaan yang mereka hadapi saat ini. Walaupun mereka sering kali mendapati keadaan yang sama. Namun, tetap saja, rasanya selalu sama. Membuat cemas, panik dan khawatir. Khawatir pasien tidak akan terselamatkan sampai tujuan dan mendapatkan perawatan sesegera mungkin.


"Ah..." Rendy mendesah berat. Ia mengalihkan pandangannya pada sosok pria di samping Ros. Pria yang rela mengorbankan dirinya sendiri demi ia dan Ros.


"Bodoh! Kau memang selalu bodoh Herman! Kenapa kau melakukan itu hah? Apa nyawamu tidak kalah penting? Apa anak serta istrimu juga tidak kalah penting?" gumam Rendy dengan nada marah. Namun, menatap wajah Herman begitu cemas. Wajah yang tak kalah pucat dari Ros. Rasa khawatir juga bersalah, bersarang dalam dadanya.


...***...


Herman. Ia tertembak oleh pria bertongkat yang sudah menembak Ros terlebih dahulu. Saat dirinya hendak menembak Vero. Pria itu datang dengan wajah tenang. Namun, ketenangannya itu membawa sebuah bencana bagi Ros, Rendy dan Herman.


"Kenapa harus berteriak-teriak seperti itu?" kata pria yang baru saja menampakkan dirinya, "aku memang sudah tua. Tapi, pendengaran ku masih normal!" lanjutnya sambil memberitahu.


"Akhirnya, kau keluar juga," ucap Herman sambil menatap tajam wajah pria tua yang baru menampakkan dirinya itu, "aku kira, kau ini seperti apa. Nyatanya, hanya seorang pria tua yang menjengkelkan!" lanjut Herman membuat pria tua itu menunjukkan ekspresi tak terduga. Bukan marah, melainkan tersenyum ramah.


"Jangan pernah meremehkan lawanmu tanpa mengetahui seberapa hebat orang itu. Atau kau, akan menyesal!" dingin dan kaku ucapan pria tua itu. Membuat darah Herman berdesir. Merinding seperti melihat dan mendengar suara makhluk halus.


"Jangan banyak bicara pak Tua. Atau--"


"Atau apa?" tanya pria itu memotong cepat ucapan Herman.


"Atau pria ini aku tembak saat ini juga." Herman kembali mengarahkan senjatanya pada Vero yang tubuhnya sudah tak berdaya lagi. Jangankan untuk bangkit dan menghindar, menggeser kan sedikit saja tubuhnya, pria itu tidak mampu. Hanya wajahnya saja yang masih bisa ia gerakkan dengan sesuka hati. Tersenyum sinis, menatap tajam juga meremehkan apa yang Herman akan lakukan padanya juga pria tua yang ternyata adalah pamannya. Mathew.


"Coba saja kalau kau berani. Tapi, sebelum kau berani menyentuhnya. Izinkan aku untuk--"


'Dor!'


Tembakan dengan gerakan yang cepat. Tidak terduga dan tidak terbayangkan sebelumnya. Tembakan itu mengenai bagian tubuh Ros untuk yang kedua kalinya. Wanita itu kembali meringis, di kala rasa sakitnya yang belum reda. Ia merasakan sakit untuk yang kedua kalinya. Rasa sakit yang luar biasa sakit. Lebih sakit dari sebelumnya.


Ros tertembak. Rendy membulatkan mata tak percaya. Dirinya ada di hadapan Ros. Namun, tak mampu sama sekali untuk melindungi wanita pujaannya. Sungguh tidak berguna. Rutuk Rendy dalam hati.

__ADS_1


"Ros!!"


"Nyonya!"


'Ha.ha.ha.'


Suara gelak tawa yang keluar dari mulut Vero. Membuat darah Rendy dan Herman mendidih.


Dengan gerakan cepat pula. Herman menarik pelatuknya, lalu menembakkan pada Vero. Membuat Vero melenguh panjang karena kesakitan.


"Kurang ajar!" umpat Mathew yang merasa kecolongan.


Aksi tembak menembak pun tak terelakkan lagi. Mathew melayangkan senjatanya pada Herman beberapa kali. Namun, pria itu mampu menghindar dengan gesit.


Merasa cukup sulit menembak Herman. Tatapan Mathew beralih pada sosok Rendy yang berada di dekat istrinya. Menangisi, seolah di dunia ini tidak ada wanita lain saja.


Tahu apa yang menjadi sasaran tatapan dari Mathew, Herman dengan segera mungkin, menggerakkan senjata apinya pada Mathew, tanpa Mathew ketahui. Hingga, tembakan itu mengenai kakinya hingga Mathew kehilangan keseimbangan diantara kakinya.


'Aaaah...' teriakan Mathew membuat Herman senang.


Pria itu lalu berjalan dengan tenang, menghampiri Rendy, tanpa menyadari, bahwa senjata api masih berada di tangan Mathew.


Dengan perlahan, Mathew mengarahkan senjatanya pada Rendy. Melupakan Herman, yang kembali berbalik badan untuk melihat keadaan Vero.


'Dor!'


"Herman!!!" Teriak Rendy. Pria itu telah menyelamatkan Rendy. Mengorbankan nyawanya sendiri, demi sang majikan.


Ha.ha.ha.


"Aku hendak menembak Rendy. Tapi, kau malah memilih menyelamatkan dirinya! Dasar bodoh!" ucap Mathew setelah gagal menembak sasaran.


"Kau!" Rendy menunjuk wajah Mathew yang menyebalkan. Pria tua itu membalas tatapan Rendy tak kalah tajam.


Rendy kali ini bangkit. Mengambil senjata api dari tangan Herman yang sudah terlepas. Pria berstatus sopir pribadi itu sudah tak sadarkan diri, sama seperti yang Ros alami. Rendy merasa bersalah. Ia berjalan dengan tergopoh-gopoh. Tubuhnya yang mati rasa, di paksa untuk membalaskan apa yang sudah Mathew perbuat pada istri juga sopir-nya.


"Kau! Dasar pak tua kurang ajar! Kau selalu menjadi biang masalah bagiku dan keluargaku!" kata Rendy dengan nada tertekan. Matanya nyalang menatap wajah Mathew.


"Itu, karena kau yang memulainya Rendy. Kau menyakiti keponakanku. Dan aku tidak akan pernah diam saja!" balas Mathew dengan nada sengit. Perlahan tubuhnya bangkit, walau dengan kaki yang baru saja tertembak. Namun itu bukanlah apa-apa. Pemandangan di depannya lebih menantang, dari pada harus mengurusi rasa sakit di kaki yang tidak seberapa sakit itu.

__ADS_1


"Lawan aku dengan tangan kosong, jika kau berani!" tantang Rendy membuat Mathew tersenyum sinis.


"Berani, adalah nama belakangku. Aku sama sekali tidak mengenal kata takut dalam hidupku!" jawaban Mathew sedingin es. Namun, tak mempu membuat Rendy gentar. Justru, dirinya ingin sesegera mungkin menghabisi pria tua yang telah menyebabkan Ros dan Herman tak sadarkan diri.


Rendy melepaskan senjatanya. Bermain jujur untuk melawan Mathew dengan tangan kosong. Namun, Mathew tidak sebodoh itu. Ia licik, apa yang Rendy lakukan, tidak ia lakukan. Pria tua itu menyembunyikan senjatanya di tempat yang tak terjangkau mata Rendy. Hingga Rendy tak menyadarinya. Dan saat Rendy hendak mendekat. Mathew menyodorkan senjata itu tepat di depan wajahnya.


"Kau bodoh Rendy. Kau kira, aku akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini hah? Tidak! Aku akan melenyapkan mu sekarang!" kata Mathew, sebentar lagi, senjatanya akan membuat Rendy bungkam untuk selamanya.


"Sial!" umpat Rendy pelan. Bisa-bisanya ia percaya begitu saja. Ia memang bodoh!


Satu!


Dua!


Tiga!


Rendy menghitung pelan sambil memejamkan mata, saat Mathew sudah menarik pelatuknya. Dan--


'Dor! Dor!'


Suara senjata itu begitu nyaring di telinga. Sangat dekat. Namun, Rendy tak mampu merasakan apa-apa di tubuhnya.


'Apa di tembak itu tidak sakit?' tanya Rendy dalam hati. Matanya masih terpejam. Dan saat matanya terbuka. Bukan sosok dirinya yang jatuh terkapar karena tertembak. Melainkan pria tua bernama Matthew. Yang jatuh, karena tembakan dari seseorang.


"Kak Surya?" kata Rendy menatap tak percaya pada kakaknya. Kemana saja dia? Kenapa baru datang di saat kedua orang penting dalam hidupnya sudah tertembak dan sekarang tak berdaya.


"Maaf Ren, aku terlambat!" kata Surya yang baru saja datang, dengan pistol yang masih mengarah ke arah Mathew.


Terlihat tarikan napasnya tersengal-sengal. Wajahnya penuh memar dan luka di bagian bibir dan hidung.


"Kemana saja kau Kak? Kenapa baru datang?" tanya Rendy sambil menendang tubuh Mathew yang sudah tak bisa berbuat apa-apa. Karena pria itu kehilangan kesadarannya.


"Aku akan menceritakannya nanti Ren. Ceritanya sungguh panjang. Aku lelah! Ayo, kita bawa Ros dan Herman pergi dari sini. Aku sudah memanggil ambulan.


...***...


Ambulan berhenti, tepat di depan pintu rumah sakit. Kedua pengemudi itu langsung sigap keluar, memanggil para perawat untuk sesegera mungkin menangani pasien yang mereka bawa.


Rendy keluar dengan wajah cemas, saat Ros dan Herman di bawa perawat ke ruangan yang berbeda.

__ADS_1


"Tenang Ren. Mereka berdua akan baik-baik saja!" Tepukan di bahu Rendy sedikit menenangkan. Namun, tak mengurangi rasa khawatir dan takut kehilangan dalam dadanya.


Bersambung...


__ADS_2