Dia Milikku

Dia Milikku
Sama-sama penting!


__ADS_3

"Hei, Vero!" Teriak Rendy setelah ia sampai di tempat yang telah Vero tentukan sendiri, tanpa persetujuan dari Rendy. Alias kesepakatan sepihak.


"Aku tau, kau mendengarkan aku bukan?" teriak-nya lagi dengan nada kesal penuh amarah. Mata-nya menyorot ke sekeliling. Memperhatikan setiap sudut yang terlihat oleh netra-nya.


Gelap dan hening! Tiada suara, apalagi tanda-tanda adanya kehidupan. Hanya kesunyian malam yang menemani langkah juga kedatangan Rendy di tempat ini.


"Pengecut! Keluar kau!!!" Rendy benar-benar geram, karena yang di cari-cari juga di teriaki, tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali.


"Apa kau takut padaku hah? Pengecut! Aku tau Vero, kau bisa mendengarkan aku bukan? Keluarlah! Tunjukkan batang hidung-mu dan hadapi aku. Jangan jadi pengecut yang hanya bisa mengancam dan menyaksikan saja. Buktikan, kalau kau memang pria sejati! Atau jangan-jangan, statusmu sudah berganti, dari pria, menjadi wanita!" cemooh Rendy untuk memancing kedatangan Vero.


"Pengecut!"


"Diam kau Rendy!" bentak Vero dengan nada tinggi. Tiba-tiba saja dia datang entah dari arah mana. Mata-nya menatap lekat pada pria yang telah berhasil merebut perhatian Ros dari-nya. Pria yang paling Vero benci di muka bumi ini.


"Akhirnya, kau muncul juga Kepar*t!" kata Rendy sambil memandang tak kalah lekat pada Vero.


Vero tersenyum sinis. "Apa kau merindukan aku Rendy?" tanya-nya membuat Rendy ingin membuang ludah. Namun, tak ia lakukan.


"Cih! Jangankan merindukan dirimu, mengingat namamu saja, aku tak pernah membayangkan-nya. Bahkan, aku tak pernah mengingatnya!" serius dan tajam ucapan Rendy, membuat Vero mengangkat kedua alis-nya ke atas.


"Sungguh!"


"Cepat katakan, di mana istri dan sopirku kau sekap?" tanya Rendy begitu lantang.


"Tenang Ren... Tenang!" kata Vero terlihat santai. Bahkan, senyum kecil terlihat di sudut bibirnya. "Aku tau, kalau Ros itu begitu penting bagimu. Tapi, sopir itu? Apa dia juga begitu penting untuk-mu? Sampai-sampai kau juga mencarinya sedemikian rupa!" lanjut Vero dengan wajah serta nada mencibir.


"Tidak usah banyak tanya! Apa gunanya aku memberitahumu, penting atau tidaknya dia untukku!" jawab Rendy dengan menekankan perkataannya.


"Baiklah kalau begitu!" balas Vero sambil menepuk-nepuk kedua tangannya. Sebagai kode kepada para anak buahnya untuk segera mendekat dan melakukan apa yang ia perintahkan.

__ADS_1


Rendy menyipitkan matanya. Menatap begitu serius pada Vero yang tengah menepuk-nepuk tangannya sendiri. Apa yang ia lakukan? pikir Rendy dalam hati.


Tak lama setelah Vero menepuk-nepuk kedua tangannya. Dua orang datang dengan membawa masing-masing tawanan yang Vero jadikan sandera.


Rendy terperangah. Ia menatap geram pada Vero dan dua orang yang tengah memegangi istri juga sopir-nya. Lalu, menatap dengan wajah sendu pada Ros yang saat ini tengah di tutup matanya, agar tak bisa melihat sekeliling. Sungguh miris! Istrinya ada di depan mata. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa. Hanya menyaksikan pemandangan istrinya yang sedang menjadi tawanan. Tidak lupa dengan senjata api yang di todong kan pada Ros juga Herman, sebagai pelengkap kekejaman Vero.


"Kau memang bedebah Vero! Kau manusia berhati iblis!" cecar Rendy terdengar lantang.


Ros dan Herman yang mulut dan matanya di tutup, tak mampu berkata apa-apa, saat mendengar Rendy berteriak, walau mereka ingin mengatakan kepada Rendy, "pergi Kak, aku tak apa. Aku tak ingin kamu kenapa-napa akibat ulah Vero!"


Begitu pun dengan Herman yang ingin berkata sesuatu, namun terhalang oleh kain yang menutup mulutnya. Hanya teriakan tak jelas saja, yang keluar dari mulut kedua-nya.


"Bagaimana Ren? Apa kau suka dengan kejutan yang aku berikan padamu?" tanya Vero, seolah ini memang benar-benar kejutan yang menyenangkan.


Rendy terdiam dan tak bersuara, "apa mau-mu?" tanya Rendy terdengar dingin.


"Mau-ku? Ah, aku suka dengan pertanyaan-mu yang tidak bertele-tele itu!" kata Vero sambil menjentikkan jarinya beberapa kali.


Ros begitu penting baginya. Sangat-sangat penting. Tapi, Herman kini juga penting untuk-nya. Kedua-nya sama-sama penting dalam hidup Rendy.


Istri tercinta juga sopir yang merangkap menjadi orang kepercayaan Rendy.


"Katakan!"


"Jangan membentak-ku, apa lagi melawanku. Karena kau tau... Istri dan sopir-mu itu, bisa saja kehilangan nyawanya saat ini juga, jika kau berani melawanku!" tekan Vero dengan sebuah ancaman yang ia berikan pada Rendy.


"Iblis kau!"


"Ya, aku memang iblis! Apa itu menjadi masalah untuk-mu? Kau bahkan tahu sendiri. Kalian berdua lah yang membuat aku menjadi seorang iblis!" Penuh amarah dan penekanan ucapan Vero, membuat Ros dan Rendy menggeleng-gelengkan kepala mereka cepat. Seolah sudah berjanjian sebelumnya, keduanya sama melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"Itu ulah-mu sendiri Vero! Tidak usah menyalahkan orang lain, atas apa yang kau perbuat sendiri."


"Diam kau!" bentak Vero, "Beno, pukul perut pria itu hingga ia meringis!" perintah Vero yang menatap anak buahnya begitu lekat.


"Baik Tuan!"jawab Beno cepat.


"Jang--"


Bugh!


Bugh!


Terlambat! Ucapan Rendy terhenti karena Beno sudah terlebih dulu memukuli perut Herman dengan ganasnya. Membuat Herman terbatuk hingga mengeluarkan cairan bening dari mulutnya, yang tertahan oleh sapu tangan.


Ros menggeleng-gelengkan kepalanya. Walaupun ia tak melihat. Namun, ia bisa mendengar apa yang Vero perintahkan pada anak buahnya. Ia juga bisa mendengar suara pukulan Beno, serta suara rintihan Herman yang terdengar sangat kesakitan.


"Jangan! Jangan pukuli Herman..." teriak Ros memohon. Andai saja ia bisa bersuara dan berteriak untuk memohon. Namun, nyatanya, hanya kata dalam hati saja yang mampu Ros ucapkan untuk memohon dan meminta pertolongan untuk Herman.


"Jangan pukuli dia Vero!" ujar Rendy yang tak bisa berbuat apa-apa, karena kedua anak buah beri membawa senjata api di masing-masing tangannya.


"Baiklah, baiklah! Karena aku sedang berbaik hati, aku kabulkan permohonan dirimu!" balas Vero terlihat santai. Ia mengangkat sebelah tangannya ke udara, membuat Beno menghentikan aksinya yang sedang memukuli Herman.


Rendy menghela napas panjang nan lega. Begitu pun dengan Ros dan Herman, setelah Beno berhenti memukuli Herman.


"Kalau kau berani, hadapi aku Vero! Jangan kau siksa, orang tak berdaya seperti Herman, karena tangannya saja kau ikat. Begitu pun dengan matanya. Bagaimana bisa, ia melawan anak buah-mu!"


"Kau memang selalu benar Rendy. Kalau begitu. Kau hadapi aku!" kata Vero membuat Rendy tersenyum, bagai ada kesempatan untuk melumpuhkan Vero, "Tapi, jika kau berani menyentuh kulitku sedikit saja, maka taruhannya adalah mereka berdua!"


Deg!

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2