
"Ya Tuhan, aku sibuk sekali hari ini. Anto, apa kamu bisa membantuku?- - Anto mengangguk, - -bawakan kebaya ini ke dalam mobil, kita harus cepat!" ujar Ros dengan serius, ia herjalan ke sana ke mari untuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan ia bawa menuju tempat klien yang memakai jasanya untuk sebuah acara pertunangan.
"Ya Tuhan Ros, tenanglah..., Apa kau bisa tenang sedikit?" kata Mila mulai khawatir dengan keadaan Ros yang sudah seperti ini, berlari ke sana ke mari agar semuanya terkendali. Tapi, terlihat memusingkan bagi siapa saja yang melihatnya, "yup, seperti itu. Tenangkan dirimu, ada kami di sini, kami juga bisa membantumu," ujarnya kemudian.
"Terima kasih Mila, tapi kita hampir terlambat. Maafkan aku, semua ini karena aku yang datang terlambat pagi ini." Ada nada penyesalan saat Ros mengatakannya, dan ini semua di akibatkan oleh ulah Rendy yang mengerjainya dengan memberikan ratusan ciuman balasan saat pagi hari. Hingga membuat Ros lupa bahwa hari ini, tepat di pagi ini ia ada acara dengan kliennya yang sudah terjadwal beberapa minggu yang lalu.
"Hampir Ros, hampir!" Nina datang membawa alat make up sambil berujar dengan menekankan kata 'hampir' untuk menenangkan Ros.
"Keduanya beda tipis Nina!" Ros berujar dengan memijat-mijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Dan jika kamu terus menerus seperti itu, maka kita akan benar-benar terlambat. Ayolah, kita berangkat sekarang." Mila menyudahi semua.
"Apa semua sudah siap?" kata Ros memastikan.
"Tentu! Ayo kita berangkat!" jawab semua teman Ros nyaris bersamaan.
"Ah, Anita!" panggil Ros tiba-tiba saat melihat Anita dari balik punggung Anto dengan setelan cukup menarik yang membuat Ros hampir saja tidak mengenali Anita, "kamu datang, syukurlah..., Aku hampir melupakanmu!" sambung Ros kemudian.
Anita berjalan menunduk menghampiri Ros. Ada sedikit canggung saat ia menampakkan dirinya di hadapan Ros.
"Kenapa diam saja! Ayo ikut aku!" ajak Ros tanpa canggung. Ia menyeret lengan Anita agar mengikutinya.
"Ba-baik Nyonya!" jawab Anita ragu-ragu.
"Panggil aku Ros, sama seperti yang lainnya. Apa kamu lupa?"
"Ba-baik Nyonya. Eh, Ros... Emh, bagaimana kalau saya panggil mba Ros saja!" ujar Anita seraya bertanya.
"Ah, tidak buruk!" balas Ros. "Ayo ikuti aku, dan berjalanlah lebih cepat!"
__ADS_1
"Baik mba!"
...***...
Senyum yang tak luntur sedari pagi, membuat Herman sedikit bingung dan bertanya-tanya ada apakah gerangan dengan Tuannya itu? Herman terus menerus memperhatikan. Apakah Rendy baik-baik saja atau tidak. Dan jawabannya, tentu saja Rendy baik-baik saja. Memang sejak kapan dia tidak merasa baik-baik saja saat ada seorang istri yang selalu ada di sampingnya dan mewarnai hari-harinya pula. Pikir Herman.
"Kenapa kau melihatku seperti itu hah?" tanya Rendy yang menendang kursi yang Herman duduki dari balik kemudi.
"Haha, tidak Tuan! Kita sudah sampai!" balas german mengelak dari pertanyaan Rendy untuknya.
"Cepat sekali sampainya!" gumam Rendy pelan, nyaris seperti berbisik.
Herman mengernyit heran, 'Cepat! saya bahkan membawa mobil ini seperti seekor siput!' protesnya dalam hati, karena Rendy meminta Herman untuk melajukan mobilnya perlahan.
Klek!
Pintu terbuka. Herman membukakan pintu untuk Rendy keluar dari dalam mobil.
"Aw! Sial, sial, sial!" pekik Rendy menggerutu, sembari memegang sebelah kakinya yang terasa sangat sakit saat ia memijakkan kedua kakinya.
"Anda kenapa Tuan?" tanya Herman penasaran. Tadi tersenyum-senyum sendiri, dan sekarang, ia memegangi kaki sebelahnya dengan ekspresi yang menunjukkan jika Rendy tengah kesakitan.
"Kakiku! kaki sebelahku Herman!" ujar Rendy yang kini tengah menopang kan sebelah tangannya pada Herman sebagai sandaran.
"Kaki!" Herman semakin mengernyit dibuatnya, 'kenapa apa sih?' pikirnya.
Ternyata, kaki sebelahnya yang baru saja Rendy keluarkan dari dalam mobil, menginjak sebuah paku payung yang ukurannya cukup untuk menembus sepatu kulit Rendy yang mengkilap. Namun, nyatanya mengkilap dan bagus saja tidak menjamin untuk seorang Rendy bisa menghindari luka. Kakinya terluka.
"Ya Tuhan Tuan. Kaki Anda terluka!'' Herman panik. Dengan gerakan secepat kilat, Herman mendudukkan tubuh Rendy di atas batu bata parkiran dan langsung membuka sebelah sepatu Rendy yang terkena paku.
__ADS_1
"Aw! Pelan Herman!" protes Rendy. Namun, tidak ada gunanya karena sebelah sepatunya sudah terlepas dan kaki Rendy langsung mengelus cukup banyak cairan segar berwarna merah hingga membuat Herman geli sendiri melihatnya.
"Tu-Tuan, kaki Anda, Tuan!" ujar Herman yang nyaris takut saat melihat cairan berwarna merah itu terus menetes dari kaki Rendy.
"Ambilkan aku peralatan p3k dari dalam mobil Herman!" perintah Rendy dan Herman langsung menurutinya.
Tak perlu waktu lama untuk Herman kembali mengambil kotak p3k. Walaupun sedikit takut bahkan tangannya gemetar Herman mengobati luka Rendy untuk melakukan pertolongan pertama agar luka Rendy tidak mengalami infeksi.
"Pelan Herman! Apa kau tidak tahu? Ini sakit sekali!" ujar Rendy memegang bahu Herman cukup kuat, membuat Herman membulatkan matanya karena rasa sakit yang ia rasa pada bahunya yang di pegang oleh Rendy.
Gemetar bercampur sakit, Herman terus membasuh luka Rendy dengan air mineral kemasan botol untuk membersihkan mukanya.
'Tuan! Saya takut darah yang banyak. Kalau hanya sedikit, tidak apa. Tapi kalau banyak, saya takut!' ujar Herman dalam hati. Namun, ia tak berani untuk mengatakan pada Rendy apa yang barusan ia katakan dalam hatinya.
"Kenapa? Apa kau takut?" tanya Rendy di sela-sela rasa sakit yang ia rasakan.
"Ta-takut? Tentu saja tidak Tuan! Kenapa saya harus takut? Memangnya saya takut kenapa?" kata Herman yang mulai salah tingkah saat mendengar Rendy mengucapkan kata 'takut'.
"Baguslah! Karena sepertinya aku harus operasi kecil untuk membersihkan kakiku. Dan kau harus menemaniku sampai ruang operasi agar aku tidak merasa tegang!" ujar Rendy lebih terdengar seperti sebuah ancaman saat Herman mendengarnya.
'Ikut? Ke ruang operasi?' Herman hampir pingsan mendengarnya. Ia tidak mau ikut menemani Rendy apalagi harus melihat berlangsungnya proses operasi kecil yang harus Rendy jalani. Bisa-bisa Herman pingsan di tempat saking takutnya.
"Saya perban dulu Tuan!" kata Herman terdengar tidak mau menanggapi ucapan Rendy sama sekali.
"Tentu! Lakukan dengan cepat, dan bawa aku ke rumah sakit terdekat sekarang juga!" balas Rendy dengan raut wajah bingung. Bagaimana bisa ada sebuah paku payung di parkiran mobil kantornya yang biasa pijaki setiap hari?
"Baik tuan!" jawab Herman cepat. Dan tidak butuh waktu lama pula untuk Herman membalut kaki Rendy dengan kain kasa untuk sedikit menutupi luka Rendy. Herman membopong tubuh Rendy menuju mobil kembali untuk menuju rumah sakit terdekat. Dan saat keduanya hampir sampai menuju mobil.
"Tunggu Tuan!" Rendy masih dibopong oleh Herman. Namun, pandangan mata Herman tertuju pada lantai parkiran dekat mobil Rendy, dimana tadi Rendy mengalami kecelakaan kecil dengan tertusuk paku payung yang tidak sengaja terinjak Rendy.
__ADS_1
Bersambung...