Dia Milikku

Dia Milikku
Rencana yang telah disusun rapi


__ADS_3

"Aku akan ke toilet sebentar," ujar Ros pada suaminya yang tengah terduduk di sofa empuk ruangan Ros.


"Mau aku temani?" Rendy mengedipkan sebelah matanya genit.


"Ish..." Ros memberengut sebal, sedang Rendy terkekeh.


"Aku bercanda sayang," ucap Rendy.


"Aku tau! Sebentar ya?"


"Jangan terlalu lama. Aku bisa saja menyusul mu," ujar Rendy sebelum tos pergi. Tanpa mereka sadari, Anita masih berada di ruangan yang sama. Tepatnya di bawah meja. Mencari-cari handphone sebagai alasan untuk memanfaatkan kesempatan.


"Tentu!" jawab Ros seraya melangkahkan kakinya menuju toilet.


Tiga menit berlalu, dan Ros masih belum kembali juga dari toilet.


Lima menit!


Tujuh menit!


Rendy yang menunggu sang istri keluar dari toilet pun, akhirnya memejamkan matanya sambil tiduran di atas sofa. Hingga-- ia benar-benar tertidur. Bahkan, ia juga tak menyadari, jika seseorang tengah berjalan perlahan mendekatinya.


'Bruk!'


Seseorang terjatuh ke arah Rendy, hingga menindih tubuh Rendy tepat di atasnya.


'Cup!' satu kecupan manis mendarat di bibir Rendy. Rendy yang belum membuka mata, membalas kecupan itu dengan ciuman yang panas.


Beberapa saat berlalu, Rendy merasakan adanya sesuatu yang berbeda. Ciuman Ros kali ini, tidak seperti biasanya. Lebih ganas dan mendominasi.


"Sayang..., Kenap..." ucapan Rendy terhenti. Pria tampan yang baru saja menikmati ciuman panas itu membulatkan mata, menatapnya dengan sorot mata tajam. Deru napas pun terdengar tak beraturan. Bahkan, tangannya juga mengepal dengan erat.


"Kau!" tunjuk Rendy dengan nada marah. Kaget bukan main. Geram dan marah, tentu saja. Apa yang baru saja ia lakukan adalah sebuah kesalahan besar.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Rendy geram. Ia langsung mendorong tubuh orang itu dengan kasar. Namun, setelah orang itu terdorong, ia kembali lagi dan menjatuhkan kembali tubuhnya di atas tubuh Rendy.


Baru saja Rendy hendak bangkit, tapi gerakannya kalah cepat. Orang itu sudah terlebih dahulu menindih tubuh Rendy kembali.


"Kurang ajar! Lepas! Lepaskan aku wanita sialan!" desis Rendy dengan nada geramnya.


'Hahaha!'

__ADS_1


Wanita itu tertawa puas.


'Plak!'


Satu tamparan Rendy layangkan pada wanita yang sudah berani menjebak dan menginjak harga dirinya.


Wanita itu berhenti tertawa dan langsung terdiam sambil memegangi pipinya yang perih akibat tamparan keras dari Rendy.


Sadar dengan kehadiran seseorang selain dirinya dan Rendy, wanita kembali mencium bibir Rendy seraya berkata, "maafkan aku Tuan. Kakiku tersandung, dan aku... Ah, bukankah baru saja, Tuan sangat menikmati ciuman panas ki..." mata Rendy semakin membulat. Amarahnya sudah tak terbendung lagi. Rendy hendak menampar kembali Anita. Namun, belum sempat tangan Rendy melayangkan satu tamparan lagi, suara wanita yang paling ia cintai, sudah menggema di ruangan tersebut.


"Rendy! Anita!" Teriak Ros, "apa yang kalian lakukan?" tanyanya sambil berjalan ke arah di mana keduanya berada. Ros menatap tidak percaya dengan apa yang saat ini tengah ia lihat.


'Bruk!'


Dengan keras dan kasar, Rendy mendorong tubuh Anita hingga jatuh tersungkur ke lantai. Kali ini, Anita tidak melawan seperti tadi.


'Aw!' pekik Anita. Wanita itu mengusap-usap tangannya yang membentur meja.


Sakit? Tentu saja. Namun, ia puas dengan hasil kerjanya saat ini. Rencana yang sudah ia susun dengan sedemikian rupa, akhirnya berhasil juga, dan berjalan dengan sempurna.


"Sayang, aku bisa jelaskan sayang. Ini-- ini tidak seperti yang kamu lihat!" Rendy buru-buru memegang tangan Ros, menjelaskan semua yang terjadi padanya, tidak seperti yang Ros lihat. Namun, dengan kasar Ros menepis tangan Rendy.


"Sayang..."


'Plak!'


Satu tamparan keras mendarat di pipi Rendy. Cukup keras hingga menyisakan panas. Seperti ciumannya bersama Anita tadi, yang tanpa Rendy sadari, dengan siapa ia berciuman.


Anita tersenyum puas saat melihat apa yang baru saja terjadi. Rencananya benar-benar berhasil. Bahkan, satu tamparan di pipinya, juga terbalaskan dengan tunai di depan wajahnya sendiri.


"Kalian-- Kalian berdua pengkhianat! Kalian bermain di belakangku," ujar Ros sambil terisak. Ia tak mampu lagi menyembunyikan kesedihannya saat mendapati, jika dirinya sudah di khianati, di ruangannya sendiri.


"Dengar aku sayang... Ini hanya salah paham. Percayalah!" ujar Rendy dengan nada memelas. Ia bingung harus bagaimana lagi menjelaskannya pada Ros. Semua ini gara-gara satu orang bernama Anita. Ya, Rendy menyalahkan Anita atas kejadian ini. Dan itu memang benar adanya.


"Salah paham?" tanya Ros sambil geleng-geleng kepala. Bibirnya juga tersungging, mencemooh apa yang baru saja Rendy katakan. Walaupun dengan air mata yang terus membasahi pipi.


"Benar sayang, ini hanyalah salah paham!" Rendy menegaskan kembali.


"Lalu? Apa aku harus percaya begitu saja?" tanya Ros yang mencoba menahan segala amarah dalam dada.


"Tentu saja! Karena ini tidak seperti yang kamu lihat, Sayang!" jawab Rendy sambil mendekati Ros.

__ADS_1


"Jangan mendekat!" cegah Ros saat Rendy mendekat dan hendak meraih tangannya.


"Tap..."


"Aku bilang, jangan mendekat!" tegas Ros. "selangkah saja kamu mendekatiku, aku pastikan kamu akan menyesal!" lanjut tos dengan ancamannya.


"Tidak, tidak! Apa yang akan kamu lakukan sayang? Aku benar-benar tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan!"


"Benarkah? Kamu menyuruhku untuk selalu menjauhi Anita. Ternyata, ini alasannya! Kamu berselingkuh dengannya!" cecar Ros dengan berbagai tuduhan.


Rendy menggeleng-gelengkan kepalanya dengan semua tuduhan Ros terhadap dirinya. Sedangkan Anita? Wanita itu, tentu saja Anita sangat senang dengan drama gratis di depan matanya.


"Tidak benar sayang... Semua tuduhanmu itu tidak benar-- Kau! Wanita sialan!" tunjuk Rendy pada Anita yang hanya terdiam sambil menyaksikan drama rumah tangga di depannya, "cepat jelaskan pada istriku, kalau kau memang sengaja menjebakku!" lanjutnya dengan nada yang lantang.


Alis Anita bertaut, "menjebak?" tanya Anita seolah tidak mengerti dengan ucapan Rendy, "ayolah sayang... Aku sudah tidak tahan lagi harus berpura-pura menjadi orang lain di depan istrimu itu," Anita menunjuk Ros.


"Menjelaskan?" Ros semakin geleng-geleng kepala. Dan Rendy menatap tidak percaya pada jawaban Anita yang semakin menyudutkannya.


"Ini yang kamu sebut dengan menjelaskan? Harusnya aku mengerti," ujar Ros.


"Sayang..."


"Lepas!"


"Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu walau hanya satu detik," jawab Rendy yang benar-benar tak melepaskan pegangan tangannya dari Ros.


Ros gundah, ia dilema. Harus percaya pada siapakah dia? Sedangkan ia mendengar sendiri, sebuah kenyataan dari mulut Anita.


Cukup lama Ros terdiam sambil memejamkan matanya. Anita mendekati mereka dari arah belakang. Lalu, secepat kilat dan dengan mesranya memeluk tubuh Rendy dari belakang juga.


"Kurang ajar!" hardik Rendy sambil menghempaskan tubuh Anita hingga wanita itu kembali jatuh tersungkur dan kepalanya membentur dinding.


"Apa salahku sayang? Bukankah kau sangat menyukai, saat aku memelukmu dari belakang seperti barusan?" tanya Anita dengan isakan palsunya.


Hati Ros kembali nyeri. Ingin sekali percaya kepada sang suami. Namun, Anita kembali memprovokasi pikiran dan pandangan Ros. Hingga, Ros kembali tidak memercayai Rendy, sang suami.


'Cih!'


Rendy berdecih, "sampai mati pun, aku tidak sudi kau sentuh, walaupun hanya seujung bajuku saja!" hardik Rendy dengan nada marah. Bagaimana tidak marah, berulang kali ia menjelaskan kepada Ros, berulang kali pula, Anita mengacaukannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2