Dia Milikku

Dia Milikku
Bab 49


__ADS_3

Dengan tubuh bergetar dan air mata yang masih bercucuran Nita pun bangkit berdiri dari hadapannya, lalu melangkahkan kedua langkah kakinya segera keluar dari ruangan tersebut.


Kemudian Argana mengusap wajahnya dengan kasar, ia tiba-tiba merasa sangat pusing di bagian kepalanya.


"Ais, kenapa aku harus bertemu dengan wanita ini lagi?".


Tok.. Tok...


"Masuk!".


Ceklek!


Lucas mengernyitkan dahi melihat putranya itu, "Ada apa dengan mu? Apa pekerjaan ini membuat mu merasa pusing?".


"Tidak pa" jawab Argana membawa Lucas duduk diatas sofa. Lalu membuatkan dua gelas kopi panas.


"Terus, bagaimana hari pertama mu bekerja disini? Kamu menyukainya?".


Argana tersenyum, "Aku menyukainya pa".


"Bagus" senang Lucas menerima segelas kopi tersebut dari tangan Argana. "Terima kasih".


Sambil menyeruput kopi masing-masing, Argana mengajukan pertanyaan.


"Pa, sebelum 5 tahun berlalu papa pernah berkata kepada ku kalau sesuatu yang sangat rahasia akan papa beritahu kepada ku. Apa itu pa?".


Lucas menatapnya sambil meletakkan gelasnya diatas meja. "Benar, sekarang sudah saatnya kamu tahu yang sebenarnya".


Argana menunggu Lucas melanjutkan perkataannya.


"Kamu tau alasan Dilan paman kamu sangat melarang hubungan mu dengan Reysa?".


Argana mengerutkan keningnya semakin tidak mengerti maksud dari perkataan Lucas.


"Dulu perusahaan Hanju ada di tangan papa, tapi suatu saat kakek Mateo membuat persyaratan kalau siapa diantara kami berhasil menikah Kirana bibi kamu akan sepenuhnya memiliki Hanju".


"Tetapi disaat itu papa menolak menikahinya, karena papa tidak memiliki perasaan terhadapnya. Namun berbeda dengan paman kamu, sebelum pertemuan itu, paman kamu dan bibi Kirana sudah pernah bertemu sebelumnya dan saat itulah Dilan mendapatkan kesempatan untuk merebut Hanju dari tangan papa".


Argana tampak mengerti mendengar penjelasan Lucas membuat ia mengangguk-anggukan kepala.


"Terus, apa yang papa inginkan dari ku?" tanyanya.


Lucas lalu menarik nafas panjang, "Awal pertama Hanju pernah jatuh di tangan kakek Mateo, tapi kakek kamu yang tidak bisa melihat Hanju di tutup, kakek kamu berusaha besar untuk membangun Hanju kembali hingga suatu hari kakek kamu mengalami kecelakaan yang sampai merenggut nyawanya".

__ADS_1


"Disitu jugalah papa dan nenek kamu ikut berperan membantu untuk meneruskan peninggalan kakek kamu. Hingga pada akhirnya perusahaan Hanju group kembali normal".


"Dan suatu hari papa pun meneruskan pendidikan papa di Kanada sampai papa kembali lagi ke Indonesia".


"Terus paman Dilan dimana saat itu?".


"Dia melanjutkan pendidikan disini dan belajar-belajar membantu kakek Mateo di perusahaan. Melihat cara kerja Dilan yang sangat bagus, kakek Mateo pun berhasil mengangkat dia menjadi salah satu direktur keuangan".


"Direktur keuangan?".


"Iya".


"Terus pa".


"Sepulangnya papa ke Indonesia, kakek Mateo pun langsung mengangkat papa menjadi CEO baru. Namun kedua orang tua paman kamu sangat menentang hal tersebut karena mereka tidak terima kenapa harus papa yang di angkat menjadi CEO baru, kenapa tidak Dilan yang sudah beberapa lamanya mengabdi di Hanju".


"Apa mereka tidak tau kalau selama itu Hanju pernah jatuh bangkrut Pa?".


"Mereka tidak pernah tau dan mereka tidak pernah peduli karna dulunya perusahaan Hanju adalah perusahaan kecil".


"Oh.. Jadi sekarang apa maunya papa? Apa papa sedang berencana merebut perusahaan itu kembali dari tangan paman?".


"Mmmmm.. Sebab itu papa menunggu kamu sampai tumbuh dewasa. Kamu harus bisa merebut perusahaan itu dari paman kamu karna pemilik perusahaan itu yang sebenarnya adalah papa".


"Bagus, papa akan menunggu cara kerja kamu. Terima kasih".


"Iya pa".


_


_


Di dalam kantin Nita menikmati makan siangnya seorang diri tanpa di temani seorang pun hingga pada akhirnya Nella muncul di ambang pintu sana.


"Yah.. Kenapa kamu makan sendiri disini Nita? Bukannya kamu tadi mau keluar? Lalu kenapa kamu jadi makan sendiri disini?".


Nita menatapnya, kedua matanya terlihat sembap dan juga memerah membuat Nella menatapnya bingung.


"Ada apa dengan mu Nella? Kamu baru habis menangis? Kamu baik-baik saja?".


Nita mengangguk, namun air mata yang sedari tadi ia tahan lagi kembali mengalir di kedua pipinya.


"Astaga! Kamu kenapa Nita? Ayo jawab aku. Kenapa kamu jadi menangis? Apa sesuatu menganggu mu atau kamu...

__ADS_1


"Apa yang akan terjadi Nella kalau Arga.. Kalau tuan Argana sampai memecat ku dari perusahaan ini hiks.. hiks.. Apa yang harus aku lakukan Nella? Aku tidak ingin meninggalkan perusahaan ini? Aku sudah nyaman disini bersama dengan kalian".


"Tunggu dulu. Kenapa kamu berkata seperti ini Nita? Apa kamu barusan bertemu dengan tuan Argana lagi?".


"Iya Nella. Aku barusan dari dalam ruangan tuan Argana untuk meminta maaf, tapi dia malah semakin marah kepada ku hiks.. Bagaimana ini Nella hiks? Apa yang harus aku lakukan?".


Nella kebingungan, ia juga tidak tau harus bagaimana untuk membantunya, ia nanti ikutan menjelaskan hal yang tadi mereka lakukan di aula, bisa-bisanya nanti dia juga yang akan terkena amukan Argana dengan menendangnya seperti yang baru saja Nita ucapakan.


"Aduh, bagaimana yah Nita? Aku juga bingung. Lagian kamu tadi ngapain sih harus memasuki ruangannya? Harusnya kamu tidak kesana kalau tidak membahas hal yang penting".


"Lalu aku harus bagaimana Nella?".


"Aku tidak tau Nita" jawab Nella ikutan merasakan kesedihan yang Nita rasakan. "Kita lihat saja nantinya, aku yakin tuan Argana tidak mungkin setega itu memecat kamu dari sini".


"Benarkah Nella kalau dia tidak akan setega itu mengeluarkan aku dari perusahaan ini?".


"Iya sih Nita, tapi aku enggak bisa jamin juga kalau... Ooo, itu bukannya tuan Argana Nita?" kaget Nella menunjuk kearah Argana yang baru saja memasuki kantin tersebut.


"Tidak mungkin dia Nella".


"Ais, makanya kamu lihat dulu ke-sana. Astaga Nita, dia berjalan kemari..


"Kamu bisa pergi?" potong Argana.


"Hhhmm? A-akh, iya tuan. Nita, aku pergi dulu ok" ucap Nella segera meninggalkan mereka berdua.


Kemudian Nita menatapnya dengan tatapan kesal bercampur air mata yang masih mengalir, namun seketika ia segera menyekanya agar Argana tidak menganggapnya lemah jika pada akhirnya ia harus berakhir di perusahaan tersebut.


Lalu Argana mendudukkan diri dihadapannya dengan kedua tangan melipat di depan dada.


"Ada apa kamu kemari?".


"Makan siang" jawab Argana singkat sambil menatapnya dengan wajah datar.


"Tapi kenapa harus disini? Kamu tidak melihat disana masih ada kursi kosong?".


"Kenapa kalau aku disini?".


"Aku tidak nyaman di perhatikan seperti ini. Lihatlah mereka pasti sudah berbisik kesana kemari. Tolong jangan membuat ku jadi bahan gosipan di perusahaan ini".


Namun bukannya pergi, Argana malah tertawa sinis kepadanya. Lalu mencondongkan tubuhnya dihadapan Nita semakin membuat mereka yang sedari tadi memperhatikan keduanya berpikir kalau Nita sedang menggoda Argana.


"Hhhmmss..!" Nita menghela nafas melihat mereka semua. "Tolong hentikan ini Arga. Jangan membuat...

__ADS_1


Cup!


__ADS_2