
"Selamat malam semuanya. Sampai jumpa besok Nita, aku duluan yah" ucap rekannya kerja itu.
"Iya. Kalian semua hati-hati dijalan".
Kemudian Nita melangkah keluar dari dalam restoran, namun saat itu juga rintikan hujan membasahi permukaan bumi.
"Astaga! Kenapa hujannya turun diwaktu yang tidak tepat sih? Mana aku enggak bawa payung lagi. Apa yang harus aku lakukan?".
Sambil memikirkan cara agar ia tidak kehujanan, Nita melihat samping kiri kanannya yang sudah mulai sepi begitu juga dengan jalanan begitu jam telah menunjukkan pukul 11 jam lewat.
"Dari pada menunggu lama, sebaiknya aku pulang saja. Sepertinya hujan tidak akan redah lagi".
Nita pun langsung melangkah pergi meninggalkan teras restoran menuju rumahnya yang sedikit lumayan jauh dari sana. Tetapi di saat itu juga, Nita tidak menyadari kalau sebuah mobil sedang melaju dari belakang dengan cara ugal-ugalan.
BBBRRRAAKKK...
"Aakhhh!"
Begitu tubuh Nita tercampak di atas aspal yang dingin, si pengemudi tersebut keluar dari dalam mobil melihat darah yang bercucuran dari tubuh Nita membuat ia ketakutan. "Tolong selamat aku" ucapnya. "Aku mohon tolong selamatkan aku".
"Tidak" jawabnya menggeleng. "A-aku harus pergi, aku tidak mau masuk penjara kalau kamu sampai meninggal" ia pun memasuki mobilnya kembali, lalu pergi meninggalkan Nita hingga pada akhirnya Nita yang sudah kehabisan darah jatuh pingsan.
Sedangkan Argana yang baru saja pulang dari rumah Bagas. Dalam perjalan menuju rumahnya ia tiba-tiba melihat sebuah tubuh manusia tergeletak di atas aspal yang dingin akibat guyuran hujan yang begitu lebat.
Dengan rasa penasaran, Argana lalu menepikan mobilnya. Ia keluar berjalan mendekati tubuh tersebut.
"Darah!" kaget Argana langsung melihat wajah yang empunya tubuh. "Nita!" semakin kaget Argana menepuk wajahnya. "Yah, Nita.. Bagun. Yah, bangun Nita" panggilan.
Tetapi Argana tidak mendapatkan jawaban dari yang empunya naman.
Argana pun mengangkat tubuhnya Nita kedalam mobil, setelah itu ia langsung menjalankan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Sesampainya di sana, ia berlari membawa tubuh Nita kedalam ruang IGD. Para suster yang berjaga segera memberi pertolongan pertama kepada Nita, kemudian sang dokter bertanya kepada Argana.
"Bagaimana kronologi kejadian?".
__ADS_1
"Saya tidak tau dok. Saya hanya ketepatan lewat dari jalan xx melihat pasien sudah tergeletak di atas jalan. Apa dia baik-baik saja dok?".
"Anda mengenal pasien ini?".
"Iya dok. Dia teman satu kampus saya".
"Begini, kita perlu melakukan pemeriksaan dan kami membutuhkan wali dari pasien. Bisakah saudara menghubungi keluarganya?".
Argana kebingungan, ia sama sekali tidak mengenal Nita siapa sebenarnya. Bagaimana bisa ia akan menghubungi keluarganya.
"Dok, begini dokter. Sebenarnya saya tidak terlalu mengenalnya siapa. Bagaimana kalau saya saja yang mewakilinya dok? Tolong lakukan yang terbaik untuknya. Berapa pun biayanya saya akan membayarnya".
Argana memohon supaya si dokter tersebut segera memberikan pertolongan kepada Nita yang sangat memerlukannya.
"Baiklah" angguk-nya.
Begitu hasil medis Nita keluar, mereka pun segera membawanya kedalam ruang operasi akibat beberapa luka di sekujur tubuhnya.
Kemudian Argana menunggu di depan pintu ruangan operasi Nita setelah ia mengisi data formulirnya. Sambil menunggu, Argana tak henti-hentinya memandangi kearah pintu berharap operasi tersebut berjalan dengan baik. Hingga kini ia melihat jam telah menunjukkan pukul 1 malam. Dokter yang menangani Nita segara keluar dari sana.
"Syukurlah. Operasinya berjalan dengan baik. Pasien akan segera di pindahkan".
Argana yang mendengarnya langsung tersenyum bahagia, "Terima kasih dok. Terima kasih banyak atas kerja kerasnya".
"Sama-sama. Saya permisi".
"Iya dok".
_
_
Setelah Nita berhasil menjalankan operasinya, malam itu juga Argana langsung meninggalkan rumah sakit sambil berpesan kepada si dokter baik itu juga sang perawan yang melihatnya. Jangan memberitahu pasien kalau iya yang membawanya ke rumah sakit.
"Kamu siapa? Saya dimana?" Nita membuka mata. Ia melihat wanita yang berpakaian medis berada di sampingnya sambil memperbaiki botol inpus.
__ADS_1
Lalu si suster tersenyum, "Ternyata kamu sudah siuman" ucapnya melihat jam telah menunjukkan pukul 10 pagi. "Kamu lagi berada dirumah sakit. semalam kamu baru saja selesai menjalankan operasi. Sebaiknya kamu istirahat saja mmmm. Jangan banyak berpikir dulu".
Nita terkaget, "Hah.. Operasi sus? Kenapa saya bisa operasi..." ia langsung mengingat kejadian semalam saat seseorang pengemudi menabraknya. "Lalu, siapa sus yang mambawa saya kemari? sebelum saya jatuh pingsan. Orang yang menabrak saya saat itu pergi meninggalkan saya".
"Maaf ya. Tapi orang yang membawa kamu kemari tidak memberitahu siapa dirinya. Sebaiknya jangan dipikirkan lagi, nanti kepala kamu bisa pusing".
"Tapi saya harusnya mengucapakan terima kasih sus".
.
Sedangkan Argana yang berada di dalam kelas bersama dengan Bagas. Ia tetap seperti biasa meskipun sedari tadi Bagas bertanya kemana perginya Nita yang tidak kelihatan.
Lalu Bagas mencoba untuk bertanya kepadanya, "Yah. Kamu tidak tau kemana perginya Nita?".
Argana menatapnya membuat Bagas langsung tertawa jahil, "Hey. Biasa ajah. Aku hanya bercanda Arga. Kamu mau?".
"Mmmmm" gumam Argana menerima permen tersebut.
"Oh iya Arga. Setelah kamu memberitahu ku apa yang terjadi dengan mu dan Reysa. Apa yang akan kamu lakukan? Bahkan paman mu sendiri tega memukul mu. Ck, sebenarnya kalian itu masih keluarganya atau sudah orang lain sih Ga? Kenapa orang tua kalian berdua sangat bermusuhan sekali".
"Aku tidak tau Bagas" balasnya.
"Apa kamu akan menyerah Arga?".
Argana mendengus, "Menurut mu apa yang harus aku lakukan Bagas? Apa aku harus merelakan Reysa? Tapi aku sangat mencintainya. Bahkan aku tidak bisa hidup tanpa dirinya, bayangan wajah Reysa selalu menghantuiku setiap hari. Aku benar-benar tidak bisa pisah darinya Bagas, dan sekarang kamu berkata sebaiknya aku menyerahkan?".
"Bukan seperti Ga. Ya aku sebagai sahabat kamu tidak izin melihat mu harus seperti ini terus di buat orang tuanya meskipun kamu lebih duluan mengenal Reysa ketimbang diri ku".
"Itu juga yang sering aku pikirkan Bagas. Tapi setiap kali aku ingin menyerah, bayangan wajah menangis Reysa yang selalu muncul. Haruskah aku bertahan atau menyerah selangkah demi selangkah. Aku juga tidak mau jika nantinya paman Dilan terus menerus menyakitkannya".
"Nah, kamu tau sendiri om Dilan orangnya seperti apa. Kapan pun dia mau dia bisa melakukan apa yang akan membuat Reysa menyerah dengan pilihannya. Sudahlah Arga, sebaiknya kamu menyerah saja. Kasihan Reysa harus mendapatkan amukan orang tuanya terus dan aku tau kamu tidak akan mudah melupakannya, tapi aku percaya kamu pasti bisa Arga. Kamu pasti bisa".
"Dan untuk saat ini, perjalanan kamu masih panjang. Yah, kalau memang benar Reysa jodoh yang dikirim Tuhan untuk mu. Kalian berdua akan bertemu kembali, percaya pada ku Ga".
Argana yang mendengarnya panjang kali lebar penjelasan Bagas, ia langsung tertawa kecil merasa kalau Bagas yang ia kenal selama ini bisa juga memberinya pencerahan yang cukup membuatnya kuat.
__ADS_1