
"Gawat! Nyonya gak ada di mana-mana. Gimana ini?" Herman yang tadi di tugaskan Rendy untuk mencari istrinya, di buat panik dengan ketiadaan nya Ros di rumah ini.
Sudah setiap sudut rumah yang besar ini Herman cari, tapi Ros tetap tak di temukan juga. Di mana sembunyinya sang Nyonya Rendy tersebut.
Herman menggaruk-garuk kepalanya yang terasa berdenyut. Ancaman dari Rendy tadi pagi, terus terngiang-ngiang di telinga.
Sepertinya, Rendy memang sengaja mengancamnya untuk membalaskan dendam atas rasa kesal yang ia buat tanpa sengaja tadi malam.
"Ada satu tempat yang belum kita cari Man," ucap si mbok yang teringat akan satu ruangan yang belum mereka singgahi.
"Herman Mbok, bukan Man!" tekan Herman ya g tak terima nama panggilannya hanya di ambil ujungnya saja.
"Sama aja Man," ucap si mbok sambil berjalan meninggalkan Herman yang melongok menatap si mbok.
"Beda dong mbok!" bantah Herman tidak terima.
"Sama! Udah ayo! Mau kamu di marahin sama Tuan Rendy, gara-gara nyari Nyonya tapi gak ketemu?" kembali si mbok mengingatkan sambil terus berjalan menuju satu ruangan yang belum mereka singgahi. Semoga saja, Nyonya mereka ada di sana. Pikir Herman dan si mbok.
'Ayo mbok, ayo!" pasrah Herman yang terus berjalan mengikuti langkah di mbok yang masih gesit dan lincah.
...***...
"Gimana Herman? Ada tidak istriku?" tanya Rendy di balik sambungan telepon. Pria itu terkekeh dengan pertanyaannya sendiri. Karena ia telah berhasil mengerjai Herman dengan caranya sendiri.
"Ma-maaf Tuan, sudah saya cari ke setiap ruangan di rumah. Tapi, Nyonya tidak ada di sini. Saya bahkan mencari Nyonya ke gudang, bersama si mbok, tapi tetap saja, Nyonya tidak ada," jawab Herman dengan nada memelas. Sudah pasti, herman takut dengan Rendy. Takut jika ancamannya benar-benar terjadi. Bagaimana ini? Pikirnya dalam hati.
"Tidak ada?" tanya Rendy menggelegar, "kenapa bisa tidak ada? Kau pasti tidak benar mencari istriku. Bisa-bisanya kau tidak menemukan istriku. Padahal sudah jelas-jelas, istriku tadi bilang mau pulang ke rumah. Sudah pasti dia ada di rumah. Tapi kau bilang malah tidak ada. Jangan mengada-ada Herman!" bentaknya kembali, membuat Herman memejamkan mata.
"Maaf Tuan," ucap Herman memelas.
"Sudahlah. Tunggu saja aku di sana!" balas Rendy dengan nada yang tidak ramah di telinga Herman.
"Tapi--"
'Tut! Tut!'
Belum Herman melanjutkan ucapannya, Rendy sudah mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Membuat Herman tak bisa lagi berucap untuk meringankan hukumannya.
__ADS_1
"Ah, bagaimana ini? Nyonya memang tidak ada di rumah. Terus, harus aku cari di mana Nyonya?" Herman semakin memelas berucap. Si mbok yang memerhatikan Herman sedari tadi, hanya menatap kasihan pada sesama pekerja di rumah itu.
"Yang sabar ya Man?" kata si mbok menguatkan sambil mengusap-usap punggung Herman.
"Herman Mbok, Herman. Panggil saya Herman, bukan Man!" di sela-sela ketakutannya, masih saja ada kekesalan akibat panggilan yang si mbok sematkan padanya
"Sama aja!" jawab si mbok seraya berjalan pergi meninggalkan Herman sendiri, meratapi bagaimana nasibnya ke depan, jika Rendy sudah tiba di rumah yang saat ini Herman pijaki dengan kedua kaki.
"Aaaah... Cari ke mana lagi aku?" ucap Herman seraya bertanya pada dirinya sendiri. Kedua tangannya mengusap kasar wajah serta rambutnya. Menandakan jika pria itu sedang frustasi.
...***...
"Kenapa Kak?" tanya Ros yang heran melihat Rendy terkekeh geli seusai menelpon Herman barusan.
"Tidak ada sayang. Hanya ingin tertawa saja!" jawab Rendy sambil menghampiri Ros yang baru saja keluar dari kamar mandi, seusai membersihkan seluruh tubuhnya setelah pertempuran sesaat yang mereka lakukan, sepulang dari rumah Jeng An.
Kening Ros mengerut, "sungguh?" tanyanya kemudian, seperti tengah menyelidik.
"Ia sayang... Aku hanya sedang senang saja, baru mengerjai Herman!" balas Rendy yang masih menyisakan tawa di bibirnya.
"Mengerjai?" Ros balik bertanya dengan wajah bingung.
...***...
"Aku kangen dengan Ros," kata Mila yang membuat kedua temannya menatap, lalu menganggukkan kepala tanda setuju dengan apa yang Mila ucapkan barusan.
"Kira-kira, sedang apa ya... dia?" tanya Mila ikut bersuara.
'Sluuurrrp!'
Suara mie instan cup yang di makan Anto ke dalam mulutnya, membuat Mila dan Nina mengalihkan pandangan mereka pada Anto, kekasih Eva tersebut.
"Apa?" tanya Anto sambil memegang erat cup berisi mie dengan kedua tangannya. Ia sudah sangat hapal dengan kelakuan kedua temannya yang suka meminta makanan yang di makan Anto.
Mila dan Nina tersenyum, menunjukkan deretan gigi mereka yang rapi dan yang tidak, milik Nina.
Anto menatap mereka dengan ekspresi wajah yang mengesalkan. Tidak akan tergoda dengan senyum yang mereka tunjukkan.
__ADS_1
"Sepertinya enak Nto," ucap Nina.
"Iya, hujan-hujanan begini, memang enak makan yang hangat-hangat. Bener gak Nin?" ucap Mila meminta persetujuan pada Nina.
Nina menganggukkan kepalanya setuju.
"Enggak, enggak!" Anto menggeleng kuat.
"Sedikit aja Nto..." Mila memelas, begitu pun dengan Nina.
"Enak aja. Beli aja berdua. Tuh!" Anto menunjuk warung di depan dengan bibirnya yang ia moyongkan.
"Dasar pelit!" Mila bangkit dan langsung pergi menuju warung yang menjual mie instan cup seperti yang di makan Anto. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, Mila menabrak seseorang karena mata nya tidak fokus melihat jalan.
"Aduuuh... Gak tau apa, orang lagi laper juga!" gerutu Mila sambil membereskan pakaiannya yang kusut akibat menabrak tubuh seseorang barusan.
"Bukannya minta maaf, malah ngomel-ngomel!" kata seseorang yang baru saja Mila tabrak.
"Apa? Minta maaf?" bentak Mila seraya mengalihkan pandangannya pada orang yang ia tabrak barusan.
Mata Mila membulat dengan sempurna, mulutnya menganga, menunjukkan ekspresi wajah tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Surya?" kata Mila dengan mata yang semakin membulat sempurna, tidak percaya.
"Kamu!" tunjuk Surya pada wanita di hadapannya, yang ternyata adalah Mila. Musuhnya dalam beradu kata.
"Hah, dunia ini memang sempit! Bisa-bisanya aku bertemu dengan pria bermulut wanita seperti dia," kata Mila yang tentu saja menyinggung Surya.
"Apa kamu bilang? Siapa yang kamu sebut dengan pria bermulut wanita, hah?" tanya Surya tidak terima. Baru bertemu, tapi sudah mengajaknya beradu kata. Benar-benar wanita yang menjengkelkan. Pikir Surya.
"Ya siapa lagi? Tentu saja pria di hadapan-ku," jawab Mila sambil memalingkan wajahnya dari Surya.
"Enak saja mengataiku. Mulutmu itu yang rombeng!" balas Surya sengit.
"Apa? teriak Mila.
"Apa hah?" balas Surya. Keduanya saling tatap dengan pandangan mematikan, seakan ingin menerkam satu sama lain.
__ADS_1
Bersambung...