Dia Milikku

Dia Milikku
Kejujuran Anto


__ADS_3

"Cepat katakan? Kau sudah ketemuan dengan siapa? Kalau kau mau aku berhenti menegur mu!" tanya Ros dengan wajah penasaran.


"Anto..., Anto ketemuan sama...," ucap Anto menggantung, ia masih bingung. Apakah harus mengatakannya atau tidak.


"Cepat Anto! katakan!" ujar Ros lagi dengan nada memaksa, karena dirinya sudah merasa sangat penasaran. Bahkan bukan hanya Ros saja yang merasa penasaran. Kedua temannya pun, sudah melebarkan mata dan telinga mereka untuk mendengarkan Anto mengatakan semuanya.


"Iya, iya, Anto ketemuan sama Eva!" jawab Anto dengan tempo suara yang cepat. Membuat Ros, Mila dan Nina membelalakkan mata mereka.


"Eva!" kaget ketiga wanita yang penasaran itu.


"Eva?" gumam Ros dengan mata yang berputar, mengingat-ingat, sepertinya Ros mengingat seorang wanita bernama Eva itu. Dan saat ingatannya tertuju pada seorang wanita yang beberapa hari yang lalu telah membuatnya salah paham kepada Rendy. Ros pun memikirkan sosok Eva yang menjadi sekretaris suaminya itu.


"Apakah Eva yang sama, dengan Eva yang tempo hari datang bersama suamiku?" tanya Ros sambil menatap wajah Anto dengan serius.


"Eva Melia?" kata Mila memastikan, dan Nina menunggu jawaban dari mulut Anto.


"Hehe! Iya." Anto menundukkan wajahnya ke bawah, menahan malu karena wajahnya sudah memerah.


"Kau serius Anto? Eva Melia, sekretaris dari pria menyebalkan itu," ujar Nina dengan bersemangat.


"Hei..., yang kau sebut dengan pria menyebalkan itu adalah suamiku. Kau tahu 'kan?" kata Ros dengan wajah tidak terimanya. Karena suaminya di katai pria menyebalkan oleh sahabatnya sendiri. Walaupun semua yang di katakan Nina memang ada benarnya. Namun tetap saja, Rendy itu adalah suaminya sendiri. Tidak mungkin Ros, membiarkan saja, suaminya di katai oleh orang lain, walaupun yang mengatai itu, adalah sahabat baiknya sendiri.

__ADS_1


"Hehe! Aku bercanda Ros, hanya bercanda!" ujar Nina dengan wajahnya yang nyengir, merasa tidak bersalah walaupun sudah mengatai suami orang lain, "jadi, kau benar-benar serius telah ketemuan dengan wanita bernama Eva?" tanya Nina serasa masih belum percaya. Dan Anto langsung menganggukkan kepalanya pelan.


"Eva sekretarisnya Rendy?" tanya Mila dan Anto juga menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Eva yang cantik, seksi dan menggoda itu?" tanya Ros dengan wajah penasaran nya, dan Anto menjawabnya dengan anggukan kepala yang terlihat sangat kikuk. Cantik dan seksi? Anto sangat malu saat Ros menanyakan hal itu padanya. Namun, karena pertanyaan Ros adalah sebuah kenyataan yang tak terbantahkan, Anto pun menganggukkan kepalanya, membenarkan semua yang Ros katakan dengan anggukan kepala yang terlihat kikuk, tidak seperti sebelumnya.


Ros, Mila dan Nina nampak saling pandang. Mereka juga memandang Anto secara bersamaan, dan di detik berikutnya. Mereka bertiga kompak berteriak histeris setelah menyadari semuanya.


"Aaaaaaaa...," teriak ketiga wanita cantik itu. Melupakan diri mereka sedang berada di mana dan sedang melakukan apa.


Anto yang melihat serta mendengar dengan sangat jelas kelakuan dari tiga wanita di hadapannya pun, ikut terkejut.


"Mba..., berisik! kalian sedang berada di restoran, bukan di hutan!" ujar Anto, menghentikan teriakan dari ketiga wanita di hadapannya.


"Kalau kalian bertiga tidak percaya dengan ucapan Anto..., Ya sudah, tidak papa! Lupakan saja ucapan Anto! Anto tidak akan memaksa kalian kok! Tapi satu yang Anto ingatkan pada kalian. Anto berkata jujur!" kata Anto dengan menekankan kata terakhirnya. Ia kesal dan sebal, karena ketiga wanita itu masih saja menanyakan hal yang sama kepadanya. Dan beberapa kali pula, Anto menjawab hal yang sama pula tentang pertanyaan mereka bertiga tentang Eva. Wanita cantik, seksi dan menggoda yang beberapa hari yang lalu, telah membuat Ros salah paham kepada sosoknya dan suaminya. Hingga, Ros tidak mudah untuk melupakan sosok Eva, karena ia merasa sangat bersalah kepada Eva.


"Kau berhutang penjelasan kepada kami!" kata Ros dengan sorotan matanya yang tajam, menatap Anto dengan tatapan yang mengintimidasi.


...***...


Beberapa jam berada di restoran. Akhirnya semuanya selesai juga. Anto sudah menceritakan semua kisahnya tentang Eva, yang sudah beberapa bulan terakhir ini ia kenal, dan juga sudah menjadi kekasihnya pula. Tidak di sangka memang, tapi itu lah kenyataannya. Anto telah berhasil membuat sosok Eva terpikat oleh ketampanan Anto. Ya walaupun penampilan dan sikap Anto terlihat seperti seorang perempuan, namun itu semua tidak menghalangi serta mengurangi ketampanan Anto sama sekali. Hingga Eva menjatuhkan hatinya pada sosok Anto, dan berhasil merubah sedikit demi sedikit sikap Anto yang kemayu, menjadi sedikit berubah perlahan.

__ADS_1


"Selamat Anto! Akhirnya, ada juga wanita yang mau menerimaku apa adanya," kata Nina dengan menepuk pelan pundak Anto.


"Aku rasa, mata Eva sedang mengalami katarak dini! Bisa-bisanya dia yang cantik dan seksi itu, terpikat pada seorang Anto!" Mila mengutarakan isi hatinya dengan mengatakannya secara terang-terangan pada Anto dan juga yang lainnya.


"Aku rasa, mulutmu itu harus aku lakban, atau aku jahit, agar tidak berbicara seenaknya saja!" Kesal Ros dengan memberikan gerakan tangan meremas kepada Mila. Bukannya memberikan selamat, ia malah mengatai yang tidak-tidak kepada Eva dan Anto.


"Aku kan hanya mengatakan yang sebenarnya Ros..., Kenapa kau kesal seperti itu!" kata Mila tanpa rasa bersalahnya. Dan langsung mendapatkan delik kan tajam dari mata Ros, yang menatapnya tidak suka.


"Jaga mulutmu itu Mila! Kau harusnya memberikan ucapan selamat pada Anto. Walaupun hanya sebatas formalitas, namun itu lebih baik, daripada mengatai yang tidak-tidak kepada Anto dan Eva." Ros menegur Mila dengan nada bicara yang serius membuat Mila kehabisan kata dan menundukkan kepalanya, merasa sedikit bersalah akan ucapannya barusan kepada Anto. Ia harusnya senang dan mendukung, ada wanita yang mau menerima temannya yang mempunyai sikap dan tingkah seperti Anto. Bukannya malah mengatai dan merendahkan. Pikir Mila.


"Maafkan aku Anto! Aku benar-benar menyesali ucapanku barusan!" kata Mila dengan mengulurkan tangannya pada Anto, yang langsung di sambut hangat oleh Anto saat itu juga.


"Gak papa mba Mil, Anto ngerti kok. Emang gak mudah buat orang percaya sama cerita Anto. Maka dari itu, Anto menyembunyikan ini semua dari kalian. Tapi kalian terus saja memaksa Anto untuk berkata jujur, jadi terpaksa Anto mengatakan semuanya kepada kalian!" tutur Anto panjang lebar, seraya berjalan, meninggalkan restoran tempat ia makan dengan semua teman dan rekan kerjanya.


Dalam perjalan menuju ke kantor, mereka masih saja terus mengobrol. Saking terlalu asyiknya, Ros tidak menyadari langkahnya. Dan


Brukkk!


Ros menabrak seseorang hingga membuatnya jatuh dengan cukup keras.


"Aww!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2