Dia Milikku

Dia Milikku
Siapa kamu?


__ADS_3

"Sesuai perintah anda Nyonya!" jawab Herman, dan mobil pun melaju sedikit lebih cepat menuju rumah mamah Ajeng, yang kini sudah menjadi mertua Ros.


Beberapa menit di perjalanan, semuanya tampak biasa, berjalan normal dengan semestinya Hingga- -


Cekiiiit!


Mobil yang Ros dan Rendy kendarai berhenti dengan tiba-tiba, membuat mereka berdua terkejut hingga kepala Ros terbentuk dengan kursi yang berada di depannya.


"Kepala ku!" pekik Ros.


"Kamu tidak papa sayang?" Rendy berhamburan memeriksa kepala Ros. Memutarnya ke kiri dan ke kanan, melihat apakah ada yang luka atau tidak.


"Aku tidak papa sayang! tolong hentikan! kepalaku yang tidak papa menjadi pusing karena ulah mu yang terus menggelengkan kepalaku ke kiri dan ke kanan!" ujar Ros sambil melepaskan pegangan tangan Rendy di kepalanya, dan Rendy pun akhirnya melepaskan tangannya dari kepala Ros.


"Hei Herman, apa yang kau lakukan? kau tahu, kau mencelakai istriku. Bagaimana kalau istriku geger otak! apa kau mau bertanggung jawab hah?" ujar Rendy dengan menggebu-gebu.


"Maafkan saya Tuan! saya tidak sengaja! ada orang yang berhenti di tengah jalan, jadi saya menghentikan laju mobilnya!" balas Herman.


"Kau lihat, siapa yang sudah mengganggu perjalan ku ini!" Rendy memerintah Herman dengan mencoba meredam amarahnya.


"Baik Tuan! akan saya periksa!" Jawab Herman.


"Lakukan sekarang!" dan Herman pun langsung keluar, membuka pintu mobilnya, melihat siapa yang sudah berani mengganggu perjalanan Tuannya yang kalau sedang marah maka akan berubah menjadi mengerikan dalam waktu sekejap.


Herman pun keluar, dan betapa terkejutnya Herman, saat melihat seorang wanita yang sudah tersungkur jatuh di hadapan mobil yang Herman kendarai.


"Mba, apa mba gak papa?" Herman dengan segera langsung menolong wanita yang jatuh tersungkur itu.


"Tolong saya mas, saya sedang dikejar-kejar, ada orang jahat yang mengejar saya," ucap wanita itu dengan panik, ia bahkan menengok kesana dan kemari, memastikan apakah orang orang yang mengejarnya sudah terlihat atau belum.


"Sayang? sepertinya kita harus turun, melihat apa yang sebenarnya terjadi!" ujar Ros dan Rendy pun langsung menuruti keinginan Ros.


"Baiklah, ayo kita turun!" ajak Rendy kemudian, dan keduanya pun langsung turun, menyusul Herman yang masih belum kembali ke dalam mobil mereka.


"Ada apa ini Herman?" tanya Rendy setelah keluar dari mobil.

__ADS_1


"Ini Tuan!" balas Herman dengan menunjuk seorang gadis di hadapannya yang terduduk lemas di atas aspal.


"Herman, dia kenapa?" tanya Ros, "apa yang terjadi mba? kenapa bisa sampai begini?" lanjut Ros yang kini ikut berjongkok, menyamai tingginya dengan wanita itu.


"Tolong saya Nyonya! saya sedang dikejar, banyak orang jahat yang mengejar saya!" ujar wanita itu dengan panik.


"Mba tenang ya? kita pasti akan menolong mba!" balas Ros, "iya kan sayang?" lanjut Ros dengan menatap Rendy.


Rendy tampak mengernyit, menatap wanita itu dengan tatapan tidak suka, Rendy memandangnya dengan panuh tanda tanya dan keanehan, "kenapa kita harus menolong wanita itu?" tanya Rendy kemudian.


"Karena dia sedang membutuhkan pertolongan sayang!" jawab Ros.


"Tolong saya Tuan! saya takut! saya tidak mau tertangkap oleh mereka!" wanita itu berbicara dengan berurai air mata, membuat Ros merasa iba kepadanya.


Sekali lagi Rendy menatapnya dengan tatapan penuh pengamatan. Rendy mengamati wanita itu dengan seksama, dari atas sampai bawah. Bajunya compang camping, riasannya luntur, rambutnya berantakan, dan ditangan serta kakinya, banyak terdapat luka goresan.


"Sayang? kenapa diam saja? ayo kita bantu dia!" ujar Ros dengan menggoyang-goyangkan tangan Rendy yang sedari tadi terus terdiam.


"Apa kamu yakin ingin menolongnya sayang? apa kamu percaya bahwa dia ini tidak berbahaya? kamu yakin dia ini orang baik?" ujar Ros dengan begitu banyak pertanyaan yang terlontar dari mulutnya.


"Kenapa banyak sekali pertanyaan mu itu sayang? dia ini sedang membutuhkan pertolongan kita!" balas Ros dengan sedikit kesal, menatap ke arah Rendy.


"Entah kenapa aku tidak suka melihat wanita itu! dia begitu mencurigakan!" batin Rendy.


"Sayang? kenapa diam saja? ayo kita tolong dia!" ujar Ros lagi. Ros sudah mendengkus kesal dengan sikap suaminya itu.


"Saya mohon tuan, bantu sa- -


Ucapan wanita itu terhenti saat beberapa orang datang dan menunjuk wanita itu sambil berucap pada beberapa kawannya.


"Itu dia! ayo kita tangkap?" ujar salah satu orang yang mengejar wanita itu.


"Saya mohon Tuan, saya mohon Nyonya, bantu saya kali ini saja!" ujar wanita itu dengan menghiba.


"Cepat sayang! kita tolong dia!" ujar Ros membujuk kembali Rendy yang tetap diam, hingga akhirnya Rendy pun bersedia untuk menolong wanita itu.

__ADS_1


"Baiklah!" ujar Ros menyetujui keinginan Ros, "Herman? bawa dia ke dalam mobil!" Rendy menyuruh Herman dengan tatapan yang sama kepada wanita itu.


"Cepat pak! tolong saya, mereka mau menangkap saya!" ujar wanita itu. Dan Herman pun langsung menolong wanita itu dengan segera. Herman membopong wanita itu untuk masuk kedalam mobil, duduk bersebelahan dengannya di depan.


"Woy! tunggu Lo!" ujar salah satu dari orang yang mengejar wanita itu.


"Cepat mas, jalankan mobilnya!" suruh wanita itu setelah dia, Herman, Ros dan Rendy berada di dalam mobil.


"Ayo Herman! jalankan mobilnya!" pinta Ros, dan Herman pun melajukan mobilnya dengan segera. Wanita itu menoleh ke belakang saat mobil sudah melaju, dan orang orang yang mengejarnya sudah berada di belakang dengan kesal, karena mereka kehilangan sosok wanita yang sedang mereka kejar.


"Sial! dia lolos!" ujar salah satu dari mereka yang tengah mengejar wanita yang kini sudah berada didalam mobil Ros dan Rendy.


"Terima kasih Tuan! terima kasih Nyonya! kalian sudah mau membantu saya! kalian sudah mau menolong saya yang sedang kesulitan ini!" ujar wanita itu.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Rendy tanpa basa-basi, ia terus memperhatikan gelagat dari wanita yang terpaksa ia tolong.


"Sayang!" Ros memelototi Rendy, karena berbicara dengan tidak sopan.


"Kenapa?" tanya Rendy sambil menatap tajam ke arah wanita itu.


"Dia ini sedang kesusahan sayang! kenapa kamu bertanya seperti itu?" ujar Ros.


"Aku ini hanya bertanya sayang! jika dia ini bukan orang jahat, maka dia tidak akan keberatan jika aku menanyakan siapa dirinya!" balas Rendy membuat Ros tampak berpikir.


"Tapi- -


"Tidak papa Nyonya, saya mempermasalahkan pertanyaan suami nyonya kepada saya. Wajar saja jika Tuan mencurigai saya, saya hanya orang asing yang tengah kesulitan dan dengan tiba-tiba saya meminta bantuan kalian!" ujar wanita itu yang memotong ucapan Ros, dengan wajah memelas nya.


"Maafkan suami saya mba?" Ros merasa tidak enak hati pada wanita yang baru saja ditolong nya.


"Tidak papa Nyonya, saya memang pantas untuk di curigai!" balas wanita itu.


"Kalau boleh saya tahu! siapa nama mba ini?" tanya Ros kemudian, dan Rendy tampak tak suka mendengarnya.


"Nama saya...,"

__ADS_1


Bersambung...


Baru bisa up jam segini aku 🤧


__ADS_2