
"Apa yang terjadi dengan Ros dan Herman?" tanya Maya pada menantunya. Rendy bingung, ingin menjawab apa dia pada mertuanya. Apakah Rendy harus mengatakan, jika Ros tertembak karena ulahnya?
Ya, Rendy harus jujur, ia akan mengatakan yang sebenarnya pada mertuanya itu.
"Katakan Ren?" Maya terisak. Ia memandang ke arah pintu kaca yang tertutup kain berwarna hijau dari dalam.
"Maafkan Rendy Ma, Rendy tidak bisa menjaga Ros dengan baik."
Maya menggelengkan kepala tanpa membalas ucapan Rendy, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Ros. anak satu satunya.
"Rendy minta maaf, Ma. Rendy tidak bisa menjaga Ros." Kembali kata itu terucap dari mulut Rendy. Rasa menyesal itu sungguh begitu dalam, menusuk hingga ke relung kalbu. Andai saja waktu bisa di putar, Rendy lebih memilih, jika peluru itu menembak tubuhnya, bukan tubuh istrinya.
"Jeng, ada apa ini?" tanya Bu Ajeng yang berjalan tergopoh-gopoh. Ia yang baru saja datang untuk mengunjungi Kayla, berubah haluan menjadi ke arah di mana Ros saat ini tengah di tangani.
"Ros, Bu. Ros," ucap Maya sambil terisak. Wanita paruh baya itu tak mampu mengeluarkan kata. Tak mampu juga menjawab apa yang Ajeng tanyakan padanya.
Bu Ajeng mendekati besannya tersebut. Merangkulnya seperti saudara yang saling menguatkan satu sama lain. Bahkan, Ajeng juga merasa sedih dan terpukul dengan apa yang terjadi pada Ros. Surya sudah memberitahunya. Tapi, setelah tiba di depan ruang penangan Ros, Ajeng ingin memastikan sendiri dengan bertanya.
"Katakan Ren, apa yang sebenarnya terjadi pada menantu kesayangan Mama?" tanya Ajeng.
"Ros tertembak, Ma." Akhirnya, Rendy mengatakannya juga. Maya hatuh merosot ke lantai saat mendengar jika Ros tertembak.
"Dan bukan hanya satu kali Ros tertembak, tapi dua kali peluru menembus kulit dan dagingnya," ujar Rendy yang kembali membuat Maya semakin merosot ke lantai.
Ibu mana yang akan tega, jika mendengar anaknya mengalami sebuah kecelakaan. Apalagi yang menimpanya adalah sebuah tembakan di tubuh, yang sudah pasti sangat menyakitkan. Hingga membuat Ros tak sadarkan diri.
"Lalu, bagaimana dengan keadaan sopirnya itu?" Ajeng kembali bertanya. Pikirannya masih bisa di pakai untuk memikirkan orang lain yang sudah berhasil menyelamatkan putra kesayangannya.
__ADS_1
"Dia sudah melewati masa kritis Ma," jawab Rendy pelan. Ia tertunduk dalam, dua orang sudah menyelamatkan hidupnya. Rendy merasa tidak berdaya di titik ini.
"Duduklah. Mama yakin, kamu pasti lelah, Ren," ucap Ajeng melambaikan tangannya pada Rendy.
Rendy mengangguk, ia patuh dan langsung berjalan mendekati Ajeng yang membawa Maya untuk duduk di kursi tunggu panjang di depan ruang UGD.
Seseorang menepuk-nepuk bahu Rendy yang tengah tertunduk diam, "maafkan aku Ren, karena aku terlambat, Ros dan Herman jadi tertembak," ucapnya yang ternyata adalah Surya.
Rendy melirik sekilas, lalu kembali menundukkan kepalanya lagi. Kali ini, lebih dalam lagi, "itu bukan salahmu kak. Salahku karena aku tidak bisa menjaga istriku sendiri dari para bajingan seperti Vero dan Matthew."
"Para anak buahmu sudah mengurus mereka semua. Matthew kritis, begitu pun dengan Vero, lukanya sangat parah." Surya memberi tahu. Rendy tersenyum kecut.
"Aku kira, mereka berdua sudah tiada," ucap Rendy.
"Mereka berdua akan mendapatkan hukuman yang setimpal, Ren," balas Surya.
"Aku harap seperti itu."
Di atas brangkar, Ros masih menutup mata. Dua peluru yang bersarang di tubuhnya, kini sudah berhasil di ambil. Namun, kondisi Ros masih mengkhawatirkan, ia masih tak sadarkan diri. Mungkin, karena darah yang di keluarkan oleh Ros, cukup banyak, hingga membuatnya masih menutup mata sampai detik ini juga.
"Pasien kritis Dok," seorang suster yang memakai masker memberitahu.
Dokter mengangguk sambil menghela napas berat dan dalam. Sepertinya, kondisi Ros lebih dari kata kritis.
Setelah cukup lama, dokter pun memutuskan untuk keluar. Dan sudah bukan menjadi hal yang aneh lagi bagi dokter, jika keluar ruangan, langsung di brondong pertanyaan oleh para keluarga pasien.
"Dok, dokter, bagaimana keadaan istri saya dok?" Rendy datang sambil bertanya. Ia berjalan cepat setelah mendengar pintu terbuka dan dokter keluar dari ruang UGD.
__ADS_1
"Tenang Ren, biarkan dokter menjelaskan dengan tenang," ucap Ajeng, sang ibu mengingatkan.
Rendy menghela napas panjang. Apa yang Mamanya katakan memang benar. Tapi, perasaan khawatir Rendy terlalu besar. Hingga pertanyaan cepat pun, langsung keluar dari mulutnya untuk sang dokter yang menangani Ros di dalam.
"Tidak apa Bu. Saya sudah terbiasa mengalami ini semua. Dan ini adalah hal yang wajar, yang di lakukan oleh keluarga pasien," ucap dokter itu santun. Ajeng mengangguk kecil mendengar ucapan dokter muda tersebut. "Dua peluru di tubuh pasien sudah berhasil di keluarkan. Tapi ...."
"Tapi apa dok?" tanya Rendy cepat. Maya penasaran. Ia tak sabar ingin mendengarkan penjelasan dokter tentang keadaan anaknya. Begitu pun dengan Ajeng, yang ikut menajamkan telinga ingin mendengarkan apa yang akan dokter itu katakan pada mereka.
"Katakan dok, tapi apa? Apa yang terjadi pada istriku?" Rendy menekan dokter itu untuk segera menjelaskan keadaan Ros yang sebenarnya.
Dokter menghela napas dalam sebelum menjelaskan, "maafkan kami Tuan, Nyonya semua. Keadaan Nona Ros saat ini kritis. Ia membutuhkan banyak darah." ucap dokter akhirnya, mengatakan kondisi Ros yang sesungguhnya.
"Ambil darahku Dok," ucap Rendy cepat.
"Darah saya juga, Dok." Maya tak mau kalah, ia juga berkata sambil menyodorkan sebelah tangannya pada dokter.
"Golongan darah saya sama dengan golongan darah Ros," ucap Rendy memberitahu.
"Saya juga Dok. Saya ibunya," kata Maya. Ia juga masih tak mau kalah dari Rendy, menantunya.
"Saya suaminya Dok. Rendy suami Ros, mah. Biarkan Rendy yang mendonorkan darah Rendy untuk Ros. Rendy tidak mau Mama kenapa-napa," kata Rendy. Ia mengambil kedua tangan Mama mertuanya dengan wajah sendu penuh penyesalan.
"Mah, izinkan Rendy menebus semua kesalahan dan kelalaian Rendy terhadap Ros. Rendy ingin menjadi suami yang berguna bagi Ros dan Mama, juga Mama Ajeng. Rendy akan melakukan apa pun demi kesembuhan Ros, istri Rendy," ucap Rendy. Maya terisak mendengar ucapan menantunya. Akhirnya, Maya pun mengangguk setuju dengan apa yang Rendy ucapkan padanya.
"Terima kasih Ma, terima kasih," kata Rendy, beberapa kali ia mencium punggung tangan Maya, saking senangnya ia dengan izin yang maya berikan padanya.
"Ikuti dokter, Ren. Selamatkan menantu kesayangan Mama. Mama tidak mau Ros kenapa-napa," ucap Ajeng. Ia menepuk-nepuk pelan punggung Rendy dengan sebelah tangannya.
__ADS_1
Rendy mengangguk paham. "Doakan Rendy, agar semuanya berjalan dengan lancar," ucap Rendy. Ia memeluk tubuh Mama dan Mama mertuanya secara bergantian sebelum ia pergi.
Bersambung