
'Ceklek!'
Pintu ruang rawat Ros terbuka. Rendy menatap haru pada empat sosok wanita yang menjadi kesayangannya.
Keempat wanita tersebut terlihat sedang mengobrol dan melepas rindu dengan saling berpelukan dan berpegangan tangan. Suara tawa pun terdengar indah di telinga. Dan saat pintu terbuka, keempat wanita tersebut langsung menghentikan aktivitas menyenangkan mereka. Serempak melihat ke arah pintu yang terbuka.
"Kakak," ucap Ros dengan mata berbinar, menatap ke arah Rendy. Di lengannya masih terpasang infusan.
Rendy berjalan mendekat ke arahnya dengan tatapan rindu yang menggebu. Dua wanita yang menjadi ibu dan mertua Rendy, ikut memerhatikan langkah Rendy yang mendekat.
"Kamu sudah sadar?" tanya Rendy walau ia belum sampai ke tempat Ros. Ros mengangguk dan tersenyum. Lalu, pandangan Rendy beralih pada sosok cantik yang berada di sebelah Ros. Tubuhnya juga mengenakan pakaian yang sama dengan yang Ros kenakan.
"Kayla," ucap Rendy lirih. Ia tak percaya dan tak menyangka, jika sosok yang ada di dekat istrinya tersebut adalah sang adik kesayangan, yaitu Kayla. Duduk lemah dengan menggunakan kursi roda. Wajahnya tampak pucat. Namun, ada sedikit cahaya kehidupan baru di wajahnya.
"Kamu sembuh, Kay?" tanya Rendy sambil menggenggam tangan istri dan adiknya. Menciumnya satu persatu tanpa membedakan keduanya. Hanya porsinya saja yang berbeda. Yang satu istri, dan yang satu lagi adik kandung.
Kayla menanggapi dengan senyum dan anggukkan kepala, sama seperti yang Ros lakukan barusan.
"Doakan aku Kak. Support aku, agar aku bisa kembali menjadi Kayla yang dulu," ucap Kayla. Membalas genggaman tangan Rendy. Terlihat luka luka lebam di tangan bekas aksi kekerasan yang dilakukan oleh Doni, sang suami yang sebentar lagi akan Kayla gugat ke pengadilan agama.
"Tentu Kay, tentu! Aku akan selalu mendoakan juga mensupport dirimu, kapanpun, dan apa pun yang terjadi," balas Rendy.
"Dan terima kasih Ros. Sudah begitu baik menjaga kakakku. Pengorbananmu sungguh berarti bagiku. Mungkin, aku akan semakin depresi, bahkan gila, jika kak Rendy ikut terluka karena tertembak oleh para orang tidak berprikemanusiaan itu. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih. Kau begitu baik. Aku beruntung mendapatkan kakak ipar sebaik dirimu," ucap Kayla, membuat orang-orang yang ada di sana berlinangan air mata karena ucapannya.
"Aku hanya melakukan apa yang hatiku katakan, Kay." Ros berucap lirih. Rendy tak hentinya memandangi wajah Ros dengan lekat. Wajah yang tak kalah pucat dari wajah sang adik.
"Aku tau. Itu karena, kau benar-benar mencintai kakakku." Di saat haru melanda, Kayla memberikan tawa di antara kesedihan yang tercipta.
"Biar Mama antar kamu beristirahat, Kay," Ajeng menghampiri putri tercintanya dengan langkah pelan. Memegangi pundak Kayla dengan kedua tangan.
__ADS_1
Kayla merespons dengan anggukkan kepala sambil menatap Mamanya. Lalu, tatapannya beralih pada sosok Ros yang kelihatannya juga membutuhkan istirahat yang cukup.
"Aku mengerti. Istirahatlah Kay. Doakan aku juga, semoga aku cepat sembuh dan bisa mengurus kakakmu lagi," ujar Ros, tanpa Kayla mengatakannya lewat kata.
"Mama antar Kayla dulu ke ruangannya ya, Sayang," ucap Ajeng pada menantu kesayangannya, sambil mengelus lembut lengannya.
"Mama juga, Ros. Karena sudah ada suamimu, Mama izin menemani Mama mertuamu." Maya yang paham situasi dan kondisi, memilih mengikuti Ajeng untuk mengantarkan Kayla beristirahat. Meninggalkan sepasang suami istri yang pasti sangat merindukan satu sama lain.
...***...
"Kau tahu, Sayang?" ucap Rendy bertanya. Namun, tak jelas apa pertanyaannya. Membuat Ros menggelengkan kepala, karena bingung harus menjawab apa.
"Ah, iya. Aku belum mengatakannya," ucap Rendy yang menyadari kebodohannya.
"Vero meninggal, Sayang."
Deg!
"Kamu sedih atas kematiannya Sayang?" tanya Rendy menyelidik.
Ros menggeleng. "Walau bagaimanapun, dia pernah menjadi bagian dalam hidupku, Kak," ucap Ros. Rendy diam menyimak.
"Jika aku sedih mendengar kematiannya, bukan berarti aku masih memiliki rasa padanya. Aku hanya menyesali, Vero tiada dengan cara yang salah. Ia tiada dengan menyimpan dendam untuk kita berdua," ungkap Ros yang sejujurnya.
Rendy mendekat. Ia mengelus lembut lengan Ros dengan tangannya, merasa bersalah karena menyimpan sedikit curiga pada istrinya tersebut.
"Maafkan aku, Sayang," ucap Rendy.
Ros mengerutkan kening, "untuk?"
__ADS_1
"Untuk curiga yang baru saja melanda. Harusnya, aku tidak seperti itu."
"Itu wajar Kak, aku memahaminya. Sebaiknya, kita doakan saja Vero. Dan lupakan semua yang telah terjadi," balas Ros.
"Tentu Sayang. Kita buka lembaran baru tanpa gangguan dari Vero."
...***...
"Bagus! Kalian melakukan apa yang aku perintahkan. Dia, sudah masuk dalam jebakan kita," ucap Surya pada beberapa anggotanya yang berpura-pura lalai dalam menjaga ruangan yang ditempati oleh Matthew.
Dugaan Rendy tepat. Matthew hanya berpura-pura kritis dan masih tak sadarkan diri. Padahal, kesadarannya sudah pulih jauh-jauh hari. Dan saat Surya memerintahkan para anggotanya untuk berpura-pura tertidur saat bertugas, Matthew memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri.
"Sekarang bagaimana Pak?" tanya seorang polisi yang Surya suruh untuk berpura-pura tidur saat menjaga Matthew.
"Kita ikuti saja permainannya. Aku sudah memasang alat pelacak yang tak akan pria tua itu sadari keberadaannya," balas Surya dengan senyum yang tak dapat di artikan.
...***...
"Paman! Kita harus membalas dendam atas kematian kak Vero, paman!" ujar pria yang menangisi pusara Vero, saat sudah tiada lagi yang berada di pemakamannya.
"Kau benar, Doni. Nyawa, harus di bayar dengan nyawa. Aku tidak rela, Vero mati begitu saja di tangan mereka. Aku, akan membalaskan kematian keponakan tercintaku," balas Matthew sambil menggenggam erat selembar foto yang menunjukkan gambar Vero dengan Doni dan Matthew. Ia berhasil kabur dari penjagaan ketat para polisi yang sebenarnya telah membodohi dirinya atas perintah dari Surya.
"Aku setuju denganmu, paman. Aku juga tidak rela, kakakku, mati begitu saja di tangan mereka. Sudah banyak penderitaan yang dia alami akibat mencintai perempuan bodoh seperti Ros. Banyak wanita cantik dan seksi serta pintar di kota ini. Tapi kakakku, dia malah jatuh cinta pada wanita seperti Ros. Wanita yang hanya bisa menyakiti hati kakakku," ujar Doni. Kebencian begitu kentara ia perlihatkan pada Matthew untuk Ros. Wanita yang Vero cintai.
Mengatai dan menuduh, tanpa tahu kebenarannya seperti apa. Bahwa, Vero lah yang sebenarnya mengkhianati Ros dengan berselingkuh bersama sahabat Ros sendiri, di masa lalu.
...***...
"Kena, kalian! Aku sudah menemukan di mana lokasi kalian berdua bersembunyi," ujar Surya saat alat pelacak yang teramat kecil ukurannya itu, Surya sembunyikan di perban yang Matthew kenakan di bagian kakinya yang tertembak, sudah bekerja sesuai dengan keinginan.
__ADS_1
"Bersenang-senanglah kalian berdua. Setelah ini, aku akan membuat kalian membayar, apa yang sudah kalian lakukan."
Bersambung...