Dia Milikku

Dia Milikku
Bab 17


__ADS_3

Sudah hampir 30 menit lamanya Nita menunggu balasan dari Argana. Namun sampai sekarang ia tidak mendapatkannya.


"Apa dia marah? Tapi apa alasan Argana marah terhadap ku? Aku kan cuman ingin berteman baik dengannya meskipun yang sebenarnya aku menyukainya. Tapi tidak mungkin aku merebut dia dari kekasihnya" gumam Nita.


Hari ini ia merasa bahagia, sebab begitu ia tiba di depan gedung Hanju group. Nita bertanya kepada sekuriti yang bertugas di depan pintu Loby. Apa benar di perusahaan tersebut mereka sedang membutuhkan jasa cleaning servis.


Dan sesuai dengan informasi yang ia dapatkan dari internet, benar sekali kalau Hanju sedang membutuhkan tenaga cleaning servis bahkan ia langsung diterima bekerja disana saat itu juga.


Dengan senyum yang terus menerus Nita terbitkan di wajahnya, ia mencoba menghubungi Argana untuk berbagi cerita bahagianya dengan mengirim pesan kepadanya.


Tetapi Argana sama sekali tidak membalas pesannya sampai Nita merasa mulai mengantuk hingga pada akhirnya ia tertidur lelap sampai matahari terbit kembali.


"Hhooaammm.. Astaga! Apa Argana sudah membalas pesan ku" Nita menyambar ponselnya. Namun ia tidak melihat satupun notifikasi di ponsel. "Yah, ternyata dia tidak membalas pesan ku. Apa sebaiknya aku mengirim pesan lagi? tapi dengan alasan apa yah? Mmmmm.." Nita mencoba memikirkan alasan yang cocok untuk mengirim pesan kepada Argana.


"Oh, ini ajah deh. Selamat pagi Argana. Kita punya tugas kuliah enggak pagi ini? Kamu tau kan kemari aku enggak masuk kuliah" Nita langsung mengirim pesannya. Namun saat itu juga ia melihat centang 1, itu artinya Argana sudah memblokir nomornya.


"Ooo.. Dia memblokir nomor ku" kaget Nita tak habis pikir kalau Argana sampai tega memblokirnya.


Setelah itu Nita memasuki kamar mandi, disana ia hanya menghabiskan waktu kurang lebih 15 menit. Kemudian ia keluar, merasa sedikit lapar, Nita melihat bahan di dapur hanya tersisa satu bungkus mie instan.


Tidak ingin berlama-lama lagi, Nita menyalakan kompor. Ia langsung memasak mie instan tersebut untuk mengganjal rasa laparnya. "Di pagi ini aku makan mie instan dulu, siapa tau nanti aku kelaparan tidak tahu harus mencari makanan dimana. Mana di kantin makanannya mahal-mahal semua. Ya aku malu dong kalau sampai mereka tahu aku tidak sanggup membeli makanan disana".


Begitu mie instan tersebut matang, dengan sangat lahap Nita langsung memakannya.


"Mmmm.. Enak juga".


Setelah selesai, ia segera berangkat kuliah dengan perut terisi. Namun jangan salah, Nita yang lahir tumbuh cantik, ia tidak pernah menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya dan Nita tidak peduli jika dia selalu berpenampilan layaknya seorang gadis kaya.


Bahkan tidak ada satu orang pun yang mengetahui siapa dia sebenarnya, karena Nita sangat menyembunyikannya dan berharap tidak ada orang yang tahu.


Sesampainya di kampus Nita berjalan menaiki anak tangga menuju lantai kelasnya. Seperti biasa, Nita hanya menunjukkan senyum tipis kepada mereka hingga orang beranggapan kalau Nita beda kelas dengan mereka apalagi wajah Nita yang khas kebulean membuat kecantikan Nita terbilang sangat cantik.

__ADS_1


"Ekh Nita. Kamu dari mana saja beberapa hari ini?" Septia memanggilnya.


"Kenapa Septia? Kita punya tugas kuliah yah?".


"Mmmm.. Lagi-lagi kamu satu kelompok dengan ku dan juga dengan Argana dan Bagas".


"Kamu serius Septia?" kedua mata Nita berbinar-binar sangat bahagia mendengar perkataan Septia. "Itu mata kuliah apa Septia?".


"Mata kuliah Manajemen akuntansi. Entar kamu ikut aku ke perpustakaan yah. Bantu aku mencari bahannya".


"Iya. Terus kapan kita kerjakan tugas kuliahnya?".


"Mmmm.. Gimana yah. Entar aku tanya sama mereka".


"Oh ya sudah" angguk Nita tersenyum lebar. Setelah itu ia masuk kedalam kelas bersama dengan Septia. Di dalam kelas itu, ia belum melihat Argana disana bersama dengan Bagas. "Sepertinya kedua orang itu belum datang".


Lalu Nita mendudukkan diri di atas kursinya, sambil menunggu mereka datang. Nita mencoba bertanya-tanya kepada teman satu kelasnya ada tugas apa selama 3 hari ia tidak masuk kuliah.


Namun hanya tugas biasa saja, Nita pun segera meminta kepada mereka apa saja yang perlu ia kerjakan. Setelah itu tidak lama kemudian, Argana dan Bagas membuka pintu membuat mata di dalam kelas tersebut tertuju kepada mereka.


"Itu. Argana dan Bagas sudah datang" jawabnya menunjuk kearah mereka.


Nita pun segera memutar tubuhnya, ia lalu tersenyum manis kepada Argana. "Kalian sudah datang?" Nita bangkit berdiri mendekati kedua orang itu tampa perduli dengan bisikan teman-teman satu kelasnya.


"Nita kok genit banget ya sama Argana dan juga Bagas? Heran deh sama dia, aku yakin dia sok-sokan mau dekatin mereka berdua karna Argana orang kaya. Coba kalau mereka orang biasa. Iya kali mau mendekatinya".


Namun bukannya perduli, Nita dengan pedenya bertanya kepada Bagas dan juga Argana. "Aku tau, kalian berdua pasti mencari ku. Iyakan?" ucap Nita membuat Bagas tertawa.


"Yah.. Kamu tau saja kalau aku mencari mu beberapa hari ini. Kamu baik-baik saja?".


"Mmmm.. Aku baik-baik saja Bagas seperti yang kamu lihat" jawab Nita dengan senyum andalannya.

__ADS_1


"Baguslah. Argana sangat mengkhawatirkan mu selama 3 hari ini Nita".


"Benarkah?".


Argana yang tidak suka namanya dibawa-bawa, ia langsung menatap kesal Bagas yang sudah menghancurkan moodnya di pagi hari.


"Yah.. Sepertinya kamu benar-benar sangat mengkhawatirkan aku yah Arga? Aku baik-baik saja kok. Kamu lihat sendiri, sekarang aku berada dihadapan mu hehehehe".


Sedangkan Bagas yang sedang menahan tawa, ia tidak habis pikir dengan Nita yang tingkat kepercayaan dirinya begitu tinggi tampak menyadari Argana tengah menatapnya dengan tatapan serius yang artinya Argana sangat membencinya.


"Benarkah?" tanya Argana.


"Mmmm.. Aku baik-baik saja Arga" senang Nita semakin melebarkan senyuman di wajahnya. "Terima kasih yah Ga sudah mau mengkhawatirkan aku. Aku tidak menyangka kalau kamu itu sebenarnya laki-laki baik yang sangat peduli sama teman sendiri".


Namun Argana malah tersenyum sinis, "Aku tidak pernah menganggap mu seorang teman. Jangan pernah berpikir berlebihan".


Deng!


"Akh.. Tidak apa-apa Arga. Tapi aku akan tetap menganggap mu sebagai teman, iyakan Bagas. Kita akan tetap menjadi teman?".


"Akh iya" angguk Bagas masih tetap menahan tawa melihat Nita yang begitu sabar menghadapi pria yang berada disebelahnya itu. Padahal ia sudah hampir merasa kalau sebenarnya Argana selama ini perduli dengan Nita. Tapi nyatanya tidak seperti yang ia pikirkan.


"Oh iya. Kita punya tugas kelompok lagi yah? Kira-kira kapan kita akan mengerjakannya Bagas?" tanya Nita.


"Terserah kalian saja. Aku kapan pun punya waktu untuk mengerjakannya. Bagaimana dengan mu Arga?".


"Terserah" jawabnya.


"Mmmmm.. Gimana kalau hari minggu saja? terserah mau dimana nantinya atau di rumah kamu saja Arga?".


"Boleh juga itu Arga" sahut Bagas.

__ADS_1


"Terserah kalian" jawab Arga.


"Ok fiks dirumah kamu" senang Nita kembali ke kursi duduknya.


__ADS_2