
Kemudian Nita menarik nafas dalam, sekarang ini bukan perutnya saja yang bermasalah, tapi hati dan pikirannya lah yang paling bermasalah dalam hidupnya.
Tidak menunggu lama, hanya menghabiskan waktu 20 menit lamanya Argana kembali membawakan sebuah nasi kotak di kantong kresek berwarna hitam.
"Sekarang kamu makan, aku yakin kamu tadi pagi tidak sempat sarapan dari rumah" Argana mengeluarkannya dari di dalam plastik tersebut, lalu membantu Nita mendudukkan diri sambil memberikan nasi kotaknya. "Ayo dimakan, jangan jadi dipandangi".
"Mmmm.. Terima kasih Arga" Nita pun menyambar sendok, kemudian memasukkan nasi tersebut kedalam mulut dan dengan pelan-pelan ia mengunyahnya sampai kini nasi kotak itu hampir habis ia makan.
"Sepertinya kamu sangat kelaparan sekali" Argana lalu memberikan air minum di tangannya. "Sudah berapa hari kamu tidak makan?".
Nita tersenyum tipis, "Akhir-akhir ini aku sering lupa makan Ga. Maaf sudah merepotkan kamu".
Dan Argana pun malah menatapnya dengan tatapan heran, sejak kapan orang sakit seperti Nita malah bisa tersenyum seperti biasa ia lihat.
"Kenapa kamu melihat ku seperti itu Ga?".
"Tidak, apa kamu akan menghabiskannya?".
"Mmmm.. Aku akan menghabiskannya, lagian sayang tau kalau makanan ini malah dibuang. Rasanya juga enak, dimana kamu membelinya Arga?" tanya Nita tanpa ia sadari kalau ia sedang berbicara dengan seorang Argana.
"Kenapa kamu bertanya dimana aku membelinya?".
"Rasanya sangat enak sekali Ga. Lain kali aku ingin membelinya lagi".
Namun saat Argana melihat betapa comelnya mulut Nita saat sedang berbicara membuat ia langsung tersenyum gemas memalingkan wajah agar Nita tidak melihatnya.
"Oh iya Ga. Kamu enggak kembali ke kampus? Ini sudah jam berapa?".
"Aku tidak akan kembali kesana. Aku akan menunggumu sampai kamu merasa baikan".
"Wah...!!" kedua mata Nita pun berbinar-binar merasa sangat bahagia mendengar jawaban Argana yang begitu sangat mengemaskan di kedua telinganya. "Saat kamu berkata seperti ini, mulut ku rasanya tidak ingin berhenti berkata terimakasih Arga hehehehe".
Argana pun pada akhirnya ikutan tertawa kecil, "Istirahatlah, aku akan menunggumu mu disini".
"Mmmmm.. Terima kasih Ga" angguk Nita segera membaringkan tubuhnya kembali. Namun sebelum ia memejamkan kedua matanya, ia masih menyempatkan diri untuk memandangi wajah tampan Argana.
"Tidurlah, aku tidak akan pergi meninggalkan kamu".
"Baiklah".
__ADS_1
Begitu Nita memejamkan kedua matanya, Argana lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku memberitahu Bagas kalau ia dan Nita tidak bisa masuk kuliah, dan pastinya Bagas sudah tau alasan keduanya tidak bisa masuk karena sebelum ia keluar dari dalam kelas Bagas mengetahuinya kalau wanita itu yang bicarakan tadi adalah Nita.
Setelah Argana menyimpan ponselnya kembali, ia menatap wajah Nita yang benar-benar sekarang telah terlelap dalam tidurnya.
Kemudian ia mencoba untuk menyentuh wajahnya Nita, namun Argana segera menarik tangannya, ia tiba-tiba tersadar kalau ia jangan sampai merasa ada ikatan sesuatu dengan Nita.
Setelah itu Argana kembali mengeluarkan ponselnya dan memilih bermain games sambil menunggu Nita bangun.
_
_
Hari ini Reysa tengah bersiap-siap berangkat ke perusahaan Hanju group salah satu perusahaan terbesar di negara ini.
Begitu ia keluar dari dalam kamar, Kirana melihatnya dari atas sampai bawah.
"Kenapa mama melihat ku seperti itu?".
"Tidak. Ayo masuk" jawab Kirana segera memasuki mobil. Reysa pun memasuki mobil itu juga, setelah itu si supir menjalankan mobil meninggalkan istana keluarga besar Davison.
Semenjak Mateo meninggalkan dunia, ia meminta Dilan tinggal disana bersama dengan keluarga kecilnya agar rumah tersebut tidak kosong saat Lucas menolak tinggal disana. Dan kini tinggallah Dilan bersama dengan istrinya, Brian dan juga Isabella yang sangat jarang sekali pulang kerumah beserta banyaknya pelayan disana.
Kemudian Reysa mendengar beberapa bisikan dari antara mereka Sampai ke pendengarannya.
"Wah.. Cantik sekali dia. Siapa wanita yang berada disebelah nyonya Kirana?" tanya salah satu karyawan itu.
Lalu seseorang menjawabnya dari belakang, "Kalau enggak salah, wanita cantik itu putri pertama tuan Dilan dengan Nyonya Kirana. Kalian tidak melihat betapa miripnya mereka berdua".
"Iyayah.. Pantas saja putrinya cantik. Nyonya Kirana dengan tuan Dilan saja sangat tampan. Lalu kemana saja dia selama ini? Kenapa aku baru saja melihatnya?".
"Selama ini dia kuliah di London mengambil jurusan desainer. Dan yang seperti saya dengar, dia akan bergabung di perusahaan kita menjadi kepala Desainer".
"Benarkah?".
"Mmmmm".
.
Di dalam ruangan, Dilan menatap putrinya itu dengan tatapan serius. "Mulai hari ini kamu bisa bergabung di perusahaan ini" ucapnya.
__ADS_1
"Terima kasih pa sudah mau menerima Reysa disini. Aku akan melakukan yang terbaik".
"Bagus" lalu Dilan bangkit berdiri dari atas kursi kebesarannya membawa Reysa ke bagian tempat Reysa yang sebenarnya. Disana ia melihat karyawan lainnya tengah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, namun karna mereka melihat kedatangan Dilan dan juga Kirana, mereka langsung memberhentikan pekerjaan tersebut.
"Tuan, ada yang bisa kamu bantu?" tanya si manager.
"Mmmmm" balas Dilan. Lalu melihat mereka satu persatu sambil memperkenalkan Reysa yang akan menjadi kepala team mereka. "Mungkin kalian semua tidak mengenal dia siapa. Dia adalah putri saya. Ayo Rey, perkenalkan dirimu dengan mereka".
"Iya pa" jawab Reysa dengan senyum ramah membuat mereka semua tidak merasa tegang, takut kalau Reysa akan seperti Dilan tegasnya. "Hallo semuanya!! Perkenalkan nama saya Reysa. Disini saya akan menjadi bagian dari kalian juga, saya harap kita bisa saling bekerjasama dengan baik".
"Iya nona. Kami juga sangat berharap bisa bekerja sama dengan baik nona. Mohon bimbingannya".
Reysa tertawa kecil, "Harusnya saya yang meminta mohon bimbingannya dengan kalian semua. Ya pastinya kalian lebih berpengalaman dari saya sendiri".
Kemudian salah satu dari karyawan itu mengangkat tangan ke atas, "Iya silahkan" ucap Reysa.
"Boleh saya bertanya nona?".
"Tentu saja boleh. Apa itu?".
"Nona Reysa lulusan dari universitas mana?".
"Akh.. Saya lulusan dari universitas xx dari London" jawab Reysa.
Si wanita yang bertanya itu pun memalingkan wajahnya dengan perasaan sangat malu kepada Reysa orang tuanya dan juga team yang lain. Ia berpikir kalau Reysa hanyalah lulusan dari universitas yang ada di Indonesia.
"Kenapa? Ada yang salah? Atau kamu lulusan dari sana juga?" tanya Reysa melihatnya.
Ia menggeleng, "Tidak seperti itu nona. Maaf tadi saya sempat berpikir kalau nona Reysa lulusan dari salah satu universitas yang ada di negara kita. Tapi nyatanya tidak, saya jadi malu sendiri".
"Akh, tidak apa-apa kok. Baiklah kalau gitu, saya rasa tidak ada lagikan yang ingin bertanya tentang saya".
"Tidak nona" jawab mereka.
"Terima kasih. Mari bekerjasama dengan baik kedepannya nanti".
"Siap nona".
Setelah itu Dilan bersama dengan istrinya pergi meninggalkannya di ruangan tersebut.
__ADS_1