
Berada di dalam kantor Nita tiba-tiba merasa pusing menyentuh kepalanya dan juga ia merasakan kesesakan untuk bernafas.
"Nita, kamu baik-baik saja?" tanya Nella melihatnya.
"Hhhmmm?".
"Kamu baik-baik saja? Kenapa kamu terlihat pucat seperti itu?".
"Aku baik-baik saja Nella".
"Benarkah?".
"Mmmmm".
"Terus kamu sudah tau belum kalau Ranu baru saja mengundurkan diri dari perusahaan ini? Perasaan semalam dia baik-baik saja, tapi kenapa dia mengundurkan diri secara tiba-tiba seperti ini tanpa ada perpisahan. Menurut mu aneh enggak Nita?".
"Kamu kenapa tiba-tiba gelisah seperti itu?" ucap Nella melihat wajah Nita semakin memucat dengan wajah linglung. "Yah.. Kamu baik-baik saja Nita? Kamu sakit hhmmm?".
"Sebentar Nella" ia lalu pergi meninggalkan Nella ke dalam ruangan pantry yang berada disana. Dengan tubuh lemas ia pun mendudukkan diri diatas kursi, "Ya Tuhan. Kenapa rasanya sakit sekali akh".
Kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, ia lalu menghubungi nomor Argana, namun Argana yang tengah berada di ruang meeting membuat ia tidak bisa mengangkat ponselnya.
"Aakkhhh.. Aku tidak tahan lagi, kenapa dada ku sakit sekali aarrkkhhh".
Nita kembali menghubungi nomor ponsel Argana.
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...
Lalu pria yang berada disebelah Argana memberitahu kalau ponselnya berdering menandakan sebuah panggilan masuk kedalam ponselnya.
"Mmmmm" gumam Argana melirik ponselnya yang masih bergetar, tetapi ia sama sekali tidak berencana untuk mengangkatnya hingga sebuah pesan masuk.
"Arga ini aku, tolong aku Ga, rasanya sakit sekali" isi pesan dari Nita.
Argana mengernyitkan dahi, ia lalu membalas pesan Nita. "Sakit apa?".
Ting!
"Dada ku sakit sekali Ga sampai aku tidak bisa bernafas. Tolong aku Ga" balasnya kembali.
Membaca pesan dari Nita, ia pun segera bangkit berdiri sampai membuat mereka yang berada disana terkejut. "Ada apa Arga?" tanya Lucas.
__ADS_1
"Maaf, saya permisi dulu" jawab Argana langsung keluar dari ruangan tersebut membuat Lucas menatapnya heran. Setelah itu Lucas menyuruh mereka melanjutkan diskusi mereka kembali.
Didalam ruangan kerja Nita, ia tidak melihatnya berada disana sampai membuat karyawan yang berada di dalam itu tiba-tiba di buat ketakutan saat Argana berada di dalam ruangan mereka. Lalu Riska sang manager mendekatinya.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanyanya sedikit ketakutan kalau saja ruangan team rekan kerjanya melakukan kesalahan mengingat Ranu yang tiba-tiba mengundurkan diri.
"Dimana dia?".
Riska bingung, "Dia siapa tuan?".
"Ck, Nita dimana?".
"Ooo.. Nita?" ujar Nella mendengar Argana menyebut nama rekan kerjanya itu. "Apa tuan baru saja menyebut nama Nita?".
"Iya dimana dia?".
"Tadi dia izin sebentar tuan, tapi saya tidak tau kemana perginya..
"Dia ada diruang pantry tuan" potong seseorang memberitahu.
Argana pun segera memasuki ruang pantry, disana ia melihat Nita tengah duduk sambil meremas dadanya yang terasa sesak. "Nita?" panggilnya.
Mendengar namanya di panggil, Nita memutar tubuhnya kearah sumber suara melihat Argana berjalan kearahnya. "Arga sakit, rasanya sakit sekali. Tolong aku Argan.....
"Nita" kaget Argana menahan tubuhnya. "Nita! Nita! Nita ayo bangun!".
Tidak ada jawaban dari yang empunya namanya, ia pun membawa pergi Nita dari sana menuju rumah sakit terdekat membuat seketika mata yang berada di ruangan itu tertuju kepada mereka saat Argana membawa tubuh Nita dengan keadaan pingsan.
"OMG! A-apa yang baru saja aku lihat?" gumam Nella melihat punggung Argana menjauh dari hadapannya. "I-itu benar-benar..
"Sudah-sudah.. Sekarang kalian semua kembali bekerja. Jangan malah asik bergosip kalau kalian masih ingin bekerja di perusahaan ini" ujar Riska menghentikan mereka.
.
Hingga kini mobil Argana tiba dirumah sakit, ia membawa tubuh Nita masuk kedalam ruangan IGD.
"Dokter suster" teriaknya memanggil mereka satu persatu untuk segera menolong Nita. Dan mereka pun datang menghampiri Argana, lalu menyuruh Argana menaruh tubuh Nita diatas bed rumah sakit. "Tolong selamatkan dia dok, lakukan yang terbaik untuk dia..
"Argana?" panggil Isabella melihat cucu kesayangan ya itu berada disana dengan wajah penuh kekhawatiran. "Apa yang sedang kamu lakukan disini? Kenapa kamu.. Dia siapa?".
"Nenek, aku mohon tolong selamatkan dia. Tolong lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan dia" jawab Argana menggenggam tangannya sampai membuat Isabella terkejut melihat kekhawatiran di wajah cucunya itu yang belum pernah ia lihat.
__ADS_1
"Mereka akan melakukan yang terbaik, sekarang kamu tenang dulu" ucap Isabella membawa Argana menjauh dari mereka. "Kita tunggu saja hasilnya. Tapi kalau boleh tau, siapa dia? Kenapa kamu sangat menghawatirkan dia Arga?".
Argana pun langsung terdiam.
"Kenapa? Apa dia orang spesial dalam hidup mu?".
"Tidak, dia hanya lah karyawan di kantor ku nenek" jawab Argana sedikit berbohong.
Isabella tersenyum, ia tau kalau Argana baru saja berbohong kepadanya. Karna ia tau betul Argana tidak mungkin sekhawatir ini kalau saja wanita itu bukanlah siapa-siapa dalam hidupnya.
"Kamu yakin tidak mau memberitahu nenek Argana?".
Dan lagi-lagi Argana terdiam.
"Dia kekasih baru mu?".
Argana pun melihatnya, "Tidak, kenapa nenek berkata seperti itu? Dia bukanlah kekasih ku, dia hanyalah seorang karyawan di kantor ku".
"Baiklah kalau kamu tidak mau jujur, nanti nenek sendiri yang akan bertanya kepada wanita itu setelah dia siuman. Kamu mau kopi?".
"Tidak nenek" jawab Argana menolak.
Tidak lama kemudian, hanya membutuhkan waktu 45 menit lamanya hasil dari pemeriksaan Nita keluar.
Si dokter yang melihat Argana sedang bersama dengan Isabella bertanya, "Dia siapa dok?".
"Dia cucu saya. Bagaimana hasilnya?".
Si dokter tersebut menyerahkan hasil dari pemeriksaan kondisi Nita yang sangat menyedihkan di tangan Argana. "Bagaimana dengan keluarganya? Dia mengalami gagal ginjal" ucap si dokter memberitahu.
"Apa?" kaget Argana dengan mata membulat.
"Iya. Sepertinya pasien pernah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan semakin parah".
Argana lalu meremas kertas tersebut dengan sangat kuat membuat Isabella melihatnya dengan perasaan sedih. Ia pun semakin yakin kalau Argana sedang memiliki hubungan dengan wanita itu, dan lagi-lagi Argana merasakan sakit setelah apa yang terjadi dengannya dan Reysa.
"Dok, saya mohon tolong selamatkan dia. Tolong selamatkan dia dok, berapa pun biaya yang akan saya tanggung saya tidak perduli asalkan dokter melakukan yang terbaik".
"Maaf, kami tidak bisa melakukan apa-apa karna pasien sudah berada ditahap akhir. Seharusnya ini dilakukan sejak pertama kali pasien mengalami kecelakaan, tapi..
"Saya mohon dok. Nenek, tolong lakukan sesuatu untuk menyelamatkan dia nek, aku mohon tolong selamatkan dia".
__ADS_1
Dengan mata berkaca-kaca, Argana menjatuhkan tubuhnya diatas kursi masih meremas kertas tersebut dengan sangat marah.
"Argana, nenek tidak tau hubungan kamu yang sebenarnya dengan dia. Tapi kamu harus kuat, kalau memang harus seperti ini kita sebagai dokter tidak bisa melakukan apa-apa kecuali kamu berdoa kepada Tuhan supaya yang maha kuasa memberikan umur yang panjang untuknya. Jangan menangis, nenek tidak pernah melihat mu seperti ini. Semua akan baik-baik saja".