Dia Milikku

Dia Milikku
Penutup malam


__ADS_3

Pertemuan bersama teman teman yang selalu setia dalam suka dan duka. Ros bahagia, karena memiliki teman teman seperti itu.


..."Jadi, kapan kalian akan berbulan madu?" tanya Mila yang sudah mendengar rencana bulan madu Ros dan Rendy yang akan mereka lakukan....


"Kenapa?" Seperti biasa. Bukannya langsung menjawab pertanyaan dari teman istrinya itu, Rendy malah membalikkan tanya dengan tanpa dosa.


"Kenapa apanya?" Mila pun ikut membalikkan tanya yang sama sama belum mendapat jawaban dari orang yang ditanya.


"Kenapa bertanya seperti itu? Apa kamu juga ingin ikut berbulan madu, sama seperti aku dan Ros?" balas Rendy bertanya sambil menuduh yang tidak tidak pada Mila.


Mila mendelik. Ros mengulum senyum karenanya.


"Eh, aku lupa. Kamu kan belum mempunyai pasangan ya? Jadi, jangan iri ya dengan acara bulan maduku dan Ros. iya kan Sayang?"


"Idih! Makin lama, suamimu ini makin menyebalkan aja, Ros. Aku tak bisa membayangkan jika aku menjadi dirimu. Sudah pasti aku akan sangat gila dibuatnya." Mila berujar.


"Itu kan dirimu! Bukan istriku. Kalau istriku itu kan penyayang. Lembut dan perhatian. Berbeda denganmu dan juga dengan temanmu yang satu itu."


'Uhuk! Uhuk!'


Terdengar suara Nina tersedak. Bahkan, ia yang dari tadi diam dan memerhatikan pun ikut terbawa-bawa namanya oleh Rendy.


"Kenapa kamu jadi membawa bawa aku? Perasaan, aku tidak ikut campur dalam urusanmu dan Mila."


"Iya nih! Mas ganteng ini sukanya bikin rusuh!" ujar Anto ikut bicara. Sedari tadi ia diam. Namun, saat temannya yang lain di bawa bawa, ia pun ingin ikut angkat suara.


"Memang kenapa? Biasanya juga kalian satu paket. Yang satu bicara, yang lainnya ikutan juga."


Mendengar perdebatan mereka terulang kembali seperti biasa, bukannya marah atau kesal, tiba tiba saja Ros malah tertawa. Hingga membuat suami dan juga teman-temannya merasa heran dengan sikap yang ditunjukkan oleh Ros tersebut.


"Sayang, kamu baik baik saja kan?" tanya Rendy yang tanpa khawatir dengan sikap dari istrinya ini.


Masih dengan tawa yang belum hilang di bibirnya, Ros menjawab. "Tentu saja. Aku baik baik saja. Bahkan, aku sangat baik-baik saja malam ini."


"Lalu, apa yang membuatmu merasa sesenang itu dengan perdebatan kami berempat?" Mila yang penasaran, tentunya bertanya secara langsung.


"Itu karena kalian. Setelah semua yang kita lalui, ternyata aku baru menyadari hal terpenting."

__ADS_1


"Apa itu?" Anto yang sekarang bertanya dengan raut wajah penasaran yang tak bisa ia sembunyikan dari siapa pun.


"Aku begitu beruntung memiliki kalian! Teman teman yang selalu ada untukku tanpa syarat. Dan suami yang menyayangiku dalam keadaan apapun."


"Manisnya... Kami juga sangat beruntung Ros, karena memiliki teman seperti dirimu. Walau suamimu ini selalu menyakiti hati kami. Tapi, kami sayang padamu."


"Eh, apa yang kamu katakan barusan, Nina? Jangan sembarangan bicara ya, kamu! Memang, sejak kapan aku selalu membuat hati kalian tersakiti? Tidak pernah tuh!"


Merasa yang paling benar. Sedikitpun Rendy tak pernah merasa bersalah atas kata kata menyebalkan yang sering kali ia lontarkan pada teman teman Ros. Toh, Rendy berucap demikian juga tak pernah memakai hati. Benar benar hanya canda semata yang membuat orang yang mendengarnya menjadi kesal dan jengkel. Tentu juga dengan rasa marah yang ikut serta di dalamnya.


Acara malam itu pun berakhir dengan suka cita. Walau Rendy tetap saja menjengkelkan. Namun, tak mengurangi rasa syukur mereka, karena Ros berada di tangan yang tepat.


***


Rencana bulan madu untuk ke sekian kalinya di mulai kembali.


Pantai, menjadi tempat pilihan dan paling menyenangkan bagi Ros. Ah, wanita itu begitu tergila gila dengan pantai. Hingga, untuk kesekian kalinya ia berbulan madu dengan mengambil suasana pantai sebagai tempatnya.


Malam dengan bulan sabit sempurna. Berwarna terang, seterang bohlam yang yang menyinari kegelapan malam. Semilir angin sepoi-sepoi mendera tubuh dan wajah.


Dekapan itu begitu menenangkan. Di dekat telinga Ros berbisik suara yang menghanyutkan.


"Bukan hanya untukku. Tapi juga untukmu."


"Ya, untuk kita berdua." Dengan dekapan yang semakin erat. Keduanya saling memejamkan mata. Menikmati setiap sentuhan yang menenangkan satu sama lain.


"Kita masuk," ajak Rendy masih dengan dekapan yang enggan ia lepaskan.


Ros mengangguk. Tapi, tubuh itu seakan enggan untuk beranjak menikmati pemandangan ombak yang tenang mendekati kakinya.


"Aku mencintaimu, Kak," ungkap Ros. Wanita itu membalikkan badannya dan memandang lekat Rendy.


Tatapannya begitu serius, seakan tak ada lagi pemandangan yang begitu indah, selain memandangi seraut wajah sang suami.


Rendy tersenyum. Mereka memang sering mengungkapkan perasaan mereka satu sama lain. Namun, entah kenapa kali ini rasanya terasa berbeda. Terdengarnya juga sangat berbeda. Ada yang berbeda dengan setiap ucap dan tingkah Ros.


Ada apakah gerangan?

__ADS_1


Rendy senang dengan ungkapan cinta itu. Tapi, ia juga merasa khawatir dengan sikap tak biasa dari istrinya tersebut.


"Ketahuilah, bahwa aku jauh lebih mencintaimu, dari pada dirimu yang mencintai aku," tutur Rendy yang lembut dan menenangkan, membuat Ros memejamkan mata. Apalagi saat tangan kekar itu menyentuh wajahnya. Rasanya begitu nyaman dan menenangkan.


Bulan dan bintang yang berada di atas sana, bersinar begitu terang, seakan menjadi saksi atas ungkapan cinta yang di lontarkan Ros dan Rendy untuk hati yang saling mengikat dan memiliki satu sama lain itu.


"Tetaplah di sisiku, apapun yang terjadi. Walau tubuhku nanti akan melar seperti balon yang di tiup oleh seseorang. Aku ingin kamu selalu ada di sisiku. Walau nanti aku sudah tak menarik lagi, aku juga ingin kamu selalu ada di sisiku. Mendampingi aku, saat buah cinta kita lahir ke dunia," kata Ros. Ia melabuhkan tubuhnya pada pelukan Rendy.


"Dan dampingi aku, sampai maut yang hanya bisa memisahkan kita," Rendy menambahkan. Namun--


Teng!


Sepertinya, ada yang aneh dengan ucapan Ros. Ucapan yang didengarnya paling akhir. Apa artinya itu?


Dan, deg!


Rendy menyimpulkan sesuatu. 'Buah Cinta?'


"Sayang. Apa maksudmu? Apa aku tidak salah dengar? Apakah aku tidak salah mengartikan? Kamu bilang buah cinta? Apa itu artinya kamu sedang mengandung anak kita? Anakku?" tanya Rendy yang walaupun masih ragu. Namun, tetap mengajukan pertanyaan pertanyaan itu pada Ros.


Senyuman Ros membenarkan apa yang Rendy tangkap dalam kata kata Ros.


"Kamu hamil?" tebak Rendy antusias. Pelukan itu tak dilepas oleh Ros. Namun, Rendy dengan tangannya yang kekar, melepaskan dengan pelan pelukannya, dan langsung menyentuh kedua pipi Ros dengan lembut.


"Kamu hamil, Sayang? Apa tebakanku ini benar? Kamu sedang hamil?"


"Ya, Kak. Aku sedang hamil."


"Ya Tuhan... terima kasih. Terima kasih karen telah mempercayakan seorang anak, tumbuh dalam rahim istriku," ucap syukur Rendy atas kehamilan Ros.


"Terima kasih, Ros. Terima kasih untuk setiap kebahagiaan yang kamu berikan untukku."


Tak hentinya Rendy mengucap terima kasih dan syukur.


"Terima kasih untuk setiap pengorbanan yang kamu lakukan untukku, Kak. Semoga, aku bisa menjaga anak yang dititipkan padaku ini dengan benar."


"Tentu, tentu. Aku yang akan menjaga kalian berdua. Aku yang akan memastikan, Jika kalian akan baik baik saja. Sekali lagi, Terima kasih untuk kebahagiaan yang tiada hentinya ini."

__ADS_1


Malam itu pun berakhir dengan pelukan erat nan hangat. Keduanya sama sama merasa bahagia karena kehadiran sosok janin yang baru saja di titipkan Tuhan kepada mereka. Tumbuh dan berkembang dalam rahim Ros.


__ADS_2