
Sepulang dari kantor, Argana malanjutkan perjalanannya menuju kampus melihat waktunya yang masih tersisa untuk mata kuliah yang lain.
Setibanya di sana, ia segera bergegas masuk kedalam kelas dengan penampilan bagaimana ia tadi kekantor, namun seketika ia tersadar, ia langsung melepaskan jas yang ia pakai.
Tok.. Tok..
"Masuk" jawab si dosen tersebut.
Ceklek!
"Argana! Kenapa kamu terlambat?" tanyanya melihat Argana dari atas sampai bawah. "Kamu habis dari mana?".
"Saya tadi ada urusan sebentar pak" jawab Argana seadanya. "Maaf".
"Ya sudah. Lain kali kamu jangan terlambat lagi di jam kuliah bapak atau pun dosen yang lainnya. Begitu juga dengan yang lainnya, kalian semua bisa mengerti?".
"Bisa pak" jawab mereka serentak.
"Sekarang kamu duduk Arga. Kita lanjutkan lagi mata kuliah kita" ucapnya kembali fokus dengan materi pembelajaran mereka.
Kemudian Bagas menggeser tubuhnya agar Argana bisa duduk ditempat yang ia duduk tadi. "Bagaimana? Apa semua berjalan dengan lancar?" tanya Bagas penasaran saat Argana memberitahu ia tidak bisa masuk di jam mata kuliah yang lainnya.
"Mmmmm" anggun Argana.
Lalu Bagas tersenyum menunjukkan ibu jari tangan kanannya di hadapan Argana. "Tidak salah lagi Arga. Wanita mana sih yang enggak tergila-gila melihat penampilan mu seperti ini?".
"Hentikan itu!" Argana mengeluarkan materi pembelajarannya dari dalam tas. Namun saat itu juga pandangan matanya bertemu dengan kedua bola Mata Nita yang sedang tersenyum kepadanya.
Tetapi bukan Argana namanya kalau ia membalas senyuman Nita yang begitu manis. Argana malah terlihat acuh tak acuh seperti tidak mengenalnya sama sekali.
"Kamu kenapa seperti itu kepadanya Arga? Sebenarnya Nita itu baik loh dan juga cantik. Kalau aku bilang, kecantikan Nita tak kalah jauh dari Reysa. Bersikap baiklah kepadanya, tidak salahkan kalau dia menyukai mu.. "gantung Bagas begitu Argana menatapnya dengan mata tajam.
"Baiklah. Tolong maafkan aku Argana".
.
Selesai jam kuliah, kedua orang itu segera keluar dari dalam kelas.
"Argana tunggu" Nita memanggilnya berlari di hadapan kedua orang itu. Lalu ia tersenyum manis kembali menggeluarkan ponselnya, "Arga. Boleh aku meminta nomor ponsel mu? Tadi Bagas ingin memberinya kepada ku, tapi aku memilih langsung meminta saja kepada mu".
Argana lalu menatapnya dengan senyum sinis membuat ia merasa kalau Argana tidak bakalan mau memberikan nomor ponselnya.
"Kamu enggak mau yah Arga? Ya sudah deh kalau kamu enggak mau. Kalau gitu aku pergi duluan, sampai bertemu besok pagi".
__ADS_1
Begitu Nita pergi, Bagas hanya mengangkat kedua bahunya tidak ingin ikut campur diantara keduanya.
Sedangkan Nita yang begitu pergi meninggalkan mereka, ia langsung berlari kearah halte bus mengingat ia yang tidak bisa terlambat lagi setelah mendapatkan peringatan terakhir.
Tidak menunggu beberapa lama, bus menuju tempat ia bekerja berhenti di depan halte, ia pun segera naik. "Akhirnya, aku masih punya sedikit banyak waktu" Nita kemudian menyandarkan tubuhnya melihat kearah samping.
"Argana!" ia lalu tersenyum menyentuh dada. "Kenapa kamu bisa berhasil menyentuh hati ini setelah diusia ku yang ke 20 tahun lamanya aku tidak pernah menaruh perasaan kepada lawan jenis ku sendiri Argana. Tapi bodohnya aku malah menyukai pria yang berbeda kasta jauh dari ku dan yang tidak akan pernah menganggap ku ada. Bahkan Argana sudah memiliki kekasih pujaan hati dia".
Nita pun menghela nafas panjang sembari menutup kedua matanya, "Beruntung sekali wanita itu Argana bisa memiliki mu".
Hingga kini bus yang Nita tumpangi telah tiba di tempat ia bekerja. Ia keluar dari dalam sana dan tidak lupa membayar ongkos busnya. "Aku masih punya waktu 15 menit lagi. Sebaiknya aku beli makan siang dulu".
_
_
5 Hari setelah kembalinya Reysa dari Indonesia, ia tidak pernah menunjukkan senyuman yang dulu ia tunjukkan kepada rekannya yang lain membuat mereka merasa heran dengan Reysa yang selama ini mereka kenal sangat ramah.
"Hey Reysa. Kamu baik-baik saja? Kamu sakit atau..
"Aku baik-baik saja" potong Reysa tersenyum tipis.
"Benarkah? Kita semua menghawatirkan kamu. Apa kamu sedang dalam masalah?".
Diatas gedung kampus, Reysa berjalan kearah tembok dengan sebuah minuman kaleng ditangan kanannya. Sambil menghirup udah segar, ia menatap keatas langit.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini?".
Mendengar suara tersebut, Reysa langsung melihat kearah sumber suara. "Reno!" senyumnya.
"Ada apa? Kamu seperti sedang banyak pikiran" Reno menyandarkan tubuhnya dibalik tembok menatap Reysa.
"Tidak ada apa-apa Reno" jawabnya.
"Kamu baik-baik saja?".
Reysa kemudian meminum minuman kalengnya, "Seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja Reno".
"Benarkah?".
"Hahhaha.. Yah, kamu ada-ada saja. Sedang apa kamu kemari? kamu sudah makan siang?".
"Lalu bagaimana dengan mu Rey? Apa kamu juga sudah makan?".
__ADS_1
"Hey.. Kenapa kamu jadi balik bertanya? Aku tidak lapar. Pergilah, ini sudah jam berapa kamu belum makan siang".
Reno tersenyum, "Sama seperti mu Rey".
"Apa?".
"Seperti yang baru saja kamu ucapkan kalau kamu tidak lapar".
"Ck, jangan meniru ku kalau kamu tidak mau orang tersayang kamu khawatir kalau nantinya kamu jatuh sakit".
"Dengan mu gimana?".
"Hhmmsss.. Tidak usah dibahas lagi Reno".
Reysa kemudian mendudukkan diri di atas kursi panjang yang berada di sana, lalu Reno menyusulnya duduk di samping.
"Rey. Boleh aku bertanya?".
Reno tampak serius. Reysa pun langsung mengangguk setuju.
"Apa kamu tidak akan pernah kembali lagi ke negara asal mu? Kenapa orang tua mu sangat menentangnya? Seharusnya dia senang melihat mu ada disana. Tapi kenapa...
Reno menggantung perkataanya. "Kenapa?" tanya Reysa.
"Maaf jika aku mengajukan pertanyaan yang tidak seharusnya aku tanya Rey".
"Tidak apa-apa Reno. Santai saja" Reysa lalu menatanya dengan tatapan tersenyum tipis. "Aku tidak akan pernah kembali lagi ke Indonesia Reno. Kamu mau tau alasannya apa?".
"Apa Rey?".
"Karena memang tidak seharusnya aku kembali kesana".
"Apa karena ayah mu? Lalu bagaimana dengan kekasih mu itu? Apa kamu akan meninggalkannya?".
"Tidak, aku tidak akan pernah meninggalkannya dan aku tidak akan pernah mengijinkannya bersama dengan wanita lain sampai aku mati. Argana tidak boleh dimiliki siapa pun!" jawab Reysa dengan tegas.
Reno yang mendengarnya merasa tidak suka dengan jawaban yang Reysa berikan.
"Kamu tidak bisa egois Rey. Kamu harus memilih salah satunya".
"Apa?".
"Memilih orang tua kamu sendiri atau dia kekasih mu. Kamu harus memilih diantara keduanya, karena jika memang kamu harus memilih dia, kamu harus siap kehilangan orang tua kamu. Tapi jika kamu memilih dia, kamu harus siap kehilangan keluarga kamu sendiri. Sekarang pilihan ada pada mu Rey".
__ADS_1
"Ck" Reysa menghela nafas. "Seandainya perjalanan hidup ku semudah yang baru saja kamu ucapkan itu, aku akan memilih hidup bersama dengannya Reno".