
'Lepaskan seluruh pakaian wanita itu!'
'Lepaskan seluruh pakaian wanita itu!'
'Lepaskan seluruh pakaian wanita itu*!'
Perintah Vero pada anak buahnya barusan, terus terngiang-ngiang di telinga Rendy. Ia tak akan pernah bisa memaafkan, siapapun menyentuh, menyakiti, apalagi sampai memperlakukan Ros dengan tidak hormat, yaitu dengan melecehkannya.
Bahkan, seujung kuku saja, para anak buah Vero menyentuh bagian terlarang istrinya, akan Rendy buat tak berdaya orang itu.
"Cepat lakukan!" Teriak Vero pada Beno.
Ros yang sedari tadi terus berontak, semakin berontak lagi, kala mendengar perintah Vero yang menyuruh anak buahnya melepaskan seluruh pakaiannya.
Ikatan di tangan yang berada di belakang, perlahan mulai mengendur, dan sedikit lagi pasti lepas. Sedangkan tangan Beno, semakin lama, semakin mendekat ke arah bajunya yang berbahan kaos.
"Jangan sentuh majikan-ku bodoh!" bentak Herman dalam hati. Namun, yang keluar hanya suara tidak jelas dari mulutnya. Pria itu ikut berontak. Menatap nyalang pada Beno yang hendak membuka pakaian majikannya.
Sedang kan Tomi. Pria itu tertawa terbahak-bahak saat melihat Beno mulai membuka pakaian Ros tepat di hadapannya.
Rasa geram dan kesal, marah yang mendominasi, semuanya bergabung menjadi satu dalam dada pria bernama Rendy dan Herman. Kedua pria itu tampak tak berdaya di hadapan Vero dan kedua anak buahnya. Hingga--
'Prak!'
Suara senjata api yang jatuh akibat Ros menendang barang pusaka milik Beno, begitu mengagetkan semua orang. Termasuk Vero, yang tidak menyangka sama sekali, dengan apa yang Ros lakukan barusan pada Beno.
'Aaaah... Sakit!!!' Beno meringis, merasakan sakit akibat hal yang pernah Ros lakukan juga pada Tomi.
Saat Beno lengah, Ros juga memukuli tubuh Beno dengan sekuat tenaga yang ia punya. Hingga, bukan hanya barang pusakanya saja yang sakit, melainkan juga punggung dan perutnya.
Beno meringis, ia merasakan sakit yang luar biasa pada bagian bagian yang Ros pukul. Apalagi bagian bawahnya. Sungguh sakit dan ngilu.
__ADS_1
Tidak ingin tinggal diam. Herman yang sudah berhasil melepaskan ikatan di tangan nya pun, ikut melakukan aksinya dengan mengikuti jejak Ros, yaitu dengan memukul Tomi, hingga senjata api yang berada di tangan Tomi terjatuh ke lantai.
Tomi terkejut, ia berusaha mengambil senjatanya yang berada di bawah dengan sebelah tangan. Namun, belum sampai ia mengambil senjatanya tersebut, Herman sudah kembali melayangkan pukulan telak pada Tomi, hingga Tomi jatuh tersungkur.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas. Rendy yang melihat Vero masih terpana dengan tindakan Ros dan Herman, langsung bangkit dan mendekati pria itu. Menghajar-nya habis-habisan, seperti yang Vero lakukan padanya.
'Aaaah!' Vero meringis kesakitan, saat Rendy merebut paksa pecut yang ada di tangannya. Bukan hanya merebut. Tapi juga menggunakan pecut itu untuk membalas dendam perbuatannya tadi pada Rendy.
Sama sama merasakan sakit. Vero tak bisa melawan. Karena gerakan Rendy lebih cepat dan tak terduga dari apa yang ia lakukan pada Rendy.
"Ah! Hentikan!" Teriak Vero dengan nada tinggi.
Seperti memohon. Namun, ucapannya itu terdengar seperti sebuah ancaman. Hingga membuat Rendy tidak peduli dengan teriakan juga ringinsan Vero. Ia terus membalas apa yang Vero lakukan padanya tadi. Memecut tanpa ampun.
Keadaan kini berbalik. Rendy, Ros dan Herman kini mendominasi dalam penyiksaan ini.
Ketiganya begitu menikmati dan senang dengan apa yang mereka lakukan pada ketiga pria biadab ini.
'Cetarrr!'
"Ini, untuk pukulan terus menerus yang kau berikan padaku!"
"Dan ini, untuk apa yang sudah kau perintah kan pada anak buah-mu!"
Kencang dan sangat sakit tentunya. Pecut itu mengenai dan melukai bagian-bagian tubuh Vero.
"Hentikan kak!" ujar Ros menahan Rendy yang hendak melakukan aksinya kembali.
Napas Rendy sudah terengah-engah. Sorot mata-nya tajam, juga memerah. Giginya saling bergemulutuk, menandakan jika pria itu benar-benar marah pada Vero.
"Kenapa aku harus menghentikannya Sayang? Dia sudah melukaimu! Pria ini, sama sekali tidak pantas mendapatkan pengampunan dariku!" ketus dan dingin ucapan Rendy. Begitu menancap di telinga Ros. Namun, ia juga ingin melakukan hal yang sama dengan Rendy, yaitu mencoba pecut di tangan Rendy, untuk ia gunakan pada Vero dan kedua anak buahnya.
__ADS_1
"Biar aku yang melanjutkan nya kak. Aku juga ingin bermain-main serta membalas apa yang sudah ia lakukan pada kita bertiga."
Seringai jahat muncul di bibir Ros. Membuat kedua anak buah Vero yang sudah jatuh tersungkur dan terkapar di lantai merinding melihatnya.
"Dengan senang hati, aku akan memberikan pecut ini kepadamu sayang!" kata Rendy akhirnya, setelah ia mengetahui apa yang hendak Ros lakukan dengan pecut di tangan nya.
"Terima kasih sayang. Biar aku yang mengambil alih sekarang!" balas Ros dengan senyum mengembang pada Rendy. Namun, langsung menatap tajam ke arah Vero juga kedua anak buahnya.
'Srakk!'
'Ctarr!'
'Srett!'
Pecut itu bertubi-tubi mendarat di tubuh Vero yang sudah jatuh hampir tak sadarkan diri. Ringisan kecil keluar dari mulutnya. Rasa sakit tak terkira terus menerus terasa di tubuhnya. Seperti ini pula, rasanya, saat Rendy terus menerus ia hajar dengan pecut di tangan nya.
Rendy hanya menatap Ros. Melihat apa yang ia lakukan pada Vero, tanpa ingin menghentikan perbuatannya.
Kini, tatapan Ros berganti pada Beno dan juga Tomi. Mereka langsung bergidik ngeri. Apalagi saat Ros mulai berjalan mendekat ke arah keduanya. Beno dan Tomi seakan berusaha menjauh dan kabur. Namun, tidak semudah itu, karena ada Herman di belakang mereka sambil memegangi senjata api di kedua tangannya. Hasil dari senjata yang Beno dan Tomi jatuhkan tanpa sengaja tadi.
"Mau ke mana kalian?" Herman memegangi Beno dan Tomi dari arah belakang. Menjaga-jaga andai mereka kabur.
"Le-le-lepaskan kami!" ucap Beno terbata-bata.
"Enak saja! Melepaskan kalian berdua, setelah apa yang kalian lakukan pada kami?" kata Herman dengan wajah mencemooh, "jangan bermimpi, kalian berdua bisa lepas dari kami semua!" ucap Herman selanjutnya. Ia juga sangat geram dengan kedua cecurut suruhan yang saat ini berada di bawah pengawasannya.
"Menjauh Herman. Aku juga ingin bermain-main dengan kedua cecunguk itu!" kata Ros memberikan perintah. Langkahnya sudah semakin dekat saja dengan Beno dan Tomi. Membuat Beno dan Tomi semakin gentar, dengan apa yang akan Ros lakukan pada mereka berdua.
Seringai jahat itu semakin lama semakin mengerikan saja. Beno dan Herman semakin bergidik melihatnya.
Wanita di hadapan mereka sungguh sangat menyeramkan. Lebih menyeramkan dari pada kuntilanak yang mengganggu keheningan malam.
__ADS_1
Bersambung...