Dia Milikku

Dia Milikku
Pasangan gila


__ADS_3

"Kau!" ujar Surya saat menoleh ke arah orang yang menepuk-nepuk bahu Surya.


"Selamat malam Pak?" sapa orang tersebut.


"Malam Rico!" balas Surya, "apa pak Surya sedang menunggu seseorang? atau- - ucapan Rico terhenti saat Surya memotong ucapannya.


"Atau apa?" Surya mengerutkan keningnya.


"Haha!" Rico tertawa renyah, "tidak pak! lupakan saja!" jawab Rico.


"Sedang apa kamu disini? apa kamu juga sedang menunggu seseorang atau...?"


"Tidak pak! saya sedang mengantar kakak sepupu saya!" jawab Rico.


"Oh..., baiklah, tapi dimana kakak sepupu mu sekarang?" tanya Surya kemudian.


"Dia sedang berada di toilet pak!" jawab Rico.


"Baiklah," balas Surya.


"Apa boleh saya bergabung disini pak? sepertinya bangku ini masih kosong!" ujar Rico kemudian, yang langsung dipersilahkan duduk oleh Surya lewat gerakan tangannya, "bila nanti orang yang pak Surya sudah datang, saya akan segera pergi!" lanjut Rico.


"Tidak papa Rico! kau disini, ajak sekalian juga kakak sepupu mu itu untuk duduk disini, karena sepertinya, orang yang aku tunggu tidak jadi datang kemari!" balas Surya sambil menghela napas panjangnya.


"Boleh saya tahu pak? pak Surya sedang menunggu siapa?" tanya Rico ragu-ragu.


Surya menganggukkan kepalanya, menatap gelas kopi yang isinya sudah habis sedari tadi. "Aku sedang menunggu Rendy, Rico!"


"Tuan Rendy?"


"Ya, kami ada janji bertemu malam ini, tepatnya tadi, satu jam yang lalu, namun Rendy tak kunjung datang juga, mungkin saja dia lupa!" balas Surya panjang lebar, membuat Rico mengangguk-anggukkan kepalanya paham.


"Mungkin saja tuan Rendy sedang ada urusan lain pak!" ujar Rico kemudian.


"Mungkin!" jawab Surya singkat sambil mengambil gelas kopinya dan hendak meminumnya. Namun seketika, Surya menatap gelas kopi itu dengan heran, dan meletakkannya kembali ke atas meja.


"Aku sudah gila! kopi ku sudah habis sedari tadi, dan aku akan menyeruput kopi ku kembali! Rendy..., awas kau ya? satu jam aku menunggumu, sedang apa kau sekarang? awas saja jika kau sedang bersenang-senang dengan istrimu itu!" batin Surya yang merasa jengkel.

__ADS_1


Rico melambai-lambaikan tangannya ke kiri dan ke kanan, memanggil manggil nama Surya. Namun Surya tak kunjung memberikannya respon, hingga- -


"Pak? pak? pak Surya?" panggil Rico beberapa kali sambil melambaikan tangannya kembali lalu menepuk bahunya.


"Ah..., iya, apa? ada apa Rico? maaf, saya melamun!" ujar Surya yang seketika tersadar oleh tepukan tangan Rico di bahunya.


"Pak Surya baik baik saja?" tanya Rico.


"Saya ba- -


"Rico? aku cari-cari, ternyata kamu ada disini!" ujar seorang wanita yang datang dari arah samping, membuat Surya menghentikan ucapannya dalam sekejap. Surya menatap wanita yang baru saja datang itu dengan sorot mata tajam, seperti seorang elang yang hendak menerkam mangsanya.


"Kenapa pak?" tanya Rico saat melihat Surya menatap kakak sepupunya dengan tatapan mata yang tajam.


Mendengar Rico yang bertanya kepada seseorang, wanita yang berbicara kepada Rico pun menoleh pada orang yang ditanya oleh Rico. Dan betapa terkejutnya wanita itu, saat melihat bahwa orang yang sedang di ajak bicara oleh Rico itu adalah Surya.


"Kau!!!" tunjuk wanita itu pada Surya, dengan sorot mata yang tak kalah tajam.


Rico yang tak mengetahui apa apa pun tentang apa yang terjadi pada mereka berdua pun, menatap Surya dan kakak sepupunya secara bergantian dan penuh dengan tanda tanya.


...***...


"Cepat sedikit sayang! kak Surya pasti sudah lama menunggumu sekarang!" ujar Ros yang berada di sebelah Rendy yang sedang mengemudi.


"Tenang sayang! kak Surya pasti mengerti!" jawab Rendy dengan santainya


"Ish..., kenapa kamu ini?" balas Ros.


"Memang aku kenapa sayang?" tanya Rendy sambil mencium tangan Ros yang terus menerus ada dalam genggamannya, "bukankah karena dirimu, kita jadi terlambat?" lanjut Rendy kemudian, seraya bertanya pada Ros.


"Karena aku?" tunjuk Ros pada dirinya sendiri, "coba jelaskan! kenapa kak Rendy menyalahkan ku atas semua yang kakak lakukan padaku!" ujar Ros dengan wajah sewotnya, "aku bahkan sudah mengatakannya jika kak Surya pasti sudah menunggu kita, dan kau malah terus menerus menghajar ku sampai babak belur!" Ros berucap dengan nada bicara yang cepat, napasnya ngos-ngosan, dengan hidung yang kembang kempis, hingga Rendy tergelak seketika saat mendengar dan melihat ekspresi wajah Ros.


"Haha! kenapa kamu semakin menggemaskan ketika kamu marah sayang! kamu bahkan terlihat lebih cantik dan seksi saat kamu sedang marah seperti itu! aku rela jika kau marah setiap saat kepada ku! karena kamu jadi terlihat seksi dan menggemaskan, seperti apa yang aku ucapkan barusan!" ujar Rendy panjang lebar, dengan gumaman nya yang tidak masuk akal, membuat Ros membulatkan matanya tidak percaya.


"Suamiku memang sudah gila!" ujar Ros.


"Dan kau lah, yang sudah membuatku menjadi gila!" balas Rendy.

__ADS_1


"Jadi aku adalah penyebab kegilaan mu? dan kau gila karena aku?" ujar Ros.


"Yap, tepat sekali!" balas Rendy.


"Lantas, kenapa kau mau menikahi orang yang membuat mu menjadi gila?" tanya Ros kemudian.


"Karena aku bisa semakin gila jika aku tidak jadi menikahi mu, dan mendapatkan cintamu!" balas Rendy yang membuat Ros tersipu, api kekesalan yang ada dalam dadanya luntur seketika saat Rendy menjawab semua perkataan dengan jawaban jawaban gila nya.


"Dan kita adalah pasangan yang gila!" ujar Ros kemudian.


"Aku rela menjadi gila untuk mu dan di hadapanmu! tapi tidak untuk orang lain!" balas Rendy dengan menciumi kembali punggung tangan Ros.


"Dan aku akan akan menjadi gila jika kau melakukannya untuk orang lain!" ujar Ros kembali.


"Aku tidak akan menjadi gila untuk orang lain! karena orang lain tidak bisa membuat ku gila, seperti kamu membuatku tergila-gila padamu!" balas Rendy.


"Dan kalian adalah pasangan gila yang membuat hidupku menjadi gila, Tuan, Nyonya!" batin Herman yang saat ini tengah merasakan menjadi seorang majikan, duduk dengan tenang dan nyaman di kursi belakang.


"Bagaimana bisa anda menyuruh saya, sopir anda sendiri untuk duduk manis di belakang, sedangkan anda yang menyetir mobilnya sendiri. Saya bahkan disuruh menyaksikan sendiri, dengan mata kepala saya, adegan demi adegan tentang kegilaan kalian berdua!" Herman terus bergumam dalam hatinya. Ingin tertawa, namun terlalu takut untuk melakukannya, hingga akhirnya, Herman pun tertawa dalam diam, hingga tiada siapapun yang tahu, jika Herman tengah menertawakan kegilaan kedua majikannya itu.


"Kau jangan berani beraninya menertawakan ku dari belakang Herman!" ujar Rendy yang tiba tiba, membuat Herman tersentak kaget. Bagaimana dia bisa tahu? pikir Herman.


"Haha! mana mungkin Tuan! saya tidak akan seberani itu untuk melakukannya!" balas Herman mengelak.


"Bagus! karena kalau sampai kau berani beraninya menertawakan ku, akan ku buat kau tak bisa tertawa lagi!" ancam Rendy dan-


Gleg!


Herman menelan ludahnya dengan susah payah, mendengar apa yang baru saja Rendy ucapkan padanya.


Bersambung...


Kopi Surya habis tuuuuh...🤭 Masa iya Surya mau nyeruput gelas yang gak ada kopinyašŸ˜‘


Ayoooo..., yang mau nyumbang kopi, kesini, kemari, aku wadahi pakai gelas Segede ember🤣🤣🤣


Kopi online gratis loh! (belajar malak) wkwk🤣

__ADS_1


__ADS_2