Dia Milikku

Dia Milikku
Penduduk Baru


__ADS_3

"Apa langkahmu selanjutnya Ver?" tanya pria paruh baya dengan tongkat di tangannya.


"Langkah?" Vero balik bertanya, "tentu saja aku ingin menyingkirkan Rendy. Dan perlahan, keinginanku itu akan. segera terkabul," ujar Vero selanjutnya.


...***...


"Aaa... Lepaskan! Lepaskan aku! Dasar manusia-manusia aneh!" teriak Anita dengan kencangnya.


"Diam!" bentak Mila. Wanita yang usianya sama dengan Ros itu, menjambak rambut Anita dengan kasar.


"Sepertinya... Dia ingin bermain-main dengan kita Mil," ujar Nina sambil menyeringai. Berharap, jika Mila mengerti dengan maksud dari ucapannya.


"Sepertinya begitu Nin," balas Mila, "Anto?" panggil Mila kemudian, sambil menatap ke arah Anto. Berharap, jika Anto juga mengerti dengan apa yang ia maksud.


"Ya Mbak!" jawab Anto, sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya.


"Mau apa kalian?" tanya Anita sedikit takut.


"Oh Anita yang cantik jelita... Tenanglah, dan nikmati permainan dari kami bertiga," jawab Mila sambil menyeringai. Anita semakin tidak karuan, perasaannya pun semakin tidak tenang.


"Kenapa gugup seperti itu? Oh, ayolah... Mana sikap sombongmu tadi?" Nina mencemooh. Anita semakin ketakutan di buatnya.


"Ini Mbak!" kata Anto. Pria itu menyodorkan sebuah benda kecil yang terlipat.


'Pisau!' gumam Anita pelan. Matanya terus tertuju pada benda yang sangat di kenalnya. Benda yang baru saja Anto keluarkan dari dalam saku celananya.


"Apa yang akan kalian lakukan dengan pisau itu hah?" tanya Anita takut.


"Kenapa? Takut? Aku rasa tidak!" jawab Mila yang malah balik bertanya.


Perlahan tapi pasti, Mila mulai mendekatkan tubuhnya kembali pada Anita yang kini telah terduduk di kursi sambil terikat tangan dan kakinya.


Anita semakin gusar, ingin menghindar tak bisa, apalagi berlari. Pikiran perempuan itu sudah kalut. Pasti Mila akan berbuat sesuatu yang tidak-tidak padanya.


Deg!


Wajah Anita pucat. Ia tak bisa bergerak. Dengan gerakan yang terlihat cepat padahal lambat, Mila telah mendekat, berada sangat dekat dengan Anita.


Satu sentuhan dari pisau yang Mila pegang, berhasil membuat Anita berkeringat dingin. Sedingin pisau yang baru saja menyentuh kulit wajahnya.


"Aku mohon..." lirih Anita memohon.


"Secepat itu kau memohon?" tanya Mila tidak percaya, "bukannya tadi, kau sendiri yang tidak mau mengatakan, siapa yang menyuruhmu?" lanjut Mila.


"Aku mohon! Jangan rusak wajahku. Aku tidak mau wajahku sampai rusak, apalagi cacat!" ungkap Anita.


Jadi, ini alasannya!


Anita sangat menyayangi wajahnya. Bagi Anita, wajah adalah aset berharga yang harus ia jaga dengan segenap jiwa dan raga.


"Aaaa... Kau takut wajahmu aku lukai ya?" Mila menyeringai licik. Sepertinya, ia tau apa yang harus ia lakukan pada Anita. Sedikit gertakan, dapat membuat Anita membuka mulutnya.

__ADS_1


"Aku mohon!" Anita masih terus memohon.


"Baiklah... Karena aku sedang berbaik hati. Maka... Katakan! Siapa yang menyuruhmu untuk menghancurkan rumah tangga Ros dan Rendy?" tanya Mila dengan nada pelan. Tidak lupa, pisau kecil di tangannya ia usap-usap pada wajah Anita. Membuat Anita tidak berdaya, dan menjawab pertanyaan Mila apa adanya.


...***...


"Apa? Kurang aj*r! Memang siapa dia? Beraninya memperlakukan anakku seperti itu!" geram Ajeng. Wanita paruh baya berbadan subur itu, baru saja mendapatkan kabar dari sekretarisnya, bahwa keadaan anak ke duanya, tidak baik-baik saja.


"Itu berita yang saya dapat Bu," balas Eva.


"Telepon Surya. Aku ingin dia yang turun tangan untuk mencari tahu detailnya keadaan Kayla bagaimana!" perintah Ajeng.


"Baik Bu," jawab Eva sambil mengangguk paham. Namun, tak segera mengambil ponselnya.


"Sekarang!" Teriak Ajeng membuat Eva terkesiap.


"I-iya iya Bu."


...***...


"Sayang, boleh aku beristirahat sekarang?" tanya Rendy. Pria itu cukup kelelahan dengan hari ini. Membersihkan debu, menyapu, mengepel lantai dan membereskan pakaian mereka. Itu semua Rendy lakukan untuk meringankan pekerjaan Ros.


"Tentu! Tapi..." jawab Ros. Namun, ia menghentikan ucapannya sejenak.


"Tapi... Tapi apa sayang?" tanya Rendy.


"Tapi, aku lapar Kak!" jawab Ros memberitahu.


"Kalau begitu, kita pesan makanan saja. Biar aku yang pesankan," ucap Rendy memberi saran sambil merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel yang tersimpan di sana.


"Loh, kenapa?" tanya Rendy heran. Keningnya mengerut, matanya pun menyipit. Bukannya tadi Ros mengatakan jika dirinya lapar! Lalu, mengapa sekarang ia menahan Rendy untuk memesan makanan lewat aplikasi online? Pikir Rendy.


"Kita harus berhemat Kak. Uang yang kita punya hanya sedikit. Dan harus cukup, sampai kamu mendapatkan pekerjaan," ujar Ros membuat Rendy semakin mengerutkan keningnya.


"Sedikit?" tanya Rendy.


"Ya... Aku hanya membawa uang tunai empat juta saja. Itu pun, sudah aku bayar untuk sewa uang kontrakan kita selama satu bulan, sebesar satu juta lima ratus ribu. Dan sisanya, tinggal dua juta lima ratus ribu lagi," ungkap Ros yang baru saja Rendy ketahui.


"Apa? Dua juta lima ratus?" tanya Rendy tak percaya. Ia ingin memastikan, jika apa yang baru saja ia dengar itu salah. Namun, nyatanya tidak.


"Benar Kak!" jawab Ros pasti. Rendy terkulai lemas di depan tv berukuran kecil di depannya.


"Kenapa kamu membawa uang hanya sedikit sayang?" tanya Rendy lemah.


"Sudahlah Kak. Kamu bilang, ingin mengikuti kemauanku. Tapi nyatanya..." Ros mulai mengeluarkan aksinya dengan pura-pura merajuk, agar Rendy bungkam.


"Jangan begitu Sayang. Aku 'kan sudah berjanji untuk mengikuti kemauanmu. Dan sekarang, aku sudah melakukannya," ujar Rendy yang langsung bangkit dan mendekati Ros.


"Lalu, mau memasak apa kita sekarang?" tanya Rendy kemudian. Pria itu berujar dengan penuh semangat, lupa sudah dengan rasa lemas yang tadi menjalari seluruh tubuhnya.


"Ayo, ikut aku!" ajak Ros sambil menarik lengan Rendy.

__ADS_1


"Kita mau ke mana Sayang?" tanya Rendy.


"Ikut saja! Kita harus berkeliling kampung mencari tukang sayur yang sering lewat di dekat sini," jawab Ros. Rendy menghentikan langkahnya, membuat Ros ikut berhenti melangkah.


"Kenapa kak?" tanya Ros.


"Kamu bilang apa barusan?" tanya Rendy memastikan.


"Berkeliling kampung dan mencari tukang sayur," jawab Ros ringan.


"Kenapa tidak ke supermarket saja Sayang?" tanya Rendy sambil memberi saran.


"Jika kita pergi ke supermarket, uang kita tidak akan cukup Kak. Sudahlah, ikut saja. Kita harus terbiasa dengan keadaan ini, kita juga harus sering-sering berkeliling kampung, agar kita mengenal semua warga di sekitar sini," tutur Ros yang membuat Rendy bungkam seketika, walaupun sebenarnya Rendy ingin sekali menyela dan mengatakan, jika ia tidak mau berkeliling kampung, apalagi mengenal para warga kampung.


"Ayo!" ajak Ros kembali.


"Tapi--"


"Ya sudah kalau Kakak tidak mau, biar aku pergi sendiri saja!" ujar Ros sedikit mengancam. Tidak hanya itu, Ros pun berjalan cepat keluar rumah, meninggalkan Rendy.


Tidak mau istrinya semakin merajuk, Rendy akhirnya pasrah. Ia mengalah dan mengikuti langkah Ros, kemana pun ia pergi.


...***...


"Selamat sore ibu-ibu?" sapa Ros ramah pada semua ibu-ibu yang berkumpul di gerobak tukang sayur.


"Sore..." jawab ibu-ibu itu serempak. Mereka memerhatikan Ros dan Rendy dari atas sampai bawah. Sepertinya...


"Kalian... Penduduk baru ya?" tanya seorang ibu berjilbab ungu muda sambil tersenyum.


"Iya Bu--"


"Bu Ani, itu nama saya. Panggil saja Jeng An," ujar ibu berjilbab ungu itu, menghentikan ucapan Ros yang belum selesai.


Ros dan Rendy saling pandang. Lalu, menganggukkan kepala mereka bersamaan pada ibu bernama Ani tersebut, yang mau di panggil Jeng itu.


"Kalau Saya, nama saya Mira, panggil saja saya Mirah. Orang kampung sini, manggil saya gitu," ujar seorang ibu di sebelah ibu berjilbab ungu muda.


"Saya Ros, Jeng, Mpok! Ini suami saya, Rendy," jawab Ros seraya memperkenalkan. Tidak lupa senyum hangat Ros berikan, sebagai tanda perkenalan. Namun, tidak dengan yang Rendy lakukan. Pria itu masih bungkam, entah heran, entah tak mau berkenalan, yang pasti, Ros kesal oleh ulah Rendy ini.


"Kak!" Ros berbisik, ia mengikuti pelan siku Rendy, hingga pria itu terbangun dari lamunannya.


"Eh..." refleks, Rendy langsung tersenyum ke arah ibu-ibu yang sedari tadi memperhatikannya.


"Wah... Gantengnya suami kamu ini Ros, kalau tersenyum gitu," ujar Jeng Ani.


"Iya... Boleh saya cubit gak Ros, suaminya!" Mpok Mirah terkekeh dengan ucapannya.


"Oh... Boleh Mpok, boleh!" jawab Ros bercanda.


"Wah... serius ini!" tanya Mpok Mirah sambil mengulurkan tangannya ke arah Rendy.

__ADS_1


"E, e, eh... Enak aja mau cubit-cubit suami orang sembarangan!" kata Rendy seraya bersembunyi di belakang Ros.


Bersambung...


__ADS_2