
"OMG! Ciuman pertama aku" Nita membulat mata langsung menyentuh bibirnya begitu Argana menciumnya secara tiba-tiba membuat mereka yang ikutan melihat adegan tersebut terbelanga tidak percaya dengan apa yang barusan mereka lihat.
"Kenapa?" senyum Argana. "Bukankah itu yang selama ini kamu mau?".
"Apa kamu sudah gila mencium ku didepan umum seperti ini Arga?".
"Apa menurutmu aku gila?".
"Aisss!!" Nita kesel. Ia tidak habis pikir kalau ciuman pertamanya akan terjadi di tempat seperti ini. Namun ia juga merasa bahagia karena orang yang telah berhasil merebut ciuman pertamanya adalah Argana, cuman kenapa harus ditempat umum? dan kini semua mata tertuju kepada mereka.
"Argana aku sangat malu. Kamu tidak tau apa yang akan terjadi setelah ini, mereka akan datang menghampiri ku dan bertanya ada hubungannya apa aku dan kamu. Ya Tuhan, kenapa harus seperti ini sih?".
"Kenapa? Kamu tidak suka? Aku bisa saja menutup mulut mereka" Argana lalu melihat kearah mereka semua. "Siapa diantara kalian semua yang berani bergosip diluar sana nantinya, saya tidak akan segan-segan mengeluarkan kalian satu persatu dari perusahaan ini".
Kemudian Argana tersenyum kembali kepadanya, tapi senyuman itu masih senyuman mengejeknya.
"Apa kamu sudah mendengarnya?".
"Ada apa Arga? Kenapa kamu tiba-tiba melakukan hal ini? Apa segitu marahnya kah kamu kepada ku telah membohongi kamu selama ini? Tidak bisakah aku meminta maaf kepada mu secara tulus? Bahkan... Bahkan..
"Bahkan apa?" ucap Argana menerima makan siangnya dari si pelayan.
Nita melihat si pelayan tersebut, ia menunggu sampai si pelayan itu pergi. Setelah itu baru ia melanjutkan perkataannya, "Bahkan kita berdua belum putus Arga" jawabnya.
"Haah.. Hahahhaha.. Benarkah? Ais, bagaimana bisa aku melupakannya" dengan cukup lahap Argana sangat menikmati makan siangnya. "Lalu siapa kekasih mu sekarang ini? Apa dia seorang CEO, direktur? Atau.. Dia juga bekerja di perusahaan ini?".
"Aku tidak memiliki kekasih Arga. Bahkan ciuman pertama ku baru saja hilang diambil oleh mu" jawabnya menatap Argana dengan wajah serius.
Lagi-lagi Argana tertawa kecil, "Benarkah?".
"Mmmmm.. Apa kamu tidak mempercayai? Bahkan sebelum aku mengenal mu aku sama sekali tidak pernah menjalin hubungan dengan pria siapa pun. Bahkan setelah kamu pergi meninggalkan aku Ga, aku benar-benar tidak pernah menjalin hubungan dengan pria manapu.. Aakkhhh".
Argana melihatnya, ia melihat Nita menyentuh dadanya dengan wajah kesakitan.
"Ada apa dengan mu? Kamu sakit?".
"Tidak. Jangan perduli-kan aku Ga" namun ia malah semakin kesakitan meremas dadanya.
"Kamu baik-baik saja?".
"Iya. Aku baik-baik saja Ga. Aku pergi duluan yah".
Argana lalu menatap punggungnya Nita yang sudah menjauh dari hadapannya dengan tanda tanya, "Ada apa dengannya?" tetapi melihat makannya yang masih banyak, ia pun melanjutkan menikmati makan siangnya.
.
Di dalam toilet Nita mendudukkan diri diatas kursi kloset. Ia mencoba menarik nafas dengan pelan-pelan berharap sakit di dada yang ia rasakan berkurang. Hingga ia menghabiskan waktu selama 20 menit lamanya disana, pada akhirnya rasa sakit itu pun berkurang.
__ADS_1
"Syukurlah. Tapi kenapa aku akhir-akhir ini sering merasakan sakit seperti ini? Apa aku baik-baik saja?".
Ia lalu keluar dari dalam toilet dengan penampilan sedikit berantakan, "Astaga! penampilan ku?" ia seketika tersadar membuat ia terpaksa harus masuk kembali ke kedalam.
Setelah ia merapikan pakaian didalam sana. Ia pun berjalan menuju ruangannya, namun ia malah melihat Argana tengah berbicara dengan salah satu anggota teamnya di depan pintu.
"Oo, itu dia tuan. Nita, kamu kemari" panggilannya.
Ia langsung mempercepat langkah kedua kakinya menghampiri mereka, "Iya ada apa?" tanyanya.
"Ini Nita, tadi tuan Argana meminta saya untuk segera menyelesaikan laporan ini. Tapi laporan inikan milik kamu" jawabnya memberikan ditangan Nita.
"Akh iya. Tolong maafkan aku".
"Tidak apa-apa. Kalau gitu saya permisi dulu tuan".
"Mmmmm" balas Argana dengan gumaman. Kemudian melihat Nita yang berdiri di sampingnya, "Kamu baik-baik saja?".
Nita menatapnya dengan wajah heran, ia merasa aneh dengan sikap Argana yang tiba-tiba perduli kepadanya setelah sedari tadi ia menertawainya terus.
"Kenapa kamu melihat ku seperti itu?".
"Tidak" senyumnya. "Lalu apa yang kamu ingin.. Akh, maaf. Apa yang ingin tuan tanyakan dengan saya?".
"Kamu ikut aku kedalam ruangan ku" jawab Argana berjalan duluan. Nita pun segera mengikutinya dari belakang, hingga mereka berdua telah berada di dalam ruangan tersebut.
"Hhhmmm?".
"Aku bilang kamu duduk".
"Tidak usah tuan, saya berdiri saja" tolak Nita melihat Argana mendudukkan diri diatas sofa dengan kaki menyilang.
"Kamu yakin tidak mau duduk?" ucap Argana mengulangi pertanyaannya.
"Baiklah tuan" Nita akhirnya mendudukkan diri di hadapan Argana.
Kemudian Argana menatapnya kembali dengan tatapan serius, "Kamu baik-baik saja?".
Nita tersenyum, "Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu lagi Ga?".
"Aku bertanya kamu baik-baik saja atau tidak?".
"Hey.. Sekarang kamu malah memperlakukan aku Seolah-olah aku sedang sakit Ga. Ada apa? Kenapa kamu terus mengajukan pertanyaan itu? Apa menurutmu mu aku sedang sakit? Aku baik-baik saja Argana. Jangan khawatir".
Lalu Argana melirik kearah dada Nita membuat ia yang sedang dipandangi merasa tidak nyaman. "Ada apa Arga? Kenapa kamu melihat ku seperti ini sih?".
Namun Argana tidak menjawabnya, ia malah teringat kejadian lampau dimana ia pernah menemukan Nita terkapar di atas aspal dingin akibat mengalami kecelakaan di tengah hujan yang sangat lebat.
__ADS_1
"Nita" panggilannya.
"Kenapa Ga?".
"Akh.. Tidak jadi. Kamu bisa keluar, setelah kamu menyelesaikan laporan yang aku minta itu, segera antar kemari".
Nita mengernyitkan dahi, "Itu saja?" tanyanya.
"Mmmmm".
"Kalau gitu kenapa kamu harus membawa ku kemari? Baiklah, aku keluar dulu".
"Mmmmmm".
Sekeluarnya ia dari sana, Nita pun tersenyum mengingat perubahan Argana yang tiba-tiba bersikap hangat kepadanya.
Lalu Nella melihatnya, ia langsung bertanya hal mengenai kejadian di kantin saat ia pergi meninggalkan mereka berdua.
"Tidak ada apa-apa Nella".
"Benarkah? Tapi aku tidak mempercayai Nita. Aku yakin kamu pasti menyembunyikan sesuatu dari ku. Iyakan? Ayo jawab aku Nita".
"Astaga Nella. Aku harus menjawab apa kepada mu kalau tidak terjadi apa-apa?".
"Aku tetap tidak mempercayainya Nita. Lalu apa yang kalian berdua lakukan tadi? Kenapa dia datang menghampiri mu?".
"Aku juga tidak tau ada apa dengannya? Dia hanya numpang makan siang di meja yang tadi aku pakai. Aneh bukan?".
"Kamu yakin itu saja?".
"Mmmmm.. Lainnya itu tidak ada lagi".
"Benarkah?".
"Iya Nella. Kenapa juga aku harus membohongi mu?".
"Terus, bagaimana dengan..
"Dengan apa?".
"Tadi bukannya kamu menangis bakalan ada harapan kalau tuan Argana akan mengusir mu dari perusahaan ini?".
"Mmmm.. Tapi dia hanya diam saja sambil menikmati makan siang. Aku juga merasa, aku pikir dia akan membahasnya. Tetapi nyatanya tidak".
"Mmmmm.. Kalau gitu syukurlah, itu artinya kamu masih punya harapan bertahan disini. Selamat".
"Terima kasih Nella" balas Nita tersenyum senang.
__ADS_1