Dia Milikku

Dia Milikku
Bab 37


__ADS_3

Didalam kelas Nita diam sedari tadi, pikirannya masih tertuju ke kepada perkataan mahasiswa yang tadi, hingga sampai sekarang perkataan itu selalu menghantuinya.


Kemudian salah satu mahasiswa di sampingnya memanggil namanya, "Kamu kenapa dari tadi melamun terus? Kamu sudah menyelesaikan menteri itu?" tanyanya ke.


Nita lalu mendengus, "Belum. Ada apa?".


"Kamu jangan melamun terus, dosen itu bisa melihat mu. Kamu mau kita semua terkena masalah dengannya?".


"Maafkan aku" jawab Nita kembali fokus dengan materi kuliahnya sambil melirik kearah Argana yang sedang sibuk dengan pembelajarannya. "Salah satu yang aku takutkan adalah kamu Ga. Aku sangat takut sekali kalau sampai kamu tau siapa aku yang sebenarnya. Apakah kamu akan pergi meninggalkan aku?".


.


Jam istirahat tiba, Nita keluar dari dalam kelas menuju taman belakang. Disana ia mendengus penuh dengan banyaknya beban hidup.


"Ada apa?".


"Astaga!" kaget Nita. Lalu melihat orang yang baru saja mengagetkannya itu. "Ekh pak Reza. Ada apa bapak kemari?".


Reza kemudian mendudukkan diri diatas kursi panjang yang berada di sebelah Nita, "Duduklah".


Nita tersenyum, "Ada apa Pak?" tanyanya lagi duduk.


"Saya malah yang ingin bertanya sebaliknya. Kenapa kamu tampak murung sekali? Kamu memiliki masalah?".


"Tidak ada apa-apa pak. Seperti biasa tugas kuliah selalu menumpuk".


Reza menatapnya, "Kamu tidak ingin cerita?".


"Hhhmm? Ma-maksud bapak apa? Saya tidak mengerti pak. Maaf".


"Bapak sudah tau siapa kamu yang sebenarnya. Sebab itu bapak bertanya kamu memiliki masalah apa? Tidak usah merasa sungkan seperti itu?".


Nita tiba-tiba membisu, ia menatap Reza dengan mata membulat tidak percaya kalau Reza mengetahui rahasia yang selama ini ia sembunyikan.


"Ja-jadi pak Reza sudah tau siapa saya sebenarnya? Tapi, bagaimana bisa pak Reza tau selama ini?".


Tersenyum, "Saya ini dosen kamu. Bagaimana bisa saya tidak tau dengan mahasiswa saya sendiri?".


Mendengar perkataan Reza yang benar-benar sudah tau selama ini tentangnya, Nita pun langsung bersujud di bawah kaki Reza.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" kaget Reza spontan menarik tangan Nita hingga keduanya hampir saja terjatuh kalau bukan karena Argana yang tiba-tiba memanggil keduanya. "Argana!".


"Apa yang sedang kalian berdua lakukan?" Argana menatap Nita dan Reza tajam.


Kemudian Reza membantu Nita bangkit berdiri, ia lalu menarik tangan Argana hendak membawa nya pergi sedikit jauh dari sana, namun Argana dengan kasar menghempaskan tangannya.


"Hhhmmss.. Arga. Ini semua tidak seperti yang kamu bayangkan. Tadi itu..


"Iya Ga. Apa yang barusan kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan" potong Nita melihatnya dengan tatapan sendu. "Tolong jangan salah paham dulu".


Argana tersenyum sinis, setelah itu ia pergi meninggalkan kedua orang itu.


"Arga! Ga! Argana! Kamu mau kemana?".

__ADS_1


"Sudah, biarkan saja" ucap Reza mengehentikan Nita hendak mengejarnya. "Tidak apa-apa. Biarkan saja, nanti juga dia akan kembali seperti biasa".


"Tapi pak!!".


"Sebaiknya kamu masuk saja. Sebentar lagi mata kuliah selanjutnya akan segera tiba".


"Lalu bagaimana dengan pak Reza? Apa Argana benar-benar sangat marah sekali?".


"Pergilah, nanti saya akan bicara dengannya".


"Pak Reza yakin?".


"Mmmm".


"Ya sudah kalau gitu saya masuk dulu pak".


.


Begitu Nita masuk ke dalam kelas, ia melihat Argana sedang menatapnya dengan tatapan tajam penuh dengan kemarahan.


"Arga!" panggilannya.


Namun Argana tidak menjawabnya dan malah semakin menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Arga kamu marah?".


Lalu Argana menarik nafas panjang, ia hendak bangkit berdiri namun Nita langsung menahan tangannya. "Kamu mau kemana Ga? Soal kejadian tadi aku minta maaf. Tapi sebenarnya itu tidak seperti yang kamu pikirkan".


"Bagas" panggilannya.


"Ada apa Nita? Ada apa dengan mu Arga? Apa kalian berdua habis ribut?" tetapi Argana memilih tidak menjawabnya dan memilih keluar dari sana. Kemudian Bagas kembali mengajukan pertanyaan itu kepada Nita.


"Aku tidak tau harus menjawab seperti apa Bagas. Ini semua hanya salah paham saja, tadi saat aku berada di taman belakang, Argana tiba-tiba datang kesana, padahal saat itu aku sedang bersama dengan pak Reza".


"Pak Reza?".


"Mmmmm.. Tapi Argana malah salah paham Gas. Lalu apa yang harus aku lakukan? Argana benar-benar sangat marah sekali".


"Salah paham seperti apa Nita?".


"Aku juga tidak tau cara memberitahu mu seperti apa Gas. Tolong bantu aku Bagas, aku mohon!"


"Kamu tenang dulu, biar aku yang bicara dengannya".


"Benarkah Gas?".


"Mmmmm".


"Terima kasih banyak Gas. Tolong bantu aku yah".


"Mmmmm".


Lalu Bagas keluar menghampiri Argana di kantin tempat biasa, namun ia malah tidak menemukannya disana. Kemudian Bagas, mencari ke taman, dan lagi-lagi ia tidak menemukannya disana, hingga satu harapan lagi ia cari yaitu atap gedung kampus.

__ADS_1


Dan benar sekali, Argana berada disana sedang menikmati sebatang rokok ditangan kanannya.


"Ternyata kamu disini?".


Argana melihatnya, "Sedang apa kamu kemari?".


"Kamu baik-baik saja?" ia lalu menyambar sebatang rokok Argana. "Ada masalah apa kamu dengan Nita?".


"Kenapa kamu menanyakan hal itu?".


"Nita memberi tahu ku kalau kamu melihatnya di taman belakang bersama dengan om Reza. Apa karna itu?".


Tidak ada jawaban, Argana asik dengan rokoknya.


"Kenapa kamu tidak menjawab ku Ga? Kamu baru saja cemburu?".


Argana menyeringai, "Cemburu? Kamu baru saja mengatakan aku cemburu? Haahhh".


"Aku rasa kamu cemburu Ga" jawab Bagas.


"Apa kamu sudah gila mengatakan hal itu kepada ku Bagas? Yang benar saja aku menyemburui wanita itu".


Bagas kemudian tersenyum melihat ekspresi wajahnya, "Aku mempercayainya, tapi jangan sampai suatu saat nanti kamu malah..


"Itu tidak akan pernah terjadi" potong Argana.


"Kamu mau kemana?".


"Pulang?".


"Kamu tidak masuk kuliah selanjutnya?".


"Tidak".


.


Sedangkan Nita di dalam kelas, ia masih gelisah melihat ke ambang pintu berharap ia melihat Bagas masuk kembali bersama dengan Argana. Namun nyatanya sampai sekarang kedua orang itu tak kunjung masuk.


Lalu ia mengirim pesan kepada Bagas, "Apa kamu sudah bertemu dengannya Gas?".


15 menit lamanya ia belum juga mendapatkan balasan dari Bagas.


"Bagas! Apa kamu benar-benar belum bertemu dengannya?".


Lagi-lagi pesannya belum juga dibalas oleh Bagas, bahkan belum dibaca olehnya.


"Ck, menyebalkan sekali ini semua. Kenapa sih tadi itu aku harus bertemu dengan pak Reza? Tapi bagaimana bisa Argana berada disana.. Tunggu! Jangan bilang Argana mendengar percakapan kami. Astaga! Atau mungkin Argana marah karena dia mendengar percakapan kami? OMG".


Nita lalu menyusun semua bukunya di dalam tas, ia kemudian izin kepada si dosen dengan alasan kurang enak badan. Dan dengan baiknya si dosen tersebut memberi izin kepadanya. Ia pun langsung berlari keluar dari dalam kelas untuk mencari tahu dimana keberadaan keduanya.


_


_

__ADS_1


__ADS_2