
"Hahaha! cobalah, kalau kau mau menambah berat badanmu! aku bahkan tidak keberatan sedikit pun, aku akan menerima semua yang kau lakukan, dan semua yang kau mau, termasuk dengan perubahan dirimu yang mau menambah berat badanmu!" ujar Rendy kemudian.
"Benarkah!" tanya Ros dengan menyelidik.
"Tentu!" jawab Rendy singkat sambil menciumi pipi dan kening Ros.
"Aaah..., bagaimana kalau aku sudah gendut dan tidak cantik lagi! apa kau masih mau menerimaku dan mencintaiku sebagai istrimu?" tanya Ros lagi.
"Kenapa bertanya seperti itu? aku akan menerima mu apa adanya, bukan karena ada apa nya! mau kau gendut, kurus ataupun tidak cantik lagi, aku akan tetap mencintaimu!" jawab Rendy yang semakin membuat Ros bahagia bagai terbang ke awan.
Ros menutup wajahnya dengan kedua tangan, menutupi raut wajah merona yang sudah sangat merah, bagai tomat yang sudah matang.
"Aku mencintaimu! aku mencintaimu! aku mencintaimu!" ujar Rendy sambil menggoda Ros dengan menciumi Ros berkali kali.
Ceklek!
Suara pintu yang terbuka, dan pintu itu adalah pintu kamar Ros dan Rendy yang baru. Rendy membukanya dengan sedikit paksa, karena sedikit kesulitan dengan adanya Ros dalam gendongannya.
"Apa susah?" tanya Ros.
"Tidak sama sekali!" jawab Rendy.
Bruk!!!
Pintu itu membentur dinding karena Rendy menendang pintu itu dengan kakinya hingga pintu melesat terbuka dengan cukup keras.
"Apa yang kakak lakukan!" tanya Ros
"Membuka pintu!" jawab Rendy santai.
"Dengan cara menendangnya?" tanya Ros lagi.
"Ya..., begitulah!" jawab Rendy lagi.
"Ish..., apa apaan suamiku ini!" gumam Ros.
"Hanya membuka pintu sayang!" balas Rendy yang langsung menghempaskan tubuh Ros di atas ranjang.
"Diam dan tunggu aku di sini! jangan kemana mana! jangan bergerak ataupun bergeser dari tempat tidur ini sampai aku kembali!" ujar Rendy panjang lebar membuat Ros menganggukkan kepalanya dengan heran.
__ADS_1
"Apa ini sikap asli suamiku? posesif?" batin Ros.
"Jangan mengataiku dalam hatimu sayang!" ucap Rendy asal.
Ros membulatkan matanya, saat mendengar ocehan Rendy barusan "Haha! apa maksudmu sayang! aku sama sekali tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan barusan!" balas Ros dengan tawa yang ia paksakan.
"Aku sama sekali tidak menuduh mu sayang!" ujar Rendy yang terus berjalan menghampiri pintu kamarnya untuk ia tutup dan kunci.
"Sayang! kenapa kamu menutup pintunya?" tanya Ros.
"Kenapa?" Rendy mengerutkan kedua alisnya sambil menyeringai.
"Ini masih pagi sayang, dan kita sudah melakukannya semalaman!" balas Ros.
"Melakukan apa kita?" tanya Rendy lagi.
"Emh...," Ros tak mampu menjawab ucapan Rendy barusan.
"Simpan pikiran kotor mu itu untuk nanti malam sayang!" ujar Rendy.
"Nanti malam? maksudmu?" ucap Ros.
"Aku ingin tenggelam! apa yang baru saja aku pikirkan?" batin Ros.
...***...
Surya mengendarai mobilnya menuju suatu tempat dengan kecepatan tinggi. Pikirannya berkecamuk, antara percaya dan tidak! jika ternyata, Surya masih mempunyai keluarga. Dan salah satu anggota keluarganya Brata dekat dengan Surya selama ini.
"Aaaa!!!" Teriak Surya sambil memukul stir kemudi. Surya begitu kesal, marah, dan bingung, semuanya bercampur menjadi satu.
"Akan ku buat orang bernama Matthew Alexander itu menyesal karena sudah membuat keluargaku hancur berantakan!" ujar Surya dengan sorot mata tajam, setajam elang yang ingin menerkam mangsanya.
Surya mengingat kembali kejadian beberapa saat yang lalu, saat Surya berada di restoran bersama dokter Fahri, saat dimana Surya mengetahui suatu kenyataan besar dalam hidupnya.
"Sulit menerima kenyataan bahwa aku masih mempunyai keluarga dok!" lirih Surya.
"Apa kamu tahu Surya! saya dan ibumu sudah lama mencari keberadaan mu!" ujar Fahri.
"Lantas, apa yang sebenarnya terjadi padaku dan kedua orang tuaku dok!" tanya Surya.
__ADS_1
"Panggil aku paman, Surya?" ujar Fahri.
"Baik paman, tapi aku hanya akan memanggilmu jika kita sedang berdua seperti ini paman! aku masih ingin merahasiakan tentang identitas ku dan keluargaku dari orang orang yang masih mengincar keluargaku!" balas Surya membuat Fahri tersenyum.
"Tentu Surya! aku mendukung semua keputusanmu!" tanggap Fahri, "Sekita dua puluh lima tahun yang lalu, saat umurmu masih sekitar lempat atau lima tahun, kedua orang tuamu mengajakmu pergi ke rumah keluarga ayahmu di luar kota!- - Fahri menghentikan sejenak ceritanya, menarik napas dengan sangat dalam
- -Aku juga ikut bersama kalian saat itu. Saat itu usiaku masih sangat muda! aku masih remaja waktu itu. Ibu, ayah, kau dan aku, sangat senang saat berada dalam perjalanan, kita bernyanyi dan tertawa bersama didalam satu mobil. Namun, ditengah-tengah tawa bahagia kita, ternyata ada beberapa mobil yang mengikuti kita dari arah belakang- -
"Mengikuti paman?" potong Surya.
"Ya Surya, jika aku tidak salah! ada sekita empat sampai lima mobil yang mengikuti kita saat itu!" jawab Fahri.
"Lalu paman?" tanya Surya kembali.
"Ayahmu yang sudah menyadari keberadaan para penguntit itu pun, langsung melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, dan ibumu mencoba untuk menenangkan kau yang masih kecil, dan aku yang masih remaja!" lanjut Fahri.
"Lalu?" tanya Surya yang semakin penasaran dengan cerita dari Fahri.
"Para penguntit itu semakin melajukan mobil mereka dengan sangat cepat, mencoba untuk mengejar mobil yang ayahmu kendarai. Hingga- - napas Fahri seakan terhenti, wajah merah tanda jika Fahri merasa bersedih dan teringat kembali kejadian dua puluh lima tahun yang lalu pun tak mampu untuk disembunyikan lagi.
"H**ingga apa paman?" tanya Surya yang semakin penasaran, walaupun tahu jika pamannya sedang merasa sangat kesulitan untuk melanjutkan ceritanya.
"Hingga..., beberapa mobil dapat mengejar dan menghalau jalan kami- - Fahri mengusap kasar wajahnya, - -kau terus menangis saat beberapa mobil sudah berada didepan mobil kita, Ibu mu juga terlihat sangat panik! Tapi- -
"Tapi apa paman?" tanya Surya yang memotong ucapan Fahri.
"Tapi, ayahmu menenangkan kita Surya! ayahmu dengan berani menuruni mobil dengan tangan kosong! walaupun ibu mu dan aku sudah melarangnya!"
"Jangan mas! jangan keluar! aku mohon mas, ini sangat berbahaya! aku tidak mau kamu celaka! aku tidak sanggup jika harus kehilangan dirimu mas!"
"Ucapan ibu mu yang sampai saat ini selalu terngiang-ngiang di kepala Ku, masih selalu kuingat. Wajah khawatir dan takut ibu mu, masih terus membayangi ku setiap saat!" ujar Fahri, "andai saja usiaku dulu sudah sedikit dewasa, andai saja dulu aku punya keberanian untuk menolong ayahmu dan dan ibu mu serta dirimu- - Air mata kesedihan tak mampu disembunyikan lagi dari wajah Fahri. Fahri menitikan air mata saat itu juga di hadapan Surya.
"*Apa yang terjadi setelah itu paman?" tanya Surya kembali, karena rasa penasaran dan keingintahuannya semakin meningkat.
Bersambung*...
Malem malem di gantung 😜
Kopi mana kopi, like nya mana nih, sama komennya🤣🤣🤣 biar semangat lanjutin ceritanya😂
__ADS_1