Dia Milikku

Dia Milikku
Rencana Bulan Madu


__ADS_3

Hari mulai siang, dan jam sudah menunjukkan pukul 09.45 siang. Cahaya matahari yang masuk kedalam sela-sela jendela, mulai terasa panas. Namun, wanita yang sedari tadi menjenguk ke kediaman Rendy dan Ros itu, masih saja enggan untuk beranjak dari rumah yang di kunjunginya.


Rendy yang sedang tertidur di pangkuan paha Ros, menatap Ros dengan tatapan mata sayu seraya berkata, "Sayang, apa kita rencanakan bulan madu kita saja ya?" ujar Rendy dengan nada yang lembut.


Ros mengernyit, "bulan madu? Bukankan setelah akad dan resepsi pernikahan kita, kita berbulan madu di hotel Kak?"


"Iya. Tapi itu berbeda sayang, itu bukan bulan madu, tapi menginap setelah resepsi," Rendy terkekeh menjelaskannya, "selama kita menikah, kita belum pernah merencanakan, apalagi pergi berbulan madu seperti pasangan pengantin baru lainnya," jawab Rendy sambil memejamkan matanya, menikmati sapuan jari jemari lembut tangan Ros yang tengah mengusap-usap rambut hitam tebalnya.


"Aku ingin kita pergi berbulan madu sayang," lanjutnya lagi, dan Ros masih setia mendengarkan, sambil terus mengusap-usap rambut Rendy dengan mata yang terpejam. Hingga, sentuhan lembut di bibirnya membuat Ros terlonjak kaget.


"Apa kamu sudah membayangkan sejauh itu sayang?" Rendy terkekeh dengan perubahan ekspresi wajah Ros yang memerah. Bisa di pastikan, jika Ros tengah tersipu malu dengan apa yang baru saja Rendy katakan padanya.


"Apaan sih, kak?" ujar Ros dengan senyuman yang ia tahan.


Kedua insan yang sedang di mabuk kepayang itu saling tatap dalam diam, dengan suasana hati yang teramat sama, yaitu di landa asmara. Hingga suara deheman seseorang membuyarkan lamunan keduanya.


"Ekhem!"


"Eh, maaf Anita. Aku lupa kalau masih ada kamu di sini," ujar Ros setelah lamunannya buyar akibat ulah Anita. Sedangkan Rendy, pria itu menatap sinis pada Anita, yang kini terlihat seperti canggung, saat Rendy menatapnya dengan tatapan seakan mengulitinya.


"Maaf mbak, saya barusan gak sengaja. Tenggorokan saya agak kering," alasan yang kurang masuk akal, pikir Rendy.


"Di dapur banyak air, di sebelah sana juga ada dispenser!" seloroh Rendy dengan nada bicara yang sedikit ditekankan olehnya.


"Saya permisi dulu mbak. Boleh saya minta minumnya?" ujar Anita canggung, seraya bertanya.


"Panggil aja bibi, An," kata Ros memberi saran.


"Tidak usah mbak, gak enak. Lagian, saya bukan siapa-siapa di rumah ini," tolak Anita, sepertinya dia sadar, siapa dia di rumah ini.


"Bagus itu. Biarkan saja sayang, aku menyewa para bibi di sini, bukan semata untuk melayaninya, melainkan untuk melayani istriku, dan tentu saja, keluargaku, jika mereka ada yang berkunjung," kata Rendy dengan memperjelas posisi Anita di rumahnya.


"Kak...," belum selesai Ros bertanya, Rendy sudah mendaratkan satu jarinya di bibir Ros, agar wanitanya itu terdiam dan lagi meneruskan ucapannya yang sudah pasti akan menyangkut lagi soal Anita.


"Bagaimana dengan usulku tadi? Apa kamu setuju sayang?" tanya Rendy mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Kapan kita akan berangkat?" jawab Ros dengan pertanyaan.


"Kamu setuju?" Masih tidak ada yang menjawab antara yang bertanya dan yang di tanya.


"Tentu! Kapan kita akan berangkat? Dan akan kemana kita berbulan madu?" tanya Ros antusias.


"Secepatnya sayang. Kamu mau kemana? Apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi?"


"Sepertinya ada," jawab Ros dengan ekspresi wajah yang terlihat seperti sedang membayangkan sesuatu.


'Prang!'


Suara benda mudah pecah terdengar cukup jelas hingga menghentikan obrolan antara Ros dan Rendy. Keduanya saling tatap hingga Ros memutuskan untuk melihat benda apa yang terjatuh, dan siapa yang menjatuhkannya.


"Kemana?" tanya Rendy seolah ia enggan untuk ditinggal oleh sang istri.


"Sebentar saja Kak. Aku hanya ingin melihat saja," jawab Ros pelan.


"Baiklah, tapi hanya sebentar!" Rendy mengingatkan.


Benar saja. Terlihat Anita yang sedang berjongkok dengan sapu dan pengki di tangannya. Namun, yang menjadi pusat perhatian Ros adalah noda merah yang masih menetes, keluar dari tangannya.


Apa itu darah?


Ros bertanya-tanya sambil terus berjalan mendekati Anita.


"Anita? Apa yang terjadi? Ya Tuhan, apa itu noda darah? Kamu berdarah? Kamu terluka Anita?" ujar Ros dengan begitu banyak pertanyaan yang keluar dari mulutnya untuk Anita.


"I-ini, hanya luka kecil Mbak. Aku..., gak papa ko!" ujar Anita seraya menundukkan kepalanya, "maafkan aku ya mbak, aku sudah merusak barang di rumah Mbak. Aku janji, aku akan ganti ko," lanjutnya lagi merasa bersalah.


"Ya ampun Anita..., Sudahlah biarkan saja, tidak usah juga kamu pikirkan. Ini hanya kecelakaan."


"Tapi aku gak enak Mbak," kata Anita yang masih terus membersihkan sisa-sisa pecahan gelas kaca yang ia pecahkan.


"Sudahlah Anita. Bi, bibi," panggil Ros pada salah satu pelayan di rumahnya.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, pelayan yang Ros panggil, datang dengan sedikit tergesa.


"Iya Nyonya. Nyonya manggil bibi?" tanyanya sambil menyeka keringatnya dengan tangan yang terlihat basah dengan air.


"Iya Bi. Bibi kemana aja? Ini temanku terluka, kenapa tidak ada seorang pun pelayan di rumah ini yang datang membantu Anita untuk membereskan semua ini," kata Ros dengan nada sedikit kesal.


"Maaf Nyonya, bibi gak tau. Bibi dari tadi di belakang," jawab bibi pelayan tampak jujur.


"Ya udah bi, tolong ambilkan kotak p3k, tangan Anita harus segera di obati," perintah Ros.


"Baik Nyonya," dengan sigap bibi pelayan itu melakukan apa yang di perintahkan Ros padanya.


"Ini Nyonya, kotak p3k nya." Tidak sampai dua menit, bibi pelayan itu memberikan apa yang Ros perintahkan.


"Terima kasih bi," ujar Ros. Namun, saat hendak mengambil kota itu dari tangan bibi pelayan- - Bibi pelayan itu menghentikan gerakan tangan Ros.


"Biar saya saja Nyonya," ucapnya pada Ros.


"Beneran bi?" tanya Ros ragu-ragu.


"Iya Nyonya, saya bisa ko!" jawabnya penuh dengan semangat dan keyakinan.


"Ya sudah, tolong ya bi?" mohon Ros yang akhirnya menyetujui apa yang bibi pelayan sarankan.


"Iya Nyonya, gak papa," senyum bibi pelayan itu nampak berbeda dari yang biasanya Ros lihat.


Perlahan-lahan, bibi pelayan yang bernama Bi Sumi itu membuka kotak p3k yang ada di tangannya.


"Mbaknya ko..., bisa kena pecahan gelas segala sih?" tanya si bibi dengan keingintahuannya, "kan pakai sapu bersihinnya mbak!" lanjut di bibi dengan penuh penekanan yang sedikit menyudutkan.


"Bibi ko' nanyanya gitu?" tanya Ros dengan sedikit selidik.


"Gak papa Nyonya, bibi hanya heran aja. Aneh aja gitu. Dia 'kan bersihin pecahan gelasnya pakai sapu, ko bisa sih kena tangan," jawab si bibi dengan polosnya, ia mengutarakan pendapat sesuai dengan pemikirannya.


'Benar juga sih!' pikir Ros dalam hati.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2