
Pagi itu, menjadi pagi pertama yang sangat istimewa bagi sepasang pengantin baru, yang baru menikmati indahnya surga dunia dengan pasangan halal mereka.
"Lepas, aku mau dibawa kemana?" ucap Ros yang panik karena Rendy menggendongnya tanpa sehelai benangpun yang mereka kenakan.
"Ke kamar mandi," jawab Rendy santai, ia masih terus menggendong Ros walaupun Ros memberontak.
"Diam, kau mau membangunkan adik kecilku lagi?" ucap Rendy yang seketika itu juga membuat Ros terdiam membeku dalam gendongan Rendy.
Cup!
"Gadis baik," ucap Rendy sambil mencium bibir Ros sekilas.
"Kamu tahu?" tanya Rendy tanpa pertanyaan yang harus Ros jawab.
"Tidak!" jawab Ros.
"Kenapa menjawab tidak?" tanya Rendy lagi.
"Karena kak Rendy belum mengatakan apa pertanyaannya!" jawab Ros tepat.
"Hah! benar juga," ucap Rendy, "baiklah aku ulangi," sambung Rendy.
"Apa?"
"Kamu tahu sayang? kamu membuatku haru mandi pagi untuk kedua kalinya," ucap Rendy sambil terkekeh geli.
Ros sangat malu dengan apa yang dikatakan oleh Rendy.
Ros memukul mukul pelan bahu Rendy, namun bukannya kesakitan, Rendy malah tergoda dengan gerakan tangan Ros yang menyentuh bahunya.
"Itu sama sekali bukan pertanyaan, kak Rendy tahu?" ucap Ros sebal.
"Lalu apa?" tanya Rendy.
"Itu adalah sebuah pemberitahuan," ketus Ros, membuat Rendy sangat ingin rasanya menggigit hidungnya.
Dan benar saja, Rendy benar benar melakukan apa yang ia inginkan.
Rendy menggigit hidung Ros hingga memerah, membuat si yang punya hidung berteriak.
"Awwww... sakit," teriak Ros.
"Apa yang kakak lakukan pada hidungku?" tanya Ros sambil mengusap usap hidungnya yang terasa sakit.
"Aku menggigitnya," jawab Rendy santai, tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Ros menatap marah pada Rendy, lalu memalingkan wajahnya dengan cepat ke arah lain.
"Aaaah... kau pasti marah ya? apa itu sakit? sini biar aku usap dengan hidungku," ucap Rendy kemudian, sambil melakukan apa yang dia ucapkan barusan.
Rendy mengusapkan hidungnya dengan hidung Ros, membuat hidung mereka kini menempel dan saling mengusap.
Namun rasanya Rendy tidak puas dengan hanya menempelkan saja hidungnya dengan hidung sang istri.
__ADS_1
Rendy mulai menurunkan bibirnya kebawah, tepat di atas bibir Ros berada, hingga bibir mereka kini bersentuhan.
Perjalanan menuju kamar mandi nampaknya memerlukan waktu yang cukup banyak, hingga sedari tadi, mereka tak kunjung sampai dikamar mandi.
Rendy mulai melakukan lagi aksinya, ia terus memperdalam ciumannya, semakin dalam hingga keduanya larut kembali dalam permainan.
Rendy mendudukkan istrinya di bathtub yang sudah terisi oleh setengah bak air dan juga aromaterapi.
Ia berjalan mengambil shampoo lalu mulai mencuci rambut Ros dengan sangat lembut.
Perlahan gerakan tangannya mulai menuruni rambut, berjalan seiringan dengan nalurinya yang mengajak tangan Rendy untuk menjelajah lebih jauh lagi.
Memijat mijat leher, pundak hingga ke bahu. Bahkan kini bibirnya pun ikut memijat bagian tubuh Ros dengan sangat lembut.
Hingga Rendy mulai tak bisa mengkondisikan gerakan tangannya yang mulai nakal di tubuh sang istri.
Menggerayangi kesana kemari, berjalan sesuka hati.
Sungguh Ros tak mampu untuk menolak setiap sentuhan dan gerakan yang trendy lakukan padanya, hingga Ros pun ikut terbuai dengan permainan yang Rendy lakukan padanya.
Rendy kini memposisikan dirinya tepat didepan sang istri, hingga keduanya saling berhadapan, saling menatap satu sama lain.
Rendy menginginkannya, bahkan Ros pun sama, mereka berdua sama sama menginginkan hal yang sama.
Hal yang sudah mereka rasakan bersama untuk pertama kalinya, dan mereka ingin melakukannya lagi untuk yang kedua kalinya.
Rendy memulai dengan mencium bibir sang istri, membawanya mendekat dan semakin dekat, hingga tangannya sudah tak mampu lagi untuk tidak menjelajah ke segala arah.
Dan
Mereka melakukannya lagi dengan hasrat yang begitu bergelora.
Mandi yang biasanya hanya memerlukan waktu paling lama 30 sampai satu jam, mereka lewati mebjadi Berjam jam.
Sampai jam menunjukkan pukul 11.00 barulah mereka selesai dengan urusan mereka di kamar mandi.
Rendy Mambawa Ros keluar dari kamar mandi sama seperti ia membawa Ros masuk ke kamar mandi.
Menggendongnya dengan penuh kasih sayang, bahkan bibirnya pun masih tetap tidak mau diam.
Terus menerus menciumi Ros hingga bagian bibir terdalam.
"Hentikan," ucap Ros yang sudah tidak tahan lagi dengan tingkah Rendy yang tidak pernah puas padanya.
"Kenapa? kamu kan istriku," ucap Rendy yang tidak rela, Ros menjauhkan wajahnya dari wajah Ros.
"Iya, aku ini memang istrimu," ucap Ros membuat Rendy tertawa bahagia, namun itu tidak berlangsung lama karena dengan sekejap, tawa bahagia Rendy memudar seketika setelah Ros mengatakan, "istri yang sangat kelaparan karena suaminya tak pernah puas untuk mengerjai istrinya."
Duarrr!
Senyum Rendy benar benar memudar, ucapan Ros yang ketus membuat Rendy merasa bersalah karena sudah membuat istrinya kelaparan sampai hampir jam makan siang.
"Maafkan aku sayang, aku akan segera memesankan makanan untuk kita berdua," ucap Rendy yang segera menurunkan Ros tepat di atas kursi didepan meja rias.
__ADS_1
Rendy dengan segera menelpon pelayan hotel untuk membawanya makanan, karena istrinya sudah sangat lapar, dan bukan hanya Ros saja yang ternyata sangat kelaparan, Rendy pun merasakan hal yang sama.
Rendy kembali menghampiri sang istri, mengambil hairdryer yang sedang dipegang oleh Ros. Dan mulai menggerakkan hairdryer yang ia pegang untuk mengeringkan rambut Ros.
Gerakan tangan Rendy begitu lihai saat mengeringkan rambut Ros, walaupun pandangannya matanya terus menerus menatap Ros begitu kagum.
"Kenapa terus menatapku seperti itu?" tanya Ros heran.
Rendy meletakkan hairdryer ditangannya, lalu meletakkan wajahnya dibahu polos milik Ros yang kini sudah penuh dengan jejak jejak cinta yang Rendy tinggalkan disana.
"Karena aku sangat mencintaimu!" jawab Rendy masih menatap Ros lewat pantulan cermin.
Ros benar benar melayang saat mendengar ungkapan rasa cinta Rendy yang terdengar begitu romantis tepat ditelinga nya.
Wajah Ros memerah, Ros mencoba untuk mengalihkan pandangan mata dari manik mata milik Rendy, namun sayang, lagi lagi Rendy menghadapkan wajah Ros dengan wajahnya, hingga wajah mereka saling berpandangan.
Rendy kembali menciumi Ros, namun kali ini bukan di bibirnya, Rendy menciumi Ros dari kening hingga ke pipi, karena tiba tiba saja, suara ketukan pintu menggagalkan rencana Rendy yang hendak melancarkan lagi aksinya pada sang istri.
Tok! tok! tok!
Rendy sangat mengerutuki orang yang mengetuk pintu kamar hotelnya, mengganggu Rendy yang akan mulai lagi melakukan tugasnya sebagai seorang suami kepada istrinya.
Dengan langkah gontai dan malas, Rendy berjalan mendekati pintu.
"Kamu diam disana, jangan kemana mana, biar aku yang membuka pintunya," ucap Rendy sambil menunjuk Ros, agar ia tetap diam ditempat, tak bergerak sama sekali.
Ros hanya menganggukkan kepalanya pelan, menunggu makanan karena Ros sudah merasa sangat kelaparan.
Ceklek!
Rendy membukakan pintu, terlihat seorang pelayan pria yang sudah beberapa kali Rendy temui, sudah berdiam diri sambil membawakan makanan yang cukup banyak diatas meja dorong.
"Selamat siang tuan?" sapa pelayan pria itu.
"Siang!" jawab Rendy yang berada tepat di antara pintu, karena Rendy tak membukakan pintu kamar hotelnya secara penuh. Hanya memperlihatkan wajah tampannya saja dengan tubuh di belakang pintu.
"Saya membawakan makanan tuan, biar saya bawakan kedalam," ucap pelayan itu yang hendak masuk ke kamar Rendy.
"Eits, mau apa kau?" ucap Rendy keras, membuat pelayan itu heran, kenapa tugasnya dihentikan oleh tuannya.
"Maaf tuan?" ucap pelayan itu tidak mengerti.
"Tidak usah masuk ke kamarku, aku bisa membawanya sendiri," ketus Rendy pada pelayan itu.
"Baik tuan!" ucap pelayan itu sambil sedikit mengintip ke arah kamar.
"Sedang apa kau? mau ku hajar?" bentak Rendy membuat pelayan itu takut.
"Tidak tuan, maafkan saya!" jawab pelayan itu sambil berlaku pergi meninggalkan Rendy yang masih belum terlihat tubuhnya.
"Enak saja mau mengintip istri ku yang masih belum memakai baju, mau ku hajar apa?" omel Rendy sambil membawa meja dorong berisikan makanan di atasnya, mendekat ke arah Ros.
"Kenapa?" tanya Ros saat melihat wajah kesal dari suaminya.
__ADS_1
Bersambung...