Dia Milikku

Dia Milikku
Tempat yang terlupakan


__ADS_3

Duduk di kursi mobil dengan perasaan bersalah. Ros dan Rendy sama-sama terdiam dengan perasaan masing-masing. Meski keduanya sudah saling meminta maaf dan memaafkan. Namun, rasa canggung itu masih ada. Menghampiri dan berdiam diri di sanubari keduanya.


Herman, pria setia yang mengabdikan dirinya untuk menjadi orang kepercayaan Rendy, beberapa kali menghela napas panjang, saat ia melihat perubahan ekspresi wajah dari kedua majikannya ini.


"Maaf Tuan, Nyonya," panggil Herman dari depan, tanpa mengalihkan pandangan serta fokusnya dari jalanan yang sedang ia lewati.


"Ada apa Herman?" tanya Rendy.


"Maaf sebelumnya, kalau saya lancang..."


"Bicara yang benar Herman. Jangan berbasa-basi seperti itu. Aku sedang tidak berminat!" ungkap Rendy.


"Saya lapar Nyonya... Dari tadi siang sampai sekarang malam, saya belum makan," ucap Herman memelas.


Ros yang tadinya tak begitu memerhatikan percakapan Rendy dan Herman, kini terlonjak. Ia tidak menyangka, jika orang yang ia pekerjakan, nasib perutnya sampai kelaparan seperti itu.


"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi Herman? Sekarang, cari tempat makan. Kita makan sekarang!" perintah Ros dengan nada memerintah, tentu saja.


Niat Herman untuk membuat suasana kembali normal, terjadi tanpa ada kendala rumah tangga. Tidak ada drama, majikan membiarkan pekerjanya. Herman bersorak gembira dalam hati. Semoga saja, niatnya untuk membuat keduanya hangat kembali, tercapai dengan sedikit kebohongan yang ia perbuat saat ini.


Ya, Herman berbohong saat mengatakan jika dirinya belum makan dari pagi sampai malam. Ia hanya ingin mengusir kecanggungan dan kebisuan antara Tuan dan Nyonya nya.


Dan sepertinya, Rendy menyadari itu semua. Karena, jangan kan tidak makan dari pagi sampai malam. Herman bahkan, rela membuat majikannya menunggu, asalkan perutnya terisi terlebih dahulu. Rendy tau itu.


Dari kaca spion yang memantulkan wajah Herman dan Rendy, kedua pria itu saling pandang dengan senyum tipis yang mereka ikut secara alami.


Rendy bersyukur, sopirnya ini bukankah sekadar sopir untuknya dan Ros. Tapi, dia lebih dari itu.


Herman lebih dari seorang yang mereka pekerjakan sebagai seorang sopir.


"Sudah sampai Nyonya. Di sini, tidak ada lagi tempat makan. Hanya ini satu-satunya tempat makan yang dekat dengan jalan menuju rumah," ucap Herman memberitahu sebelum mereka menyetujuinya dan keluar.


"Tidak apa Herman. Keluar dan kita makan. Kamu pasti sangat kelaparan 'kan? Kenapa tidak memberitahu sedari tadi? Kamu kan jadi kelaparan begini!" Omelan Ros masih terdengar jelas hingga ketiga-nya keluar dari dalam mobil.

__ADS_1


Ros memerhatikan sekeliling. Ada yang familiar dari tempat ini. Ros seperti mengingat sesuatu kembali. Tapi apa? Hingga, matanya tak sengaja bertemu dengan seorang pria paruh baya yang menjual makanannya.


"Mang Asep!" gumam Ros yang seketika langsung menunjukkan ekspresi wajahnya yang bahagia.


Penjual mie ayam favoritnya, dan tempat makan favoritnya juga. Ia pernah mengajak Rendy makan di sana. Dan saat pikirannya kacau juga bercabang seperti ini, Ros tidak menyadari, jika Herman mengajaknya ke tempat makan favorit Ros tersebut.


"Ros? Apa kabar nak?" sapa mang Asep yang sudah sangat kenal dengan Ros. Pembeli setianya, sekaligus pembeli yang siap menjadi pendengarnya kala pria tua itu berkeluh kesah tentang kehidupannya.


Ros menghampiri mang Asep dengan langkah cepat. Rasa rindu akan makanan yang selama ini menjadi salah satu makanan favorit, juga rasa rindu pada penjualnya itu, membuat Ros melupakan tujuan awalnya kemari untuk mengantar Herman makan saja.


Ros mencium punggung tangan mang Asep dengan santun, layaknya seorang anak yang baru berjumpa dengan ayahnya.


Tak tinggal diam, mang Asep pun mengulurkan tangannya untuk ia sodorkan pada Ros.


Keduanya saling bersalaman.


"Kabar Ros baik mang. Mang Asep gimana kabarnya? Baik bukan?" jawab Ros seraya membalikkan pertanyaan pada mang Asep.


"Syukur Alhamdulillah... Mang Asep juga sehat Ros? Oh iya, mana suamimu?" tanya mang Asep kemudian.


"Di dekat mobil mang," jawab Ros.


"Ya sudah, ayo duduk! Biar mamang buatkan dua porsi mie ayam spesial buat kalian!" kata mang Asep dengan semangat empat lima, walau di usia senja.


"Tiga porsi mang. Buat Ros, juga tolong di buatkan ya?" kata Ros memberitahu. Mang Asep langsung mengangguk sambil membuatkan apa yang sudah menjadi pesanan.


"Duduk dulu Ros. Biar mamang buatkan sekarang!" perintah mang Asep tanpa canggung.


"Baik mang," jawab Ros.


Rendy dan Herman berjalan mendekati Ros yang sudah duduk manis sambil menopang kan dagunya di sebelah tangan yang ia buat sebagai penopang.


"Kenapa sayang?" tanya Rendy setelah duduk berdekatan dengan Ros.

__ADS_1


"Tidak kenapa-napa Kak. Aku hanya rindu tempat ini. Begitu banyak kenangan semasa kuliah di sini."


"Termasuk dengan Kayla?" tanya Rendy tiba-tiba.


Ros mengalihkan pandangannya, lalu menganggukkan kepala, sebagai Jawaban atas pertanyaan Rendy padanya.


"Kita doakan yang terbaik untuk Kayla. Kita doakan kesembuhannya juga. Dan kalau Kayla sudah sembuh, kita ajak dia makan di sini nanti. Kayla pasti akan suka," ucap Rendy mencoba menghibur istrinya yang masih di Landa gundah gulana dengan keadaan Kayla.


Kembali Ros menganggukkan kepalanya.


"Maafkan aku ya?" ucap Ros sambil menyenderkan kepalanya pada baju Rendy.


"Untuk?"


"Untuk semuanya. Untuk sikapku yang terlalu egois ini," jawab Ros dengan mata terpejam.


"Sudahlah sayang. Yang lalu biarlah berlalu, kita buka lembaran baru-- Aku yang seharusnya banyak meminta maaf padamu, bukan sebaliknya."


Tangan mereka saling bertautan satu sama lain. Membentuk sebuah kepalan erat yang susah untuk di pisahkan.


Saling bertatapan seolah dunia ini hanya milik berdua. Mereka bahkan melupakan kehadiran Herman di depan mereka berdua. Jangankan terlihat, menganggapnya ada saja, sepertinya tidak.


Walaupun wajah Herman sudah ia buat sedekat mungkin dengan keberadaan mereka yang saling berseberangan. Namun, Herman masih tak terlihat juga. Hingga, kehadiran mang Asep yang tiba-tiba saja dengan tiga mangkuk mie ayam spesial, membuat Ros dan Rendy mengalihkan perhatian juga pandangan mereka pada mang Asep.


"Silakan Ros, Ren dan..." ucap mang Asep terjeda.


"Herman mang Asep," ucap Herman memberitahu.


"Loh, kok tau nama saya?" tanya mang Asep kebingungan. Pria di depannya ini sangat ajaib pikir mang Asep. Baru pertama kali bertemu saja sudah tahu siapa namanya. Apalagi kalau sudah lama saling mengenal. Bisa-bisa pria bernama Herman ini tau luar dan dalamnya mang Asep lagi. Pikir mang Asep kembali.


"Tau dong mang. Tuuuuh..." Herman menunjuk sebuah gerobak mie ayam mang Asep yang bertuliskan 'Mie Ayam Spesial, Mang Asep'


Mang Asep langsung tertawa terpingkal-pingkal. Dirinya sudah mengira jika Herman ini pandai dan ajaib, karena bisa mengetahui namanya, walau mang Asep tidak memberitahu. Padahal, sudah jelas sekali, jika di gerobaknya, sudah tertulis namanya sebagai penjual mie ayam dengan tulisan yang cukup besar.

__ADS_1


Ros dan Rendy saling pandang, begitu pun dengan Herman yang mengerutkan kening karena terheran dengan tingkah mang Asep yang tertawa terpingkal-pingkal secara tiba-tiba.


Bersambung...


__ADS_2