
Di kediaman Kayla.
Saat Surya mengetuk ngetik pintu rumahnya, seseorang berada dari dalam rumah itu. Melihatnya dari balik jendela kamarnya dengan penuh rasa takut.
"Kak Surya, aku ada disini kak! aku di rumah!" ucapnya dalam hati tanpa bisa bersuara, karena mulutnya tertutup oleh tangan.
"Kalau kamu berani berteriak, aku pastikan semua keluarga mu tidak akan selamat!" ucap Doni mengancam.
Kayla menutup matanya dengan paksa, hingga butiran air mata keluar dari matanya.
"Tolong lepaskan aku kak! aku tersiksa disini, sikap Doni berubah padaku," batin Kayla.
"Kita lihat, apa yang akan dia lakukan! apa dia akan mendobrak pintu rumah ini karena kau tidak membukakan pintunya, atau dia akan langsung menembak pintu rumah ini dengan pistolnya?" ejek Doni.
Kayla menggelengkan kepala, menatap ke arah Surya yang masih berada di luar dengan menyebut-nyebut namanya.
"Apa aku tembak saja ya, kakak temuan mu itu dari sini," ucap Doni sambil mengarahkan sebuah pistol yang tengah dipegangnya.
"Tidak! jangan! jangan lukai kakak ku!" ucap Kayla pelan, membuat Doni tersenyum puas saat Kayla begitu ketakutan dibuatnya.
"Sebegitu sayangnya kau pada kakak angkat mu yang tidak berguna itu?" ucap Doni.
"Dia kakak ku, di sangat berarti bagiku, sama seperti kak Rendy," jawab Kayla pelan.
"Kalau begitu, aku juga harus melenyapkannya, karena dia berarti bagimu," balas Doni dengan menyeringai.
"Tidak! jangan lukai semua keluarga ku! kenapa kau begitu jahat padaku? apa salah ku padamu? apa salah mereka padamu?" lirih Kayla.
"Karena mereka sudah membuat saudaraku terluka," balas Doni dengan berapi api.
Doni mencengkram rahang Kayla dengan sangat kuat, matanya memerah dengan gigi yang saling beradu hingga menimbulkan suara, begitu banyak kebencian yang terlihat dari mata Doni saat Kayla menatap matanya.
"Aku tidak lagi mengenalmu Doni! kau bukan Doni yang ku kenal!" ujar Kayla.
Doni semakin mengeratkan cengkeramannya, dengan menyunggingkan sebelah bibir ke atas.
"Kau tidak mengenalku? aku bukan Doni yang kau kenal?" ucap Doni.
Hahahah...
Suara tawa begitu mengerikan bagi siapa saja yang mendengarnya.
"Kau pikir aku benar benar mencintaimu?" tanya Doni dengan menatap lekat ke arah Kayla.
"Bukankah kau memang mencintai ku?"Kayla balik bertanya.
"Bodoh!" balas Doni dengan melepaskan cengkraman nya.
"Berisik sekali dia, aku tembak saja dia dari sini!" ujar Doni sambil mengarahkan pistolnya ke arah Surya.
"Tidak! jangan! aku akan melakukan apapun agar kau tidak melukai kakakku!" ujar Kayla yang menghalau Doni.
__ADS_1
"Memangnya apa yang bisa kau lakukan dan kau berikan untukku?" tanya Doni.
"Akan ku lakukan apapun agar kau tak melukai semua keluarga ku!" balas Kayla.
"Aku sama sekali tidak tertarik dengan tawaran mu itu," ujar Doni.
"Aku mohon!" lirih Kayla sambil menangkupkan kedua tangannya ke atas, tepat dihadapan wajah Doni.
"Aku tidak peduli," ujar Doni yang terus mengarahkan pistolnya ke arah Surya dari tralis besi yang jendelanya terbuka.
Mengarahkan dari atas ke bawah, tepat mengenai kepala Surya.
Saat Doni akan menarik pelatuknya, tiba tiba saja Surya pergi tanpa menoleh lagi ke belakang, membuat Doni mengurungkan niatnya untuk menembak Surya.
"Ah, sayang sekali, padahal aku akan menembaknya sedikit lagi, tapi dia keburu pergi," ujar Doni sambil memainkan pistolnya.
"Kau jahat Doni!" hardik Kayla.
"Kau masih selamat Surya, aku membiarkan mu pergi!" ujar Doni yang tak menghiraukan hardikan dari Kayla, Doni berlalu dari hadapan Kayla menuju ruangan lain dan mengunci rapat rapat pintu kamar Kayla.
...***...
Cafe xxx
Surya berjalan keluar dari mobil, melangkahkan kakinya menuju cafe tempat ia dan seseorang bertemu pagi ini.
Surya mengelilingi pandangan, mencari orang yang sudah mengajaknya bertemu. Hingga tak lama kemudian, pandangan Surya terhenti saat seorang pria paruh yang mengenakan jas putih dengan wajah berseri melambaikan tangannya ke arah Surya.
"Selamat pagi dokter Fahri? apa kabar?" ucap Surya menyapa saat sudah berada di hadapan dokter Fahri.
"Selamat pagi Surya, kabar saya baik!" balas dokter Fahri dengan senyum khasnya.
"Silahkan duduk Surya!" ucap dokter Fahri mempersilahkan Surya untuk duduk yang diiringi dengan gerakan tangannya.
"Terima kasih dok!" balas Surya yang langsung duduk atas tawaran dokter Fahri.
"Bagaimana kabarmu Surya?" tanya Fahri.
"Saya baik dokter- - jawab surya, - -apa yang ingin anda bicarakan dengan saya?" ujar Surya kemudian.
"Haha," tawa ringan keluar dari mulut Fahri.
Surya mengernyit saat mendengar tawa dari dokter Fahri, bukannya jawaban.
"Maaf, maaf, maafkan saya Surya!" ujar dokter Fahri.
"Tidak papa dok," balas Surya.
"Apa yang ingin dokter tanyakan pada saya?" tanya Surya lagi, mengulangi pertanyaannya.
"Kamu masih tetap sama ya? tidak suka basa basi! Bagaimana kalau kita sarapan dulu?" ajak Fahri.
__ADS_1
"Maaf dok, tapi saya sudah sarapan di rumah," tolak Surya.
"Baiklah, sepertinya saya sudah tidak perlu lagi untuk bernada basi," ujar Fahri sambil menghela napasnya panjang.
Surya menyandarkan tubuhnya kek kursi, mendengarkan apa yang akan dokter Fahri tanyakan padanya.
Dokter Fahri menyerahkan sebuah amplop berukuran besar berwarna coklat pada Surya. Surya pun mengernyitkan kembali alisnya, tidak mengerti dengan apa yang dokter Fahri lakukan.
"Apa ini dok?" tanya Surya yang masih belum memegang map coklat itu.
"Silahkan dibuka Surya, maaf kalau saya sudah lancang dalam hal ini!" ujar Fahri menyodorkan kembali amplop coklat tersebut agak mendekat ke arah Surya.
Perlahan Surya pun mengambil amplop coklat itu, memperhatikannya dengan seksama.
"Bukalah Surya?" pinta Fahri.
Surya pun mulai membuka amplop dengan perlahan.
"Amplop apa ini? apa isi didalam amplop ini?" batin Surya yang bertanya tanya.
"Hasil lab?" ujar Surya setelah membuka amplop tersebut.
"Hasil lab apa ini dok?" tanya Surya.
"Bacalah Surya!" balas Fahri.
Surya membelalakkan matanya saat membaca dengan seksama isi dari kertas berisikan hasil lab tersebut.
"Tidak mungkin!" ujar Surya, "ini tidak mungkin, bagaimana bisa?" lanjut Surya dengan tangan yang mulai gemetar.
"Maafkan saya Surya, karena saya sudah lancang!" ujar Fahri.
Surya tak mendengarkan ucapan dokter Fahri, ia kembali membaca ulang apa yang sudah ia baca barusan. mata Surya memerah, giginya saling beradu satu sama lain.
Raut wajah kemarahan, senang dan kesal, terlihat dari wajah Surya.
"Maafkan saya Surya?" ucap Fahri lagi.
"Bagaimana bisa Dok?" tanya Surya lagi, mengulangi pertanyaannya.
"Surya?"
Bersambung...
Hai hai, otor balik lagi nih 😁 bawa double up buat kalian semua😍
Semoga kalian semua terhibur ya?
Jangan lupa, ini masih pagi😑, segelas kopi masih nikmat untuk dinikmati, sambil menghirup aroma sekuntum bunga.
Keduanya masih otor terima dengan senang hati sampai saat ini. Jadi, jangan lupa kasih kopi sama sekuntum bunganya ya? 😂
__ADS_1