Dia Milikku

Dia Milikku
Menyiksa Rendy


__ADS_3

Baru saja Rendy merasa mendapatkan sebuah harapan kecil. Namun, harapannya langsung pudar, kala Vero mengancamnya untuk jangan berani-berani menyentuhnya, apalagi sampai menghajar-nya.


Rendy diam terpaku. Ingin melangkah dan mendekati Ros dan Herman, namun ia merasa gentar dengan apa yang baru saja Vero katakan. Nyalinya menciut kala para anak buah Vero sudah menodongkan kembali senjata api yang mereka pegang di masing-masing tangannya.


"Kau memang pecundang Vero!"


"Diam di tempat, atau aku suruh anak buah-ku untuk menembak mati mereka berdua!" ancaman Vero tetap tak main-main. Rendy semakin gentar juga gusar.


Perlahan tapi pasti, Vero berjalan perlahan mendekati Rendy. Pria itu terkesiap dengan apa yang ia lihat. Vero berjalan dengan terpincang-pincang. Kenapa sedari tadi, Rendy tak memerhatikan cara berjalan Vero. Dan baru mengetahui saat ini, saat Vero mendekatinya dengan wajah benci yang kentara.


"Apa yang kau lihat? Apa kau senang melihat cara berjalan ku yang seperti ini? Apa kau senang melihat kaki-ku yang cacat seperti ini?" tuduh Vero tanpa bukti yang pasti. Bahkan, Rendy saja terkejut dengan apa yang ia lihat, bukan senang.


"Karena kalian berdua lah, kaki-ku menjadi seperti ini. Kaki-ku menjadi cacat. Jalanku pincang! Kalian pasti senang kan?" tuduhnya kembali, tanpa bukti yang pasti.


Rendy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, hingga beberapa kali. Apa yang Vero katakan barusan, tidak benar sama sekali.


"Jangan melihatku seperti itu Rendy! Aku tidak butuh belas kasihan mu sama sekali!" ucap Vero saat Rendy menatap wajah serta kakinya dengan wajah kasihan.


"Kau memang pantas mendapatkan-nya Vero! Tadinya, aku memang kasihan padamu. Tapi, setelah aku melihat sikapmu yang seperti itu... Kau sama sekali tidak pantas mendapatkan rasa belas kasih dari diriku, Ros, bahkan dari siapa pun!" ungkap Rendy memberitahu, membuat Vero mengembang kempiskan hidung-nya. Marah dengan ucapan Rendy barusan.


"Beno! Tomi!" panggil Vero pada kedua anak buahnya.


"Ya, Tuan!" jawab Beno dan Tomi nyaris bersamaan.


"Bunuh mereka berd--"


"Tidak!" belum usai perintah Vero pada kedua anak buahnya. Rendy sudah memotong ucapan Vero sambil memasang wajah cemas, takut juga khawatir yang menjadi satu, tidak lupa juga ia mengangkat sebelah tangannya ke depan. Menggerakkannya, agar Vero menghentikan perintahnya pada kedua anak buahnya tersebut.


Vero tersenyum sinis.


"Tunggu perintahku selanjutnya Beno, Tomi!" kata Vero sambil tak hentinya menyoroti wajah takut Rendy.


Ada rasa lega yang menjalari seluruh tubuh dan perasaan Rendy kembali. Vero, tidak jadi menyuruh anak buahnya melepaskan timah panas pada Ros dan Herman.

__ADS_1


Kala Rendy masih berdiam diri. Vero kembali melangkah dengan sebuah tali pecut yang berada di belakangnya. Tak terlihat sebelumnya, karena Vero sengaja menyembunyikan-nya di belakang badan.


"Menghindar sedikit saja dariku, akan aku pastikan, dua orang tawanan ku itu, akan langsung masuk ke dalam tanah yang sudah aku gali, khusus untuk kedua-nya!" perintah Vero membuat nyali Rendy menciut.


Rendy kembali diam. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Ke mana perginya Surya yang akan menyelamatkan dirinya juga Ros serta Herman di waktu yang tepat? Apa Surya juga tertangkap oleh para anak buah Vero? Rendy bertanya-tanya dalam hati. Namun, tak menemukan jawaban apa pun. Karena yang di cari tidak ada.


"Beno! Tomi! Buka penutup mata mereka berdua! Tapi, jangan buka penutup mulut mereka!" perintah Vero kembali yang langsung di sambut dengan anggukan kepala dari keduanya.


Beno dan Tomi sudah membuka penutup mata Ros juga Herman. Hingga memperlihatkan wajah juga mata Ros yang sembab, akibat terus menangis mendengar suara Rendy, tanpa bisa ikut bersuara. Juga wajah Herman yang menatap kasihan pada Tuannya yang sangat ia hormati.


'Srett!'


Suara pecut pertama yang mengenai tubuh Rendy, berhasil membuat pria itu meringis merasakan nyeri.


Ros meringis, ia menangis, air mata terus berjatuhan membasahi pipinya. Ia menatap kasihan, juga merasakan apa yang saat ini Rendy rasakan. Namun, tak mampu mengeluarkan suara, karena mulutnya masih di tutup rapat oleh para anak buah Vero.


Begitu pun dengan Herman. Berulang kali matanya terbuka dan terpejam. Tidak tega dengan pemandangan yang sungguh menyiksa mata di depannya.


Rendy kesakitan, punggung, bahu dan tangannya merasakan sakit yang luar biasa akibat pecut yang Vero gunakan untuk menyiksanya. Namun, Rendy tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya menerima, karena jika ia melawan, Ros dan Herman lah yang akan menerima akibat-nya. Rendy tidak mau itu terjadi.


"Apa itu sakit Rendy?" Vero bertanya dengan nada tinggi, suaranya begitu menggelegar, "kenapa kau hanya diam saja? Mana suaramu? Apa kau bisu hah?" tanya Vero lagi, masih dengan tangan yang terus menerus menggerakkan pecutnya pada Rendy. Menyiksa Rendy tanpa ampun dan belas kasihan.


'Srakk!'


Ros berontak, Rendy mulai terkapar tak berdaya. Matanya menatap Ros tanpa kedip. Mengatakan lewat sorot mata, jika dirinya baik-baik saja. Namun, kenyataan tidak seperti itu. Ros menyaksikan sendiri, bagaimana Vero menyiksa Rendy di depan matanya sendiri.


Suara gelak tawa keluar dari mulut Vero. Pria yang jalannya terpincang-pincang itu, tertawa terbahak-bahak, benar-benar senang dengan apa yang ia lakukan pada Rendy.


'Jangan pukuli suamiku! Aku mohon! Aku mohon Vero!' ucap Ros dalam hati. Mulutnya tak bisa berkata. Namun, matanya mengatakan, jika wanita yang berstatus sebagai istri Rendy itu benar-benar terluka dengan apa yang Rendy alami saat ini.


Bagaimana tidak! Rendy rela di siksa oleh Vero, demi menyelamatkan nyawanya juga Herman.


"Kenapa Ros? Apa kau juga kasihan pada suami tidak berguna mu ini?" tanya Vero di sela-sela tawa-nya yang sulit untuk berhenti.

__ADS_1


Tak ada jawaban dari Ros, karena mulutnya masih di bungkam. Namun, matanya menatap tajam pada Vero. Tidak hanya tajam, sorot mata penuh kebencian juga hadir di dalamnya.


"Aku tidak peduli, kau mau menatapku seperti apa Ros. Yang harus kau tau, hidup dan mati suamimu serta dirimu, sekarang ada pada genggamanku!" ujar Vero sambil mengepalkan tangannya erat-erat.


Ros semakin menatap Vero tajam. Kebencian semakin mendalam bahkan menancap di dalam dadanya.


'Srakk!'


"Ini untuk kau yang tidak mau mengeluarkan suara!" ucap Vero sambil melayangkan kembali pecut yang ia pegang pada Rendy.


'Cetarrr!'


"Ini untuk istri-mu yang terus menatapku dengan sorot mata penuh kebencian!"


'Jedar!'


"Dan ini untuk kakiku yang menjadi seperti ini, akibat ulah kalian!"


Tiada hentinya Vero mengarahkan pecut di tangannya pada tubuh Rendy. Membuat Rendy semakin tidak berdaya akibat ulahnya.


"Kau masih berani memandangku seperti itu Rendy?" tanya Vero sambil menggerak-gerakkan pecut di tangannya. Seolah belum puas menyiksa Rendy, walau Rendy sudah tak berdaya di depan matanya.


Merasa di abaikan oleh Rendy yang tak menjawab sama sekali ucapan serta pertanyaan-nya. Vero kembali beralih menatap wajah Ros yang tengah memandangi tubuh suaminya yang terkapar di lantai tak berdaya dan tanpa suara.


"Beno!" panggil Vero mengalihkan tatapan Ros dari Rendy menjadi padanya.


"Ya Tuan," jawab Beno sigap.


"Lepaskan seluruh pakaian wanita itu!" perintah Vero yang geram dengan tatapan yang Ros layangkan padanya.


Deg!


Rendy yang tadinya terkapar tak berdaya. Kini, matanya beralih menatap tajam pada sosok Vero yang baru saja memberikan sebuah perintah konyol dan tidak masuk akal pada anak buahnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2