
"Bagaimana keadaan Kayla sekarang?" tanya Ros setelah Herman menjemputnya ke rumah, untuk pergi mengunjungi Kayla.
"Sudah membaik Nyonya."
"Panggil aku Ros saja Rico. Aku terkesan sangat tua, saat kamu memanggilku dengan sebutan Nyonya. Lagian, kamu bukan pembantu atau pekerjaku." Ros menatap Rico sekilas, lalu mengalihkan pandangannya pada pintu kaca, di mana Kayla di rawat selama ini.
"Apa saya boleh masuk?" tanya Ros pada Rico yang juga memerhatikan pintu kaca.
"Biar saya panggilkan perawat dulu. Apakah boleh atau tidak," jawab Rico karena memang ia tidak tahu.
"Baiklah!" ujar Ros sembari duduk di kursi tunggu keluarga pasien. Di temani oleh Herman, yang selalu siap siaga, ke mana pun Nyonya nya itu pergi dan berada.
Tak lama berselang. Dua orang perawat pria datang menghampiri Ros dan Herman dengan memakai pakaian khas perawat, juga memakai masker.
Cukup misterius. Pikir Ros.
'Sepertinya, mereka bukan perawat yang bertugas kemarin,' batin Herman menyelidik.
Begitu pun dengan Ros. Wanita itu sedikit curiga dengan sikap dan juga gerak-gerik dari kedua pasien yang datang menghampirinya dan Herman.
Ros juga baru menyadari, Rico tidak ada bersama mereka. Ke mana dia? Kenapa tidak terlihat sama sekali?
"Maaf Bu, apa ibu mencari seorang pria yang memanggil kami berdua ke sini?" tanya salah satu dari kedua perawat yang menghampiri Ros dan Herman.
Ros menganggukkan kepala. "Iya benar. Di mana dia?" tanya Ros kemudian.
"Dia berpamitan untuk ke toilet dulu pada kami. Ia menyuruh kami untuk memberitahukannya pada Ibu Ros," jawab salah satu perawat itu dengan nada santai.
"Benarkah?" sepertinya Ros tidak mudah percaya begitu saja pada kedua perawat ini.
"Kalau ibu tidak percaya-- Saya bisa panggilkan!"
__ADS_1
"Ah, tidak usah!" tolak Ros, "apa saya boleh menemui adik saya di dalam?" tanya Ros kemudian.
"Tentu saja Bu. Tapi, harus kamu temani, karena kondisi pasien kadang stabil, kadang juga labil," jawab perawat itu sembari memberi tahu.
Ros menatap Herman, meminta persetujuan.
Cukup lama Herman terdiam. Hingga ia pun mengeluarkan suaranya.
"Apa saya bisa ikut masuk?" tanya Herman pada kedua perawat yang langsung menganggukkan kepala mereka, tanda jika mereka mengizinkan Herman untuk ikut masuk ke dalam ruang rawat Kayla.
"Silakan masuk Bu, dan..." ucap perawat itu menggantung.
"Herman! Saya sopir pribadinya Nyonya Ros," jawab Herman tanpa di tanya.
"Baik. Silakan masuk!" ucapnya lagi mempersilahkan.
Ros dan Herman pun masuk. Melangkahkan kaki mereka ke dalam ruang rawat, setelah mereka membuka pintu dengan perlahan. Takut, jika mengganggu Kayla yang sedang beristirahat.
'Bugh!'
Punggung Herman di pukul dengan sebuah benda tumpul. Dan mulut Ros di bekap dengan menggunakan sapu tangan yang sudah di beri cairan bius, untuk membuat Ros tak sadarkan diri.
"Nyo-nyo--" gumam Herman sebelum ia mengikuti jejak Ros yang tak sadarkan diri. Karena setelah di pukul punggungnya, Herman juga di beri obat bius, sama seperti Ros.
"Pekerjaan berhasil bos!" ucap salah satu perawat palsu yang membujuk dan membius Ros serta Herman.
'Bagus! Bawa mereka padaku!' jawab seorang yang di panggil Bos oleh kedua perawat palsu tersebut, kepada orang di balik sambungan telepon.
"Bos menyuruh kita membawa mereka berdua," kata salah satu perawat palsu pada temannya.
"Laksanakan!"
__ADS_1
"Siap!" jawabnya sambil membuka masker wajah yang ia kenakan. Kondisi di ruangan Kayla cukup aman. Tidak ada cctv di dalamnya. Dan Kayla juga tertidur pulas di ranjangnya, karena sudah mereka urus sebelumnya. Begitu pun dengan Rico yang mereka pukul hingga pingsan, dan mereka kurung di sebuah toilet pria.
...***...
"Kenapa Ros dan Herman tidak bisa di hubungi? Rico juga. Tidak biasanya mereka sudah di hubungi seperti ini!" Rendy kesal. Ia yang sedari tadi menghubungi ketiga orang itu, di buat pusing juga kesal, serta khawatir yang berpadu menjadi satu.
Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa di hubungi. Rendy cemas. Cemas kepada istrinya. Bagaimana jika sesuatu buruk terjadi padanya? Pikir Rendy. Karena di saat seperti ini. Hal-hal buruk, sering datang menghampiri ke dalam pikiran orang-orang yang pikirannya sedang kalut.
"Ini tidak bisa di biarkan. Aku harus menyusul mereka!" gumam Rendy akhirnya. Ia berjalan menuju pintu keluar perusahaannya. Menghampiri mobil kantor yang jarang sekali ia gunakan.
Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, hati dan pikiran Rendy terus menerus di dera rasa gelisah.
Bagaimana tidak, Ros, Herman dan Rico, tidak pernah mengabaikan panggilan telepon darinya seperti sekarang ini. Dan saat mereka susah di hubungi seperti sekarang, Rendy menjadi gusar. Takut jika sesuatu yang tidak dia harapkan terjadi pada ketiga-nya.
Dan firasatnya benar. Tidak meleset sama sekali. Karena Ros dan Herman, saat ini tengah di bawa oleh kedua orang perawat palsu dengan menggunakan sebuah mobil ambulans. Bagitu pun dengan Rico, yang baru saja di temukan oleh beberapa orang yang masuk ke dalam toilet pria.
Pria itu sama tak sadarkan dirinya dengan Ros juga Herman. Tangannya terikat ke belakang, juga tubuhnya terkulai lemas, dengan mata yang terus terpejam, enggan untuk terbuka.
Sedangkan Kayla. Kondisinya juga tak kalah mengkhawatirkan. Kayla enggan tersadar, tekanan darahnya terus menerus, dan detak jantungnya semakin lama semakin cepat berdetak.
Rendy yang baru saja tiba di rumah sakit, di kagetkan dengan kondisi Rico dan Kayla yang sama-sama mengkhawatirkan dan butuh penanganan.
"Bagaimana ini semua bisa terjadi? Ya Tuhan. Firasat ku ternyata benar. Pantas saja hati dan pikiranku terus menerus cemas memikirkan orang-orang yang aku cinta dan aku kasihi. Ternyata, mereka semua sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja!" Rendy mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan. Bersandar pada dinding rumah sakit yang menjadi tempat terakhir Ros dan Herman berada. Juga tempat Kayla dan Rico di rawat saat ini.
Pintu ruang rawat Kayla terbuka. Rendy langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar dengan berbagai pertanyaan.
"Bagaimana keadaan adikku Dok? Apa adikku baik-baik saja? Apa yang sebenarnya terjadi pada Kayla?" tanya Rendy dengan beberapa pertanyaan yang ia tanyakan pada dokter yang memeriksa keadaan Kayla.
"Anda sabar dulu ya Tuan. Berdoa saja, semoga adik anda segera membaik kondisinya," jawab dokter itu tanpa kepastian. Apakah kondisi Kayla baik-baik saja. Atau malah sebaliknya.
Rendy mendesah berat. Di saat seperti ini, dirinya membutuhkan seseorang yang mampu menenangkan-nya. Dan orang yang bisa menenangkan Rendy, entah ada di mana keberadaan-nya.
__ADS_1
Bersambung...