
Siang hari kini telah tiba, keempat orang itu mulai merasa letih setelah beberapa jam lamanya mereka belajar bersama begitu juga dengan perut Nita yang sedari tadi meminta untuk diisi, dan untungnya tidak satu orang pun diantara mereka yang mendengarnya.
Kemudian Nita melirik kearah camilan yang tergeletak diatas meja, rasa ingin memakannya sedari tadi menghantui Nita, namun Bagas Septia dan Argana sama sekali tidak menyentuh cemilan tersebut membuat Nita merasa segan dan juga malu. Kerena Nita tipikal orang tidak suka di bilang rakus, dari pada hal itu terjadi, ia lebih memilih menahan rasa laparnya.
"Kita lanjutkan nanti saja. Kalian pasti sudah lapar" ujar Argana menutup laptopnya. Lalu melihat mereka, "Ayo, kita makan siang dulu".
Mendengar hal itu, kedua mata Nita langsung berbinar-binar kegirangan. "Akhirnya makan juga" ucapnya dalam hati. Ia pun bangkit berdiri bersamaan dengan Septia dan juga Bagas.
Lalu mereka mengikuti langkah kaki kedua Argana menuju dapur. Di atas meja makan sana, telah terhidang banyaknya makanan yang begitu sangat lezat membuat Nita seketika menelan ludah berkata dalam hati.
"OMG.. Hidangan sebanyak ini hanya untuk kami berempat? Masa iya sih?".
"Silahkan duduk nona" ucap ibunya Rehan menyuruh Nita duduk setelah Argana Bagas dan Septia duduk diatas kursi mereka masing-masing.
"Ada apa Nita?" tanya Bagas.
"Tidak ada apa-apa Bagas" senyum Nita. Ia pun mendudukkan diri diatas kursi tepat di samping Septia. Lalu ia memandangi Septia dari samping terlihat begitu sangat elegan layaknya memang anak orang kaya.
"Silahkan diambil nona. Mau makan apa?".
"Biarkan dia sendiri Bi" tegur Argana menyuruh ibunya Rehan sebaiknya pergi saja dari sana. "Kamu bisa ambil sendiri kan?".
"Hahahaha.. Tentu saja aku bisa ambil sendiri Argana. Dirumah juga aku selalu diajarkan untuk mandiri dari pada harus di ambilin sama bibi" jawab Nita melihat makanan Septia yang begitu sangat sedikit.
"Septia kamu lagi diet yah?" tanyanya dengan polos.
Septia mengernyitkan dahi, "Aku tidak sedang diet Nita. Posisi makanan ku saja yang selalu seperti ini. Kenapa? kamu sedang diet.." gantung Septia melihat nasi diatas piring Nita membuat Septia tersenyum merasa lucu. "Oh, ternyata kamu kuat makan yah Nita? Tidak apa-apa, aku rasa itu jauh lebih bagus".
Tidak tau harus bagaimana lagi, kedua mata Nita membulat begitu Septia berkata seperti itu, dan yang ingin ia lakukan saat ini adalah menghilang dari hadapan ketiga orang tersebut yang sudah membuat wajahnya merah tomat menahan rasa malu yang sangat besar ia rasakan.
"Hahahaha.. Tidak Septia, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. OMG makanan ku? kenapa sih akhir-akhir ini aku sering melamun" gumam Nita dengan sengaja agar mereka mendengarnya seolah-olah ia tidak menyadari saat ia menyendok nasi tersebut kedalam piringnya.
"Emang kamu lagi mikirin apa Nita?" tanya Bagas.
"Aakkhhh.. Kamu tau sendiri Gas tugas kuliah kita selalu menumpuk setiap hari. Ya terkadang pikirkan ku kesana selalu sampai aku lupa apa yang sedang aku kerjakan" jawab Nita mengembalikan nasinya ke tempatnya semula hingga nasi yang berada di atas piringnya membuat ia menangis dalam hati.
__ADS_1
"Astaga gini amat menyamar jadi orang kaya. Mana perut ku sangat lapar sekali, kalau hanya makan segini dong, mana cukup. Aku yakin setelah itu cacing dalam perut ku akan bertengkar habis-habisan" batin Nita.
Lalu melihat mereka bertiga yang sedang makan dengan cara layaknya orang kaya benaran bukan seperti dirinya.
"Ya sudah. Pulang dari sini baru aku cari makan lagi" Nita pun segera melahap makanannya.
.
Selesai makan siang, keempat orang itu kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Namun Nita yang masih sangat kelaparan, ia tampak tidak bisa fokus dengan materi mereka yang sedari tadi memegangi perut ratanya.
"Nita, kamu kenapa sedari tadi seperti cacing kepanasan?" tanya Septia menyadarinya.
"Hhhmmm? Akh, tidak apa-apa Septia. Aku.. Aaku ke toilet sebentar yah" Nita melangkah pergi meninggalkan mereka menuju toilet. Dan di dalam sana ia merasa tiba-tiba mules dan pikiran Nita langsung tertuju kepada perutnya sedari kemarin belum ia isi akibat mengingat mahalnya makanan yang kemarin mereka makan.
"Aduh.. Kenapa perut ku sakit sekali? akh" lalu Nita melihat pantulan wajahnya di depan cermin. "Bagaimana ini? Perut ku benar-benar sakit sekali" ia mendudukkan diri diatas Klose sembari menyandarkan tubuhnya dibalik tembok.
Hingga kini Nita menghabiskan waktu 15 menit lamanya di dalam kamar mandi, tetapi tubuhnya semakin terasa lemas dan pusing membuat ia tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan penglihatannya mulai terasa kabur.
"Siapa pun tolong keluar aku dari dalam kamar mandi ini".
Kemudian Argana berjalan memasuki kamar mandi.
Ceklek!
"To-tolong aku...
BBRRAAAKK...
Begitu Argana membuka pintu kamar mandi, Nita langsung jatuh pingsan. "Nita?" kagetnya.
Argana lalu membawa tubuh Nita diatas pangkuannya menepuk-nepuk wajahnya dengan lembut.
"Nita bangun Nita bangun".
Tidak ada jawaban.
__ADS_1
Argana pun tidak punya pilihan, ia segera membawanya keluar dari dalam sana membawa kedalam kamar tamu yang berada di lantai bawah. Setelah itu Argana memanggil dokter yang sering keluarganya gunakan.
Tidak menunggu lama, seorang pria berjas putih memasuki istana milik Lucas membuat Bagas dan Septia yang melihatnya dibuat kebingungan.
"Selama sore, tuan Argana ada?" tanyanya kepada Bagas.
"Apa?" bingung Bagas. "Argana? Ada apa dengannya dok..
"Disini" potong Argana menyuruh si dokter tersebut memasuki kamar yang sedang Nita tempati.
Bagas dan Septia yang penasaran langsung mengikuti langkah kaki si dokter memasuki kamar yang baru saja Argana tunjuk.
"Ada apa Arga?" tanya Bagas.
"Tadi aku menemukan Nita jatuh pingsan di kamar mandi".
"Apa? Bagaimana bisa?".
"Aku juga enggak tau Gas. Kita dengarkan saja apa kata dokter nanti" jawab Argana melihat si dokter memeriksa tubuh lemas Nita.
Setelah itu si dokter melihat mereka, "Tidak apa-apa. Pasien hanya kelelahan saja".
"Oh begitu ya dok?".
"Mmmm.. Tapi, seperti yang saya lihat dia kekurangan asupan gizi yang sehat. Apa pasien sedang melakukan diet?".
"Diet?" Argana melihat Bagas.
"Akh iya dok. Aku ingat perkataan Nita kemarin kalau dia sedang diet dok" jawab Bagas.
"Mungkin karna itu tubuh dia jadi lemas yang dapat mengakibatkan pasien jatuh pingsan. Sebenarnya tidak masalah asalkan pola makan dia tetap terjaga. Kalau gitu saya permisi dulu, silahkan obatnya diterbus disini".
"Iya dok. Terima kasih banyak".
"Sama-sama. Permisi".
__ADS_1
Kemudian Bagas menatap wajah Nita yang benar-benar terlihat pucat pasi seperti sedang penyakitan. "Untung saja kamu memasuki kamar mandi itu Ga. Kalau tidak, kita tidak tau apa yang akan terjadi kepadanya".