Dia Milikku

Dia Milikku
Hanya cinta sepihak!


__ADS_3

"Ros...," teriak dua orang wanita dan satu orang pria dengan histeris. Mereka bertiga berlarian menghampiri Ros yang baru saja tiba di depan kantor WO nya.


"Ros..., aku kangen sekali!" Mila memeluk Ros dengan sebegitu eratnya.


"Aku juga Ros..., Aku juga sangat merindukanmu!" Nina ikut berhamburan memeluk Ros yang masih dipeluk oleh Mila, hingga kini ketiga nya saling memeluk.


"Anto juga kangen sama mba Ros, tapi Anto gak mau meluk mba Ros, takut!" ujar Anto yang berada di dekat ketiga wanita yang sedang berpelukan dengan eratnya.


Ros, Mila dan Nina saling memandang, hingga di detik kemudian, mereka tertawa secara bersamaan. Baru mengerti dan paham, apa maksud dari ucapan Anto barusan. Dan tentu saja, takut kepada siapa lagi Anto, jika bukan takut kepada Rendy, yang sudah pasti akan sangat marah jika mengetahui istrinya dipeluk oleh pria lain, walaupun pria itu adalah Anto.


Hahaha...,


Tawa tiga orang wanita pecah saat mereka melihat ekspresi wajah Anto yang kecut dan cemberut dengan wajah yang ia tekuk.


"Anto! jangan kamu buat jelek itu muka! haha!" Mila tertawa dengan terbahak-bahak, sambil menunjuk wajah Anto.


"Ish..., mba Mila ini, suka sekali menertawakan Anto!" Anto mengibaskan tangannya ke hadapan wajah Mila.


"Jangan ditertawakan terus Mila, nanti Anto marah! haha!"


"Apa maksudmu Nina, kau menyuruh Mila untuk berhenti tertawa, dan kau malah menertawakan Anto!" Mila menoyor kepala Nina hingga kepalanya terdorong ke samping.


"Senang sekali ya..., kalian bisa menertawakan ku!" Anto bersidekap dada, memandang Mila dan Nina dengan tatapan sinis.


"Oh..., ayolah Anto, kita berdua hanya bercanda saja! bukan begitu Nina?" Mila meminta persetujuan dari Nina yana masih enggan untuk menghentikan tawanya.


"Hem..., benar, benar, kita berdua hanya bercanda saja! jangan dimasukkan ke dalam hati ya Anto," balas Nina dengan sisa tawa yang masih belum sepenuhnya menghilang dari bibirnya.


"Benar kata Nina, jangan dimasukkan ke dalam hati, masukkan saja kedalam jantung! Hahaha!" seketika itu juga, tawa mereka pecah kembali, Ros pun ikut tertawa lagi dibuat nya, Mila benar benar membuat semau yang ada disana tertawa terbahak-bahak hanya karena masalah sepele yang dibuat menjadi berbagai macam candaan.


Herman yang sedari tadi hanya diam pun, ikut merasakan gelak tawa yang tiba-tiba saja menggelitik naluri tawa nya.

__ADS_1


"Hahaha! mereka memang kompak! semua teman nyonya, benar benar menyenangkan!" gumam Herman yang isinya berbagai macam pujian untuk para teman Ros.


"Sudah, sudah!" Ros menghentikan gelak tawanya, menghentikan juga tawa para temannya yang terus mengejek Anto, "ayo kita masuk!" ajak Ros kemudian, ia geleng geleng kepala melihat Mila dan Nina yang sangat senang mengerjai anto.


"ayo, ayo..., aku juga sudah lelah tertawa!" balas Mila, sedangkan Anto memalingkan wajahnya kesal.


"Kalau sudah lelah, maka hentikanlah!" ketus Anto.


"Iya Anto..., kita hentikan tawa kita!" balas Ros, "ayo..., aku sudah sangat merindukan ruangan ku!" lanjut Ros yang hendak berjalan, namun langkahnya terhenti saat ia tiba-tiba teringat akan sesuatu, lebih tepatnya seseorang.


"Emh, Herman?" panggil Ros saat ia hendak berjalan, lalu tiba-tiba membalikkan badannya.


"Ya Nyonya!" jawab Herman yang sedari tadi terdiam di dekat mobil, menyaksikan drama pertemuan pertama mereka kembali setelah beberapa Minggu mereka berpisah.


"Kamu pulang saja Herman, kemungkinan, saya sampai siang disini!" ujar Ros.


"Tidak usah Nyonya, saya akan menunggu Nyonya disini! Tuan sudah memberi perintah kepada saya agar saya menemani nyonya sampai nyonya pulang dari sini!" jawab Herman.


Cukup diam dan dengarkan! ucapan Rendy padanya sebelum Rendy pergi ke kantornya.


"Ayo Herman, ikut saya ke dalam!" ajak Ros sambil berjalan bergandengan dengan Mila dan Nina, yang masih menempel di sisi kanan dan kirinya. Herman pun menganggukkan kepalanya pelan, berjalan mengekori Ros dan ketiga temannya.


"Saya tunggu disini saja Nyonya?" Herman menunjuk sofa di ruang tunggu. Matanya berjalan ke sana kemari, menyusuri setiap sudut yang ia temui di ruangan itu. Sangat indah. gumamnya.


"Saya akan ke atas!" ujar Ros yang berjalan bersama Anto, Mila dan Nina menuju pintu lift, berjalan masuk dan menekan tombol paling atas.


Ting! pintu lift terbuka, mereka semua berjalan keluar menuju ruangan Ros.


"Aku merindukan ruangan ku!" ujar Ros yang langsung membuka pintu ruangannya. Ros menatap ruangannya dengan seksama setelah pintu terbuka. Melihat kesana kemari. Tidak ada yang berubah. gumamnya, dengan mata yang terus bergerak, menyusuri setiap sudut ruangannya yang masih terlihat sama seperti sebelumnya. Sebelum ia menikah dengan Rendy.


Ya...,

__ADS_1


Disinilah pertemuan pertama Ros dan Rendy sebelum mereka berdua menikah. Pertemuan awal setelah sekian tahun lamanya mereka tidak bertemu, bahkan Ros sudah melupakan Rendy, karena tidak adanya suatu hubungan apapun dari keduanya. Hanya cinta sepihak! yang Rendy pendam untuk Ros selama beberapa tahun lamanya. Hingga-


"Aku mencintaimu Maura Rosalinda!" ungkapan cinta itu masih terngiang-ngiang di telinga Ros hingga saat ini. Bahkan rasa masih belum percaya pun masih sering terlintas di benak Ros. Bahwa dirinya kini telah berstatus sebagai nyonya Rendy Pradana.


"Kursi itu!" Ros menatap kursi panjang di ruangannya, tempat dimana dulu Ros tak mengenali Rendy sama sekali. Menganggap Rendy sebagai calon suami dari Kayla, temannya sendiri, sekaligus orang yang memakai jasa WO nya.


"Kay, kenapa calon suamimu diam saja?" tanya Ros saat pertama kali melihat Rendy, dengan wajah dingin dan datarnya, menatap tidak suka kearahnya.


"Haha! Calon suami? Dia?" Kayla menutup mulutnya, tertawa dengan gemas, "*Ros..., dia ini Rendy! kak Rendy! dia kakak ku!"


"Apa? kakak*!"


Aku selalu saja tertawa saat mengingat semuanya. Pertemuan pertama ku dengan kak Rendy! wajahnya yang dingin dan datar! sikapnya yang cuek dan menyebalkan! Semuanya terlintas begitu saja, semua momen, saat aku berada di ruangan ku ini.


Hingga-


"Ros..., Ros...?" panggilan itu membuyarkan lamunanku akan kisah perjalanan cintaku yang terukir di ruangan ini berasal Rendy.


"Ros?" tepukan keras mendarat di bahuku. Entah karena aku terlalu senang atau apa? karena mengingat kembali pertemuan awal ku dengan kak Rendy ditempat ini setelah sekian tahun lamanya.


Namun, tepukan keras itu berhasil membuyarkan lamunanku. Mataku mengerjap, seketika aku menoleh ke arah sumber suara dan tepukan di bahuku.


"Ros? apa kamu tidak papa?"


Bersambung...


Maafkeun readers...,😑 aku baru bisa up lagi, beberapa hari ini aku gak up!


Adakah yang merindukanku?🙃


Kopi, kopi, kopinya mana kopi🙃

__ADS_1


__ADS_2