Dia Milikku

Dia Milikku
Kata maaf


__ADS_3

"Terutama kau Herman!" Rendy menunjuk wajah Herman dengan tatapan mata yang tajam, membuat Herman kesulitan mengeluarkan karbondioksida dalam tubuhnya, untuk ia ganti dengan oksigen yang dibutuhkan oleh tubuhnya.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan!" ujar Rendy kemudian.


Gleg!


Wajah Herman memerah. Kenapa Rendy bisa tahu isi pikirannya. Batin Herman.


"Kenapa? Kau heran? Sama, aku juga! Hahaha!" di tengah-tengah keseriusannya, Rendy malah tertawa terbahak-bahak di akhir kalimatnya. Membuat semua orang yang mendengarnya terheran-heran dengan sikap Rendy yang mereka pikir aneh.


"Anda sedang melawak ya Tuan?" pikir Herman.


"Kau mirip orang gila yang berada di rumah sakit jiwa Rendy!" ujar Mila dengan lantang, dan wajah yang ia buat aneh saat mengatakannya pada Rendy.


"Aku tidak peduli! Terserah kau mau berkata apa. Aku tidak akan marah atau membencimu sama sekali!" diluar dugaan , Rendy mengatakan hal yang tidak terduga sama sekali.


Ros, Mila, Nina, Anto, Herman dan Eva mengernyit. Apa yang baru saja mereka dengar itu benar? mereka semua bertanya tanya lewat pandangan mata mereka, yang saling menatap setelah mendengar ucapan Rendy yang di anggap di luar nalar.


"Kenapa kalian?" tanya Rendy kemudian


Semua orang itu saling pandang, lalu mereka memandang Rendy dan menggelengkan kepala mereka secara bersamaan, seperti sebuah anak TK yang mendapatkan intrusi dari gurunya.


"Kak?" panggil Ros pelan.


"Ya sayang?" Rendy menoleh, menatap Ros dengan tatapan menghangatkan. Sedangkan yang ditatap, ia sedang menundukkan kepalanya dalam. Tengah mengakui kesalahan, kebodohan dan kecemburuan nya yang tidak beralasan. Tanpa mau menunggu dan mendengarkan dulu penjelasan. Sungguh Ros di buat malu oleh tingkahnya sendiri.

__ADS_1


"Maafkan aku!" kata maaf yang tulus keluar dari mulut manis Ros, membuat Rendy tersentuh. Bahkan, bukan hanya Rendy saja yang merasa tersentuh. Semua teman Ros dan juga sopirnya ikut tersentuh dengan ucapan kata maaf Ros yang dalam dan manis.


Mereka semua menatap dan menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri. Bagaimana seorang Ros mengakui kesalahannya sendiri kepada suaminya di depan orang banyak. Sungguh tindakan yang luar biasa dan patut untuk di contoh. Disaat seseorang bersalah pada pasangannya, memang jalanan terbaik adalah mengakui kesalahan dan membuat nya maaf dengan tulus. Dan itu juga yang tengah di lakukan Ros kepada suaminya. Meminta maaf dengan tulus.


"Hei, sayang? kenapa kau menunduk seperti itu?" Rendy menyentuh dagu Ros, di naikkan nya wajah Ros agar Rendy dapat melihat wajah serta sorot matanya yang membuat Rendy begitu tergila.


"Aku bersalah! Maafkan aku!" jawab Ros yang masih tak berani untuk menatap mata Rendy.


"Kau tahu! Aku senang kau cemburu kepadaku. Itu artinya, kau benar-benar mencintaiku. Bukan begitu?" ketulusan yang Rendy ucapan membuat Ros terdiam namun hatinya berbunga. Menyadari jika apa yang dikatakan oleh Rendy adalah sebuah kebenaran. Ros memang sangat mencintai Rendy. Jadi wajar saja jika ia cemburu kepada suaminya sendiri. Karena dengan tiba-tiba, seorang wanita cantik yang belum pernah di lihat dan dikenal Ros datang memanggil dan menghampiri Rendy. Sungguh Ros cemburu dibuatnya.


"Apa yang aku katakan itu semua benar?" tanya Rendy setelah menjelaskan kejujuran hatinya. Dan Ros pun menganggukkan kepalanya, laku Rendy membawanya dalam dekapan yang menghangatkan.


"Hei!" Teriak Mila, "apa kalian akan terus menerus menunjukkan kemesraan kalian di hadapan kamu?" ia menggerutu, selalu saja kesal di buat dua orang yang sedang di mabuk cinta itu.


"Kau selalu saja iri!" balas Rendy.


"Tenang bro!" ujar Anto yang tiba-tiba nyeletuk di tengah perdebatan antara Rendy dan Mila.


"Haha! apa aku tidak salah dengar?" Herman tertawa dengan senangnya, "apa barusan katamu? Bro! kau mengatakan kata bro? sama sekali tidak pantas," ujar Herman kemudian.


"Benar Herman! Dia ini sama sekali tidak pantas mengatakan kata itu! Benar-benar lucu kedengarannya. Hahaha!" Rendy ikut menertawakan Anto, sama seperti Herman menertawakannya.


"Kalian berdua memang suka ya menggoda Anto?" ujar Ros.


"Tidak apa mba Ros! Nanti akan ada saat, Anto akan membalas semua ledekan mereka berdua ini!" balas Anto dengan ekspresi wajah yang serius, dengan mata yang ia arahkan ke arah wanita cantik yang sedari tadi berdiam diri di samping Rendy. Yaitu Eva.

__ADS_1


"Siapa yang terus kau lihat itu?" tanya Rendy sambil melihat arah mata yang Anto perhatikan.


"Eva?" ujar Rendy setelah mengetahui jika Anto sedang menatap sekretaris nya itu, "apa yang kau lihat itu? kau mau matamu di colok olehnya?" Rendy mempraktekkan mata di colok oleh tangannya sendiri, membuat Anto merinding namun juga geli.


"Ih..., mas ganteng apaan sih! m" ujar Anto setelah melihat gerakan tangan Rendy.


"Apa kalian akan terus membiarkan Eva berdiam diri di sana sampai ia lelah dan terjatuh pingsan karena terus menerus berdiri seperti itu?" Anto bersuara, sorot matanya terus tertuju pada sosok Eva, dengan sesekali ia iringi bibirnya dengan senyuman yang sulit untuk di artikan.


"Kenapa pria setengah jadi ini? Apa dia tertarik kepada asistennya Tuan Rendy?" Herman bertanya tanya dalam hati. Memperhatikan Anto yang terus menatap, hingga tersenyum ke arah Eva. Dan yang membingungkan lagi, ternyata Eva membalas senyuman Anto dengan sangat manis, membuat Herman menjadi semakin penasaran di buatnya.


Tidak hanya Herman, Ros, Mila bahkan Nina pun sama penasarannya di buat Anto. Karena tidak biasanya Anto bersikap demikian kepada seorang wanita.


"Apa dia sedang jatuh cinta?" gumam Ros dalam hati.


"Uuuh..., Anto, tak ku sangka! seleraku bagus juga! ckckck," Mila terkekeh dalam hati.


"Aku tidak salah lihat kan? Anto tersenyum pada seorang wanita? Apa jangan-jangan?" Nina menghentikan pikirannya saat mengingat sesuatu. Hal yang selama ini di sembunyikan oleh Anto, mengenai identitas sang kekasih yang masih misterius dan tidak di ketahui siapa dia? yang mana orangnya? bagaimana bentuknya? Nina dan Mila tidak mengetahui sama sekali. Tentang jati diri sang kekasih Anto yang sedikit demi sedikit telah merubah Anto menjadi sosok pria yang sesungguhnya.


"Maafkan aku Eva, aku sudah salah paham kepadamu!" ujar Ros sambil mempersilahkan Eva duduk di sampingnya.


"Terima kasih Nyonya!" ujar Eva setelah di persilahkan duduk oleh Ros, "Anda sama sekali tidak perlu meminta maaf nyonya, saya mengerti dengan kondisi dan suasana hati nyonya, saat seorang wanita yang tidak dikenalnya datang menghampiri dan memanggil nama suaminya. Sudah pasti sakit rasanya," lanjut Eva panjang-lebar.


"Sekali lagi maafkan saya Eva! Saya benar-benar tidak bermaksud untuk menuduh kamu sebagai wanita lain suami saya!" Ros benar-benar menyesal dengan semua yang telah terjadi. Ia meminta maaf dengan hati yang bersungguh sungguh.


"Tidak pantas seorang nyonya meminta maaf pada bawahan nya nyonya!" Eva menggenggam tangan Ros yang menyentuh tangannya.

__ADS_1


"Kenapa? Karena kau tidak mau memaafkan ku?" Ros menatap Eva dalam.


Bersambung...


__ADS_2