Dia Milikku

Dia Milikku
Nasihat


__ADS_3

"Huh! Capek juga ternyata. Menghajar dan mengejar anak itu habis-habisan," keluh Ajeng saat berada di meja makan.


Pelayan datang dan memberikan segelas air jeruk dingin. Dengan secepat kilat, Ajeng mengambil gelas tersebut sebelum si pelayan menawari dan memberikan.


"Hah! Segarnya... Tambah lagi Bi-- Kalau bisa, ambil sama teko-tekonya sekalian! Saya haus!" ujar Ajeng. Sedangkan pelayan yang di panggil Bibi itu melongo, melihat tingkah dari ibu pemilik rumah mewah ini.


"Kenapa diam? Cepat ambilkan!" bentak Ajeng. Pelayan itu terlonjak. Dirinya baru saja melamun. Dan terbangun dari lamunan, karena bentakan.


"Ba-baik Nyonya besar," jawab si Bibi pelayan dengan gelagapan.


"Orang lagi haus juga... Di suruh malah melamun," gerutu Ajeng sambil mengibas-ibaskan tangan ke lehernya.


Udara di dapur cukup dingin. Namun, entah mengapa, tubuh Ajeng merasa sangat kepanasan, apalagi hati dan kepalanya. Apa karena dirinya baru saja marah? Jadi tubuhnya begitu kepanasan.


"Ini Nyonya," Bibi pelayan datang kembali dengan satu teko penuh air jeruk dingin yang langsung di berikan pada Ajeng.


Dengan wajah jutek, Ajeng menerima teko berisi air jeruk tersebut.


"Gak sama makanannya Bi? Masa saya harus minum satu teko begini, gak pake makan! Kalau perut saya kembung, penuh air gimana? Bibi mau, tanggung jawab?" ujar Ajeng masih dengan wajah jutek, serta nada bicara yang ketus.


Bibi pelayan itu menjadi serba salah, 'bukannya tadi dia yang minta sendiri ya?' pikir si Bibi. Namun, ia bisa apa? Dirinya hanya pelayan, dan tak mungkin menjawab ucapan sang majikan. Walaupun sebenarnya, bukan Ajeng yang menggaji pekerjaannya. Tapi, wanita di hadapannya ini adalah ibu dari majikannya.


"Kenapa bengong lagi?" tanya Ajeng setelah menghabiskan satu gelas lagi air jeruk dingin.


"Eh, enggak Nyonya-- Nyonya mau saya masakin apa?" tanya Bibi pelayan seramah mungkin.


"Buatin saya soto Bandung kayak buatan menantu saya Bi," jawab Ajeng.


Bibi pelayan itu melongo kembali.


"Soto Bandung?" gumamnya.


"Iya... Soto Bandung! Masa kamu gak bisa bikinin saya soto Bandung, sih!" ejek Ajeng pada pelayan rumah Rendy dan Ros tersebut.

__ADS_1


'Saya memang gak bisa Nyonya. Saya 'kan dari Minang, bukan dari Bandung!' balas si Bibi dalam hati.


"Bengong terus. Kalau kamu nanti kesambet, jangan bawa-bawa saya ya?" gerutu Ajeng. Bibi pelayan terdiam.


"Kalau kamu gak bisa bikinin saya soto Bandung, kamu bikinin saya makanan yang lain saja. Kalau bisa, yang udah ada di dapur aja! Yang udah siap-- Saya udah laper! Kalau nungguin kamu masak, bisa-bisa saya pingsan nanti, karena kelaparan nungguin kamu masak!" ujar Ajeng panjang lebar. Namun, dengan sabar si Bibi pelayan itu mendengarkan, lalu berpamitan untuk mengambil makanan.


Sepuluh menit berlalu. Bibi pelayan datang dengan sebuah meja dorong yang di atasnya sudah terdapat beberapa macam lauk pauk yang menggugah selera.


Sambal ijo, kerupuk, rendang, gulai ikan, lalapan dan beberapa makanan pelengkap lainnya sudah tersedia, termasuk juga sebakul nasi hangat yang baru saja di ambil dari rice cooker.


Mata Ajeng berbinar, lidahnya hampir saja meneteskan air liur saking tergoda nya dengan masakan yang di bawa oleh sang pelayan.


Dengan gerakan tangan yang sigap dan telaten, si Bibi langsung menghilangkan semua makanan yang ada di atas meja dorong, ke meja makan. Membuat Ajeng semakin tak tahan ingin segera menyantap makanan menggugah selera itu.


"Mau kemana Bi?" tanya Ajeng setelah di Bibi selesai dengan tugasnya.


"Saya mau balik lagi ke belakang Nyonya," jawab si Bibi sopan.


...***...


Sudah pukul sepuluh malam. Namun, tos tak kunjung pulang juga. Rendy menanti dengan cemas, hatinya sudah tak karuan. Walaupun ia tahu, bahwa sang istri tengah berada di rumah mertuanya, yaitu Mamah Maya. Namun, tetap saja. Hatinya gelisah.


"Apa kamu akan diam saja?" tanya Ajeng yang tiba-tiba saja sudah berada di hadapannya.


"Maksud Mamah?" alis Rendy bertaut.


"Apa kamu akan diam saja dengan kesalahpahaman ini? Mungkin saja saat ini, hati Ros sudah mulai membaik, karena telah di sirami nasihat-nasihat positif oleh Mamahnya," ucapan Ajeng ada benarnya. Mertuanya itu, bukan tipe wanita yang selalu mencampuri urusan anaknya. Bahkan, mertuanya itu, sering kali memberikan nasihat positif yang membuat hubungannya dan Ros semakin dekat.


"Ikut Rendy Mah!" Rendy bangkit, ia langsung menggandeng tangan sang Mamah dengan cepat.


Tapi, Ajeng menepisnya, "kemana?" tanyanya.


"Menjemput menantu kesayangan Mamah lah, apalagi!" jawab Rendy pasti. Dirinya yakin, jika apa yang di ucapkan oleh Mamah Ajeng itu benar. Mamah Maya, pasti sudah menasehati Ros, agar jangan mudah mengambil keputusan dalam hati dan suasana yang panas.

__ADS_1


"Tunggu!" ujar Ajeng, menghentikan kembali langkah Rendy yang baru satu langkah.


"Mau apa lagi sih Mah?" Rendy kesal. Tadi, Mamah nya yang menyuruhnya untuk tidak tinggal diam. Sekarang, dia juga yang menghambat kepergiannya untuk menjemput sang pujaan hati pemilik tualang rusuk yang hilang satu.


"Sebentar saja!" Ajeng mendelik menjawab ucapan anaknya. Membuat Rendy langsung bungkam dan terdiam.


"Menyeramkan!" gumam Rendy setelah Mamah nya pergi entah untuk apa.


Lima menit!


Sepuluh menit! Hingga--,


Dua puluh menit, Mamahnya baru saja kembali dengan dandanan yang berbeda dari sebelumnya.


Ajeng yang tadinya memakai baju tidur, kini berganti dengan pakaian yang membahana, seperti biasanya.


"Mamah mau ke mana?" tanya Rendy keheranan.


"Mau ke mana lagi? Tentu saja mau menjemput menantu kesayangan Mamah!" jawab Ajeng yang langsung pergi meninggalkan anaknya yang terheran.


...***...


"Jangan dengarkan bisikan setan Ros. Kadang, mata itu bisa menipu. Yang terlihat, belum tentu itu benar," nasihat Mamah Maya untuk anaknya.


"Tapi Ros melihatnya sendiri Mah. Ros juga mendengar langsung perkataan dari mulut Anita," ungkap Ros.


"Apa kamu lebih memercayai orang lain dari pada suamimu sendiri?" tanya Mamah Maya. Ros tertegun. Apa yang di ucapkan Mamah Maya benar. Tidak sepantasnya, ia lebih memercayai ucapan orang lain, dari pada suamimu sendiri.


"Jangan terbawa emosi Ros. Karena emosi bisa membawa kehancuran. Dengarkanlah dulu penjelasan suamimu, sebelum menyimpulkan sesuatu!"


Benar! Apa yang Mamahnya ucapkan itu sangat benar. Dirinya sudah terbawa emosi, juga termakan ucapan Anita yang bisa saja memang sengaja ingin menghancurkan kehidupan rumah tangganya.


"Mamah tidak mau kamu menyesal Ros!" ungkap Mamah Maya, dan Ros langsung menganggukkan kepalanya, ia juga memeluk wanita baik hati nan bijaksana yang telah merawatnya dengan sepenuh hati.

__ADS_1


__ADS_2