Dia Milikku

Dia Milikku
Sayang


__ADS_3

"Hei, sayang?" panggil Rendy dengan jeda pada Ros.


"Hmm..." jawab Ros.


"Apa tidak bisa pelan pelan sedikit makannya?" ucap Rendy yang khawatir, karena Ros makan terlalu cepat, dan terkesan rakus.


"Kenapa?" tanya Ros dengan mulut penuh.


"Nanti bisa terseda..." belum sempat Rendy menyelesaikan ucapannya, Ros sudah benar tersedak.


Uhuk, uhuk, uhuk...


"Aku kan sudah bilang, pelan pelan makannya, kenapa kau masih ngeyel juga!" ucap Rendy sembari memberikan segelas air putih pada Ros.


Ros menerima gelas itu dan meminumnya dengan cepat.


Hah, hah,


Napas Ros terengah-engah, seperti sudah berlari tanpa henti.


"Tenang... Sudah? Merasa lebih baik?" ucap Rendy lembut sambil mengusap usap punggung Ros.


Yang di khawatirkan malah menunjukkan deretan giginya yang rapi dan bersih.


"Kamu benar benar ya?" ucap Rendy setelah melihat deretan gigi Ros.


Ros yang baru saja tersedak dan di beritahu, bukannya merasa bersalah, malah menunjukkan giginya pada Rendy, membuat Rendy ingin sekali menciumnya.


"Maaf, maaf, aku lapar sekali, rasanya sudah beberapa hari aku tidak makan!" ucap Ros yang kembali meneruskan makannya.


"Pelan pelan," ucap Rendy mengingatkan.


"Iya sayang..." jawab Ros, membuat Rendy menghentikan suapan yang hendak masuk ke mulutnya.


"Apa? kau memanggilku apa barusan? aku kurang jelas mendengarnya," ucap Rendy.


"Apa? memang aku memanggilmu dengan sebutan apa barusan?" ucap Ros yang balik bertanya.


Ros sebenarnya sengaja mengerjai Rendy, ingin melihat bagaimana ekspresi wajahnya saat Ros memanggilnya dengan sebutan sayang.


Rendy mendekati Ros, dan mulai menggelitiknya tanpa ampun.


"Ahahahaha... Ampun, sudah, hentikan, aku minta maaf, ampun," ucap Ros yang tak tahan menahan geli ditubuhnya.


"Cepat katakan? apa yang kau ucapkan padaku barusan?" tanya Rendy sambil tangannya yang mengancam Ros di bawah pinggang.


"Iya, iya, aku bilang sayang padamu, puas!" ucap Ros yang sewot.


"Sekali lagi, aku belum jelas mendengarnya," ucap Rendy yang mendekatkan telinganya ke dekat bibir Ros.


"Sayang, sayang, sayaaaaaa...Ng," teriak Ros didekat telinga Rendy yang membuat Rendy merasa kesakitan di bagian telinganya.

__ADS_1


"Hahaha,"


bukannya marah, Rendy malah tertawa terbahak bahak saat Ros berkata dengan keras ditelinga nya.


Bagaimana tidak?


kata-kata yang Ros teriakkan padanya sungguhlah indah, sakit ditelinga, namun begitu menyentuh hati.


Inikah rasanya orang jatuh cinta?


Rendy belum pernah mengalaminya.


Dan inilah kali pertama Rendy jatuh cinta, cinta yang sudah sekian lama terpendam, akhirnya terbalas jua.


"Kenapa malah tertawa?" selidik Ros.


"Karena aku senang mendengarnya," jawab Rendy begitu ringan, ia bahkan sudah memasukkan kembali sesendok makanan kedalam mulutnya.


Mereka meneruskan sarapan yang sudah melewati jam makan siang dengan sangat bahagia, di pagi pertama mereka sebagai sepasang suami istri.


Setelah insiden yang membuat mereka harus menunggu malam pertama mereka sebagai sepasang suami istri.


Hari sudah mulai petang, namun tampaknya, sepasang suami istri yang baru itu enggan untuk memunculkan batang hidungnya diluar ruangan selain kamar hotel yang tengah mereka tempati itu.


Kenapa demikian?


Karena Rendy melarang Ros untuk pergi meninggalkan kamar, Rendy bahkan membuat Ros tak berani untuk menunjukan batang hidungnya kehadapan semua orang, dengan memberikan jejak jejak merah di hampir seluruh lehernya.


"Apa yang kak Rendy lakukan dengan leherku?" omel Ros sambil membolak-balik, ke kiri dan ke kanan, melihat lehernya yang sudah tertutupi oleh jejak jejak merah yang sangat banyak.


Rendy tersenyum sambil menyenderkan tubuhnya keatas bantal, melihat sang istri yang nampak panik dengan konsep lehernya yang saat ini.


"Apa yang aku lakukan?" Rendy malah balik bertanya.


"Bagaimana aku bisa keluar dengan kondisi leher seperti ini?" ucap Ros yang masih melihat pantulan lehernya di cermin.


"Jadi tetaplah di kamar, tidak usah keluar rumah," jawab Rendy begitu mudahnya, membuat Ros mendelik tajam kearah nya.


----------


Malam mulai larut, Seperti yang sudah Rendy ucapkan pada Ros, Rendy akan membuat Ros merintih tanpa ampun, dan ucapan Rendy benar benar Rendy buktikan, malam ini.


Lagi dan lagi, Rendy kembali menggerayangi Ros dengan ganasnya, seperti tak pernah puas.


Ros tak bisa berbuat apa apa, ini memang sudah kewajibannya sebagai seorang istri untuk melayani suaminya.


Tapi Ros benar benar lelah, kenapa suaminya itu tak pernah puas dan lelah untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang suami? Ros bertanya tanya?


Mungkinkah ini karena mereka masih menjadi pasangan baru? apa setelah cukup lama, kondisinya akan sedikit berubah?


Mungkin Ros merasa lelah, namun bersamaan dengan itu, tubuhnya pun ikut menikmati apa yang suaminya itu lakukan padanya.

__ADS_1


Setiap sentuhan yang Rendy lakukan pada Ros, benar benar tidak sejalan dengan apa yang diucapkan olehnya.


Sentuhan Rendy begitu lembut dan hangat. Membuat Ros terbuai dengan apa yang Rendy lakukan padanya.


----------


"Kemana aku harus mencari informasi tentang pria itu?" ucap Surya sambil berjalan menuju cafe untuk menemui seseorang.


Entah karena Surya sedang melamun atau apa? tiba tiba saja Surya menabrak seseorang dari arah depan.


Membuat orang yang tertabrak oleh tubuh Surya, menjatuhkan barang belanjaan yang berada ditangannya.


"Maafkan saya nona, saya tidak sengaja," ucap Surya sambil membantu membereskan barang belanjaan yang berjatuhan ke lantai akibat Surya menabraknya.


"Tidak papa tuan, saya juga bersalah karena sudah berjalan sambil memainkan handphone," balas wanita itu.


Mereka sama sama belum mengetahui dan melihat siapa yang sedang mereka ajak bicara itu.


Hingga,


"Terima kasih tu..." wanita yang tertabrak Surya menghentikan ucapannya saat melihat, siapa yang sudah menabraknya itu.


"Kau?" tunjuk wanita itu pada Surya, dengan wajah yang menahan marah.


"Cih! harusnya aku tahu, siapa wanita yang berada dihadapan ku ini," ucap Surya, sambil menyunggingkan sebelah bibirnya.


"Wanita menyebalkan yang selalu membuat hari ku sial saat bertemu dengannya," ucap Surya.


"Hey, siapa yang kau sebut wanita sial dan menyebalkan itu?" bentak wanita itu.


"Oh, kau merasa?" tanya Surya, "baguslah jika kau merasa, jadi aku tidak usah susah susah memberitahu mu," sambung Surya, sambil berlaku meninggalkan wanita itu.


"Hey, tuan sombong! apa maksudmu?" ucap wanita itu yang tak lain adalah Mila.


Berteriak pada Surya, namun yang diteriaki sudah pergi meninggalkannya dengan sejuta kesal di dadanya.


Bersambung...


Hai hai👋👋👋


Apa kabar semuanya?🤗


Para readers setia ku😘


Semoga kita semua sehat selalu ya🤗


Dan selalu ada dalam lindungan Allah SWT.🤲


Mohon bantuannya teman teman, bantu like, komen dan vote cerita ku ya🙏🙏🙏


Dan jikalau kalian berkenan, memberikan saya sekuntum bunga atau secangkir kopi, akan saya terima dengan senang hati.🤭

__ADS_1


__ADS_2