Dia Milikku

Dia Milikku
Rencana ketiga teman Ros


__ADS_3

'Jangan harap aku tidak tau apa yang kalian katakan pada Ibuku. Tunggu saja kalian, pembalasan yang jauh lebih pedas, dari pada di pukul oleh gagang sapu!'


Pesan dari Rendy semalam, sebelum dirinya terlelap, dan masuk ke dalam mimpi yang tak tau bagaimana lanjutannya. Karena sebelum mimpi itu mempunyai akhir, Ajeng sudah terlebih dahulu menyiramnya dengan segelas air hangat.


...***...


"Apa kalian mendapatkan pesan W* yang sama?" tanya seorang wanita yang baru saja sampai di kantor tempatnya bekerja. Wajahnya sedikit pucat, dandannya kurang rapi, tidak seperti biasanya. Cara berjalannya pun, terlihat gontai, lemas dan tidak bertenaga.


"Mbak Mila juga dapat?" tanya si pria yang tak menjawab pertanyaan dari Mila. Pria itu malah balik bertanya, tanpa menghiraukan jawaban yang mungkin di tunggu oleh si orang yang bertanya.


"Benar! Dan semalaman, aku tidak bisa tidur karena memikirkan pesan yang di kirim Rendy padaku," ujar Mila mengadukan.


"Aku juga mendapatkannya! Rasanya sangat menyeramkan! Membayangkannya saja, sudah membuat buku kudukku berdiri, apalagi kalau sampai Rendy benar-benar melakukan aksi balas dendam nya pada kita," tambah Nina yang baru saja tiba. Namun, mendengar percakapan antara kedua temannya.


"Aku juga dapat Mbak Mil, Mbak Nin. Cuman beruntungnya Anto, Anto mendapatkan pesan itu, setelah Anto bangun tidur. Karena semalam, Anto tidur lebih awal-- Tapi tetap saja, perasaannya sama. Anto juga takut! Takut, kalau pesan dari mas Ganteng itu, benar-benar akan kita dapatkan!" papar Anto dengan wajah memelas dan ketakutan.


"Ah... Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Mila terdengar ketakutan. Bukankah dia sendiri yang mempunyai serta memberikan ide gila itu untuk mengerjai Rendy lewat Bu Ajeng? Lalu, kenapa sekarang ia berubah ketakutan setelah menjalankan rencananya.


"Gak tau Mbak Mil. 'Kan yang punya rencana Mbak Mila. Bukan Anto!" ujar Anto melempar kesalahan pada Mila.


"Tapi 'kan, kamu setuju!" balas Mila tak mau kalah.


"Sudah, sudah! Kita semua salah, dan kita harus siap menerima akibatnya!" Nina datang melerai kedua temannya yang saling menyalahkan satu sama lain.


"Tapi, aku takut Nin!"


"Sama Mbak Mil, Anto juga!"


"Kalian pikir, aku gak takut apa?" balas Nina dengan lantang, "sudah. Kita kerja dulu sekarang, baru setelah itu, kita pikirkan bagaimana caranya menghindar dari Rendy," sambung Nina memberi usul. Mila dan Anto langsung mengangguk paham.


...***...


"Mbak, tolong tas yang merk H**** itu!" tunjuk seorang wanita pada pelayan toko dengan nada angkuh. Wanita itu tak lain adalah Anita.


Pelayan toko wanita itu langsung mengambilkan apa yang pembelinya minta dengan senyum ramah, walau sebenarnya, hatinya sedikit tercinta dengan perintah sang pembeli yang terlihat angkuh.


"Ini Kak," ujar sang pelayan sambil meyerahkan sebuah tas bermerek yang harganya sangat mahal, dari sebuah etalase kaca yang besar dan mewah.

__ADS_1


"Ini berapa?" tanya Anita sinis.


"Dua ratus lima puluh juta, Kak!" jawab di pelayan.


"Murah!" Anita mencibir, "ambilkan saya tas yang paling mahal di toko ini," sambungnya semakin di atas angin.


"Baik Kak!" tanpa berkata apa-apa lagi, pelayan itu langsung mengambilkan tas paling mahal yang di minta oleh Anita.


"Ini Kak. Tas paling mahal yang ada di toko ini," pelayan itu menyodorkan dengan hati-hati, sebuah tas mewah berwarna putih.


"Saya gak suka warna putih! Gak ada warna lain?" tanya Anita.


"Tentu ada Kak, sebentar ya, saya ambilkan!" jawab si pelayan toko masih dengan mode sabar yang sudah terlatih. Jangankan satu Anita, sepuluh pembeli seperti Anita saja, ia masih sanggup dan bisa melayani dengan baik.


Beberapa saat berlalu, pelayan itu datang kembali dengan Beberapa tas dari merek yang sama. Namun, dengan warna yang berbeda. Pink, peace, maroon juga hitam. Pelayan itu ambilkan khusus untuk Anita.


"Silahkan Kak!" tanpa panjang lebar, pelayan itu memberikan apa yang Anita minta.


Anita sibuk memilah milih tas mahal mana yang akan ia beli untuk menghabiskan uangnya. Tanpa Anita sadari, enam pasang mata yang tengah menghabiskan waktu untuk mencari ketenangan dari perasaan tidak tenang, tengah menatapnya tajam, dari luar kaca toko yang transparan alias tembus pandang.


Keenam orang itu menatap tajam dan dendam pada Anita. Ternyata, dugaan mereka selama ini pada Anita benar adanya, dan sudah terbukti.


"Kita samperin dia Mbak Mil, Mbak Nin," kata Anto dengan semangat empat lima yang menggebu-gebu dalam dada. Ingin rasanya pria kemayu itu menjambak rambut Anita dengan sekencang-kencangnya, karena telah berusaha menjebak Rendy dan membuat Ros salah paham.


"Jangan sekarang An. Di dalam ada cctv-nya," jawab Mila memberitahu.


"Memang, di luar toko gak ada cctv-nya juga Mbak?" tanya Anto, "ini 'kan di mall Mbak!" sambungnya lagi.


'Plak!'


Mila memukul kepala Anto cukup kencang.


"Sakit Mbak!' keluh Anto.


"Tau! Makannya, kalau bicara itu pikir dulu... Kita ikutin di wanita siluman itu pergi mana aja. Tapi, jangan di kasih pelajaran di mall juga kali, di sini banyak cctv-nya, banyak satpam penjaganya juga. Nanti, bisa-bisa kita kena tangkap dan viral lagi. Memangnya kamu mau?" jelas Mila panjang lebar. Sedangkan Anto hanya manggut-manggut saja tanda mengerti.


"Jangan hanya manggut-manggut aja! Kamu ngerti gak?" tanya Nina.

__ADS_1


"Ya Elah Mbak, dikiranya aku anak kecil apa? Masa gitu aja Anto gak ngerti sih!" gerutu Anto.


"Bagus!" ujar Mila dan Nina nyaris bersamaan.


"Lihat-lihat..." kata Anto pada kedua temannya. Mila dan Nina seketika itu juga langsung menoleh pada sumber perhatian mereka.


Terlihat Anita yang dengan angkuhnya menyuruh-nyuruh pelayan toko dengan sesuka hatinya.


"Saya mau yang ini Mbak!" ujar Anita sambil menunjuk tas berwarna hitam, "berapa harganya?" tanya Anita kemudian.


"Tujuh ratus lima puluh juta Kak," jawab di pelayan sambil tersenyum.


"Lumayan! Bungkusin yang ini ya?" ujar Anita sambil melihat isi dalam tas yang sedang ia pegang. Uangnya masih banyak, dan masih sanggup untuk membeli beberapa mobil mewah.


"Baik Kak!" jawab si pelayan tetap ramah.


Anita mengikuti kemana langkah kaki pelayan itu pergi.


'Kasir!'


Tentu saja Anita akan pergi ke sana. Ia akan melakukan transaksi jual beli dengan pelayan toko.


"Tujuh ratus lima puluh juta 'kan?" tanya Anita.


"Benar kak!" jawab pelayan yang bertugas menjadi Kasir, "mau bayar tunai atau cash kak?" tanyanya kemudian.


"Cash lah!" ketus Anita. Penjaga kasir itu geleng-geleng kepala pelan.


"Nih, uangnya!" dengan sombongnya Anita memberikan uang itu. Pelayan toko dan penjaga kasir semakin geleng-geleng kepala.


Dalam hati mereka berdo'a semoga saja sepatu hak tinggi yang ia pakai, bisa putus di tengah jalan.


"Buruan dong Mbak. Lama amat!" ujar Anita lagi dan pelayan itu langsung memberikan barang yang Anita beli setelah Anita menyerahkan sejumlah uang yang telah menjadi nominal dari harga tas tersebut.


Setelah mendapatkan apa yang Anita mau. Wanita itu berlaku tanpa mengucapkan sepatah kata terima kasih pada kedua pelayan toko.


"Akhirnya... Aku dapat juga tas yang aku inginkan selama ini!" ujar Anita setelah keluar dari toko tas bermerek itu. Namun, baru saja beberapa langkah ia keluar dan berjalan melewati pintu kaca, tiba-tiba saja sepatu hak tinggi yang ia pakai patah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2