
"Maafkan saya pak, Bu! itu sopir saya, dia sedang menunggu saya disana!" ujar Ros menjelaskan, setelah ketiga tamu pentingnya itu melihat Herman yang tengah tertidur pulas di kursi tunggu.
"Saya kira itu adalah suami kamu Ros!" ujar Diana, dan Ros hanya tersenyum kecil.
"Ayo mah, kita pulang, masih banyak urusan yang harus kita lakukan!" ajak suami Diana, hingga akhirnya mereka benar benar pergi dari hadapan Ros, dan juga kantornya.
Setelah mengantarkan tamu pentingnya pulang, Ros dengan perlahan berjalan menghampiri Herman yang tengah tertidur pulas.
"Herman?" panggil Ros.
Tidak ada jawaban!
"Herman?" panggil Ros lagi.
Belum ada pergerakan!
"Herman?" panggil Ros lagi sedikit keras.
Herman masih tak menjawab, tak bergerak, tak juga menandakan bahwa dirinya akan terbangun dengan panggilan Ros. Hingga tiba-tiba
"Woi Herman bangun dong?" suara serak dan besar itu seketika langsung membangunkan Herman, membuatnya kaget bahkan langsung berdiri saking kagetnya.
"Siap Tuan! saya siap menjalankan perintah! saya tidak tidur! saya sudah terjaga!" ujar Herman meracau dengan mata yang tak tahu arahnya, karena setengah sadar. Dan dari sanalah, gelak tawa di mulai. Ros dan juga teman-teman nya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah dan ekspresi wajah Herman yang terkejut dan masih tak sadarkan diri.
Hahahah!
"Lihat wajahnya, hahaha!" seorang pria berkata dengan tawanya yang meledak-ledak.
"Benar benar! dia linglung sekali!" seorang wanita menimpali.
Herman yang mulai sadar pun mengerjapkan mata dan menggelengkan kepalanya kasar, ke kiri dan ke kanan, hingga Herman pun mulai sadar sepenuhnya.
"Kalian ini kenapa sih?" Ros mulai bersuara, walaupun kejadian Herman barusan itu lucu dan mengundang gelak tawa, namun ia merasa kasihan juga kepada Herman, karena telah dikerjai dan di tertawakan oleh Anto dan juga Mila.
"Nyonya!" ujar Herman, "maafkan saya nyonya, saya ketiduran tadi!" ujar Herman sambil menguap, lalu dengan cepat Herman menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Tidak papa Herman, maafkan saya karena sudah membuat kamu menunggu hingga ketiduran di sini!" balas Ros.
"Tidak papa Nyonya, saya yang memaksa untuk menunggu nyonya di sini!" ujar Herman sambil menatap tajam ke arah dua orang yang sudah mengerjainya.
__ADS_1
"Hei, kenapa menatapku seperti itu! aku sudah punya pacar ya?" ujar Mila, dengan memelototi Herman.
"Dih, siapa juga yang mau dengan anda nona? saya kan sudah menikah, untuk apa saya mencari pasangan lagi! anda sama sekali bukan tipe saya!" batin Herman, ia tidak berujar langsung, menjawab ucapan Mila.
Sedangkan Anto, pria itu bergidik ngeri saat Herman juga menatapnya dengan tajam, ia buru-buru berlindung di belakang punggung Ros, menyembunyikan wajahnya dari Herman.
"Anto!" Ros menggerak-gerakkan punggungnya agar Anto keluar dari balik punggungnya itu, "ngapain sih?" tanya Ros kemudian.
"Anto takut mba Ros, dia serem banget!" balas Anto.
"Kenapa pria setengah jadi itu?" batin Ros.
"Kamu juga sih! Ngapain kamu ngagetin Herman segala!" ujar Ros kemudian.
"Salah dia juga mba Ros, ngapain dia di panggilin gak bangun bangun? ya udah Anto bantuin aja biar dia bangun!" Anto membela diri. Dan Herman semakin menatapnya tajam, membuat Anto semakin bergidik ngeri dibuatnya. Ia semakin bersembunyi dibalik punggung Ros, dan Ros pun semakin menggerakkan punggungnya agar Anto menjauhinya.
"Hei, pria setengah jadi, jangan menyentuh nyonya Ros sembarangan!" ujar Herman sambil menunjuk Anto.
"Hei! siapa yang kamu bilang pria setengah jadi itu? enak saja! sembarangan ya, kamu bicara!" tiba-tiba saja Anto meledak-ledak, ia begitu marah dengan wajah yang sudah memerah, bak tomat yang sudah masak.
"Lah! memang iya kan? kamu ini pria apa bukan? pria bukan, wanita juga bukan! terus apa namanya kalau bukan pria setengah jadi?" balas Herman lebih menyakitkan lagi, membuat Anto semakin kesal dibuatnya.
"Mana ada seorang pria merengek pada seorang wanita? pakai acara bersembunyi di balik punggungnya segala lagi!" ejek Herman lagi.
"Sudah! kita ke restoran sekarang?" ajak Ros melerai pertikaian Herman dan Anto. Anto yang tadinya akan menjawab ejekan Herman pun, langsung terdiam dengan wajah super cemberut yang ia perlihatkan pada Ros dan Herman. Dan sekarang gantian, Mila dan Herman lah yang menertawakan Anto, bersama Ros yang ikut andil dalam tawa mereka.
...***...
"Kalian ini kenapa? menjaga satu pria paruh baya saja tidak bisa! memalukan!" hardik Surya pada seluruh anggota, dengan amarah yang menggebu-gebu.
"Maafkan kami pak! kami benar-benar sudah teledor!" jawab salah satu dari anghota Surya.
"Kalian memang teledor! dan pantas untuk mendapat hukuman!" balas Surya.
"Kami siap menerima semua hukuman pak!" jawab hampir semua anggota Surya.
"Akan ku hukum kalian semua nanti! setelah kalian mencari pria tua itu bersama ku!" ujar Surya.
Drettt! drettt! drettt!
__ADS_1
Handphone Surya bergetar, dengan cepat Surya pun mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Ya, hallo!" ujar Surya setelah mengangkat panggilan telepon.
"Gawat pak! gawat!" ujar si penelpon dengan suara yang panik.
"Apa? bicara yang benar!" balas Surya dengan nada bicara yang meninggi.
"Tahanan atas nama Ferro melarikan diri pak!" jawab si penelpon, akhirnya angkat bicara soal kaburnya Ferro.
"Apa?" Surya kaget. Ia begitu geram, dengan apa yang baru saja ia dengar. Baru saja pria paruh baya yang ia tahan kabur, dan sekarang Ferro pun ikut kabur, melarikan diri dari rumah sakit.
...***...
"Hah! ternyata tidak sulit keluar dari tahanan para orang b*d*h itu!" ujar seorang pria paruh baya yang masih belum diketahui siapa namanya itu.
"Kau memang hebat paman!" ujar seorang pria muda di sampingnya.
"Haha! kau pun sama Ferro, aku bangga padamu!" pria paruh baya yang dipanggil paman oleh Ferro memenuhi Ferro sambil menepuk-nepuk bahu Ferro, "kau berhasil kabur juga dari para penjaga rumah sakit itu! kau hebat!" puji nya sekali lagi, membuat Ferro tertawa bangga.
"Kita berdua memang hebat paman!" balas Ferro sambil memberikan segelas wine pada pria yang ia panggil paman.
Dan pria paruh baya itu pun langsung menyambar segelas wine dari tangan Ferro dalam sekejap mata, hingga gelas wine yang ada di tangan Ferro pun kini telah beralih tangan.
"Kita bersulang untuk kehebatan kita dan kebodohan mereka semua paman!" ujar Ferro sambil mengangkat gelas berisi wine di tangannya.
"Bersulang!" jawab pria paruh baya itu.
Ferro dan pamannya pun menghabiskan wine di tangan mereka dalam sekali tegukan, hingga keduanya tampak melayangkan senyum misterius penuh dengan kejahatan.
"Aku akan membalas setiap perlakuan Rendy dan Surya kepada ku paman! akan ku hancurkan mereka semua!" ujar Ferro dengan menyunggingkan sebelah tangannya ke atas, dan pamannya memberikan senyum balasan untuk Ferro atas ucapan yang baru saja ia dengar dari mulut Ferro.
"Aku akan membantumu Ferro! akan ku lenyap kan orang orang yang sudah berani beraninya mengganggu mu dan mengacaukan semua rencana mu pada gadis itu!" balas sang paman pada Ferro, membuat Ferro merasa lega, karena masih ada yang mau mendukung semua rencana jahatnya setelah semua anak buahnya memilih mati bunuh diri.
Bersambung...
Hai hai, selamat malam semua, semoga terhibur ya😜
Otor kembali aktif up lagi nih, setelah beberapa hari gak bisa up karena sesuatu 🙃🙃🙃
__ADS_1