
"Berani sekali orang itu mengganggu ku, saat sedang ada istriku di sini. Dengan pintu yang sudah aku kunci!" gumam Rendy, terus menggerutu hingga pintu ruangannya ia buka.
Ceklek!
Dan pintu terbuka---
"Doni!" kaget Rendy, ia mengernyitkan keningnya. Tidak biasanya adik iparnya itu datang ke kantornya seperti ini. Pikir Rendy, namun ia membuang jauh-jauh pikirannya, dan mempersilahkan Doni masuk.
"Selamat siang kak!" kata Doni memberikan salam.
"Siang!"
"Boleh aku masuk kak?" tanya Doni dengan baik.
"Tentu! Silahkan masuk!" jawab Rendy mempersilahkan, dan Doni pun langsung berjalan masuk, ke dalam ruangan Rendy.
"Selamat siang kakak ipar!" sapa Doni pada Ros setelah ia masuk dan di persilahkan duduk oleh Rendy.
"Jadi..., Ada apa gerangan? Tidak biasanya kau menemui ku di kantor seperti ini? Apa ini mengenai bisnis atau...., Hubunganmu dengan Kayla?" tanya Rendy dengan sedikit nada curiga dan ingin tahu di dalamnya.
"Keduanya kak!" jawab Doni pasti.
Rendy mengernyit. "Keduanya?"
"Benar kak!"
"Katakan!" ujar Rendy dengan tatapan mata mengintimidasi.
"Aku membutuhkan bantuan mu kak! Perusahaan ku sedang berada dalam masalah, dan aku kesulitan untuk menstabilkan nya," kata Doni dengan menceritakan keadaan perusahaan miliknya. Yang tentu saja itu tidaklah benar. Doni hanya ingin menarik simpati Rendy dan Ros, agar perusahaan mereka bisa masuk ke dalam perangkapnya.
"Lalu dengan Kayla?" tanya Rendy lagi, tanpa bertanya lebih jauh mengenai kesulitan yang di alami oleh perusahaan milik Doni.
__ADS_1
"Kayla meminta aku menceraikan nya kak. Karena aku di anggap tidak becus bekerja oleh nya," jawab Doni dengan drama wajah menyedihkan, dan mengharapkan simpatik dari orang yang baru saja mendengar ceritanya itu.
"Tidak mungkin! Adikku Kayla bukanlah orang seperti itu!" ucap Ros tiba-tiba, membuat Rendy dan Doni menatapnya.
"Sial! perempuan ini selalu saja berpikiran positif," ucap Donis dalam hati. Ia memasang senyum kesedihan, atas ucapan Ros yang seperti tidak mempercayainya. Namun, dengan balik wajah yang memperlihatkan kesedihan itu, mengepalkan tangan geram yang tertutupi oleh meja, sehingga tidak siapapun yang dapat melihatnya.
"Apakah kakak ipar mengataiku pembohong?" tanya Doni dengan ekspresi wajah sedih yang semakin mendalam.
"Tidak, tidak, bukan seperti itu! Kau tahu 'kan," kata Ros dengan menggerakkan kedua tangannya ke udara.
"Aku sangat sedih karena kakak ipar tidak mempercayai perkataanku!" wajah Doni semakin memelas, dan wajah kesedihan yang? semakin mendalam ia tunjukkan pada Ros dan Rendy, membuat Ros mengeluarkan kata maafnya.
"Maafkan aku Don, aku tidak bermaksud seperti itu," kata Ros dengan wajah menyesal.
"Tidak apa kak, kau berhak mencurigai ku," kata Doni dengan menghiba.
Untuk sejenak, suasana menjadi hening. Tidak ada satupun dari mereka yang memulai untuk mengangkat topik pembicaraan. Hanya seruan napas teratur dari ketiga orang yang berada dalam satu ruangan itu. Hingga- -
"Apa kak Rendy sama tidak percayanya dengan kakak ipar?" tanya Doni dengan wajah memelas nya. Bahkan terkesan lebih terlihat menunjukkan ekspresi wajah kesedihan. Dan inilah keahlian seorang Doni yang tak satupun di ketahui oleh orang lain termasuk Kayla sang istri, dan keluarganya.
"Aku hanya bertanya Don, karena aku sangat mengenal bagaimana karakter dari adikku sendiri. Dia bukan sosok perempuan yang menilai segala sesuatu dengan nominal uang." Rendy menajamkan matanya menatap wajah Doni. Namun, bukannya Doni menunduk atau memalingkan wajahnya, ia justru menatap balik wajah kakak iparnya itu dengan wajah lantang, seolah ia menang sedang benar-benar berkata dengan jujur. Dan jangan lupakan sorot mata Doni yang sangat sulit untuk di artikan. Membuat Rendy serta Ros bingung, harus percaya atau tidak dengan kata-kata yang Doni ucapkan.
"Lalu, apa yang sebenarnya kau inginkan? Apa yang bisa aku lakukan untukmu?" tanya Rendy kemudian.
"Sebenarnya aku sangat malu, mengatakan ini semua padamu kak. Tapi harus bagaimana lagi. Hampir semua perusahaan menolak untuk membantuku, dan hanya kau lah, satu-satunya orang yang belum menolak ku. Dan aku harap, kakak tidak akan menolak untuk membantu perusahaan ku," tur Doni dengan ekspresi wajah serius, menatap Rendy tanpa henti.
Rendy tampak memperhatikan gestur tubuh Doni yang sudah sangat terlatih. Hingga siapapun tidak akan menyangka, jika Doni sedang membual saat ini.
"Baiklah, aku akan menanam saham di perusahaan mu," jelas Rendy setelah beberapa saat terdiam. Bahkan ia sempat menatap Ros untuk meminta saran, apakah ia harus membantunya atau tidak.
"Kak Rendy serius kak? apa kakak tidak bercanda?" tanya Doni dengan ekspresi senang yang di buat-buat.
__ADS_1
"Kau pikir aku bercanda?" kata Rendy yang balik bertanya.
"Tidak kak, tidak! aku tidak bermaksud seperti itu!" balas Doni dengan cepat, "terima kasih kak, terima kasih kakak ipar Ros!" lanjut Doni dengan senyumnya yang sangat mengambang.
"Tidak usah berterima kasih. Sudah seharusnya aku membantu perusahaan adikku yang sedang mengalami masalah," kata Rendy sambil menepuk-nepuk pelan pundak Doni.
Kata terima kasih yang sangat manis dan terasa tulus, terus membanjiri Ros dan Rendy. Hingga Ros dan Rendy merasa jika Doni memang sedang berkata yang sesungguhnya. Namun, di balik itu semua, terdapat senyum sinis nan puas yang Doni tunjukkan dalam hatinya.
"Selamat datang di jalan kehancuran kalian kakak ipar!" gumam Doni dengan tawa puasnya dalam hati. Ia mengerutuki kebodohan Ros dan Rendy yang dengan mudahnya percaya dengan semua ucapan Doni.
...***...
Beberapa hari berlalu. Hari ini, seperti biasanya. Rendy akan mengantar Ros ke kantornya sebelum Rendy berangkat ke perusahaannya.
"Sayang!" panggil Rendy dengan nada sayangnya. Semakin hari, pernikahan Ros dan Rendy di penuhi dengan kebahagiaan.
"Ya sayang!" sahut Ros, ia mendongakkan kepalanya menatap ke arah Rendy yang sedang mendekapnya di dalam mobil.
"Apa yang akan istriku yang cantik ini lakukan hari ini?" tanya Rendy, dan entah untuk ke berapa kalinya Rendy mengatakan pertanyaan ini kepada Ros.
"Sayang..., Bukankah aku sudah mengatakannya tadi. Aku akan bertemu dengan klienku yang tempo hari aku katakan padamu untuk melakukan tester," jawab Ros untuk kesekian kalinya.
"Haha, sayang, kenapa aku jadi pelupa saat sedang bersamamu!" kata Rendy dengan tawa renyahnya.
Ros kembali mendongakkan kepalanya sambil mengernyit, menatap Rendy dengan tatapan heran.
"Anda memang selalu terlihat bodoh saat sedang bersama nyonya tuan!" batin Herman dengan segala keusilannya yang mampu ia katakan dalam hati.
"Hei Herman, sedang mengataiku apalagi sekarang?" ujar Rendy tiba-tiba.
Bersambung...
__ADS_1