Dia Milikku

Dia Milikku
Bab 18


__ADS_3

Jam istirahat, seperti yang Septia ucapkan tadi. Nita pun membantunya mencari bahan-bahan yang mereka perlukan untuk hari minggu nanti.


"Oh iya Sep. Boleh aku bertanya?" Nita mencoba mengajaknya mengobrol layaknya seorang teman dekat.


"Apa itu?" balas Septia tanpa melihat kearahnya.


"Kamu sudah lama mengenal Argana dan Bagas? Aku melihat kamu terbilang sangat dekat dengan mereka".


"Mmmmm" jawab Septia dengan gumaman.


"Oh.. Jadi kamu sudah lama mengenal dia. Terus, kamu mengenalnya waktu kapan? Maaf yah jika aku mengajukan pertanyaan seperti ini".


"Kenapa? Kamu menyukai salah satu diantara mereka berdua?".


"Kalau aku jawab iya..


"Sebaiknya jangan" potong Septia langsung menatapnya. "Jangan pernah berharap kamu bisa mendekati mereka".


Nita kebingungan, "Kenapa aku tidak bisa mendekati mereka berdua Septia? Apa ada yang salah dengan diriku? Aku cantik dan juga kay..


"Dan juga apa? Sebaiknya kamu menyerah menaruh perasaan kepada mereka berdua. Argana dan Bagas mungkin tidak sebanding dengan keluarga mu meskipun kamu sendiri yang mengakui kalau kamu anak orang kaya. Yah, aku bisa mempercayainya".


"Apa karena mereka berdua anak orang kaya aku tidak bisa berteman baik dengannya?".


"Mmmm.. Kamu tidak melihat disekitar mu? Adakah diantara mahasiswa disini yang berani mendekati kedua orang itu selain kamu yang tidak pernah peduli dengan bisikan mereka yang setiap kali melihat mu mencoba mendekati Argana".


"Dan satu lagi aku ingatkan kamu Nita. Argana sudah memiliki kekasih dan seperti yang aku lihat waktu kami satu sekolah bersama dengannya, dia sangat mencintai wanita itu dan wanita itu jauh lebih cantik dari mu".


"Benarkah?" tanya Nita tidak peduli dengan wanita yang baru saja Septia bicarakan. "Tidak apa-apa kalau Argana tidak membalas cinta ku. Yah ku akui aku menyukainya saat pertama kali aku melihatnya. Tapi tidak salahkan kalau aku memiliki perasaan untuknya".


"Terserah kamu saja kalau kamu tidak mendengar ku. Lagian kamu sendiri yang akan merasakannya nanti. Cepat selesai kan itu, jam istirahat kita tidak banyak lagi".


"Mmmmm" angguk Nita.


_


_


Sepulang kuliah, masih mengingat perkataan Septia sewaktu di perpustakaan. Bagaimana jika nantinya teman-teman satu kelasnya tau kalau ia selama ini bukanlah orang kaya. Apa mereka akan memusuhi dirinya.


Kemudian Nita melihat sekitarnya, ia berharap semoga tidak ada satu orang yang melihatnya berjalan menuju halte bus menggunakan topi di atas kepala.


Begitu ia menaiki bus, baru Nita merasa tenang. Ia lalu melepaskan topi di kepala.

__ADS_1


"Ck hhmmss.. Kenapa pikirkan ku selalu mengingat perkataan Septia yah? Aku rasa tidak ada salahnya aku mencintai Argana. Lagian kenapa emang kalau wanita biasa seperti ku mendekati Argana?".


Ting!


"Selamat bekerja ya sayang. Mama senang mendengar kamu diterima di perusahaan itu, jangan lupa jaga kesehatan. Mama mencintai mu putri ku" isi pesan dari ibu tercinta.


"Iya ma. Doakan Nita sehat selalu ya ma" balas Nita.


Setibanya di gedung perusahaan Hanju, Nita keluar dari dalam bus. Ia berjalan mendekati gedung tersebut sambil bertanya kepada salah satu karyawan dimana ia dapat bertemu dengan petugas cleaning servis yang lainnya.


Setelah itu Nita masuk kedalam, seperti yang karyawan itu ucapkan. Nita langsung melihat rekan-rekannya yang lain telah tiba disana dengan pakaian rapi.


"Hay!" sapa Nita.


"Orang baru juga yah?".


"Iya. Kalian juga?".


"Mmmm.. Kamu masuk saja, nanti mereka akan memberi mu pakaian".


"Iya. Makasih yah" senyum Nita masuk kedalam.


_


_


DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT....


Argana melirik ponselnya, 1 panggilan tak terjawab ia biarkan tampa berniat untuk menjawab panggilan tersebut. Namun tidak sampai disana, panggilan itu kembali berdering di ponselnya. membuat Argana terpaksa harus menjawabnya.


"Aku mencintaimu mu Arga!".


Deng!


Argana pun langsung mengepal kedua tangannya begitu ia mendengar suara yang begitu sangat tidak ingin ia dengar.


"Maaf jika aku sudah keterlaluan mengatakan perasaan ku yang sebenarnya Arga. Dan aku tidak berharap kamu membalasnya, aku hanya ingin menyampaikan perasaan aku yang sebenarnya kalau aku benar-benar sangat menyukai mu. Apa kamu akan memblokir ku lagi Arga?".


Argana kemudian menarik nafas dalam-dalam, ia mencoba menenangkan pikirannya setelah itu ia berkata.


"Apa kamu sudah gila?".


"Mmmmm.. Ini pertama kali aku jatuh cinta Arga. Dan cinta pertama ku adalah kamu dan aku juga tau kalau kamu sudah memiliki kekasih. Tolong maafkan aku".

__ADS_1


Kemudian Argana memanggil namanya, "Jadikan ini yang terakhir kali kamu menghubungi ku. Jangan pernah melampaui batasan mu, aku tidak akan perduli kamu mau siapa. Ingat itu!" tegas Argana dengan tajam.


"Tunggu Arga..


Tuttt.. Tutt.. Tuttt...


"Yaaa.. Dimatin" gumam Nita. "Tidak apa-apa, yang penting aku sudah mengatakan perasaan aku yang sebenarnya. Terserah Argana mau menganggap aku serius atau tidak. Tapi bagaimana kalau nantinya Argana tidak akan sudih lagi melihat ku? Apa dia akan menghindari ku?".


"Astaga! Kenapa aku tidak sampai kepikiran kesana? Bodoh-bodoh, bodohnya kamu Nita. Ais, ini nih orang yang belum pernah pacaran. Ujungnya jadi seperti ini. Aku yakin, besok Argana...


"Hey kamu. Kenapa kamu malah asik berdiri disitu? Kamu enggak mau kerja lagi?" tegur salah satu pegawai melihat Nita bersembunyi dibalik tembok. "Saya bisa loh melaporkan kamu malah asik main-main ponsel disana".


"Maafkan saya Bu. Tadi saya habis menerima telepon" jawab Nita tersenyum tipis kembali bekerja.


"Kebiasaan petugas kebersihan sekarang kerjanya main-main. Kalau enggak suka kerja, sebaiknya kalian mengundurkan diri. Kamu enggak lihat disana sampah menumpuk. Ayo diangkat itu semua. Jangan saya lihat lagi sampah ada disitu".


"Iya Bu. Sekali lagi saya minta maaf".


.


Sedangkan Argana begitu mematikan ponselnya, ia langsung membuang kartunya ke tong sampah agar Nita tidak bisa menghubunginya lagi.


"Dasar wanita tidak waras!" kesal Argana.


Lalu ia melihat ibunya Rehan datang membawa sebuah cemilan kesukaannya.


"Ada apa tuan? Kenapa wajah tuan muda tampak sangat marah?" tanyanya meletakkan di atas meja.


"Tidak ada apa-apa Bi. Makasih ya".


"Sama-sama tuan".


"Oh iya bibi mau memberitahu tuan muda. Putrinya Rehan baik-baik saja setelah semalam dibawa ke rumah sakit. Katanya tuan mudah mengkhawatirkannya".


"Syukurlah kalau putrinya paman baik-baik saja. Aku senang mendengarnya" senyum Argana. "Katakan padanya Bi, biar aku saja yang membayar berapa biaya rumah sakitnya".


"Ekh tidak usah tuan. Rehan masih punya uang membayar biaya rumah sakit putrinya. Jadi tuan tidak perlu repot-repot".


"Tidak apa-apa Bi. Saya tidak akan kehabisan uang hanya untuk membayarnya" lalu Argana mengeluarkan kartu hitamnya. "Ini Bi. Gunakan kartu ini untuk putrinya".


"Tapi tuan..


"Tidak apa-apa Bi. Ayo diterima".

__ADS_1


"Ya Tuhan. Tuan muda baik sekali, kalau gitu bibi akan memberinya kepada Rehan. Terima kasih banyak ya tuan".


"Iya Bi sama-sama".


__ADS_2