
"Ada apa lagi Herman? Apa kau mau kakiku cepat-cepat terinfeksi karena bekas paku payung itu hah? Dasar sopir kurang perhatian kau!" gerutu Rendy pada Herman yang bukannya cepat-cepat membawanya ke rumah sakit, malah menghentikannya.
"Maaf Tuan! Tapi--" ucap Herman terhenti. Namun, tangannya menunjuk pada lantai parkiran yang terdapat beberapa paku payung yang menyebar hampir di dekat mobil yang khusus untuk Rendy memarkirkan mobilnya.
"Sial!" Rendy mengumpat kesal, "pasti ada yang sengaja ingin mengerjai ku!"
"Saya rasa begitu Tuan! Biar saya panggilkan petugas parkir di sini!" kata Herman. Namun, Rendy menghentikannya. Kakinya mulai terasa mati rasa, walaupun lukanya tidak terlalu parah. Namun, itu cukup menyakitkan. Dan lagi, bekas luka akibat paku, kawat besi dan sebagainya harus cepat-cepat dibersihkan dan di atasi, agar tidak terjadi infeksi seperti tetanus pada luka tersebut.
...***...
"Akhirnya, semua berjalan dengan lancar!" Ros merebahkan tubuhnya di atas sofa yang empuk. Rasa lega dan kepuasan tergambar jelas dari raut wajahnya yang memang sudah ayu sedari dulu.
"Aku bilang juga apa Ros! Kita harus tenang. Bersikap tenang, bisa menyelesaikan segalanya," kata Mila yang menimpali perkataan Ros yang tengah bergumam sendiri. Dirinya pun, ikut merebahkan diri di sofa yang berlainan, tepat di samping sofa yang di singgahi oleh Ros.
"Tenang saja tidak cukup mba Mil," tiba-tiba Anto datang menghampiri, ikut mengomentari ucapan Mila barusan, "selain tenang, kita juga harus bergerak. Seperti yang Anto lakukan!" ia terkikik sendiri saat bercerita tentang betapa tenang dan bisa diandalkannya dirinya di dalam tim yang di ketuai oleh Ros tersebut.
"Ya, ya... Kamu memang sangat bisa diandalkan Anto!" ujar Mila, malas jika harus memperpanjang perkataannya dengan Anto.
"Ah, iya..., Di mana Anita?" tanya Ros tiba-tiba.
"Anita?" kata Anto menanggapi seraya bertanya kembali.
"Saya di sini mba!" wanita yang di cari Ros itu nyengir. Datang secara tiba-tiba di sebelah Anto, hingga membuat Anto mengusap dadanya karena terkejut akan kehadiran Anita yang terasa sangat tiba-tiba.
"Kukira setan! teenyata..." ucap Anto terhenti sambil mengusap pelan dadanya yang terasa copot, "bikin kaget aja!" sambung Anto melambaikan tangannya kesal ke arah Anita. Wanita itu hanya terkikik kembali, melihat ekspresi wajah Anto yang terlihat nyata tanpa di buat-buat.
"Makannya, jangan suka muji diri sendiri sampai lupa sekeliling Anto. Kaget kan, jadinya!" Nina pun datang secara tiba-tiba, ikut menimpali perkataan Ros dan yang lainnya. Kini, semua tim Ros sudah berkumpul di satu ruangan yang sama, setelah mereka semua menyelesaikan tugas mereka masing-masing.
...***...
Ros berlari menuju rumah mewahnya dengan langkah tergesa-gesa dan pikiran yang entah kemana. Tubuhnya yang nampak kelelahan, tak ia hiraukan, kala ia mendapatkan kabar jika sang suami mengalami kecelakaan.
"Nyonya!" sapaan dari Herman tak Ros hiraukan. Dirinya berlalu pergi menuju kamarnya bersama sang suami.
__ADS_1
Brakk!
pintu kamar terbuka dengan sangat kuat. Terlihat sosok pria tampan yang tak mengenakan pakaian atas tengah menatap Ros keheranan dengan kening yang mengernyit.
"Kak?" panggil Ros lirih. Terdengar nada kecemasan dari ucapannya. Perlahan tapi pasti, Ros mulai berjalan mendekati Rendy yang masih menatapnya dengan tatapan heran.
"Kamu kenapa say...," belum selesai Rendy bertanya, Ros sudah berhamburan ke dalam pelukannya. Suara Isak tangis terdengar, berikut dengan tubuh yang terasa bergetar. 'Kenapa dengan istriku?' tanya Rendy dalam hati.
"Hey? Kenapa?" tanya Rendy pelan, seraya mengusap lembut punggung Ros yang masih dalam dekapannya.
"Kamu, kamu gak papa kan Kak?" tanya Ros tanpa ada niat untuk melepaskan pelukannya dari sang suami.
"Aku?" Rendy bingung, 'memangnya aku kenapa?' Rendy bertanya-tanya kembali dalam hati, 'pasti ada yang salah!' batinnya lagi.
"Iya kamu! Kamu gak papa 'kan Kak?" tanya Ros dengan nada yang masih terdengar cemas, "katanya kamu kecelakaan, dan baru pulang dari rumah sakit. Aku hampir aja pingsan, kalau aja gak ada Anita yang bantuin aku sampai ke rumah!" terang Ros membuat Rendy merasa sangat berarti untuk wanita cantik dihadapannya yang wajahnya terlihat sembab itu. Namun, ada rasa kesal yang menyelinap masuk kedalam dadanya, 'Anita lagi, Anita lagi! Kenapa wanita itu seolah selalu ada di setiap saat,' batin Rendy yang tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya terhadap wanita bernama Anita, yang beberapa waktu lalu ia tolong bersama sang istri.
"Sayang, sayang! Kenapa kamu secemas itu Hem?" Rendy meletakkan kedua telapak tangannya di pipi Ros yang masih basah oleh air mata yang sedari tadi tumpah, "Aku hanya luka kecil. Lagian, siapa yang bilang kalau aku ini kecelakaan?" tanya Rendy kemudian. Pikirannya sudah mengatakan, pastilah Herman yang menjadi biang keroknya.
"Herman! Herman yang memberitahukan kondisi kamu," jawab Ros di sela isakannya.
"Kamu jahat sekali kak, bisa-bisanya kamu tidak memberitahu aku keadaanmu yang sebenarnya!" Ros meluapkan segala kecemasannya dengan memukul dada sang suami.
Diam!
Hanya keheningan yang tercipta. Rendy membiarkan wanita yang telah menyandang status sebagai nyonya Rendy Pradana itu meluapkan segala emosinya dalam dekapannya yang membuat nyaman sang istri.
Usai sudah air mata yang keluar, isakan pun sudah tak terdengar seperti sebelumnya. Ros menatap lekat wajah sang suami yang memandangnya dengan penuh kehangatan.
"Kenapa memandangiku seperti itu? Kakak punya banyak hutang penjelasan kepadaku!" tekan Ros seraya menatap lekat manik mata sang suami.
"Aku harus menjelaskan apa sayang? Kamu pasti salah paham!"
"Salah paham?" Ros mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Aku tidak kenapa-kenapa sayang. Hanya kakiku yang terkena tusukan paku payung di parkiran kantor kita," ucap Rendy tenang saat menjelaskan, seraya mengelus lembut rambut Ros yang hanya sebahu. Berbeda dengan Herman, yang mengatakan jika suaminya itu mengalami kecelakaan dan harus di operasi.
Beberapa jam sebelumnya
"Halo nyonya?"
"Ya Herman, ada apa?"
"Tuan nyonya, tuan mengalami kecelakaan, dan beberapa jam yang lalu , baru saja dilakukan tindak operasi!"
Bagai tersambar petir, Ros yang baru saja selesai dengan pekerjaannya sebagai seorang pemilik dari WO yang cukup terkenal itu, dikejutkan dengan kabar tidak baik yang di sampaikan oleh supir pribadi suaminya tersebut. Tubuhnya luruh ke lantai dengan air mata yang sudah tumpah ruah tak bisa ia bendung lagi.
"Nyonya? Nyonya?" bunyi dari seberang sama masih menyala, terdengar panik dengan keadaan Ros yang tak terdengar suaranya.
"Nyonya, anda masih di sana 'kan?"
"Ya Herman, aku masih di sini. Di mana suamiku di rawat sekarang?" tanya Ros dengan sisa kekuatan yang ada.
"Tuan, sudah di rumah Nyonya!"
Dengan hati yang bagai tercabik, separuh bagian dalam dirinya tengah terbaring lemah, apalagi pikiran yang kacau, menjadikan Ros, tidak bisa berpikir dengan jernih, 'kenapa setelah melakukan operasi, Rendy sudah berada di rumah?' sebersit pemikiran itu menghampirinya, namun tak Ros hiraukan sama sekali. Yang ia pikirkan saat ini, ia harus bangkit dan menemui suaminya di rumah. Rendi pasti sudah menunggu, dia juga membutuhkan aku, pikirnya.
"Mbak, mbak, mbak Ros gak kenapa-napa 'kan?" Anita yang belum pulang dari kantor WO berhamburan mendekati Ros yang terkulai lemas di lantai teras kantor.
"Mbak kenapa mbak?" tanyanya lagi semakin cemas.
"Bantu aku An, bantu aku pulang ke rumah. Suamiku pasti membutuhkan aku!" lirihnya dengan mata yang terpejam, namun air mata mengalir begitu derasnya.
"Percayalah sayang, aku hanya mengalami kecelakaan kecil. Kakiku yang terluka, bukan luka yang parah juga!" ucap Rendy setelah mendengarkan cerita panjang lebar dari mulut sang istri.
"Jadi, aku hanya salah paham?" tanya Ros kemudian.
Rendy mengedikkan bahunya, tanda jika ia juga tidak tahu. 'Tapi, sepertinya begitu,' jawab Rendy dalam hati, namun ia urung untuk mengatakannya. Takut, jika Ros juga akan mencurigainya, karena Herman sepertinya tengah mengerjai Ros.
__ADS_1
"HERMAN!!!" Teriak Ros dari dalam kamar. Herman yang sedang mendengarkan dari balik pintu kamar yang tidak tertutup pun, hanya cekikikan saja dan terburu-buru melangkahkan kakinya. Takut jika dirinya ketahuan sedang mengerjai majikan perempuannya karena menyebabkan kesalahpahaman.
Bersambung...