Dia Milikku

Dia Milikku
Bab 58


__ADS_3

Sesampainya mereka di depan rumah Nita, ia langsung menyuruh Argana ikutan keluar dari dalam mobilnya.


Lalu membuka pintu rumahnya, "Ayo masuk Ga" Nita kemudian menaruh kantong kresek itu di atas meja sambil tersenyum melihat Argana ikutan masuk ke dalam rumahnya.


"Aku sudah lama tinggal disini Ga mulai dari pertama kita masuk kuliah. Pemilik rumah ini sangat baik sekali, makanya aku bisa bertahan disini. Ayo duduk, aku akan membuatkan teh hangat untuk mu".


Argana segera mendudukkan diri diatas kursi meja makan tersebut, ia lalu melihat seisi rumah Nita tampak sangat sederhana sekali, bahkan ia tidak menyangka kalau salah satu karyawan di kantornya masih memiliki tempat tinggal seperti ini.


"Apa kamu tidak berencana tinggal ditempat yang lebih layak dari ini? Gaji bulanan kamu sangatlah cukup untuk kamu tinggal sebuah apartemen" ucap Argana.


"Iya sih Ga. Tapi aku sudah terlanjur nyaman tinggal disini, dan sisa uangnya bisa juga aku tabung untuk masa depan ku nanti dan sekali-kali aku bisa mengirim untuk biaya kuliah adik ku yang berada di luar negeri".


"Mmmmm" gumam Argana.


Nita memberikan teh manis itu di hadapan Argana, "Masih panas sekali Ga, kamu minumnya pelan-pelan saja, nanti lidah kamu bisa terbakar".


"Terima kasih".


"Sama-sama Ga" Nita lalu membuka nasi bungkus yang tadi Argana belikan untuknya. "Wah, sepertinya enak Ga. Kamu juga makanlah. Tunggu sebentar, aku mengambil piring dulu" ia menaruh diatasnya.


"Ini untuk kamu Ga. Ini yang kedua kalinya aku membeli nasi disana, rasanya enak loh. Coba saja kalau kamu tidak percaya Ga".


Argana melihatnya, ia terlihat merasa kurang percaya dengan makanan yang berada di hadapannya itu.


"Tidak apa-apa Ga. Aku rasa mereka bersih dalam memasaknya, sekali-kali kamu harus coba makanan dipinggir jalan supaya kamu bisa membedakan betapa enaknya makanan ini hehehhe.. Mmmmm, enak sekali loh Ga. Ayo buruan akh dimakan, jangan dilihat gitu terus".


"Kamu yakin?".


"Iya. Percaya kepada ku".


Argana tersenyum, ia tidak habis pikir kalau akhirnya ia memakan makanan yang berada di pinggir jalan.


"Bagaimana? Enak kan Ga?".


"Lumayan" jawabnya.


"Bagus deh. Jangan lupa di habiskan yah" Nita kembali menyuap ke dalam mulutnya sampai beberapa kali suapan hingga ia merasa sudah kenyang. Ia lalu melihat Argana masih sangat sedikit memakan miliknya.


"Oh iya Ga. Bagaimana kabar Bagas sekarang ini? Setelah lulus kuliah kemarin aku tidak pernah berkomunikasi dengannya lagi. Aku sangat merindukannya".

__ADS_1


"Dia baik-baik saja".


"Benarkah?".


"Mmmmm".


"Jadi kapan Bagas kembali ke Indonesia Ga? Kenapa dia tidak kembali bersama dengan mu saja?".


"Dia tidak akan kembali kesini lagi".


Nita terkejut, "Kenapa Ga? Bukannya orang tua dia juga disini dan juga kekasihnya...


"Tidak tau, aku tidak terlalu suka mencampuri urusan pribadi orang lain" potong Argana.


"Astaga! Jadi Bagas tidak akan kembali kemari lagi Ga?".


"Mmmmm.. Kenapa? Apa kamu benar-benar sangat merindukan dirinya?".


"Iya, aku sangat merindukan dia Ga. Tapi seperti yang baru saja kamu katakan dia tidak akan pernah kembali kemari lagi, rasa rindu ku kepadanya semakin dalam. Itu artinya kami tidak akan pernah bertemu lagi".


"Aku sudah kenyang" ucap Argana menyingkirkan miliknya.


"Kamu mau eskrim Ga?" tawanya membuka pintu kulkas.


"Tidak" balas Argana.


Nita mengeluarkan dua buas eskrim mangkuk dari dalam kulkas, ia memberikan dihadapan Argana siapa tau ia juga mau meskipun tadinya ia menolak.


"Aku tidak menyukai eskrim" ucap Argana menolaknya lagi. Ia kemudian melihat jam tangannya telah menunjukkan pukul 1 malam.


"Kenapa? Kamu mau pulang Ga?".


"Mmmmm, aku harus pulang".


Nita terdiam, ia langsung meletakkan mangkuk eskrim itu diatas meja terlihat khawatir.


"Kenapa?".


"Ga, tidak bisakah malam ini saja kamu menginap disini? Aku takut, aku sangat takut kalau Ranu datang kemari".

__ADS_1


"Dia tidak akan datang kemari, dia sudah berada di penjara".


"Kumohon Arga, kali ini saja".


"Aku tidak bisa, besok aku ada meeting, jadi aku harus pulang" Argana lalu bangkit berdiri dari atas kursinya.


"Aku mohon Argana. Tolong aku kali ini saja, aku sangat takut sekali" ucap Nita memohon dengan mata berkaca-kaca berharap Argana mau menginap di rumahnya. "Aku mohon Arga, kali ini saja. Tidak apa-apa kalau aku tidur dibawah, kamu bisa menggunakan tempat tidur ku. Ya Arga, kali ini saja".


Argana terdiam, Ia melihat air mata itu telah mengalir di pipi mulus Nita yang mengurus tidak seperti waktu mereka kuliah.


"Baiklah, aku akan disini" jawab Argana merasa kasihan langsung membuat Nita melebarkan senyuman di wajahnya sambil melap air matanya.


"Terima kasih Ga terima kasih banyak. Kalau kamu ingin ke kamar mandi, kamu bisa menggunakan.. Sebentar" ia mengeluarkan sesuatu dari dalam lemari. "Kamu bisa menggunakan handuk ini dan juga aku memiliki sebuah pakaian laki-laki".


"Dari mana kamu mendapatkannya?" tanya Argana.


"Ini milik adik ku Ga. Kamu bisa memakainya, sepertinya badan kalian sama. Kamar mandi ada disana, masuklah".


Argana pun memasuki kamar mandi tersebut menganti pakaiannya menjadi pakaian santai, sedangkan ia menunggu di depan pintu.


Sekeluarnya Argana dari sana, ia melihat Argana terlihat masih sangat tampan dengan pakai itu meskipun pakaian itu adalah barang murah.


"Wah, bajunya sangat pas sekali di tubuh mu Ga. Apa kamu nyaman?".


"Mmmmm" angguk Argana.


"Syukurlah. Maaf sudah memaksa mu tinggal disini Ga".


"Tidak apa-apa".


"Kalau gitu aku juga mau mandi dulu" Nita lalu memasuki kamar mandi, namun saat ia telah berada di dalam ia baru teringat kalau ia lupa membawa pakaian setelah ia membasahi seluruh tubuhnya.


"Bagaimana ini? Astaga! Bisa-bisanya aku lupa membawa pakaian ku ke dalam kamar mandi?" kesal Nita menyalakan dirinya. "Apa yang sedang Argana lakukan sekarang? Tidak mungkin aku keluar hanya dengan handuk ini? Mana handuk ini sangat kecil lagi. Ck".


Kemudian ia mendekati pintu, dengan sangat pelan ia membuka pintu tersebut untuk memastikan dimana keberadaan Argana saat ini.


"Dimana dia? Kenapa aku tidak melihatnya?".


Ia lalu mencari keberadaan Argana dengan kedua matanya, setelah itu ia mendengar sebuah suara dari dapur. Ia langsung bisa tebak kalau yang empunya suara itu adalah Argana.

__ADS_1


"Ini kesempatan aku" ia pun melangkahkan kedua kakinya keluar dari dalam kamar mandi mengambil pakaiannya. Setelah ia mendapatkannya, ia pun segera kembali ke dalam kamar mandi, namun saat itu juga Argana tiba-tiba muncul di hadapannya membuat ia seketika berteriak saat handuk yang ia pakai melorot ke bawah.


__ADS_2