
Semua kembali seperti semula. Tiada lagi ancaman yang datang dari berbagai arah. Vero sudah meninggal dunia, sebelum Doni menyusulnya. Begitu pun dengan Matthew yang dengan ambisinya untuk membuat Ros dan Rendy meregang nyawa, malah kedua keponakannya lah yang meregang nyawa karena keegoisan dirinya.
Kini, Matthew di hukum atas semua kejahatan yang sudah ia lakukan. Mendekam di dalam jeruji besi dalam waktu yang lama. Semoga saja, hal yang seperti dahulu tidak terulang kembali. Matthew kabur dari penjara dan membuat sebuah keributan besar hingga akhirnya Vero meninggal dunia.
"Aku senang, akhirnya kita semua bisa hidup dalam ketenangan juga," kata Ros yang berada dalam dekapan hangat Rendy.
"Aku pun," balas Rendy singkat. Bibirnya mengejut pelan kepala Ros yang bersandar di bahunya dan ia dekap tubuhnya.
"Kita jadi berangkat kan?" tanya Ros tiba tiba. Rendy yang lupa akan kemananya mereka pergi pun, langsung dibuat mengernyitkan mata saat Ros bertanya padanya.
"Berangkat?" Rendy akhirnya bertanya juga.
"Iya, berangkat. jangan bilang kalau kakak lupa, kita akan berangkat ke mana hari ini." Ros menebak dengan tepat. karena memang seperti itulah kenyataannya. Rendy lupakan janji yang sudah ia buat kepada istrinya sendiri. Mungkin karena ia lebih suka berdua seperti ini bertemankan suasana yang sepi.
"Hehe!" Rendy hanya tertawa menunjukkan deretan giginya yang begitu terawat.
Ros memicingkan mata. Ternyata tebakannya memanglah benar. Rendy lupa akan janjinya sendiri.
"Kakak ini bagaimana sih? Kakak sendiri yang berjanji ingin mengajakku pergi jalan-jalan. Tapi Kakak juga yang melupakannya. bagaimana sih ini?! kalau begitu aku ajak saja teman-temanku untuk pergi sekalian tadi Anto bilang kalau dia ingin mengatakan sesuatu kepada kami semua."
Ros sedikit marah. Ya, dia kesal. Rendy selalu saja lupa Jika ia mengajaknya pergi. Jika ditanya alasannya, iya lupa dan lebih suka untuk diambil dua begini saja di dalam rumah.
"Bagaimana?" tanya Ros.
"Bagaimana apa?" Rendy malah membalikkan pertanyaan.
"Kakak!"
"Apa sayang?"
__ADS_1
"Kita jadi pergi kan?"
"Jadi. Ayo!" jawab Rendy surah yang mengajak pergi dengan membawa lengan Ros, agar wanita itu mengikuti langkahnya. Namun, bukannya pergi keluar rumah, Rendy malah mengajaknya masuk ke dalam sebuah ruangan yang selalu menjadi tempat favoritnya saat berdua. ruangan apalagi jika bukan sebuah ruangan bernama kamar mereka berdua.
"Kakak! Ini kan kamar. Kita kan mau keluar. kenapa malah jadi ke kamar?!" gerutu Ros yang malah di ajak ke kamar, bukannya keluar. Padahal dia sudah memberitahu. Tapi, yang di beritahu malah asyik dengan keinginannya sendiri. Dan lihat, laki laki itu malah tertawa saat istrinya menggerutu sendiri. Merasa senang dengan ekspresi wajah yang di tunjukkan oleh Ros.
"Haha! Iya, iya. aku hanya bercanda saja kok! Ayo!" ajak Rendy akhirnya. Ia membawa langkah Ros menuju ke luar rumah. Lalu, mengajaknya masuk ke dalam mobil.
"Jadi, kita mau ke mana?" Kali ini, Rendy yang bertanya. Ia melirik ke arah Ros yang berada di sebelahnya. Menatap lurus ke depan, saat mobil sudah melaju dengan kecepatan sedang, melewati gerbang rumah mereka ya g begitu luas.
"Kalau kita bertemu dengan teman temanku saja bagaimana?" jawab Ros seraya memberi sebuah saran yang tadi sempat di ucapkan.
"Hem... terserah dirimu saja. Tapi yang jelas, aku lebih suka kalau kita berada di kamar saja. itu lebih menyenangkan." Rendy terkekeh saat menjawab. Ia jadi memikirkan, bagaimana kalau seandainya sekarang ia dan Ros berada di dalam kamar sampai seharian. Pasti akan sangat menyenangkan. Pikirnya sambil terkekeh sendiri.
"Kenapa malah tertawa? Tidak ada yang lucu di sini," kata Ros yang terheran dengan sikap dari suaminya itu .
"Kamu lah yang lucu, sayang. Lagi pula, tidak perlu ada yang lucu untuk membuatmu bisa tertawa seperti yang aku lakukan barusan. Cukup dengan mengingat kejadian di ranjang saja, aku sudah bisa tertawa itu," kata Rendy.
Bukannya mendapatkan sebuah sambutan manis dari Ros, laki laki itu malah mendapatkan sebuah pukulan di lengannya dengan cukup keras.
"Mesum!" ujar Ros sambil mendelik.
"Biar saja! Mesum pada istri sendiri itu di perbolehkan. Kalau aku mesum pada istri orang, itu ya g tidak boleh," balas Rendy. Tangannya iseng menoel dagu Ros. Hingga wajah wanita itu bersemu merah. Mungkin karena apa yang di ucapkan oleh suaminya tersebut memanglah benar.
Mesum pada istri sendiri kan memang di perbolehkan.
"Sini," ucap Rendy menyuruh Ros agar merebahkan kepalanya di bahu Rendy.
Tanpa menunggu lama lagi, Ros pun melakukan apa yang suaminya minta. Ia merebahkan kepalanya di bahu Rendy. Lalu, memejamkan mata. Begitu menikmati.
__ADS_1
Memang, bahu suami itu adalah tempat ternyaman untuk memejamkan mata. Hingga tanpa di duga, tempat yang mereka tuju sudah di depan mata. Rendy menghentikan mobilnya tepat di sebuah tempat parkir restoran yang cukup mewah dan ramai dengan pengunjung.
"Ayo," ajak Rendy. Ros yang memang tidak mengetahui jika mereka sudah sampai, langsung membuka matanya dan mengerjapkan nya beberapa kali.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Ros. Matanya menatap sekeliling. Tempat yang akan mereka datangi.
Kenapa Ros malah bertanya?
"Yap. Kita sudah sampai. Mau langsung ke dalam dan menemui teman temanmu yang ajaib itu, atau kita kembali ke rumah. Kita lanjutkan acara kita di kamar yang tadi sempat tertunda." Kembali Rendy menggoda. Ros yang sudah kesal, mencubit lengan Rendy tanpa aba aba.
'Aw!'
Rendy pun memekik pelan. Ia mengusap usap lengannya yang baru saja kena cubit istri tercinta. Tidak sakit, namun terasa butuh untuk di usap.
"Kamu ini!"
"Apa? Salahku apa, Sayang?" Rendy mencondongkan tubuhnya ke arah Ros, hingga tubuh Ros tersudut ke dekat pintu mobil yang sengaja Rendy kunci, pintunya.
"Sa, salahmu--"
"Apa? Bagaimana kalau kita lanjutkan saja di sini," kata Rendy. Tubuhnya semakin mendekati Ros. Bahkan, wajahnya sampai begitu dekat dengan Ros. Membuat Ros merasa salah tingkah di buatnya.
"Maksudmu?"
'Hap!'
Tanpa menjawab apa yang Ros ucapkan, Rendy sudah membekap mulut Ros dengan mulutnya sendiri. Hingga tak keluar kaya kata lagi lagi dari mulut keduanya, sehingga hanya diam saja yang tercipta.
Keduanya hanyut dalam setiap permainan yang Rendy buat. Hingga beberapa menit lamanya, posisi keduanya masih tetap sama seperti itu. Dan berhenti, saat Ros mendorong Rendy dengan perlahan, agar suaminya itu menjauh dan menghentikan aksinya.
__ADS_1
"Hehe, maaf ya sayang Aku malah tergoda dengan bibirmu yang indah itu," kata Rendy seraya menjauhi Ros. Wajahnya berseri, menunjukkan jika ia sudah merasa puas, walau hanya dengan sebuah ciuman di dalam mobil.