Dia Milikku

Dia Milikku
perdebatan sepele


__ADS_3

"Hei Herman, sedang mengataiku apalagi sekarang?" ujar Rendy tiba-tiba, yang tentu saja membuat Herman tersentak, ia terkejut bukan main. Selalu saja Rendy tahu apa yang sedang Herman pikirkan dalam hatinya.


"Haha tuan! Apa uang anda katakan. Saya tidak mungkin se lancang itu," kata Herman dengan elak nya yang selalu berhasil membuat Rendy mendelik tajam.


"Berani kau mengataiku dalam hati, habis riwayatmu!" ujar Rendy dengan mengancam. Dan lagi-lagi, ancaman dari Rendy sukses membuat Herman bergidik ngeri. Namun, lagi dan lagi juga, Herman selalu saja mengulangi apa yang larang oleh Rendy dengan mengatainya dalam hati. Seakan mengatai Rendy dalam hati adalah sebuah keharusan yang menyenangkan hatinya. Hingga ia selalu saja mengabaikan perkataan sang majikan.


...***...


"Aku akan menjemputmu saat makan siang!" kata Rendy setelah Ros turun dari mobilnya.


Cup!


Rendy mengecup kening Ros sebelum dirinya berangkat pergi ke perusahaan.


"Jaga dirimu baik-baik sayang! Aku tidak ingin ada sesuatu terjadi padamu. Kabari aku kapan pun kamu mau. Bahkan saat kamu merasa ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman. Kabari aku-- Aku akan membasmi segala bentuk ketidak nyamanan itu!" ujar Ros dengan ekspresi wajahnya yang selalu saja membuat Ros terkekeh sebelum berangkat, melangkahkan kakinya menuju kantor.


"Tentu saja! Aku akan melaporkan segala urusanku pada suamiku ini!" jawab Ros dengan senyum yang sangat manis. Membuat Rendy sangat enggan meninggalkan Ros sendiri di kantornya. Walaupun Ros sebenarnya tidak benar-benar sendirian. Karena semua teman serta pegawai Ros, selalu ada di kantor yang sama.


...***...


"Ros," panggil seorang wanita dari arah belakang. Ros pun membalikkan badannya untuk melihat siapa yang memanggilnya. Dan yang memanggilnya adalah teman serta rekan kerjanya. Mila.


"Mila!" kata Ros.


"Hai..., Aku tebak! Pasti suamimu yang mengantarkan mu ke kantor!" ujar Mila basa-basi, dan tentu saja, basa-basi nya itu langsung di tanggapi dengan anggukan kecil dari ros. Karena selalu tepat. Tidak pernah terlewat satu hari pun untuk Rendy mengantarkan Ros ke kantornya sebelum Rendy berangkat ke kantornya sendiri. Sudah seperti sebuah keharusan yang harus di jalankan.


"Huh! Aku iri padamu," gumam Mila tiba-tiba saja ekspresi wajahnya berubah drastis.

__ADS_1


"Iri?" Ros mengernyit, "iri kenapa? Apa aku membuat kesalahan?" tanya Ros kemudian.


"Bukan! bukan seperti itu. Hanya saja-- Aku iri padamu karena kamu mempunyai suami yang begitu perhatian dan sangat mencintaimu." Mila menghembuskan napasnya kasar, seolah ia sedang berada dalam sebuah masalah.


"Hei," Ros merangkul Mila dengan penuh perhatian, "bukankah kamu juga memiliki kekasih? kenapa kamu harus iri kepadaku?" tanya Ros dengan hati-hati. Takut jika perkataannya itu bisa menyakiti dan salah di artikan oleh Mila.


"Benar! Tapi sampai saat ini, kekasihku belum juga memberikan kejelasan pada hubungan kami!" jawab Mila dengan wajah lesu, bahkan dari nada suaranya pun, Mila benar-benar terlihat sedang tidak bersemangat.


"Kenapa? bukankah kamu dan kekasihmu itu sudah berpacaran cukup lama?" tanya Ros lagi yang semakin penasaran denga hubungan sahabatnya ini.


"Entahlah! Tapi setiap kali aku membahas soal melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius lagi. Kekasihku selaku saja menghindar. Kadang dia berkata belum siap.Masih sibuk, dia ingin mencapai cita-cita yang masih belum ia gapai. Dan masih banyak lagi alasan yang selalu dia buat saat aku mengajaknya untuk melangkah lebih serius lagi." Mila menghembuskan napasnya lagi, kali ini terdengar seperti sebuah helaan napas putus asa yang terdengar dari mulut Mila.


Ros menepuk-nepuk punggung Mila. Berharap bisa sedikit saja memenangkan dan memberikan energi positif bagi Mila.


"Tidak usah menghiburku Ros. aku sama sekali tidak papa. Aku hanya merasa kesal saja pada kekasihku yang selalu saja menghindar! Dia memang bodoh! Menyebalkan! Mengesalkan! dan aku sangat membencinya. Tapi aku juga mencintainya," kesal Mila. Dia berkata dengan napas yang terengah-engah, merasakan sakit di bagian dadanya saat mengingat tentang sosok kekasihnya, yang sangat ia benci, namun juga sangat ia cintai.


"Sudahlah! Ayo masuk. Ada tester hari ini. Dan aku tidak mau klienku sampai melihat wajahmu yang kecut dan tidak mengenakkan untuk dilihat itu!" kata Ros dengan sedikit candaan di dalamnya.


"Aku hanya bercanda Mila sayang! Ayo masuk!"kata Ros dengan langsung menarik lengan Mila agar segera mengikutinya. Hingga akhirnya, Mila pun mengikuti Ros, karena tidak mampu menahan dirinya sendiri dari tarikan Ros yang cukup kuat.


"Pelan kan sedikit tarikan mu itu Ros. Tanganku sakit, dan aku belum sarapan, bagaimana kalau badanku ini pingsan karena kau terus menarik ku seperti ini!" Mila menggerutu tiada henti, hingga masuk ke dalam kantor pun, Ros tidak mengindahkan ucapan Mila sampai mereka benar-benar sampai di tempat tujuan mereka, yaitu tempat tester.


"Berisik sekali!" ujar Ros dengan melepaskan lengan Mila dalam sekejap mata.


"Kau yang membuatku jadi berisik seperti ini!" kesal Mila dengan dengan memajukan bibirnya ke depan.


"Karena kau tidak mau ikut denganku. Jadi dengan terpaksa aku menyeret mu ke tempat ini!" balas Ros tidak mau kalah.

__ADS_1


"Karena aku sedang bersedih. Makannya aku menjadi lelet seperti ini. Tapi kan kau tidak perlu menyeret ku seperti ini." Mila masih saja tidak mau mengalah. Dan perdebatan itu terus berlangsung sampai seseorang berteriak dengan cukup keras.


"Diaaaaaam!"


Teriak seseorang itu tentu saja membuat Ros dan Mila yang sedang berdebat, menghentikan perdebatan mereka dan langsung melihat siapa orang yang baru saja berteriak kepada mereka berdua.


"Nina!" kata Ros dan Mila nyaris bersamaan.


"Hehe!" Nina menunjukkan deretan giginya yang kurang rapi kepada Ros dan Mila, "apa sih yang membuat kalian berdua berdebat seperti ini? tidak biasanya kalian bertingkah layaknya bocah seperti itu!" sambung Nina dengan langkah yang mendekat menuju kedua sahabat yang sedang bersitegang akibat masalah sepele.


"Ros yang memulainya!" ujar Mila dengan ketus.


"Enak saja! Mila yang memulainya terlebih dahulu!" balas Ros yang juga tidak mau kalah. Enak saja Mila menyalahkan dirinya sendiri. Pikir Ros.


"Ros yang memulainya!"


"Mila yang memulainya terlebih dahulu!"


"Ros!"


"Mila!"


"Ros- -


"Diaaam!" Teriak Nina dan seketika itu suasana pun menjadi diam. Ros atau pun Rendy, sama-sama tidak mengeluarkan suara mereka kembali.


Bersambung...

__ADS_1


Selamat malam readers 😍 jangan lupa bahagia buat kalian, aku dan kita semua🌹


Salam hangat dan sayang dari author 😘


__ADS_2