Dia Milikku

Dia Milikku
Martabaknya sayang, bukan kamu!


__ADS_3

"Anak ceroboh! Bagaimana bisa kamu memercayai Doni semudah itu!" bentak Ajeng pada anaknya Rendy yang baru saja datang.


"Maaf Mah, Rendy benar-benar salah," Rendy menunduk pasrah atas segala kesalahannya.


"Sudahlah! Duduk!" perintah Ajeng yang langsung di turuti oleh Rendy.


"Di mana dia sekarang? Apa kamu sudah mengurusnya?" tanya Ajeng dengan wajah kesal. Anak perempuan satu-satunya, di siksa lahir dan batin oleh pria yang beberapa bulan yang lalu, meminta Kayla dari tangan dan juga tanggung jawabnya.


"Tentu Mah, Rendy sudah mengurus pria tidak tahu diri itu," jawab Rendy pasti.


Ajeng menghela napas dalam, berat dan panjang. Tidak tau harus berkata apa lagi untuk mengutuk menantunya yang sudah berbuat tidak baik pada anak perempuan satu-satunya.


"Beri dia pelajaran!" ujar Ajeng memerintah.


"Tentu Mah, selain dia sudah menyiksa Kayla, dia juga membodohi aku dengan menipuku," ujar Rendy tampak mengingat kembali kejadian beberapa bulan yang lalu, saat Doni datang ke perusahaan-nya untuk meminta bantuan finansial.


Betapa bodohnya Rendy kala itu. Ia dengan mudah begitu saja percaya pada Doni yang hanya datang sendiri ke perusahaan tanpa ada yang menemani, termasuk Kayla. Istri Doni sekaligus adiknya sendiri.


"Itu karena kamu ceroboh! Jangan lakukan lagi!" kata Ajeng membuat Rendy bungkam.


"Apa istrimu tau tentang ini?" tanya Ajeng.


"Tidak Mah, aku tidak ingin membebani pikirannya," jawab Rendy pelan.


"Baguslah! Jangan beritahu Ros dulu. Biarkan sampai Kayla benar-benar sembuh," kata Ajeng mengingatkan Rendy.


"Tentu Mah. Itu yang akan Rendy lakukan!" balas Rendy, "apakah Kayla sudah bisa di temui?" tanyanya kemudian.


"Belum Ren. Walaupun keadaan Kayla sudah membaik, tapi Kayla mengalami trauma yang cukup parah. Dan ini semua tak lepas dari kelalaian kita yang dengan bodohnya percaya saja pada pria kurang aj*r itu!" geram Ajeng.


"Rendy sungguh menyesal!"


"Cepatlah pulang, istrimu pasti sudah menunggu terlalu lama," suruh Ajeng pada anaknya yang terlihat sekali bahwa ia sedang mengkhawatirkan adiknya, Kayla.


"Baik Mah. Tapi--"


"Sudahlah, jangan khawatirkan adikmu. Ada Mamah di sini, Surya juga sebentar lagi sampai," ucap Ajeng membuat perasaan Rendy lebih baik.


Bukankah seorang ibu selalu mengetahui bagaimana perasaan seorang anak?


Bagitulah yang Ajeng rasakan tentang perasaan Rendy. Walaupun tidak berterus terang. Namun, Ajeng mengetahui isi hati Rendy yang mencemaskan adiknya. Tentu saja, karena kedua kakak beradik itu sangat dekat.


"Baiklah Mah. Rendy percaya pada Mamah dan Surya."


"Hei anak muda! Memangnya aku ini siapa? sampai kau bisa berkata seperti itu, hah?" geram Ajeng.


"Bu-bukan maksud Rendy berkata seperti itu mah," Rendy salah ucap. Memancing kembali harimau yang sedang bersemedi.


"Diam! Cepat pergi dan temui istrimu. Jangan biarkan Ros menunggu terlalu lama karena kau terlalu banyak berceloteh di sini!" ujar Ajeng sedikit menurunkan intonasi bicaranya.


"Iya Mah, iya!"

__ADS_1


Siapa juga yang dari tadi berceloteh? Orang Mamah sendiri, bukan aku! Pikir Rendy dalam hati.


"Jangan berani-beraninya kamu membicarakan Mamah dalam hati ya?" tebak Ajeng selalu tepat. Tentu saja, membuat Rendy terkesiap.


"Ah, Mamah ini. Siapa juga yang berani mengatai Mamah dalam hati? Rendy tidak seberani itu Mah!" elak Rendy yang serba salah. Tidak mengaku salah. Mengaku semakin salah.


"Bagus! Cepat pulang!" ucap Ajeng, yang terdengar seperti sebuah pengusiran terhadap Rendy, "jika istrimu bertanya kau dari mana saja? Katakan kalau kau mendapat pekerjaan sebagai seorang tukang bersih-bersih," sambungnya yang membuat Rendy melongo.


"Apa Mah? OB maksudnya?" tanya Rendy dengan membulatkan mata tidak percaya. Memastikan jika apa yang ia dengar itu bukanlah sebuah kesalahan indera pendengarannya.


"Iya..." Ajeng mengangguk pasti, "memang kamu pikir, tukang bersih-bersih itu namanya apa? Direktur? Manager? Sekretaris? karyawan? Staf? atau apa?" ketus Ajeng sambil menatap sinis pada Rendy yang masih melongo di buatnya.


"Tapi--"


"Sudah! Cepat pulang! Mamah tau kamu sedang mengulur waktu 'kan?" kata Ajeng memotong ucapan Rendy yang masih belum selesai, "jangan cari-cari alasan. Apalagi banyak alasan! Kalau sampai Ros menelpon Mamah saat ini juga. Mamah akan buat kamu bekerja lebih dari tukang bersih-bersih," ancam Ajeng kemudian.


Baru saja Ajeng mengancam Rendy. Ponsel Ajeng sudah berdering. Tertera nama Ros menantu kesayangan di layar ponselnya.


"Panjang umur!" kekeh Ajeng. Rendy langsung kocar-kacir, berlari mencari jalan keluar untuk pulang.


"Dasar anak nakal! Sudah besar, kelakuannya masih saja seperti bocah!" ujar Ajeng yang terkekeh geli melihat tingkah anaknya yang sudah dewasa. Namun, tingkahnya tak ubah seorang bocah di matanya.


...***...


'Tok! Tok! Tok!'


Terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah kontrakan.


Ros yang sedari tadi mondar-mandir di depan pintu, langsung membukakan pintu saat mendengar suara ketukan di pintu.


"Kenapa lama sekali? Kamu baik-baik saja 'kan? Apa yang Kakak bawa?" Baru saja masuk, Rendy sudah di berondong banyak pertanyaan oleh Ros.


Ingin menjawab! Bingung, harus menjawab yang mana dulu. Terpaksa, Rendy masuk terlebih dahulu, karena Ros tak mempersilahkan Rendy masuk. Jadi, ia berinisiatif sendiri.


"Boleh aku masuk dan duduk dulu sayang?" ucap Rendy setelah mengecup lembut kening Ros, dan meninggalkan wanita itu dengan beribu pertanyaan yang belum ada jawabannya.


"Ah! Aku sampai lupa mempersilahkan Kakak masuk!" Ros menepuk keningnya pelan. Bisa-bisanya ia lupa.


Rendy yang sudah menduduki kursi lusuh yang terbuat dari kayu, terkekeh melihat tingkah Ros barusan.


"Sini..." panggil Rendy pada Ros yang masih berdiri tak jauh dari pintu masuk.


Ros berjalan mendekat. Rendy menepuk-nepuk pahanya pelan, agar Ros duduk di atasnya.


"Mau aku jawab yang mana dulu pertanyaannya?" tanya Rendy pelan, tepat di dekat telinga Ros. Membuat Ros berkeringat dingin dan langsung merinding.


"Dari mana saja?" tanya pelan. Pertanyaan pertama yang harus Rendy jawab dengan hati-hati.


"Bukankah tadi pagi aku sudah bilang?"


"Bilang apa?"

__ADS_1


"Aku akan mencari pekerjaan?"


"Lalu?"


"Lalu apa?" Rendy mengerutkan kening.


"Apa sudah kamu dapatkan pekerjaannya?" tanya Ros antusias.


Rendy mengangguk. Ada binar kebahagiaan dari sorot mata Ros.


"Sungguh? Pekerjaan apa?" tanya Ros kemudian.


"Hanya--"


"Hanya apa?" tanya Ros penasaran.


"Hanya seorang tukang bersih-bersih sayang," jawab Rendy dengan wajah yang ia buat sesedih mungkin, lalu menatap wajah Ros. Melihat sorot matanya. Apakah Ros malu atau tidak dengan pekerjaan palsu Rendy saat ini.


Hening!


'Kenapa jadi hening begini? Ah! Suasana kontrakan ini sudah sunyi dan sepi, di tambah dengan keheningan ini. Kenapa aku jadi merinding begini?' gumam Rendy dalam hati.


"Tidak apa Kak. Apapun pekerjaanmu saat ini, selagi itu baik, bukan mencuri, merampok apalagi maling, aku tidak akan mempermasalahkannya. Aku akan tetap mendukung sebagai seorang istri yang baik. Selalu ada di belakangmu untuk menyemangati setiap langkahmu!"


Ah! Manis sekali!


"Terima kasih sayang. Karena sudah ada untukku dalam kondisi apapun."


"Ros memeluk Rendy erat.


"Tapi, tunggu-tunggu. Sepertinya ada yang ganjal sayang. 'Mencuri? Merampok dan maling? Bukankah itu satu artian yang sama?" tanya Rendy keheranan.


Ros tersenyum geli.


"Lupakan saja sayang! Lalu, apa yang kamu bawa itu?" tanya Ros mengalihkan pembicaraan.


"Ah, aku sampai lupa! Ini... Martabak manis istimewa, untuk istriku tercinta," jawab Rendy sambil mencium gemas sang istri.


"Sungguh! Tau saja, kalau aku memang menginginkan yang manis-manis," ucap Ros dengan senangnya.


"Bukalah!"


"Tentu! Kita makan bersama." Ros berlalu ke belakang, mengambil sebuah wadah untuk memindahkan martabak yang Rendy bawa.


"Ah! Manisnya..." gumam Ros setelah mencoba satu suapan martabak ke dalam mulutnya.


"Terima kasih pujiannya sayang. Tidak usah di katakan, semua orang juga sudah tau kalau suamimu ini, tampan dan manis!" ujar Rendy yang menimpali ucapan Ros barusan.


"Martabaknya sayang, bukan kamu!"


'Duarr!'

__ADS_1


Bagai tersambar geledek, Rendy langsung batuk kala mendengar jawaban Ros barusan.


Bersambung...


__ADS_2